
Olive membelakangi Alden dan tersenyum karena Alden salah tingkah. Olive berjalan lebih dulu menuju taman belakang. Alden segera memasuki Villa Olive mengikuti Olive berjalan menuju taman belakang. Kemudian Olive memilih duduk di salah satu gazebo dan berayun kecil sambil melihat pemandangan dengan lampu kota. Alden terlihat kagum dengan pemandangan dari taman belakang Villa Olive, memang Olive tidak pernah salah memilih tempat untuk healing.
"Bisa jaga rahasia kan?" Tanya Olive.
"Rahasia?" Bingung Alden.
"Ini salah satu tempat yang hanya diketahui kamu doang. Itu bik fira pekerja disini, dulu sempat kerja di markas terus harus pulang pergi mengurus keluarga dan ternyata kebetulan bertemu di pasar kemudian aku menawarkan bik fira bekerja tanpa sepengetahuan Oma. Bik fira salah satu orang terpercaya oma dan opa tapi sekarang malah menjadi orang terpercaya aku." Jelas Olive.
"Selain kalian berdua hanya aku saja yang tahu tempat ini? Apa kamu sengaja agar aku datang?" Tanya Alden.
Olive menggelengkan kepalanya dan menundukkan kepala. tersenyum pahit.
"Aku baru sadar kalo aku pakai kalung ini dan aku juga tidak tahu jika kalung ini di pasang pelacak sama kamu. Hanya kebetulan saja, aku juga tidak berencana lama-lama disini. Hari minggu aku berencana pulang, ternyata kamu malah datang." Jawab Olive.
"Ah benar, rencana aku datang kesini mau jelasin kesalahpahaman ke kamu." Ucap Alden.
Pembicaraan terhenti karena Bik fira datang untuk mengantar permintaan Olive tadi.
"Bik, ini Alden yang aku ceritain tadi teerus tolong siapin kamar tamu ya bik. Bibik tidur sama aku mau kan?" Tutur Olive.
"Ouh ini pacar nona. Nona emang nggak apa tidur di kamar nona?" Tanya bik Fira.
"Apa sih bik, dulu juga suka tidur sekamar kalo aku habis nonton horror bareng kak Alden, Kak phia sama Robert. Pokoknya bibik tidur sama aku." Pinta Olive.
"Oh iya hehe... nona masih ingat aja. Oke nona bibik siapin kamar tamu nya." Ucap bik fira.
"Eh, nggak usah repot-repot bik. Aku udah booking hotel dekat sini, nggak enak dilihat tetangga kalo nginep disini." Tolak Alden.
"Hotel di depan den? Mending di batalin aja, banyak premannya di sana. Nanti aden malah dapat masalah, tetangga disini mah cuek den nggak akan bermasalah kalo aden nginep juga. Kan ada bibik juga, jangan di samain preman kota tengah sama preman kota yang pinggir den. Belum tentu mereka takut atau tau aden siapa." Jelas bik fira.
"Sudah bik, beresin aja. Nanti juga nginep disini, Maksih ya bik udah di anterin. Bibik tidur duluan aja di kamar kalo udah ngantuk ya. Aku mungkin tidur agak malam." Kata Olive.
"Baik nona, Aden bibik tinggal dulu ya, kalo bibik boleh tebak kayaknya masalah ini berhubungan dengan Non Vina ya?" Ujar bik fira membuat Olive dan Alden mengok ke bik fira.
"Kok bibik tau? Ah, Vina hubungin bibik? Bibik belum ganti nomor? Kalo oma telepon jangan bilang aku disini ya." Pinta Olive.
"Iya, Non Vina telepon bibik maka nya bibik datang lebih awal biasa nya bibik baru datang agak malam. Bibik nggak akan kasih tahu kalo nona disini. Tapi, tadi non Vina kayak khawatir banget dan kayaknya rame gitu bibik nggak tau deh Non Vina lagi dimana." Sahut bik fira.
"Ouh, paling di cafe biasa aku datangin bik sama taman yang biasa aku datangin dulu. Udah biarin aja bik, nanti kalo ada apa-apa salah satu dari 4 pahlawan kesiangan bakal langsung telepon aku. Aku bisa menang lawan mereka kalo saling ketemu tapi kalo udah main teknologi, aku yang kalah." Kesal Olive.
