
Selama di perjalanan Belden menyetir dengan kecepatan yang cukup tinggi.
"Kak di depan ada belok ke kanan, ada Zet dan yang lain yang akan hadang mereka. Kita belok ke kiri." Pinta Olive.
"Oke! Semua bersiaplah dan berpegangan yang erat." Sahut Belden.
Saat Belden belok ke kiri, dengan cepat Zet dan beberapa mobil pasukan Nugraha menutup jalan untuk yang mengikuti mobil majikannya. Tak lama itu, mereka sampai di Bar sedangkan yang mengikuti mobil Belden sudah mutar balik melarikan diri saat ingin di hampiri oleh pasukan Nugraha. Zet memerintahkan sebagian untuk menjaga Bar dengan ketat dan sebagian lagi mengikuti kemana orang yang tadi mengincar mobil Belden.
"Apakah kita benar aman sekarang?" Tanya Vina.
"Tentu saja. Ini adalah wilayah Nugraha, walaupun kemarin sempat kebobolan oleh Clarke tapi Oma sudah memperketat penjagaan dan menjamin semua nya akan aman." Jelas Olive.
Vina mencubit Olive dibagian tangan dan leher membuat Olive meringis dan bingung.
"Kamu nyata kan?" Tanya Vina curiga.
"Hei... Kamu curiga padaku?" Protes Olive.
"Bukan gitu. Aku hanya untuk jaga-jaga saja, ah aku tidak bisa menceritakannya disini. Ayo kita masuk ke dalam sekarang sebelum keadaan semakin rumit." Ajak Vina menarik Olive diikuti Belden dan Robert.
Setelah sampai di dalam dan menutup pintu Bar baru Vina terlihat lebih tenang. Ternyata di dalam sudah berkumpul yang lainnya juga dan Olive langsung memesan ruangan khusus. Setelah mereka di ruangan itu, barulah Vina memulai ceritanya.
"Jadi, selama aku disana membuka toko ada beberapa kali telepon ke cafe mengatasnamakan kamu." Ucap Vina dengan gelisah.
"Kak, pasti itu orang yang sama dengan yang menyamar menjadi paman." Timpal Robert.
"Aku juga berfikir begitu." Sahut Olive.
"Lalu apa yang terjadi, kamu sempat percaya kalo itu aku?" Tanya Cenan.
"Tentu saja tidak. Aku memiliki beberapa pertanyaan khusus jika itu benar Olive seperti tadi Olive saat datang hanya dia yang tahu sandi morse itu. Begitu pun saat menelepon ke cafe, kecuali menelepon ke ponsel mungkin aku akan percaya jika itu Olive." Jelas Vina.
"Lalu apa yang terjadi? Kalian nggak apa kan?" Tanya Belden.
"Semua aman kak, sampai seminggu sebelum keberangkatan aku dan Liam ke sini. Aku menerima sebuah box kotak berisikan boneka yang berdarah. Maka nya tadi Liam sangat khawatir padaku sebelum berangkat sendiri ternyata Olive menjemput ini juga sedikit membuat aku lega." Jelas Olive.
"Kalian harus pindah dari apartemen itu malam ini juga, Pindah lah ke tempat aman dengan jarak dekat dengan markas Nugraha." Pinta Olive.
"Kenapa pindah?" Tanya Firo.
"Tadi saat dalam perjalanan ke sini, Kita diikuti oleh orang asing kak. Tidak, sebenarnya sudah sejak aku turun di lobby aku merasa di ikuti orang jadi harusnya mereka sudah tahu dimana apartemen mu itu bahaya." Jawab Olive.
"Aku akan memesankan hotel di tempatku. Lain kali jangan sungkan untuk meminta hal seperti ini padaku dan meminta bantuan pada kami. Kamu adalah sahabat terbaik Olive, jadi sudah di pastikan bahwa kamu adalah adik kami juga." Jelas Bara.
"Terima kasih, kalian juga harus selalu waspada. Jangan sampai ada yang berhasil diancam oleh mereka, seperti nya mereka memata-matai ku bukan hanya hari ini saja. Ketika di sana dan sedang buka cafe pun aku merasa kalau mereka pura-pura menjadi pelanggan disana. Mana mungkin ada pelanggan dari awal buka sampai mau tutup di cafe itu cukup mencurigakan." Ucap Vina.
Olive memeluk Vina yang masih terlihat ketakutan. Vina langsung mengeluarkan ponselnya dan menaruh di atas meja.
"Ini adalah ponsel lama ku, sepertinya di sadap oleh seseorang. Bisakah di periksakan? Aku tidak pernah menyalakan setelah mendapatkan teror telepon dan kiriman seminggu sebelum datang kesini." Ujar Vina.
