
Olive merasa badan nya masih memerlukan istirahat penuh. Jadi, ia memilih untuk beristirahat. Sebelum itu, ia menghampiri kamar bibik.
Tok Tok
"Bik!" Panggil Olive.
"Iya non, ada apa? Non mau makan sekarang?" Tanya bibik.
"Bukan bik, sebenarnya aku habis dari rumah sakit. Jadi, cerita singkatnya kemarin lusa aku terkurung di gudang sekolah untungnya hari itu juga ada yang temuin aku disana. Maka nya, hari ini aku nggak kesekolah. Kebetulan kak Alden tadi yang tolongin aku kemarin. Bibik jangan bilang-bilang mama papa ya." Jelas Olive.
"Ya ampun non, tapi non beneran nggak apa kan? Aden Belden sudah tau non?" Tanya bibik khawatir.
"Aku nggak apa bik, cuman butuh istirahat lagi sebentar besok udah sembuh kok. Iya, kakak udah tau bik. Semalam kan sempet bilang ke mama papa mau antar barang aku ke rumah temen. Sebenernya itu ke rumah sakit tempat aku di rawat. Tapi, bibik tenang aja. Aku udah membaik bik, bibik tau semua kan." Ucap Olive.
"Iya non, bibik paham. Yaudah, kalo perlu apa-apa panggil bibik ya non. Terutama kalo baru kerasa ada keluhannya." Sahut bibik.
"Yaudah, aku balik ke kamar. Seperti biasa bik, bangunin aku sebelum jam makan malam." Ujar Olive.
"Pasti non, selamat istirahat non. Semoga lekas sembuh." Sahut bibik.
Olive hanya tersenyum dan kembali ke kamar. Ia memasang alarm pukul 7 malam. Pegal di badan nya baru terasa sekarang. Olive akan tidur sekarang.
Sementara itu, Gitta membicarakan rencana selanjutnya dengan papa nya di sebuah cafe.
"Papa sudah benar memastikan tidak ada yang ke atas untuk menyelamatkan perempuan ****** itu bukan?" Tanya Gitta.
"Papa sudah memastikan nya berulang kali, belum ada yang ke atas. Tapi, papa dengar besok Alden akan memanggil polisi untuk datang ke sekolah. Bagaimana papa bisa menahan itu." Ucap Firman.
"Polisi? Bagaimana dengan rekaman ku saat aku di rooftop? Papa sudah memastikan orang pintar untuk menghapus itu kan? Tidak akan ada yang bisa mengembalikan nya bukan? Pah aku sangat tidak mau masuk penjara. Bahkan aku tidak ingin di introgasi oleh polisi." Ujar Gitta.
"Mau sampai kapan? Dia sudah tidak di kasih makan atau pun minum bahkan papa yakin dia sudah kehabisan oksigen di dalam sana. Kenapa tidak kamu minta orang untuk membuang nya saja di tengah hutan." Jawab Firman.
"Satpam sudah curiga terhadap gerak gerik ku saat meminjam kunci gudang rooftop. Aku tidak mungkin bertindak sekarang. Dia mendapat giliran sampe lusa." Ucap Gitta.
"Mengapa kamu melakukan hal ini karena hal sepele? Dia hanya berteman dengan Alden bukan berpacaran. Mungkin saja mereka sudah bersahabat dari kecil. Kamu sampai membunuh orang secara tidak langsung begini, apa kamu tidak takut jika satu saat nanti ketahuan? Hukuman mu akan lebih panjang." Jelas Firman.
"Mau itu sahabat atau siapapun itu yang mendekati Alden bahkan sampai membuat dia seperti bahagia aku sangat tidak suka. Aku tidak peduli, sudahlah aku mau ke club saja. Papa tidak bisa memberikan solusi." Ucap Gitta lalu meninggalkan Firman begitu saja.
"Huh! Anak itu, mengapa sikap nya jadi psikopat seperti itu? Apakah mama nya tidak mengajari itu sejak kecil. Aku merasa malu jika nanti ketahuan dia anakku karena memiliki sifat yang sangat berbeda dengan ku." Gumam Firman.
Lalu di rumah keluarga Fausta, Alden baru saja sampai rumah.
"Kakak! Kenapa baru pulang jam segini? Bukankah sekolah bubar jam dua belas siang tadi?" Ucap Delia yang tiba-tiba muncul dari balik tembok bawah tangga membuat Alden terkejut.
"Astaga! Dek, kamu ngagetin aja. Iya, tadi kakak jalan sama Ryan sama Rafa." Jawab Alden bohong.
__ADS_1
"Kakak nggak usah bohong. Kak Ryan Sama kak Rafa saja ada di sini dari jam tiga sore. Tuh, di ruangan kakak. Kakak ke rumah Kak olive kan?" Tebak Delia.
Tepat saat itu muncullah Rafa dan Ryan dari arah ruangan Alden.
"Eh, si bos baru balik. Mampir kemana dulu tadi. Lama banget.. kita sampe hampir jamuran nungguin tau." Ucap Rafa.
"Tau bos, makan siang ya berdua?" Tebak Ryan.
"Aish! Iya, tadi kakak mampir ke rumah Olive. Tadi jenguk, terus ternyata di bolehin pulang hari ini jadi sekalian kakak antar ke rumahnya." Jelas Alden.
"Ouh!" Sahut Delian, Ryan dan Rafa membuat Alden kesal.
"Gitu doang? Kalian anggap rumah sendiri aja. Gue mau tidur bentar, capek." Ucap Alden sambil menaiki tangga.
