Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 92 - Kejadian Sebenar-benarnya


__ADS_3

Olive yang berdiri belum seimbang hampir terjatuh karena kehadiran Kevino tiba-tiba di belakangnya. Untung Alden sigap menopang tubuh Olive.


"Apa maksud kakak dengan ini semua?" Tanya Olive tak habis pikir.


"Alden, Kevino bisakah tinggalkan kami berdua saja? Kalian bicaralah diluar." Pinta Phia.


Alden tampak ragu meninggalkan Olive. Namun Kevino menarik tangan Alden untuk keluar dari kamar lalu menutup pintu nya. Olive duduk di pinggir kasur menghadap jendela luar diikuti oleh Phia.


"Ada apa kak?" Tanya Olive.


"Soal kemarin, izinkan aku." Ucap Phia to the point.


"Kak, kenapa kakak sangat inginkan itu? Kakak belum puas membuatku sakit hati saat melihat kakak di perlakukan tidak hormat oleh Sam? Kakak mau aku melihat itu lagi? Oke! Kevino mungkin bukan orang yang melakukan itu tapi... kak tidak bisakah permintaan lain?" Ujar Olive.


"Dia tidak akan melakukan hal itu. Percayalah padaku sayang." Sahut Phia.


"Aku memang berhutang 3 permintaan pada kakak dan ini akan jadi permintaan terakhir kakak. Tapi bisakah selain ini? Kita bisa keliling dunia... atau berlibur dengan keluarga besar. Atau apapun itu, tapi jangan ini. Bisakah?" Mohon Olive.


"Aku sudah mengatakan hal ini kepada oma, opa dan keluarga lainnya." Kata Phia.


"Lalu apakah mereka setuju?" Tanya Olive.


"Mereka akan setuju jika kamu setuju. Keputusan akhir ada di kamu." Sahut Phia.


"Baiklah sekarang kita pulang dan bicarakan di markas Nugraha." Usul Olive.


"Pulang? Kamu sudah di bolehkan pulang?" Tanya Phia.


"Iya. Kakak bisa tanyakan pada dokter tomi. Sekarang aku akan beberes sebentar lalu kita ke markas." Ucap Olive tegas.


Olive mengeluarkan ponsel dan menelepon Zet.


Aku akan pulang ke markas Nugraha. Kumpulkan semua keluarga, ada masalah darurat.


Baik Nona.


Olive memutuskan sambungan. Raut wajah Phia berubah menjadi takut.


"Ada apa kak? Kenapa kakak takut begitu? Ada yang salah?" Tanya Olive.

__ADS_1


"Aku berbohong. Aku belum mengatakannya pada siapa pun. Bisakah kamu membatalkan kumpul keluarga itu?" Pinta Phia.


"Aku tahu kakak berbohong. Tapi, aku juga ingin masalah ini cepat selesai. Aku butuh masukan atau pendapat dari mereka." Ujar Olive.


"Tidak bisakah kamu jangan mempersulit keadaan? Lagipula ini hanya pernikahan kontrak, dia tidak akan menyentuhku tanpa izin dariku. Dia juga tidak ajan mencampuri masalah keluarga atau pribadiku." Jelas Phia membuat Olive berhenti membereskan pakaiannya.


Sejak tadi Olive menahan airmata nya agar tidak keluar namun setelah mendengar pernyataan sang kakak. Airmata itu mengalir bebas. Sementara di luar ruang kamar. Alden membawa Kevino ke rooftop.


"Tidak bisakah kau membiarkan mereka bahagia? Kenapa harus merusak kebahagiaan orang hah!" Marah Alden.


"Gua bersungguh-sungguh tentang pernikahan. Gua nggak main-main! Gua juga udah bilang ini ke Zaylee. Kenapa kalian sama sekali tidak ada yang percaya dengan niat baik gua?" Kesal Kevino.


"Karena lu udah melakukan hal yang fatal! Walaupun mungkin bukan lu yang memperlakukan Phia tidak hormat tapi lu hampir buat Olive kehilangan adiknya, Robert!" Ujar Alden.


"Lu nggak tau apa-apa. Selama ini yang lu tau dia tinggal dan di selamatkan dokter franklie. Lu salah, yang sebenarnya terjadi adalah anak yang menggantikn Robert kecelakaan adalah Edward Damar Wiyata dan wanita yang bersamanya saat itu adalah ibuku. Berarti yang aku bunuh adalah adikku sendiri!" Teriak Kevino.


"Lu ngarang cerita?" Ucap Alden tak percaya.


"Ini permintaan terakhir Damar sebelum meninggal. Dia minta gua supaya bertanggung jawab atas apa yang udah gua lakuin itu. Dia selama ini memata-matai gua dan tau rencana gua saat itu. Terus niat gua menculik Olive dan Phia bukan untuk melakukan perbuatan seperti yang Sam lakukan. Tapi, gua menyelamatkan mereka dari penculikan ibrano. Walaupun setelah itu gua melakukan kesalahan yaitu memberikan mereka kepada Sam. Tapi, gua berani sumpah. Niat asli gua adalah menolong mereka. Niat gua kali ini adalah membalas kesalahan gua, gua akan jaga Phia baik-baik. Selama ini gua diam-diam ngawasin Phia. Gua jatuh hati sama Phia. Kalo lu masih gak percaya, lu bisa telepon Lio, dia asisten gua satu-satunya sampai sekarang!" Jelas Kevino sampai ngos-ngosan.


