Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 137


__ADS_3

"Aku ikut kak." Ucap Sam mengajukan diri.


"Kalian gimana?" Tanya Rio.


Quira dan Yumi saling menatapp kemudian melihat Ibrano.


"Oke, gua ikut. Kalian berdua nggak perlu ikut biar kita bertiga aja. Gua cukup meragukan situasi kita tapi kalo kita nggak saling bantu kita nggak bakal bisa maju. Sekarang kita jalan dulu ke hutan, gua yakin mereka bakal lewat jalu darat." Ujar Ibrano.


"Kalo gitu kita yang bakal lewat jalur darat untuk melihat apakah bandara Nugraha bisa kita gunakan untuk kabur di waktu yang tepat atau tidak." Sahut Yumi.


"Iya kak, kita tetap harus komunikasi dalam keadaan apapun." Sambung Quira.


"Yaudah kalo gitu kita saling jaga diri dan saling menjaga satu sama lain." Pesan Rio.


Mereka pun membagi menjadi dua tim. Rio, Ibrano dan Sam melalui hutan belantara milik Nugraha yang mereka belum ketahui jalannya dengan baik terdapat banyak jebakan untuk penyusup tidak seaman yang mereka bayangkan. Apakah mereka akan berhasil menyusup sampai ke Mansion atau Markas milik Nugraha melalui hutan belantara?


Sementara Quira dan Yumi di ikuti setengah dari bawahan yang mereka bawa menuju ke pusat kota dengan mobil milik anak buah Nugraha yang sudah mereka bunuh.


Sementara itu tim Alden membagi tim agar tidak ada kecolongan masuk penyusup. Karena hutan Nugraha sangat luas tidak bisa di anggap seperti taman biasa.


"Kalian hati-hati ya, ingat apapun keadaannya sampaikan lewat talkie walkie biar kita bisa dapat bantuan dari pusat juga." Ucap Belden.


"Siap!" Sahut semua kompak.


"Go!" Perintah Belden yang memimpin peperangan.


Mereka dibagi menjadi 4 tim karena tadi secara tiba-tiba di sepanjang perjalanan Ryan menelpon Alden dan menawarkan diri untuk ikut dengan Rafa.


Halo bos, apakabar? Kok lama banget nggak ada kabar sama Olive? Kalian nggak putus kan?


Nggak Kok. Sorry Ryan gua nggak kasih kabar kalian sama sekali. Karena situasi sekarang sangat bahaya bukan sembarang kayak yang kita lawan sebelumnya. Gua nggak mau nanti kalian juga ikut dalam bahaya, Olive aja nggak gua izinkan buat ikut dalam hal ini.


Bos, gua paham kok posisi lu. Tapi lu jangan lupa kalo kita berdua juga bagian dari Mafia yang baik kayak lu. Bokap Nyokap gua bahkan setuju kalau gua bantu lu dalam hal ini, Nggak mungkin lah kita biarin lu ngelindungin rakyat sendirian. Apalagi lawan lu masih belum benar diketahui siapa bos sebenarnya.


Lu benar juga sih, Tapi gimana sama Shakila dan Niesha kalo kalian ikut gua berperang?


Tenang bos. Mansion Nugraha suda di tambah perketat keamanan nya sama bawahan gua dan Rafa. Nggak akan ada yang bis tembus itu sejarak 2 KM. Gua juga nggak mungkin bawa mereka dalam bahaya kan?


Yaudah, nanti setelah dari peperangan ini selesai. Gua traktir kalian makan, kita udah lama nggak kumpul lagi. Ingat, jangan sampai ada yang terluka dan harus saling menjaga. Kalian mau gabung di Tim gua atau gimana?


Nggak bos. Kita tim baru aja, Kita udah sampai di lokasi juga. Bos, kalo keadaan mendesak minta kita ke lokasi segera ya. Jangan sungkan, tetap berkabar dengan baik.


Oke!!!


Tim 1 : Alden Belden beserta 50 bawahannya

__ADS_1


Tim 2 : Kevan Firo beserta 50 bawahannya


Tim 3 :  Barel Cenan beserta 50 bawahannya


Tim 4 : Ryan Rafa beserta 50 bawahannya


Mereka mulai menelusuri hutan berantara itu secara berpencar. Setelah sampai di pertengahan hutan, Belden bersiul beberapa kali dan tidak lama itu seekor cheetah jantan berbadan tinggi tegap datang menghampiri Belden.


"Halo Yeta sayang, mari kita berburu dengan baik." Gumam Belden.


Cheetah itu seperti mengerti apa yang di katakan Belden dan berdiri tepat di samping Belden dengan Gagah.


"Setelah peperangan ini, aku akan meminta Via untuk menemuimu. Kamu merindukannya bukan?" Tanya Belden.


Yeta mengeluskan kepala di tangan Belden yang mengartikan bahwa dirinya merindukan Via seperti yang di bilang Belden.