__ADS_1
"Sadap. Benar itu dia! Kak aku akan pergi ke tempat Reina." Kata Robert tiba-tiba bangun dari duduk nya membuat yang ada di sana terkejut.
"Jangan macam-macam kamu, ini sudah malam Robert lebih berbahaya disana." Tolak Olive.
"Tapi, aku harus kesana kak Reina pasti sangat gelisah sama seperti kak Vina. Bodoh, kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal." Kesal Robert.
"Jangan malam ini, besok saja kamu kesana. Ini berbahaya dan mereka belum tahu jika kamu masih hidup, ingat itu. Aku sangat tahu kamu sangat pandai bersembunyi tapi musuh mu lebih pintar saat malam hari, terlebih katamu ada orang-orang yang datangi tempat Reina dengan mencurigakan." Ucap Olive.
"Olive benar, kita belum tahu bagaimana isi otak musuh kita sebenarnya. Kita bahkan belum tahu siapa yang kita lawan sebenarnya, bagaimana jika Reina di ancam dan di minta untuk menjebak kamu ke perangkap nya. Kamu bisa mati untuk kedua kalinya." Tukas Kevan.
"Reina sudah di ancam oleh komplotan Clarke sejak kepergian kamu 8 tahun lalu Robert." Tutur Luna tiba-tiba muncul masuk ke dalam ruangan itu.
"Apa maksud kakak?" Tanya Robert.
"Reina sudah mengambil kerja sambilan di toko ku hampir 3 tahun ini. Sikap nya sangat aneh, sampai satu hari aku menemukan dia menulis kata-kata bahwa Clarke Jahat! di sebuah buku perhitungan toko keuanganku." Jelas Luna sambil mengeluarkan buku itu sebagai bukti.
Robert langsung membuka buku di halaman paling belakang. Banyak coret-coretan disana tentang kekesalan Reina terhadap Clarke yang sudah mengancam dirinya dan keluarga selama 8 tahun lama nya.
"Kak, aku benar-benar nggak bisa nunggu besok pagi. Aku harus pergi sekarang juga, Kak Luna aku pinjam buku nya aku kembalikan besok dan aku akan kembali ke markas sebelum tengah malam." Ucap Robert langsung berlari keluar Bar tanpa memedulikan panggilan Olive dan yang lainnya.
"Kak, Robert..."
"Prass tidak akan membiarkan Robert pergi sendirian. Aku sudah meminta Prass untuk waspada, kamu tenang saja. Balik lagi ke Vina, Ah tidak kita ke Luna dulu. Apa saja yang menurut kamu mencurigakan dari Reina." Ujar Bara.
"Sudah beberapa saat ini setelah Robert mungkin muncul di hadapan Reina membuat para pengancam itu semakin menekannya." Sahut Luna.
Olive langsung membuka tas nya, dia ingat saat terakhir mengunjungi tempat Reina bersama dengan Alden menggunakan tas yang saat ini dirinya pakai juga. Benar, ternyata Reina sengaja menyisipkan sebuah kertas ke dalam tas Olive saat memeluknya. Olive membuka kertas itu dan meletakkannya di tengah atas meja bundar Bar.
KAK TOLONG AKU! AKU DI ANCAM OLEH SESEORANG SEJAK BEBERAPA BULAN ROBERT MENINGGAL. MEREKA MENGINCAR KEKUASAAN KALIAN BAHKAN MEREKA SUDAH MENYADAP TEMPAT INI, RUMAHKU DAN PONSEL KAMI. TOLONG KAK!
Mereka saling menatap satu sama lain setelah membaca pesan dari Reina di kertas.
"Saat itu... emm... tidak tidak... aku tidak membicarakan Robert. Apakah aku membicarakannya? Ahh, aku tidak ingat!" Gelisah Olive.
Flash Back sebelum berangkat...
"Sayang, Oma ada firasat kalo sebaiknya kamu jemput Vina di apartemen tempat dia tinggal." Pinta Oma.
"Kenapa oma? Tapi aku nggak tahu dimana apartemennya dan butuh waktu lama untuk melacak." Sahut Olive.
"Nyonya, semua sudah siap." Ujar Yogi.
"Berikan pada Olive alamatnya dan tetap awasi cucu ku dengan baik jangan sampai mereka melakukan tindakan sendiri dan membahayakan." Perintah Oma.
"Baik Nyonya." Sahut Yogi.
"Oma kapan lacak lokasi nya? Kan oma baru tahu dari aku kalo aku mau ketemu Vina sekarang? Kok cepet banget?" Tanya Olive heran.
"Hadeuh! Kakak lupa kalo oma punya banyak mata dan telinga? Mana mungkin Oma nggak tau sih kak." Jawab Robert.
__ADS_1
"Wah, oma tahu dari Zet ya?" Tebak Olive.
