
"Lu suka kesini juga?" Tanya Alden.
"Nggak kak, ini pertama kali." Jawab Olive.
"Ouh, udah lama?" Tanya Alden.
"Lumayan kak, udah hampir satu setengah jam disini. Kalo kak alden sering kesini?" Sahutku lalu bertanya balik.
"Ya, semenjak tau ada bar yang non alkohol cuman disini sering datang dari awal kelas dua SMA lah kira-kira." Jawab Alden.
"Ouh, sendirian kak?" Tanya Olive.
"Nggak. Bareng sama dua temen. Lu sendiri?" Tanya Alden juga.
"Nggak. Bareng sama dua temen juga." Sahut Olive.
"Lu pacaran ya sama pelayan yang disana kok kayaknya dekat banget." Ucap Alden.
'Berarti dia diam-diam udah ngamatin ya dari tadi. Hufft! Olive tenang jangan buru-buru simpulin.' Bathin Olive.
"Hem.. nggak kak. Temen kakak aku aja, kebetulan emang deket banget." Sahut olive.
Entah kenapa Alden merasa senang mendengar jawaban dari Olive.
"Ouh, boleh ke meja itu bentar nggak biar nyaman." Tawar Alden.
"Boleh." Sahut Olive.
Saat menuju satu meja banyak mata laki-laki yang menatap Olive seperti tatapan *Lapar*, Alden yang merasa Olive risih karena tatapan itu melepas jaketnya dan melampirkan di pundak Olive. Sampai di meja.
"Pakai aja jaketnya dulu, nggak nyaman kan di lihatin orang." Ucap Alden sambil menahan tangan Olive yng ingin mencopot jaket Alden dari pundaknya.
"Thanks kak, oiya. Kakak mau ngomong apa?" Tanya Olive.
"Lu udah tau kan soal orang tua kita?" Tanya Alden.
Saking asyiknya di bar sampai lupa tentang masalah itu dan tepat ada orang nya di depan. Langsung dibahas.
"Ouh, iya kak. Baru di kasih tau tadi pas makan malam. Kakak keberatan kan? Nggak apa kak. Aku juga keberatan karena masih ada beberapa mimpi yang belum tercapai juga." Jawab Olive.
"Syukur deh. Kalo ternyata imbang sama-sama nolak." Ujar Alden.
Mereka pun terdiam sejenak asyik dengan pemikiran masing-masing.
"Lu beneran nggak mau di coba jalanin dulu gitu?" Tanya Alden ragu.
'Wait! Kak Alden barusan ngajak? Beneran Ngajak buat pacaran? Apa pendengaran gue yang bermasalah?' Bathin Olive.
'Alden, Bego. Kenapa lu ngajakin sih? Duh, salah ngomong deh gue.' Bathin Alden.
"Maksud kak Alden?" Tanya Olive.
"Emm, Maksud gue coba jalanin sebagai teman gitu. Walaupun nanti nggak bisa sesuai permintaan orang tua seenggaknya masih bisa berteman baik." Jelas Alden.
"Ouh.. Em. Boleh deh. Kan nggak ada salahnya berteman hehe." Sahut Olive.
__ADS_1
"Yaudah, mau balik ke tengah atau mau pulang?" Tanya Alden.
"Balik pulang aja kak, makin malam makin rame banget. Eh, tapi bentar kak aku pamit dulu sama temen kakak aku." Ucap Olive.
"Ouh, yaudah gue tunggu di sini." Sahut Alden.
"Nggak usah kak, kakak balik aja ke temen-temen kakak. Nanti aku ke meja kakak sekalian balikin jaket. Kan nggak nyaman disini." Ujar Olive.
'Pengertian juga nih, ya semoga aja nggak salah coba-coba deh.' Bathin Alden.
"Yaudah, gue di meja 5 ya." Ucap Alden berdiri.
"Oke kak. Kalo gitu aku kesana duluan." Sahut Olive di angguki Alden.
Tak lama itu Alden kembali ke meja nya bertemu dengan Ryan dan Rafa.
#PoV Author off
"Wes! Udah balik. Eh, tunggu. Jaket lu kemana bos?" Tanya Rafa.
"Wah, bos dapet nih kaitan nya." Goda Ryan.
"Apaan sih lu pada. Kagak. Udah diam deh mumet nih." Sahut Alden sambil menatap ke arah meja bar utama.
Disisi lain, Meja bar utama.
"Kak kevan, aku pamit pulang yak. Udah hampir jam setengah sebelas nih." Ucap ku.
"Baru aja mau di samperin. Belden udah ngirim pesan minta kabarin ke kamu suruh pulang. Yaudah, jangan kapok ya main ke sini lagi." Ujar Kevan.
"Bisalah di atur. Eh by the way tadi siapa yang ngajak ngobrol berdua. Cieee!" Goda Kevan berhasil membuat ku malu.
"Bukan siapa-siapa." Sahutku.