"Hahaha.... maksud nona itu kayak Aden barel, aden kenan, aden cenan sama aden firo ya? Ah, iya bibik paham nona. Yaudah, dilanjutin aja ngobrolnya bibik masuk dulu." Pamit bik fira masuk ke dalam villa.
Sunyi. Hanya suara hembusan angin yang bertabrakan dengan dedaunan dan sesekali menjatuhkan daun yang sudah saat nya gugur. Mereka asyik dengan pemikiran masing-masing, sampai akhirnya suara dering ponsel Olive menyadarkan kedua nya. Tertera di layar nama Kak Firo memanggil.
"Baru juga di omong, panjang umur deh." Gumam Olive dengan malas mengangkat telepon kak Firo.
__ADS_1
Kamu dimana???
Teriak kak Firo membuat Olive menjauhkan ponselnya dari telinga.
Nomor yang anda hubungi sedang sibuk, silahkan hubungi lagi besok. Bye kakak Firo.
Kalo dimatiin, kita samperin sekarang juga.
Olive mengurungkan niat mematikan sambungan telepon karena mendapat ancaman demikian. Sambil mendengus kasar, Olive menyalakan speaker.
Harus di kasih ancaman di samperin dulu ya, baru mau ngomong. Ini Vina ada di Bar, dia nyariin kamu. Kelihatannya kayak khawatir banget.
Iya. Yaudah biarin dulu kak. Jangan kasih tahu nomor aku ke siapapun, awas aja.
Ancam balik nih ceritanya, yaudah bilang kamu dimana sekarang?
Ini di Villa tempat persembunyian aku. Salah satu nya yang kalian pada nggak tahu. Total ada 3 tempat. Aku sama bik fira kok, ada Alden juga barusan datang.
Ucap Olive dengan suara semakin mengecil saat memberitahu ada Alden.
What???
Intinya ini masalah antara aku, Vina dan Alden. Kakak cukup tahu sampai situ aja, sisa nya biar aku yang selesaikan. Ah, tapi kakak bisa tanya sama Vina detail masalahnya.
Yaudah, yang penting ada yang bener-bener jagain kamu. Aku nggak mau sampai kelepasan kamu di culik kayak waktu itu.
Olive memutuskan sambungan teleponnya sepihak. Suasana sunyi kembali, namun kali ini Olive yang memulainya.
"Apa tujuan kamu datang kesini? Penjelasan apa yang ingin kamu sampaikan padaku?" Tanya Olive to the point.
"Orang yang aku bilang di Bar saat kita bertemu pertama kali adalahh Elvina yang kamu kenal. Jadi, benar jika kamu merasa keecewa karena aku terus menghindar untuk memberitahu kamu tentang ini. Ya, Elvina adalah hati yang aku jaga sebelum aku kenal dan jatuh hati padamu. Aku minta maaf untuk kesalahan semua ini." Jelas Alden masih sambil berdiri di samping gazebo sisi lain.
"Apakah kamu juga tahu kalau Vina sudah memiliki pacar atau tunangan dengan Liam?" Tanya Olive.
Alden menggeleng.
"Aku sama sekali tidak tahu dan aku sengaja tidak ingin cari tahu agar kami tetap bisa bertemu. Kemudian dia akan menceritakan hal itu padaku sendiri, aku tidak ingin tahu dari orang lain." Jawab Alden.
"Aku mengerti." Kata Olive.
"Apa yang kamu mengerti?" Tanya Alden takut Olive semakin salah paham.
"Aku yang terlalu buru-buru menyimpulkan keadaan dan lari tanpa menyelesaikan masalah. Bahkan kemarin aku sampai menggigit tangan dan menginjak kakimu. Aku minta maaf juga padamu tentang itu." Ujar Olive.
"Kamu melakukan hal yang benar, ada benarnya kamu kemarin lari seperti ini. Mungkin kita bisa bertarung dan saling menyakiti jika kamu tidak lari. Kita akan menyelesaikan masalah dengan hati yang masih panas." Ucap Alden.
__ADS_1
"Tidak. Aku yang terlalu cemburu setelah tahu semua ini dan aku tidak suka mengakui itu." Kesal Olive.
Alden menatap Olive dari samping kemudian tersenyum.
"Jangan menatapku seperti itu." Kata Olive memalingkkan wajah ke arah lain.
