Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 28 - Keluarga Mafia


__ADS_3

Alden mengangkat gegaman telepon intercom dan me loudspeaker.


"Bodoh! Aku ini musuh kalian berdua. Ternyata kalian sangat dekat denganku! Hahaha!"


Olive yang merasa tidak asing dengan suara itu tiba-tiba mundur ketakutan. Shakila Niesha menghampiri Olive.


"Siapa lu?"


"Sayang sekali anda tidak mengeli saya, tapi jangan khawatir. Perempuan yang anda lindungi seperti mengenali suara saya. Bukan begitu gadis cantik?"


"Terus kenapa kalo gue kenal sama suara lu?"


"Weits! Galak amat sih gadis cantik."


"Nggak perlu basa-basi. Mau apa lu muncul lagi, bangkit dari kubur."


"Ihh... takut. Kalo bukan karena pembantaian keluarga gue dulu. Gue nggak akan ada di sini."


"Jadi ceritanya menyesal sudah membangunkan singa tidur om om lapar?"


"Gadis ***** sialan**!"


"Santai om lapar, bukankah ini semua salah om ya? Sudah tau keluarga Nugraha itu mafia kenapa di usik. Sekarang, datang lagi ingin menyerahkan diri kah setelah kabur seperti pengecut?"


"Sialan! Awas kau sampai nanti kita ketemu. Ini baru permulaan, Satu persatu orang yang kamu sayangi harus ikut lenyap juga. Ingat itu***!"


Olive menggebrak meja membuat yang mendengar kaget.


"Om lapar juga harus ingat, sebelum itu terjadi aku yang bakal bikin om lapar menderita perlahan. Dulu memang aku tidak bisa apa-apa ketika di culik. Sekarang aku tidak akan tinggal diam. Ah! Bagaimana mulai dengan gadis kecil cantik milik om di negara sana?"


"Sial..."


"Jaga etika sopan santun jika tidak ingin aku menyentuhnya!"


Olive langsung mematikan telepon intercom itu dan menelpon kak belden.


Kak! Barusan orang itu berhasil menerobos telepon intercon markas keluarga fausta.


Maksud kamu siapa?


Ternyata di sana ada papa nya.


Hehe... hai pah. Itu Clarke pah.


Bukankah sudah tidak ada yang tersisa? Bagaimana bisa dia hidup kembali? Kenapa kamu mengangkat telepon nya? Apa dia melakukan sesuatu padamu?


Pah, Stop it! Kita memang sudah membantai semua. Tapi papa menyisakan satu orang di luar negeri.


Hei! Kamu menguping pembicaraan kakak dan papa sejak kecil. Kamu...


Bisa tidak marah nya nanti saja. Intinya, dia satu-satunya yang tersisa dari keluarga Clarke. Dia hampir menembak ku tadi.

__ADS_1


Maksudmu menyatakan Cinta?


Kak, bisa serius tidak? Begini saja. Masukkan aku ke anggota di markas.


TIDAK!


Jawaban itu kompak terucap lebih dari tiga suara.


Opa tidak ingin kamu masuk dalam markas. Itu berbahaya sayang.


Kalian memintaku untuk mempersiapkan fisik dan mental melawan musuh. Tapi, kalian kompak tidak memperbolehkan ku? Lantas buat apa kemampuan test ku selama ini?


Untuk mengantisipasi jika dia menculikmu atau melakukan hal tak terduga.


Itu mungkin terjadi karena aku baru saja mengancam nya dengan gadis kecil cantik yang dia jaga selama ini.


Hei! Yovi selama ini apa kamu melaporkan kepada salah orang? Mengapa kami tidak tahu soal itu?


Ups! Maafkan aku uncle Yovi. Jangan salahkan uncle Yovi, aku merentasnya sendiri.


Sendiri?


Ya lah sendiri, kalo aku bilang kepada kalian bukankah kalian akan menyita laptop-laptop ku?


Ah! Jadi sejak saat kamu meminta laptop yang lebih canggih. Wah! Kamu...


Oma, Aku ingin gabung ya? Aku janji nggak akan maju sendiri.


Karena Olive tidak menjawab jadi Alden yang jawab, kebetulan di loudspeaker juga.


Baik oma opa om dan kak belden. Aku mengerti.


Ya! Kak...


Opa langsung mematikan sambungan telepon nya. Saat Olive ingin mengambil ponselnya dari genggaman Alden. Alden memasukkannya ke kantong celana.


"Balikin." Ucap Olive.


"Kamu tau darimana dia dari keluarga Clarke?" Tanya Alden.


"Kan tadi udah di bilang, aku pernah sekali di culik." Jawab Olive.


