Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 130


__ADS_3

Saat mereka baru saja selangkah keluar dari gedung, tiba-tiba saja dari setiap sisi gudang bagian dalam bunyi ledakkan yang cukup besar. Untung semua berhasil keluar dari gudang tepat pada waktunya. Suara ini terdengar sampai markas Clarke dan juga Villa perbatasan yang sedang di tempati Olive serta yang lainnya.


Markas Clarke


Mendengar suara ledakkan itu, Rio tersenyum perangkap nya sudah berhasil menangkap mangsa.


"Kak, kakak memasang bom di gudang terbengkalai itu?" Tanya Quira.


"Tidak ada perintah dari kak Ibrano untuk apa aku pasang. Tunggu, Bom?" Bingung Sam.


"Siapa yang memasang bom disana?!" Tanya Ibrano dari koridor lantai 2 depan kamar nya.


Rio dengan santai mengangkat tangannya dan tersenyum Smirk.


"Kau gila hah?! Bagaimana jika..."


"Jika Olive yang datang kesana dengan calon suaminya? Bukankah seharusnya lo bahagia bisa dapatin Olive tanpa susah payah?" Ujar Rio.


"Bukan dengan cara pengecut seperti ini Rio!" Kesal Ibrano sambil mencekram kerah leher Rio.


"Pengecut? Hahaha! Terus yang lu lakuin selama ini apa? Menyakiti secara perlahan perempuan yang selalu lo ingin miliki itu. Apa?" Emosi Rio.


Ibrano tidak bisa menjawab apa yang dikatakan oleh Rio, ia mendorong Rio hingga terduduk di bangkunya kembali.


"Bukan dengan cara mengambil nyawa orang seperti ini Rio. Tapi...."


"Gua bingung sama lo deh, sebenarnya lo pengin lihat Olive menderita atau bahagia sih? Positif think aja mereka berdua yang terkena ledakan itu kemudian Olive amnesia dan lo bisa manfaatkan moment itu buat pendekatan. Sedangkan calon suaminya sekarat di rumah sakit koma dan nggak tahu kapan baru siuman. Ini bakal jadi kesempatan terbaik buat lo." Jelas Rio.


"Kalo itu benar Olive sama calon yang datang, kalau bukan? Lo mau kabur lagi? Lo yang nabrak adeknya Olive dengan kecepatan tinggi, terus gua harus menggiring opini seakan pamannya yang membunuh. Sekarang gua nggak bisa lakuin itu lagi, lo terlalu bar-bar gua nggak suka permainan lo kayak gini." Ucap Ibrano.


"Gua nggak pernah mengharuskan lo tutupin kejahatan yang udah gua lakuin. Hati lo yang pengin itu supaya lo bisa dengan mudah dapat simpati dari Olive, akui itu Ibrano jangan selalu bohongi hati lo buat nyalahin orang kayak gini. Mana lo yang dulu selalu pengin balas dendam karena sekaratnya kembaran lo?" Bela Rio pada dirinya sendiri.


"Kakak, dengar. Ini buukan waktu yang tepat untuk membahas masalah kalian disini. Kita harus bertindak sebelum polisi menemukan kita disini. Keluarga Nugraha dan Fausta pasti sudah bergerak untuk menangkap kita sekarang." Pinta Sam.


"Iya kak, ayo kita lakukan sesuatu dulu sebelum membicarakan hal itu." Ucap Quira.


Ibrano dann Rio saling memandang satu sama lain. Sementara itu di Villa perbatasan, Olive yang sedang duduk santai di balkon tiba-tiba mendengar sisa suara ledakan yang cukup besar.

__ADS_1


Olive langsung menelepon Tio namun tidak ada respon. Tanpa menunggu lama Olive langsung berlari keluar kamar tak sengaja bertabrakan dengan Luna.


"Hei, Ada apa sayang?" Tanya Luna khawatir.


"Kak, aku harus kesana. Ada suara ledakan kak, aku harus kesana memastikan om tio baik-baik aja." Ujar Olive panik sambil membereskan barang-barang yang harus di bawa ke dalam tasnya.


"Olive! Stop okay?" Kata Luna berusaha menenangkan Olive yang masih dalam keadaan panik.


"I Can't. Aku harus kesana sekarang juga, jangan tahan aku." Tegas Olive lalu membawa tas nya keluar Villa bertemu dengan yang lainnya.


"Olive! Olive!" Panggil Luna mengejar Olive.


Alden menahan Olive.


"Kamu mau kemana? Kok bawa tas segala?" Tanya Alden bingung.


"Kakak mau kemana?" Tanya Robert.


Olive rasa hanya dia yang mendengar suara ledakan kecil itu. Jadi, cukup dirinya saja yang pergi untuk memastikan keadaan disana.


"Zet tahan mereka, ini perintah." Perintah Olive.


"Aku bisa sendiri. Tidak bisa tinggal diam lagi." Sahut Olive.


Tiba-tiba ada bawahan dari Alden datang dari dalam Villa.


"Tuan, beberapa menit yang lalu ada suara ledakan tidak jauh dari sini. Ada baiknya kita kembali ke kota sekarang." Lapor Bawahan Alden.


Olive memanfaatkan waktu minim itu untuk kabur bagaimanapun caranya. Olive memasuki mobilnya dan mengunci pintu dengan rapat.


"Olive! Buka pintunya. Olive!" Panggil Barel Kevan Firo dan Alden.


Olive memejamkan matanya dan memantapkan hatinya untuk menyetir seorang diri masuk ke wilayah musuh. Setelah menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. Baru Olive ingin memasukan gigi tiba-tiba saja....


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2