Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 69 - Introgasi Mendadak


__ADS_3

Bar Candelaria


"Selamat datang Nona dan Tuan." Sambut Zet dan bawahannya.


"Dimana mereka?" Tanya Olive.


"Sudah saya kembalikan ke pemilik mereka Nona. Mungkin mereka sudah sampai sekarang." Ujar Zet.


"Bagus. Jika terjadi lagi, bawa ketua nya dan kurung di penjara bawah markas. Sisa nya biar aku yang mengurus." Perintah Olive.


"Siap Nona. Oh tuan muda kecil ada di dalam, di ruang VVIP." Ucap Zet.


Tiba-tiba ada Kevan, firo, cenan dan barel teman Belden langsung menarik masuk Olive ke dalam Bar diikuti Alden serta sahabatnya.


"Ehh!" Kaget Olive yang di gendong paksa oleh Cenan dan di dudukkan di kursi Bar.


"Kak Cenan." Protes Olive.


"Apa? Kamu udah berani bohong ya sama kita. Robert jadi sanderaan kita." Ucap Cenan.


"Ah? Robert? Kak, Robert udah meninggal tahu." Kata Olive.


"Dek, memang di kira kita sebodoh Belden apa nggak bisa ngenalin adiknya sendiri. Jangan dikira kita diam aja nggak mantau setiap gerak-gerik kamu ya." Ujar Firo.


"Kalian curang. Lagi-lagi aku kena keroyok, huh!" Kesal Olive.


"Yeh, malah ngambek. Harusnya kan kita yang marah, kamu udah janji ya ke kita nggak akan ada rahasia apapun. Van, bawa Robert keluar." Pinta Firo.


Kevan pun pergi ke ruang VVIP kemudian kembali sambil menjewer telinga Robert.


"Aduh! Kak, Sakit ampun. Kak ampun! Aduh duh!" Rintih Robert duduk tepat di samping Olive.


Robert langsung mendapat tatapan tajam dari Olive karena ketahuan penyamarannya.


"Aku bukan nya nggak mau cerita kak, tapi Robert nggak ngebolehin. Dia bahkan nggak tinggal serumah karena emang lagi sembunyi." Ucap Olive.


"Apa yang di sembunyikan?" Tanya Kevan.


"Kak Kevan mah gak berubah deh, kakak kan selalu ngawasin aku lewat bawahan kakak yang nyamar jadi bawahan aku di kantor. Pasti tahu lah apa yang aku sembunyiin." Sahut Robert.


"Kok kamu tahu?" Ujar Kevan.


"Bukan kak kevan doang, kak cenan kak barel sama kak firo juga ngirimin. Kalian udah tahu semenjak aku di rawat dan aku di tukar dengan mayat." Kata Robert.


"Kalian... " Olive tidak melanjutkan.


Olive langsung berdiri dan meninggalkan mereka menuju bar utama. Kevan, firo, barel, cenan langsung mengikuti Olive namun di hiraukan.


"Kalian pergilah ke ruang VVIP ini. Nanti aku menyusul." Ucap Olive kepada sahabatnya.


"Aku ikut dengan mu." Ujar Alden membuat ke empat teman Belden bingung.


"Kakak ipar, lebih baik kakak tunggu di ruangan saja. Kak Via tidak akan lama." Kata Robert.


"Ipar?" Ke empat orang itu bersamaan.

__ADS_1


"Nggak, hari ini kan aku yang traktir karena sekolah juara 1 basket se provinsi." Jelas Alden.


"Wah! Keren sekali. Aku beruntung punya kakak ipar kayak kak Alden hehe... " Ujar Robert yang langsung mendapat tatapan dari empat pria dan Olive.


"Robert Nugraha kembali ke rumah sekarang juga!" Perintah Olive.


"Kak, izinkan sekali saja. Aku tidak akan minum yang beralkohol. Janji!" Ucap Robert.


"Yasudah, tujukan ruangan ke teman-teman kakak saja. Temani mereka. Urusan kita belum selesai." Kata Olive.


Robert dan sahabat Olive menuju ruang VVIP. Tersisa empat pria Alden dan juga Olive.


"Aku mau pesen Spageti Carbonara 1 Kentang goreng nya 3 Es coffee latte nya 2 Cappucino ice 2 ice coffee cream 2 terus roti lapis daging keju nya 2 porsi. Ah, satu lagi Spagetti Marinara 1 buat Robert." Pesan Olive.


"Baik Nona." Sahut Pelayan Bar.


"Ini kartunya. Nanti kembalikan kalo udah selesai aja." Ujar Alden.


"Baik tuan, saya mengerti." Sahut Pelayan Bar.


"Eh, satu lagi. Pengawal Nugraha sama Fausta tolong di tanyai mau apa, potong dari... "


"Biar aku aja, selama ada aku di samping kamu. Biar aku yang bayar." Ucap Alden.


"Baiklah. Di antar ke ruang VVIP biasa ya." Tukas Olive.


"Baik Nona." Sahut Pelayan Bar.


Saat Olive dan Alden mau pergi, tiba-tiba di tahan oleh Kevan tangan Olive.


"Tapi kak... "


"Yasudah kamu pergi tapi pria itu tetap disini." Ujar Kevan.


Olive tidak tega meninggalkan Alden seorang diri di introgasi oleh kakak-kakak nya yang sangat iseng ini. Akhirnya Olive duduk di samping Barel.


"Lu udah tahu kan tentang kita?" Tanya Firo.


"Sudah kak. Olive udah cerita semuanya." Kata Alden.


"Lu yakin bisa jagain Olive dan nggak akan bikin dia nangis sakit hati?" Ujar Barel.


