
Di dalam video itu :
Terlihat tak jauh dari Ribert berdiri ada anak kecil lainnya dengan seorang ibu. Robert melambaikan tangan ke orang di sebrang yaitu Olive. Saat lampu hijau mobil itu berhenti tapi begitu akan merah, mobil itu tiba-tiba jalan. Anak kecil itu menarik robert namun ternyata kedua nya ikut terpental secara terpisah cukup jauh. Yang mengalami luka lebih parah adalah anak kecil itu.
Beberapa saat kecelakaan terjadi Kevino muncul menghampiri anak kecil yang di peluk ibunya yang sudah setengah sadar. Namun, Kevino tiba-tiba ikut serta di serang oleh Olive yang penuh dengan amarahnya. Setelah habis musuhnya bawahan keluarga Nugraha baru datang dan langsung membawa Robert menuju rumah sakit.
"Stop!" Ucap Olive tiba-tiba mendekat ke layarnya.
Mata nya menajam. Olive melihat seseorang yang di kenalinya, orang terpercaya dan paling ia sayangi.
"Zet, Cari tahu keberadaan Bibik sera dan Om Tio. Lanjutkan video nya." Pinta Olive.
"Baik nona." Sahut Zet mencatat tugas terbarunya.
Dari cctv sekitar mobil itu yang menabrak Robert hanya melihat dari jauh. Video itu berhenti sampai 2 mobil ambulans datang. Lalu ada rekaman suara antara bik sera dan om Tio.
Sera : Kita harus menghancurkan Nugraha, agar warisannya jatuh ketangan kita.
Tio : Kamu benar. Tapi apa kita harus membunuh mereka?
Sera : Bukan kita. Tapi, biarkan para mafia itu saling membunuh. Terutama Olive, emosinya tidak stabil masih bisa di pengaruhi. Kita bunuh dari yang paling kecil dulu.
Tio : Bagaimana jika ketahuan? Nama ku akan di coret oleh Oma.
Sera : Itu tidak akan terjadi jika kita teliti.
Tio : Siapa yang ingin kamu adu sekarang?
Sera : Wiyata, Clarke dan Nugraha.
Tio : Clarke tidak ada kuasa melawan Nugraha. Wiyata memang persis berada dibawah Nugraha. Kamu yakin ingin melakukan ini?
Sera : Sangat yakin. Aku harus habisi mereka satu persatu. Jika gagal, kita harus membunuh sumbernya.
Tio : Sumbernya? Maksud kamu Oma? Kau gila Sera!
Sera : Hanya itu yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan hak waris perusahaan terbesar utama milik Nugraha. Apa kau ingin menjadi miskin terus seperti ini? Apa yang akan hera dan yubai alami nanti. Pertama kita harus ambil hati Clarke dan Wiyata agar bermusuhan dengan Nugraha.
Oma dan Opa terkejut. Begitupun dengan papa, tidak menyangka jika kakak nya akan melakukan hal seperti ini. Jadi selama ini mereka adalah korban adu domba. Padahal saat di rumah sakit, Sera dan Tio adalah yang paling histeris merasa kehilangan Robert. Olive memijat kepala nya yang mulai pusing.
"Jadi yang setiap hari aku datangin adalah makam adik lu?" Tanya Olive.
"Ya. Makam-nya Damar adik gua. Gua nggak tau darimana Damar dengar pembicaraan itu dan gimana gua mau cari tau kalo nyokap sama sekali gak mau ngomong sama gua. Gua buta bukti, ini adalah permintaan terakhir Damar." Jelas Kevino.
Kak, kalo aku pergi jaga mama baik-baik dan nikahi kembaran pertama keluarga Nugraha. Mereka orang baik, ini semua salah kak. Jangan musuhi mereka, ada orang jahat di belakang yang berusaha menghancurkan mereka bahkan berniat membunuh. Tolong kak.
Itu rekaman suara terakhir Damar. Robert langsung mengingatnya.
"Damar? Jadi... "
"Ada apa? Kamu mengingat sesuatu?" Tanya Belden.
__ADS_1
"Aku ingat selama ini, aku satu sekolah dengan Damar sebelum kecelakaan itu terjadi. Dia selalu ada dimana pun dekat denganku hingga buat aku risih. Jadi, ini semua karena... seandainya aku tau." Ungkap Robert menyesal.
"Jadi apakah kalian mengizinkan aku untuk menikah dengan Kevino?" Tanya Phia.
"Opa tidak setuju." Sahut Opa kemudian pergi masuk kedalam kamar.
"Oma, apakah oma juga tidak akan setuju sama seperti opa?" Tanya Phia.
"Maaf sayang, ini terlalu cepat. Tapi, aku tidak melarang kalian berhubungan. Untuk ke jenjang pernikahan belum, biar oma diskusikan dengan opa mu dulu." Sahut Oma.