Kevino kehabisan nafas berbicara teriak bahkan dia sampai menitikkan airmatanya.


"Gua tahu lu masih nggak percaya. Gua cuman punya bukti ini dari kamera blackbox mobil gua saat itu dan ini surat dari nyokap gua. Tapi, ini dari Damar. Sejak hari itu nyokap nggak mau ketemu sama gua sekalipun. Selama permintaan adek gua belum terwujud, nyokap gua akan tetap bungkam ketika ketemu dengan gua dimana pun itu. Lu bisa bawa ini, Phia udah tahu soal ini. Satu lagi, gua kirim ke lu barusan itu pesan suara percakapan gua dan Lio di mobil pas bawa Olive Phia pergi. Dan ada pesan suara kedua adalah kemaran gua karena Sam udah melakukan hal bejat itu ke Phia. Lu bisa tunjukin ke semua keluarga lu dan keluarga Nugraha kalo mau... yang asli ada di tangan lu. Gua pegang yang copy an nya." Jelas Kevino.


'Seharusnya dia megang yang asli. Kok malah kasih ke gua? Hah?' Bathin Alden.


"Iya. Lu pegang yang asli aja, gua percaya kalo lu orang baik. Kalo di tarik mundur lagi, lu bakal semakin gak ngerti. Gua adalah salah satu kepercayaan kakek Nugraha waktu di negara S tapi gua gak bisa buktiin itu sekarang. Karena dari 5 orang cuman gua yang masih bertahan, sisanya mengkhianati kakek Nugraha. Orang-orang yang dibunuh oma Nugraha, adalah pengkhianat itu." Jelas Kevino.


Alden menatap tajam ke kevino. Apakah Olive juga akan percaya ini? Sementara itu di kamar Olive. Phia menceritakan hal yang sama dengan kevino.


"Percaya dek, semua akan baik-baik aja." Yakin Phia.


"Kalo dia benar-benar serius, dia nggak akan minta bawahannya untuk seorang aku berkali-kali di sekolah, di perjalanan bahkan sampai rumah pun ke bobol." Ucap Olive.


"Kamu salah. Itu semua ide Sam, waktu di taman wahana rencananya dia mau bantu kamu. Tapi, entah kenapa kamu Serang dia lebih dulu." Sahut Phia.


"Kak, please! Kakak di kasih apa sama dia? Kakak minum atau makan apa? Kenapa jadi gini sih kak? Aku tuh takut banget kak. Jangan kayak gini bisa gak sih? Ini masih baru ulang tahun aku, tapi bukan ini yang aku mau." Ujar Olive.


"Baiklah. Kita ke markas sekarang, Aku akan tetap pada pilihanku. Tidak akan pernah berubah." Jawab Phia kemudian keluar dari kamar rawat Olive.

__ADS_1


Alden segera masuk begitu keluar dari lift melihat Phia keluar begitu saja. Olive terduduk sambil menundukkan kepalanya dan memainkan jarinya. Tiba-tiba Alden memeluknya dan tangis Olive pecah. Setelah cukup tenang, Zet mengetuk pintu namun tidak membuka nya.


"Nona, semua keluarga sudah berkumpul di markas. Tinggal nona saja." Lapor Zet.


"Aku mengerti." Sahut Olive.


Dengan sisa tenaga yang ada, Olive pun pulang diantar oleh Zet. Olive meminta Nel membawa Alden untuk pulang ke markasnya. Awalnya Alden menolak namun kemudian Alden mengeluarkan Flashdisk dan mengirim beberapa rekaman ke Olive yang tidak dikirimkan oleh Phia.


"Kabarin aku kalo ada apa-apa." Ucap Alden.


"Kamu hati-hati di jalan. Kabarin aku kalo udah sampai." Sahut Olive.


Akhirnya mereka berpisah. Di Markas Nugraha.


"Nona Muda Kedua." Panggil para bawahan Nugraha.


"Sayang, kamu udah pulang? Kok nggak ngabarin sih?" Tanya Mama.


"Iya mah, aku mau langsung ngomong ke intinya aja. Kak, mau aku yang ngomong atau kakak yang jelasin semua?" Ungkap Olive.


"Kalian kenapa berselisih begini?" Tanya Oma.


"Saya aja yang ceritakan semua." Sahut Kevino tiba-tiba muncul.


Membuat semua bawahan langsung angkat senjata melindungi setiap tuan dan nona nya.


"Aku cuman minta kakak yang datang. Kenapa pake ajak dia segala sih?" Kesal Olive.


'Ada apa ini sebenarnya." Kata Opa Bingung.


"Kedatangan saya kesini untuk meminta izin keluarga Nugraha agar menikahkan Phia dengan saya." Ucap Kevino satu nafas.


"Sayang apa maksud semua ini?" Tanya Papa.


"Aku ingin menikah dengan Kevino." Ujar Phia.


"Kak, kakak tahu kan apa yang dia lakuin ke aku kalian? Kakak kenapa sih?" Kata Robert.


"Zet, tampilkan." Perintah Olive.

__ADS_1


"Baik nona." Sahut Zet.


Bersambung


__ADS_2