"Baiklah, tetap waspada. Ingat, jangan membunuhnya tapi lumpuhkan saja. Mengerti?" Pinta Belden.


Tanpa berlama-lama. Yeta pun pergi untuk meminpin jalan menuju tempat musuh beerada mengandalkan penciuman tajam seekor Cheetah. Olive memiliki 3 Cheetah dan hanya Yeta yang bisa menuruti kemauan dari seluruh anggota keluarga Olive. 2 lainnya adalah betina, mereka hanya menurut jika di perintahkan oleh keeper dan tentu saja Olive langsung. Tetapi, untuk masalah melindungi 3 cheetah ini akan selalu melindungi tanpa perlu di minta.


Sementara itu di Mansion Nugraha~


Di ruang tamu ada Olive yang mondar mandir sejak kepergian Belden dan yang lain sehingga tidak sadar dengan kedatangan Shakila dan Niesha. Mereka mengerti apa yang di rasakan Olive, Karena beberapa hari semenjak Olive Alden tidak masuk sekolah mereka hanya berdua-dua saja. Sehingga tanpa mereka sadari timbul rasa sayang serta khawatir yang sama terhadap Ryan dan Rafa.


Niesha menyentuh pundak Olive sehingga membuat Olive sedikit terkejut.


Olive terdiam menatap Niesha dan Shakila bergantian kemudian memeluk mereka satu persatu.


"Oh nona. Apa ini benar pelukan kerinduanmu atau kau berniat lain hem?" Tanya Shakila.


"Ahh... maaf. Aku terlalu kencang memeluk. Bagaimana kabar kalian? Tunggu, bagaimana kalian bisa kesini? Apakah kalian baik-baik saja? Kak Ryan dan Kak Rafa mana? Kenapa hanya kalian berdua? Kalian datang dengan apa?" Tanya Olive.


"Dek, bisa kahh menanyakan mereka satu persatu. Mereka bingung menjawab yang mana pertanyaan sebanyak itu." Protes Luna.


"Ahh... iya benar juga. Maaf, kita duduk dulu dan ceritakan padaku bagaimana kalian datang kesini?" Tanya Olive.


"Akhirnya kakak duduk juga." Tutur Reina yang ssedari tadi hanya bisa pusing memperhatikan Olive mondar-mandir di ruangan itu.


"Kamu benar." Sambung Luna menyetujui.


Shakila dan Niesha pun bergantian menceritakan dari awal mengetahui Olive tidak masuk sekolah hingga mereka mendengar alarm yang di nyalakan untuk evakuasi jika ada peperangan.


"Begini. Pertama lu tenangin diri lu dulu oke? Tarik nafas terus lu hembuskan pelan-pelan sampai lu benar-benar tenang." Pinta Shakila.


Olive melakukan apa yang di pinta Shakila untuk menenangkan dirinya.

__ADS_1


"Sudah lebih relax benar? Sekarang Niesha akan jawab pertanyaan lu satu persatu tadi." Ujar Shakila.


"Pertama kabar kita sangat baik-baik aja setelah malam promnight itu. Besok senin nya kita sekolah seperti biasa tapi dengan mengamanan ketat yang kita ketahui itu perintah lu juga Kak Alden. Kemudian masalah kak Gitta, mungkin lu sama Alden belum tahu berita penting ini. Sebenarnya yang di temui dia di cafe yang lu fikir adalah Wiyata itu salah. Kak Gitta punya satu kakak laki-laki, dia termasuk pemegang terbesar saham buat mafia gelap atau mafia jahat. Mungkin bisa jadi dia itu ketua dari kelompok ular yang selama ini lu lawan." Jelas Niesha.


"Oh Shi*! Lalu?" Tanya Olive diikuti rasa penasaran Luna dan Reina.


"Memang benar yang bidik lu di lapangan basket pas pertandingan suruhannya kak Gitta. Tapi, lu menangkap orang yang salah. Yang sesungguhnya bidik lu orang nya udah kabur lebih dulu. Jadi, bapak tua waktu itu hanya buat pengalihan lu aja sama Alden." Lanjut Shakila.


"Kalau begitu yang gua tangkap benaran adik dari Rio." Gumam Olive.


"Rio? Saverio Tevy Gardapati? Liv, dia tangan kanan dari kakak nya kak Gitta. Dia nyuruh Ibrano untuk berpura-pura jadi bos kelompok ular. Tapi bos sesungguhnya adalah kakak nya kak Gitta yang sampai saat ini keberadaannya belum kita ketahui. Gua denger terakhir dari ilona, kakak nya itu gak tinggal serumah sama kak Gitta. DDia tinggal di apartement elite pusat kota. Kalian benar-benar sangat dekat selama ini, ini benar-benar bahaya Liv. Apa nggak sebaiknya lu pindah ke negara yang benar-benar udah terlindungi sama Nugraha semua dan nggak bisa dimasuki sembarang orang seperti ini?" Khawatir Niesha.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2