
Diperjalanan Alden Olive hanya diam dengan fikiran mereka masing-masing. Sampai sura dering ponsel Olive berbunyi, tanpa melihat Olive langsung mengangkatnya.
Hai Liv, apa kabar?
Hah? Tunggu ini siapa?
Ini Liam. Lu lupa?
Ya Ampun, apa kabar?
Baik. Emm, gue hari sabtu mau ke sana sama Vina. Kita ketemuan ya.
Boleh banget. Mana orang nya? kok lu doang?
Gua nggak bilang mau ngajak vina buat ketemu lu. Terakhir dia bilang kangen mau ketemu sama lu tapi nggak tau lu dimana.
Terus lu dapet nomor gue dari siapa?
Dari Kak Belden. Untung nomor nya masih yang lama.
Oalah, oke deh. Secepatnya kita ketemu ya, cafe nya aman kan gak ada gua?
Aman banget. Manajer nya ketat.
Hahaha! Yaudah, kabarin aja kalo udah sampe ya. Gua juga mau ngenalin seseorang ke kalian.
Really? Seorang Olive? Wah! Kudu di seleksi nggak sih... kalo Vina tau pasti bakal rame banget. Yaudah Bye!
Bye!
Olive mengakhiri panggilan telepon nya.
"Siapa?" Ujar Alden.
"Teman kecil waktu di negara S sana. Sepasang kok. Nanti aku kenalin ke kamu kalo dia udah disini, katanya sih sabtu." Sahut Olive.
"Ouh, besok kita sekolah nggak nih? Kamu nggak mau istirahat dulu gitu?" Tanya Alden.
"Nggak. Aku mau lihat keadaan penjaga perpus, kemarin pas balik ke perpus aku suruh beliau masuk kedalam. Takut beliau trauma atau gimana-gimana nanti." Ucap Olive.
"Besok aku jemput ya?" Tawar Alden.
"Boleh. Jam berapa?" Ujar Olive.
"Jam enam aku udah sampe rumah kamu." Kata Alden dan Olive mengangguk.
"Tanding basketnya kapan?" Tanya Olive.
"Kalo nggak salah hari rabu deh. Aku bakal menangin buat kamu." Sahut Alden.
"Semangat! Pasti bisa, lawan kalian nggak main-main lho. Sama populernya dengan sekolah kita." Ujar Olive.
"Maka nya dua hari besok kayak nya aku bakal pulang sore. Kamu mau nemenin aku latihan nggak?" Tawar Alden.
"Kamu yakin, aku nemenin buat bikin kamu semangat latihan bukan bikin kamu pengin cepet pulang nanti nya?" Goda Olive.
"Emmm... udah berani ya goda-goda in aku sekarang." Ucap Alden.
"Ya Ya aku bakal nemenin kok. Aku iket rambut ya? Kan mobil kamu nggak keliatan. Udah malam juga." Sahut Olive.
__ADS_1
"Yaudah iket aja." Jawab Alden.
Olive nurunin cermin dan mengikat rambutnya agar rapih. Olive melihat ada bercak merah karena ulah Alden tadi saat berangkat.
"Alden, ini gimana ngilangin nya." Kesel Olive.
"Nanti ilang sendiri." Jawab Alden.
"Terus aku pulang ke rumah rambutnya harus di gerai dong." Ucap Olive.
"Iya, kalo nggak mau ketahuan mama papa kamu." Sahut Alden.
Olive cemberut. Karena pasti besok juga ke sekolah harus di gerai rambutnya. Di depan lampu merah Alden memanfaatkan kesempatan, memegang dagu Olive dan menghadapkan ke arah nya. Lalu Alden mulai mencium bibir Olive lembut hingga Olive yang tadinya terkejut ikut terhanyut dan menutup matanya.
Alden menekan tombol setir otomatis. Olive benar-benar menikmati setiap sentuhan lembut dari Alden. Alden ******* bibir Olive sangat lembut sehingga Olive membuka mulutnya sendiri dan mempersilahkan Alden untuk ********** lebih dalam.
Cukup lama, hingga mereka kehabisan oksigen Alden melepasnya lebih dulu. Alden mengusap bibir Olive yang bengkak karena ulahnya lalu mengkecupnya sekilas.
"Maafin aku, nggak bisa nahan itu. Bibir kamu dan respon positif dari kamu bikin aku candu. Aku janji tadi yang terakhir." Ucap Alden menyesal.
Namun tiba-tiba Olive mengalungkan tangannya di leher Alden, menatap manik mata Alden lekat. Kemudian tersenyum. Olive mencium bibir Alden sekilas.
"Gimana kalo aku yang minta? Apa kamu akan menolaknya?" Ujar Olive.
"Kamu nggak marah?" Tanya Alden.
"Aku nggak nolak setiap kamu cium aku, apakah berarti aku marah? Kamu bilang, bibir aku bikin candu. Aku pun begitu, perlakuan kamu yang lembut bikin aku nerima itu semua. Tepat hari ini aku terima kamu jadi pacar aku." Sahut Olive tersenyum.
"Kamu yakin? Serius?" Ucap Alden tak percaya dan Olive mengangguk mantap.
"Aku mencintai mu Alden Camilo Fausta." Jawab Olive.
"Alden, kita hampir sampai. Kendalikan mobilnya." Ucap Olive yang masih di pelukan Alden.
"Kita beneran pacaran?" Tanya Alden melepas pelukannya.
"Iya, besok jangan telat ya jemput aku. Buruan kendaliin mobilnya." Sahut Olive.