"Eh, bukan siapa-siapa tapi minjemin jaket. Laporin ah ke belden adek nya udah nggak jomblo." Goda Kevan membuat muka ku merah malu.
"Itu kakak kelas aja, kebetulan sekolah nya sama. Dia minjemin jaket karena tuh baju aku. Nggak nyaman di lihatin mata-mata *lapar* disini." Jelasku.
"Wah, perhatian juga tuh dek. Bisa lah kenalin kapan-kapan. Di uji coba dulu sebelum beneran jadi sama kamu." Ucap Kevan.
"Yehh, udah ish ngeledek nya. Aku pamit, bilang sama kakak aku otw pulang. Oke, bye kak!" Pamit ku pergi.
"Wah wah belden bisa di langkahin nih kalo begini ceritanya. Eh, gue juga dong." Gumam Kevan pada diri sendiri.
Aku pun kembali ke meja.
"Eits! Jaket siapa nih di pake? Wih, bau nya mint lagi. Hayo ngaku." Goda shakila.
"Ini mau gue balikin nanti kelewat meja nya. Yuk, pulang udah jam segini besok masih sekolah tau." Ucapku sambil mengganti jaket kak Alden dengan cardigan punyaku.
"Siap nona tiga besar. Semangat ya!" Ledek Shakila dan Niesha.
Mereka pun pergi menuju meja 5, dari kejauhan.
"Bos! Anak baru anak baru nyamperin." Bisik Rafa.
__ADS_1
"Ehm! Kak Alden, ini makasih jaketnya." Ucap Olive.
"What?!" Ucap Rafa, Ryan, Shakila dan Niesha berbarengan.
"Iya, sama-sama." Sahut Alden.
"Wait! Kalian ngaku. Udah kenal lama kan?" Ucap Rafa.
Alden dan Olive saling pandang beberapa detik lalu menggeleng.
"Jadi, tadi jaket itu. Beneran punya kak Alden? Oh god! Olive lu... "
"Emm... yaudah kak, kita pamit duluan ya. Besok masih sekolah." Ucap ku.
"Ouh ya, hati-hati ya." Sahut Alden di angguki olehku.
Aku pun segera menarik kedua tangan Shakila dan Niesha kemudian menuju pintu luar. Kedua sahabatnya itu menatap minta penjelasan.
"Apa? Tadi tuh nggak sengaja ketemu di altar tengah. Terus ada sempet ngobrol-ngobrol dikit. Karena dia ngerasa gue nggak nyaman di tatap mata sama orang-orang jadi di pinjemin jaketnya." Jelas ku.
"Udah gitu doang?" Tanya Niesha.
"Iya gitu doang. Gue nggak bohong. Kan tadi emang nggak lama kan gue di tengah pergi nya." Ucapku.
"Kita pulang satu mobil. Nggak mungkin kalian nggak saling kenal atau ada masalah apa-apa. Ayo." Ajak Shakila menuju tempat tunggu mobil online berhenti.
Akhirnya aku pun menceritakan tentang permasalahan aku yang ingin di jodohkan oleh orang tua ku dengan kak Alden. Mereka berdua pun kaget sekaligus mendukungnya.
"Eh! Kalian berdua awas ya kalo sampe ngomong-ngomong ke anak-anak yang lain. Gue nggak mau kena masalah sama kak gitta nanti. Gue sama dia juga sepakat kok buat nolak dan ngejalanin sebagai teman aja." Ucapku.
"Tenang, rahasia lu aman sama kita. Tapi, nggak ada salahnya di coba jalanin. Siapa tau nanti nyaman eh jadian deh." Goda Niesha.
"Kayak nya nggak mungkin deh. Secara kak Alden pasti udah jadi incaran buat kak gitta atau pun cewe sekolah yang lebih popular. Gue jadi gadis biasa aja lah." Sahutku.
"Gadis biasa itu biasanya lebih menarik haha... " Tawa Shakila diikuti Niesha.
"Aduh, kalian ini. Eh, mobil nya mana. Belum datang juga sih udah mau jam 11 nih. Bisa di tarik dah fasilitas gue kalo jam 12 belum dirumah." Ujarku.
"Wah di cancel. Ya mau gimana lagi emang susah dapet mobil online jam segini." Ucap Shakila.
"Coba lagi." Ujar Niesha.
Ponsel ku berdering.
Iya kak, aku masih di depan nunggu mobil online.
^^^Ouh masih di depan? Mau di antar gak? Bisa minta supir aku nih.^^^
Nggak usahlah ngerepotin. Kakak juga pasti kan ada pelanggan banyak. Sampein aja ke kak belden aku mungkin agak telat.
^^^Yaudah, yang penting hati-hati ya dek. kabarin kalo sampe jam setengah 12 belum ada juga. Nanti di antar ajalah. Bahaya juga jam segini.^^^
Iya kak. Bye!
Alden dan dua sahabatnya juga akan pulang. Namun, Alden melihat Olive dan kedua sahabatnya masih menunggu di bangku tunggu mobil online.
__ADS_1
Bersambung...