Alden dan Olive sama-sama tersenyum malu karena berantam masalah sepele seperti ini dan sebenernya Olive tidak perlu pergi karena sudah ada Liam disamping Vina. Sudah di pastikan jika Olive cemburu tentang masalalu Alden dengan sahabatnya yaitu Vina.
"Aku mungkin akan melakukan hal sama seperti yang kamu lakukan, bedanya aku tidak akan kabur ketempat lain selain ke Mansion di Markas. Aku tidak punya tempat persembunyian lagi." Ucap Alden.
"Aku harap ini akan menjadi sebuah pembelajaran untuk hubungan kita kedepannya. Nih, duduk dan minumlah. Kamu berdiri terus dari tadi, aku tidak sekejam itu tuan." Canda Olive.
Alden pun menerima sekaleng soft drink dibuka kemudian memberikannya ke Olive. Olive bingung.
"Temani aku minum, Aku tidak ingin minum sendiri. Ingat hanya untuk malam ini saja, besok setelah kembali ke markas jangan lupa minum obat nya." Ujar Alden.
Olive menerima kaleng soft drink itu kemudian mengingat jika dirinya belum makan malam dan dia yakin Alden juga belum makan malam. Saat Alden ingin buka tutup soft drink nya di tahan oleh Olive.
"Tunggu. Kita belum makan malam sudah minum seperti ini, tunggu sebentar disini aku akan ambilkan makan malam yang sudah aku pesan. Ah, aku harap bibik memasak nasi karena aku cuman beli satu porsi untukku." Tutur Olive kemudian masuk ke dalam Villla.
Ternyata bik fira sudah menyiapkan itu di meja makan, ada nasi di sebuah tempat dan beberapa lauk yang sudah Olive pesan tadi siang. Saat Olive ingin balik badan untuk memanggil Alden. Tanpa sengaja Olive menabrak dada bidang Alden karena dia sudah berdiri dibelakang Olive saat mengikutinya masuk ke dalam Villa.
"Awwh! Kamu kebiasaan deh datang nggak ada suara nya bener-bener ya mafia banget." Kesal Olive menggosk kening nya yang sedikit sakit.
Tanpa membalas ucapan Olive Alden mencium kening Olive agak lama kemudian memeluknya tanpa ragu. Olive tersenyum dan membalas pelukan Alden. Saat Olive ingin melepaskan pelukannya, Alden tidak ingin melepasnya.
"Ya! Gimana kalo bik fira lihat." Bisik Olive.
"Tidak akan. Beliau sudah tidur pulas di alam mimpi. Aku merindukanmu, aku bahkan memilih tidak masuk sekolah hari ini." Tutur Alden.
"Lain kali jangan seperti itu, walaupun kamu anak yayasan tapi yang meluluskan kamu tetap pemerintah tahu kamu sudah kelas akhir." Omel Olive.
"Akhirnya aku bisa dengar suara omelan kamu lagi. Iya, aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Janji Alden.
"Sekarang lepas pelukanmu, aku sangat lapar melihat lauk-lauk itu." Protes Olive.
Alden terkekeh dan melepas pelukannya. Mereka pun makan malam dan minum sofft drink hingga larut malam. Setelah 30 menit makan diselingi ngobrol dan canda tawa.
"Kamu tahu tidak? Sebenarnya kita sudah memasuki wilayah kekuasaan Clarke. Aku baru sadar saat kamu datang kesini, jika kamu ke hotel aku takut apa yang di bilang bik fira akan terjadi. Lagi pula bibik sudah menyiapkan kamar tamu untukmu, Lihat sekarang sudah pukul 11 malam." Ujar Olive.
"Baiklah, hanya untuk satu malam ini aku akan menginap. Kita dalam bahaya?" Tanya Alden.
"Tidak, selama Clarke tidak tahu jika kita sudah menginjak daerah kekuasaannya. Bisa di bilang ini sangat dekat dengan perbatasan antara Nugraha dan Clarke. Zet pasti sudah meminta seorang ahli untuk melacak lokasiku jadi aku rasa kita akan aman." Kata Olive santai.
"Nel juga sepertinya sudah melacak lokasi aku sejak aku memutuskan untuk pergi tanpa sepengetahuan ayah bunda." Sahut Alden.
__ADS_1
Bersambung...