Alden mematikan setir otomatis kemudian menyetir sambil menggenggam tangan Olive. Mereka memasuki perkarangan rumah Nugraha. Alden berhenti tepat di depan pintu utama rumah Olive.
Saat Olive ingin turun membuka pintu Alden masih menggenggam nya.
"Alden aku mau turun gimana ceritanya kalo masih di pegang gini." Ujar Olive.
"Nggak bisa kamu tidur di Mansion lagi? Atau kamu pindah kesana?" Tanya Alden membuat Olive menggeleng.
Cup!
"Kita masih bisa ketemu setiap hari. Sekarang aku mau turun, kamu pulang nya hati-hati Kabarin aku kalo udah sampai rumah, ingat pulang ke rumah bukan ke Mansion." Ucap Olive melepas genggaman tangan Alden lalu mencium pipi Alden.
Akhirnya Olive turun dan berdiri di teras. Alden menurunkan kaca mobil.
"Masuklah. Aku akan pergi setelah kamu masuk." Ujar Alden.
"Yaudah, bye!" Sahut Olive membuka pintu utama rumahnya.
Alden pergi setelah Olive menutup pintu rumahnya, Olive tersenyum setelah mendengar deru mobil Alden meninggalkan perkarangan rumahnya. Olive hampir aja lupa menggerai rambutnya.
"Baru pulang kamu nak?" Ujar Papa.
__ADS_1
"Iya pah, tadi baru pulang di antar kak Alden." Sahut Olive.
"Makin dekat aja kamu sama Alden." Ucap Papa.
"Bukan dekat lagi pah, mereka udah pacaran." Kata Belden sambil menuruni tangga.
"Beneran? Wah! Papa dapet besan Fausta beneran." Ujar papa senang.
"iya, pah. Tadi di taman hiburan mereka asyik berduaan. Duduknya sampingan terus nggak bisa di jauhin." Sambung Phia. muncul dari arah dapur.
"Beneran sayang?" Tanya Mama.
"Hehe... Iya mah, Kak Alden semalam ungkapin isi hati nya. Terus aku baru terima tadi pas di jalan pulang." Jelas Olive.
"Jadi bunga itu bener dari Alden buat kamu bukan Zet punya pacar ya. Wah! Mama ikut senang dengarnya." Sahut mama.
Olive melihat bunga yang di maksud mama, benar. Itu bunga yang tak sengaja ketinggalan di kamar tamu Mansion Alden. Olive tersenyum melihat bunga itu.
"Ehh, udah-udah jangan senyum-senyum begitu. Ayo makan malam." Ajak Phia.
"Silahkan Calon Nyonya muda Fausta." Goda Belden yang di sambut tawa mama papa.
"Kakak... " Rengek Olive wajah nya memerah malu.
Mereka pun makan malam bersama sambil canda tawa. Sementara Alden, baru sampai di rumah langsung di sambut oleh pelukan Delia.
"Kakak! Kakak kemana aja sih? Mentang-mentang Delia udah besar, bisa jaga diri lupa sama Delia." Kesal Delia.
"Aduh! Nggak dong sayang. Masa kakak lupa sama kamu. Kamu mau kakak kasih tau rahasia nggak?" Tawar Alden.
"Rahasia apa kak?" Ujar Delia.
"Kakak udah resmi pacaran sama kak Olive." Bisik Alden.
"Wah! Hore! Bunda! Ayah! Kak Alden sama Kak Olive pacaran!" Teriak Delia masuk ke dalam rumah Fausta dan Alden geleng-geleng kepala.
Alden masuk ke dalam Mansion, ternyata lagi pada ngumpul di ruang keluarga.
"Sayang, jangan lari-larian gitu. Ada apa sih?" Tanya Oma.
"Oma, Kakak resmi pacaran sama kak Olive. Delia bakal senang banget punya kakak ipar kayak kak Olive." Ujar Delia.
"Beneran Alden? Kamu udah resmi pacaran sama Olive?" Tanya Ayah.
"Iya pah. Alden semalam nyatain nya dan tadi pas antar pulang Olive bilang dia terima aku sebagai pacarnya." Sahut Alden.
"Kita beneran besanan pah. Wah! Bunda seneng banget." Ungkap Bunda.
"Akhirnya kalian nyerah juga. Syukur deh kalo Olive beneran terima kamu. Tapi ingat Alden, jangan sakitin hati Olive dan jangan buat dia sedih bahkan kecewa sama kamu. Oma nggak tau sebelumnya kalian ada omongan apa, tapi Oma bisa lihat kalo Olive sekali di kecewain bakal susah lagi buat buka hati. Bukan buat kamu doang tapi semua lelaki nanti yang dia temui setelah kamu kecewain dia." Pesan Oma.
"Iya Oma, Alden emang salah ngomong soal nunggu El ke Olive sehingga bikin Olive agak ragu buat nerima aku. Tapi, sekarang aku yakin kalo Olive seutuhnya emang ada di hati Alden. Walaupun Alden nggak bisa menjamin 100% bakal milih Olive saat El datang nanti. Aku bakal berusaha mantapkan hati lagi." Ungkap Alden.
"El itu masa lalu kamu nak, dia memang baik. Tapi, kalo yang dari Bunda lihat dia nggak pernah anggap kamu lebih dari sebatas teman ataupun sahabat." Ujar Bunda.
"Iya Bunda, aku paham. Mungkin emang aku yang terlalu berharap. Yaudah aku ke kamar dulu bebersih." Ucap Alden.
"Setelah bebersih, langsung turun buat makan ya." Pinta Oma.
"Oke Oma!" Sahut Alden.
__ADS_1
Bersambung...