"Yakin kak. Olive akan jadi pertama dan terakhir di hidup aku." Sahut Alden.


"Terus apa rencana kamu setelah lulus sekolah? Langsung menikahi Olive?" Tanya Cenan yang mendapat lemparan bantal dari olive.


"Nggak kak, aku bakal kerja dulu setahun atau dua tahun sambil nunggu Olive lulus sekolah juga. Terus juga Olive ada rencana buat buka cafe sekaligus kuliah karyawan." Jelas Alden.


"Aku udah cerita semuanya ke dia. Semua nya udah beres tahu." Ucap Olive.


"Ya, tidak bisa di pungkiri sih. Kalian sama-sama berasal dari keluarga ternama papan atas. Terus juga dari keluarga yang ada darah mafia. Kalian pasti bakal saling ngelindungin satu sama lain." Ujar Kevan.


"Tapi, kalo sampai gua dengar Olive nangis gegara lu. Gua harap lu bisa mundur dan menghilang dari hidup Olive." Ucap Cenan.


"Nggak kak. Kalo misalkan ada kesalahpahaman aku akan berusaha buat buktiin kalo dia salah sangka. Tapi kalo emang bener aku berbuat salah aku bakal terima apapun resiko nya." Tutur Alden.

__ADS_1


Tiba-tiba ada suara perempuan yang sangat di kenal oleh Olive.


"Via!" Panggil perempuan itu membuat Olive menengok dan berlarian memeluk perempuan itu.


"Kak Luna! Kakak kapan balik ke sini? Aku kangen banget." Ucap Olive.


"Aduh duh! Iyaya aku juga kangen. Baru minggu sih sampai sini, Ya kamu tahulah siapa yang minta aku buat kesini." Ujar Perempuan bernama Luna itu.


"Kak Kevan! Kenapa nggak ngabarin aku sih kalo kak Luna pulang. Kan bisa kumpul bareng kak Phia. Kasian tahu kak Phia dirumah nggak ada temen." Ucap Olive.


"Wah! Ada kak Luna. Hai kak, gimana kabarnya?" Sapa Robert.


"Kamu...! Kemarin berani ya muncul sekarang wah bener-bener nih anak...!" Protes Luna.


"Hehehe... Tolong tetap rahasia in ya kak. Aku takut mereka terlibat, cukup kita aja yang tahu. Ah benar, kak katanya Zet kak Belden mau datang kesini jadi aku pamit ya." Pamit Robert.


Sebelum Robert benar pergi pamit Olive memberikan sebuah kalung dan memasangkannya.


"Ini kado ulang tahun yang kamu penginin. Pakai apapun yang terjadi, jangan pernah di lepas. Tetap awasi kami dari jauh, mengerti?" Pesan Olive.


"Ah, benar aku mengingatnya. Terima kasih kak, aku akan selalu memakai nya. Pasti aku bakal awasi kalian, ah soal lantai berdarah aku sudah menemukan orangnya. Kita ketemu di markas besok. Bye kak, Bye semua!" Pamit Robert setelah memeluk Olive dan Luna bergantian.


Tak lama robert pergi, Belden datang. Olive langsung berlari ke Belden dan mengadu.


"Kakak! Lihat, aku dan kak Alden di introgasi sama mereka." Adu Olive.


"Eh, kalian lepaskan mereka. Kalian kan udah tahu semuanya ngapain introgasi lagi." Ucap Belden.


"Oh! Kalian... "


Olive pun main kejar-kejaran dengan kevan, barel, cenan dan firo. Merasa tidak terima karena masih kena tipuan mereka berempat.


"Ya ampun! Mereka masih sama saja. Alden, maafin keusilan mereka ya dan jangan kapok pokoknya kalo lihat adegan begini. Dari dulu sampai sekarang masih sama mereka tetap kakak adik." Ujar Belden.


"Iya kak, santai aja." Sahut Alden.


Olive terlihat berlarian sambil tertawa bahagia, Alden merasa ikut bahagia menyaksikannya.


"Oi Lun, Dah lama?" tanya Belden.


"Baru aja sampe. Jarang banget kayak nya ke Bar lebih sering di kantor nih sekarang?" Ujar Luna.


"Iya, lebih tepatnya kantor sama Markas sih. Jagain tuh perempuan tomboy juga bolak balik masuk rumah sakit bikin jantungan mulu. Apalagi kalo udah bersangkutan mengenai Robert, nggak ada yang bisa nahan deh." Jawab Belden.


"Kita udah tau kan siapa dalang yang nabrak Robert?" Tanya Luna.


"Udah. Bahkan Via orang pertama yang tahu dan langsung datangin ke Markas mereka tanpa persiapan apapun setelah hari pemakaman Robert. Kalo Via udah ngamuk, udah nggak mandang musuh itu manusia lagi. Dia bakal bantai semua musuh yang menghalangi jalan dia buat lawan bos nya langsung. Tapi, sekarang Wiyata punya kawanan baru. Clarke, mereka berulang kali mau bunuh Via dan Phia." Jelas Belden.


"Ahh! Clarke? Mereka yang perkosa paksa Phia?" Ujar Luna dan Belden mengangguk.


"Betul sekali. Laporan yang gua dengar, setelah penculikan kembar Wiyata nitip sanderaannya ke Clarke. Ternyata mereka melakukan itu pada Phia." Ucap Belden.


"Kalo lu butuh bantuan tambahan pasukan bilang sama gua, gua bakal kerahkan semua pasukan buat bantuin lu. Musuh kalian adalah musuh kita juga jadi jangan sungkan buat minta tolong." Kata Luna.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2