"Waktu itu beritanya kamu di culik nggak seorang diri kan?" Tebak Alden.


Olive diam sesaat kemudian mengangguk.


"Aku tidak akan menanyakan hal itu. Kelas berapa kamu diculik dan mengapa terjadi pembantaian?" Ujar Alden.


Bukan hanya Alden yang menunggu Olive untuk cerita tapi teman-teman nya juga penasaran. Olive tarik nafas lebih dalam dan menghembuskan perlahan. Kali ini ia harus membuka trauma nya untuk kebaikan dirinya.


"Aku memiliki kembaran. Lebih tepatnya dia lahir lebih dulu, berarti aku punya kakak kembar. Namanya Belinda Sophia Nugraha. Aku biasa di panggil Via sedang kakak ku Phia. Dia sangat feminim, sedangkan aku tomboy. Satu hari kami kelas Dua SMP, tiba-tiba ada pria yang menculik kami." Cerita Olive berhenti sejenak.

__ADS_1


Bayangan khayangan sang kakak kembaran nya terlintas di pikirannya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Alden lembut.


Seketika ruangan itu menjadi panas karena aura kemarahan Olive meningkat.


"Dia, aku melihat dia di perkosa di depan kepala mata ku sendiri." Tegas Olive menggebrak meja membuat sekitarnya takut.


"Tidak hanya sekali, bahkan berulang-ulang. Sampai akhirnya ada satu saat mereka sedang panik karena ancaman papa. Aku dan kak Phia berhasil kabur melewati hutan belantara. Selama tiga hari dua malam kami tidak makan. Kami hanya minum air sungai. Setelah keluar dari hutan kak Phia pingsan." Lanjut Olive.


"Olive, cukup. Jika kamu belum siap menceritakannya hentikan saja. Ini sangat memukul mu." Peluk Shakila di ikuti Niesha.


Olive tidak menangis, dia tersenyum karena sudah bisa membagi kejadian sebenarnya.


"Aku tidak keberatan. Akhirnya, aku bisa menceritakan kejadian ini secara keseluruhan. Ini membuatku lega, selama ini aku mengurung niat untuk menceritakan apa yang menimpa kak phia sampai sekarang dia belum terbangun dari koma nya." Jawab Olive.


"Maksud kamu? Saudara kembar kamu masih hidup?" Tanya Niesha.


"Kalian harus ikut aku ke satu tempat." Ajak Olive.


Setelah mengirimkan isyarat kepada pengawalnya dibawah wewenang nya. Olive pergi ke satu tempat tujuan itu. Untuk sekarang hanya dirinya yang mengetahui tempat itu. Hanya Olive yang punya akses dengan beberapa kata kunci yang hanya diri nya pula yang tahu.


Mereka tiba di rumah yang sederhana. Ada dokter dan suster disana. Mereka bisa masuk jika melapor pada Olive terlebih dahulu. Ah, memang keluarga nya memasang pelacak tetapi Olive tidak sebodoh itu.


Mereka memasuki rumah itu, dokter suster memberi hormat.


"Nona muda." Sapa Dokter Ritter.


"Bagaimana keadaan kak Phia?" Tanya Olive sambil memasuki kamar.


Disana ada perempuan yang tiduran terpasang banyak alat-alat dokter.


"Membaik nona, Nona muda Phia sudah melewati masa kritis nya beberapa hari yang lalu. Anda berhasil nona." Lapor dokter.


Alden dan yang lain terkejut dengan teknologi yang terpasang disana.


"Ah! Semua alat ini aku pesan dari luar negeri. Karena aku yakin hari ini akan terjadi pada saat itu. Jadi, kakak tau kan alasan aku nggak suka ada di rumah sakit setelah melihat ini?" Ujar Olive dan Alden mengangguk.


"Ya, sekarang aku semakin paham." Jawab Alden.


"Mendekatlah. Kak, kenalin ini ada teman sekolah ku. Ah, aku ralat. Teman sekolah kita, jika seandainya kakak bisa sekolah lagi. Maaf, aku jarang menjenguk. Percayalah aku baik-baik saja sekarang." Ucap Olive.


"Nona muda, ada laporan bahwa beberapa orang seperti mengamati rumah ini akhir-akhir ini." Lapor dokter Ritter dengan ragu.


Olive yang mendapat laporan itu.


"Kak, mangsa kita telah tiba. Apa yang harus aku lakukan pertama? Haruskah kita bermain dengan gadis kecil cantik di sana?" Ucap Olive yang menatap layar monitor.


Di monitor itu menampakkan seorang gadis kecil nan cantik sedang bermain di taman. Aura gelap membunuh Olive membuat sekitar nya merinding ketakutan termasuk Alden yang notaben anak mafia juga.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2