"Bukan. Pokoknya, kamu kesana jemput Vina dan tetap waspada kalo ada apapun mencurigakan segera selesaikan minta pengawal turun tangan. Kamu jalan masih harus pake tongkat jangan memaksakan diri buat lawan musuh kalo kondisi kamu tidak memungkinkan." Tegas Oma.
"Baiklah oma ku sayang, kalo gitu aku kak Belden sama Robert pergi dulu ya. Kevino, jangan macam-macam sama kak Phia. Awas aja." Tutur Olive sambil memicingkan mata nya.
"Dek, udah sana berangkat. Jangan di godain terus ish kamu ini iseng banget sih." Bela Phia.
"Iyaya, bye semua!" Pamit Olive.
Olive ke teras sudah ada mobil kak Belden disana. Robert juga sudah naik.
"Kamu ngapain di belakang?" Tanya Olive bingung.
"Mau kagetin kak Vina. Wwkwk..." Sahut Robert berencana iseng.
"Dasar manusia iseng kamu tuh. Eh, tapi kan dia juga belum tahu kalo kamu masih hidup dek nanti dia pingsan lagi lihat kamu." Protes Olive.
"Nggaklah kak, kak Vina tuh nggak bakal pingsan paling bingung heran aja kok bisa ada aku hehe..." Jawab Robert.
"Yaudah, tapi kalo ternyata Vina udah pergi gimana?" Goda Olive.
"Belum. Ah, masa gagal ngagetin kak Vina nya. Eh, nanti kakak mau di temenin gak ke kamar apartemen kak Vina nya? Kan jalan nya masih susah." Tawar Robert.
"Nggak usah, kan di awasi juga sama Zet dari jauh. Lagian dia kamar nya gak terlalu di atas kok, disini di tulisnya lantai 5 bisa pake lift bukan tangga. Tenang aja." Sahut Olive.
"Oke deh. Kalo ada apa-apa kabarin ya..." Peesan Robert.
"Iya bawel." Kata Olive.
"Kalian berdua tumbenan akur begitu. Kan enak di lihat nya, jangan goda menggoda gitulah antar sodara yang akur aja. Jadi nggak pusing kakak tuh lihatnya anteng damai gitu." Puji Belden.
Olive melirik ke arah Robert dari kaca spion tengah kemudian tersenyum smirk. 25 Menit kemudian mereka telah sampai di lobby apartemen Vina Liam tinggal sementara. Saat Olive memasuki lobby apartemen, ada seseorang yang mengikuti pergerakan Olive. Olive segera menekan tombol lift lalu masuk ke dalam lift. Untu mengelabui musuh Olive menekan tombol 3 kemudian tombol 5 lalu menekan tombol lantai 10 untuk mengantisipasi kalo nanti mereka mengejar Olive.
Olive turun di lantai 5 segera menuju nomor kamar yang sudah oma berikan. Olive mengetuk pintu apartemen dengan sandi morse saat mereka di negara yang sama. Terdengar Vina membalas ketukan pintu Olive dengan morse juga.
Flashback off~
Lalu Olive mengingat pembicaraan tentang Robert.
"Ah! Reina sempat mengingatkan ku untuk tidak balas dendam tentang kematian Robert. Benar, dia sempat memperingatkan ku tentang jangan membalas dendam lagi mengenai kematian Robert. Padahal yang aku tahu, dia belajar bela diri selain untuk melindungi dirinya juga untuk membalaskan kematian Robert namun kenapa tiba-tiba dia memintaku untuk berhenti. Ah, harusnya aku curiga pada saat itu." Kesal Olive pada dirinya sendiri.
"Jangan lupa dek, Kamu saat itu sepertinya sudah dalam pengaruh obat yang diberikan penyusup Clarke di kamar kamu. Kamu kehilangan insting sigap kamu saat itu. Lebih baik terlambat daripada tidak menyadarinya sama sekali. Kita memiliki bukti kuat bahwa sebenarnya Reina dalam bahaya. Selanjutnya kita harus memikirkan bagaimana caranya untuk mengetahui siapa yang mengancam Reina." Ucap Luna.
"Kakak benar. Aku semakin penasaran siapa sebenernya yang berani mengusik keluarga Nugraha seperti ini. Apakah nyawanya sangat tidak berarti untuk dirinya sendiri atau mungkin dia juga sudah siap kehilangan nyawanya. Pengecut tetaplah pengecut hanya bisa mengancam tidak berani muncul di hadapan saingannya langsung. Kita lihat saja, sampai kapan dia akan terus bersembunyi dan mempermainkan Nugraha seperti ini. Aku tidak akan memberinya ampun bahkan nyawa kedua pun tidak ada untuk dia." Tegas Olive dengan aura yang membuat seisi ruangan merasakan aura membunuh Olive sudah bangkit lagi.
Sementara itu, tempat Robert berada...
Bersambung...
__ADS_1