"Hah capek? Haha! Yaudah kita numpang tidur deh di ruangan lu bos. Tanggung, bentar lagi jam makan malam." Jawab Rafa.
"Tunggu. Bokap Nyokap gue kemana?" Tanya Alden.
"Ahh, tuan dan Nyonya besar lagi keluar kota tuan besok atau lusa baru balik." Sahut bibik yang muncul dari arah dapur.
"Kok kamu nggak ikut dek, tumben." Ujar Alden.
"Aku kan udah gede, ngapain ikut-ikut dan aku harus sekolah juga besok tau ujian nih." Sahut Delia.
"Ouh, yaudah kalo ada kesulitan minta tolong aja ya. Nanti kakak bantu kalo bisa." Ucap Alden.
Alden pun masuk kamar dan Ryan Rafa masuk ke ruangan Alden. Kemudian Delia lanjut menonton TV diruang tengah. Alden bebersih diri kemudian berniat untuk istirahat. Tapi, dia ingat dengan kejadian tadi siang. Sudah sangat lama dirinya tidak menemukan orang mengobrol asyik bahkan sampe lupa waktu. Apalagi perempuan, karena Alden pemilih sekali. Entahlah.
"Ahhh! Tidur ajalah. Jangan banyak fikiran." Gumam Alden.
Waktu terus berjalan hingga jam makan malam pun tiba. Di rumah keluarga Nugraha. Bibik naik ke kamar Olive untuk membangunkannya makan malam.
"Non, Non Olive. Bangun, makan malam udah bibik siapkan." Ucap Bibik.
"Emm... iya bik. Uhuk.. Uhuk!" Sahut Olive.
Bibik yang sudah mendengar sahutam dari Olive pun turun ke bawah. Di tunggu hingga 10 menit namun Olive tak kunjung datang. Akhirnya bibik naik ke kamar Olive lagi.
"Non, lauk nya sudah dingin. Perlu bibik panaskan lagi nggak?" Tanya bibik.
"Iya bik. Aku turun." Sahut Olive membuka pintu.
Bibik kaget karena muka olive yang sangat pucat.
"Ya ampun, non? Non bener baik-baik aja? Bibik bawakan aja makanan ke kamar ya. Muka non pucat banget. Jangan turun, biar bibik siapkan saja dan di antar ke kamar." Ucap bibik khawatir.
__ADS_1
"Makasih bik, nanti langsung masuk aja ya bik." Sahut Olive yang sudah mendouble pakaian nya 3 lapisan.
Setelah bibik turun Olive kembali ke dalam dan duduk di pinggir kasur. Ia memegang kening nya, dia merasa sangat sehat. Namun, kenapa bibik bilang bahwa dirinya pucat seperti orang sakit.
Tak lama kemudian, bibik masuk ke kamar membawa nampan berisi lauk dan Air hangat meletakkan di meja belajar. Olive pun, segera makan di tungguin bibik.
"Non, beneran nggak apa? Perlu bibik ambilkan obat atau dibelikan obat nggak?" Tanya bibik.
"Aku merasa sehat bik. Tapi, badan aku emang pegal-pegal semua terutama leher, rasanya sakit." Jawabku.
Bibik coba memegang kening Olive dan terkejut.
"Ya Ampun! Non, ini mah non demam. Aduh, bibik ambil kompres sama obat penurun panas dulu ya. Makan sebisa non aja, nggak habis juga nggak apa. Yang penting perut non jangan kosong." Ujar bibik.
"Demam bik? Emm... makasih bik." Sahut Olive.
Bibik pun turun ke bawah untuk mengambil obat dan air kompresan serta handuk kecil. Saat bibik ingin naik, Belden datang dari arah pintu utama.
"Bik? kok bawa kompresan?" Tanya Belden.
"Tuan muda sudah pulang? Tuan dan Nyonya... "
"Mereka tidak pulang bik, mungkin besok." Sahut Belden.
"Ouh, ini den. Nona Olive badan nya panas sekali, demam. Terus, muka nya pucat." Ucap bibik.
"Adek sakit? Em, yaudah bik biar aku aja yang urus. Makasih ya bik." Sahut Belden.
"Iya den, Sama-sama kalian sudah bibik anggap seperti anak bibik." Ujar bibik tersenyum.
Belden pun naik ke atas, masuk ke kamar Olive.
"Kakak? Papa udah pulang?" Tanya Olive.
"Mama sama papa hari ini nggak pulang. Sini, kakak tuntun balik ke kasur. Kakak suapin makan nya setelah itu minum obat tidur lagi." Ucap Belden.
Setelah makan dan minum obat, olive pun tiduran sedangkan Belden mengompres badan Olive. Satu handuk kecil di letakkan di kening dan handuk satu lagi untuk membasuh tangan kaki olive.
"Kalo besok masih sakit, nggak usah masuk sekolah dulu ya. Lagian selama sebulan kedepan kan nggak begitu efektif." Ucap Belden.
"Nggak kak, aku nggak mau ketinggalan pelajaran. Kemarin udah nggak masuk, masa aku nggak masuk sekolah terus ntar malah jadi bahan omongan murid sekolah. Aku yakin besok udah membaik." Sahut Olive.
"Yasudah, kamu tidur deh. Istirahat kalo memang ingin besok sekolah." Ujar Belden di angguki Olive.
Setelah olive tidur dengan tiga lapis selimut tebal, barulah Belden keluar dari kamar.
__ADS_1
Bersambung...