"Aku mengerti. Terimakasih telah mendengar penjelasan dariku Nyonya." Ujar Kevino.
"Tidak perlu berterimakasih. Seharusnya aku yang berterimakasih padamu karena selalu Setia dengan kakek Nugraha sampai sekarang. Benar, aku yang membunuh pengkhianat itu. Kukira hanya 4 pengkhianat itu, tapi ternyata satu lagi adalah anak kandungku sendiri. Aku akan usahakan untuk diskusi dengan Opa nanti. Sekarang bubarlah, kalian harus istirahat. Terutama kamu Olive, istirahat disini sampai hari sabtu. Setelah itu oma akan beri jawaban apakah menyetujui pernikahan Phia atau tidak." Jelas Oma.
"Oma... "
"Tidak ada penolakan, turuti kemauan oma." Ucap Oma tegas.
Papa tampak masih shock dengan rekaman suara tadi. Tapi, Belden membawa mereka semua pulang dan menyisakan Olive sendiri di ruang tamu markas Nugraha. Tiba-tiba ponselnya berdering, Olive langsung mengangkat nya.
Hemm...
Bagaimana sayang?
Aku tidak mengerti. Ini masalah kak Phia dan pria itu tapi malah aku yang tidak dibolehkan keluar dari markas.
Jadi kita tidak bisa bertemu?
Ya. Kita mungkin bertemu hari senin. Tau begitu mending aku dirumah sakit. Huh!
Opa tidak menyetujuinya. Tapi, oma juga tidak melarang mereka berpacaran. Haruskah aku mengatakan ingin menikah denganmu sekarang agar aku tidak tinggal di markas?
Boleh saja. Aku akan menjemputmu sekarang dan langsung membawamu ke kantor sipil untuk mendaftarkan pernikahan kita.
Alden... Ish! Kamu ini.
Hahaha... baik-baik aku hanya bercanda sayang. Tapi, bukankah aku masih bisa datang?
Kamu benar! Kapan kamu datang?
Apa maksudmu, kamu rindu padaku?
Apa tidak boleh? Yasudah aku tutup...
Boleh sayang. Aku juga merindukanmu. Aku khawatir kesehatanmu akan turun setelah tau kebenarannya. Beristirahat besok setelah dari sekolah aku akan mampir ke markas untuk menemuimu.
Baiklah. Tapi....
Ada apa? Kamu ingin tidur di pelukanku?
Berhentilah menggodaku tuan muda Fausta. Sudah aku ingin istirahat di mansion, bye.
__ADS_1
Bye sayang, love you...
Olive menutup panggilan telepon itu lalu tersipu malu. Lalu Olive berjalan menuju lantai 2 kamar miliknya dengan bantuan Zet.
"Kembalilah bekerja. Ingat cari bik sera dan om tio, berikan kepadaku jangan sampai oma tau. Mengerti?" Perintah Olive.
"Baik nona. Kalo gitu saya permisi." Pamit Zet.
Olive bebersih dirinya kemudian bersiap untuk tidur siang, jam menunjukkan pukul 2 siang. Olive segera mengambil talkie untuk berbicara pada bibik.
"Bibik, nanti bangunkan aku jam 4 sore." Ucap Alden.
"Baik nona. Apa nona tidak ingin makan siang dulu?" Sahut bibik.
"Tidak. Aku tidak lapar sekarang, nanti saja ketika aku bangun tidur." Ujar Olive.
"Baik nona, dimengerti." Jawab Bibik.
Olive pun tidur. Entah mengapa rasanya sangat lelah karena masalah Kevino dan kakak nya ini. Tidak ingin berpikir panjang lagi Olive benar-benar tidur pulas. Sekitar pukul setengah 4 Olive merasa ada tangan yang memeluknya dari belakang. Saat Olive balik badan ia terkejut itu adalah Alden, Olive memeluk dan menempelkan kepala nya di dada bidang Alden.
"Kapan kamu datang?" Tanya Olive.
"Setengah jam yang lalu. Tidurlah kembali, kamu terlihat sangat lelah." Ucap Alden.
"Emm... apa oma tau kamu datang?" Tanya Olive.
"Ya. Oma tahu, aku nggak mungkin masuk tanpa izin sayang. Sudah tidurlah." Ujar Alden.
"Bahkan oma mengizinkan kamu masuk kamar?" Tanya Olive lagi.
Karena tidak mendapat jawaban Olive menegakkan kepalanya sejajar dengan Alden.
"Kok tidak... "
Alden mencium bibir Olive lembut. Awalnya Olive sangat terkejut kemudian ia ikut terhanyut. Setelah cukup lama Alden melepaskannya.
"Jangan bertanya lagi, jika oma tidak memperbolehkan aku tidak akan ada disini. Sekarang tidur, oke?" Kata Alden dan Olive hanya mengangguk tersenyum.
Alden memasang Alarm tepat pukul 4 kurang 15 menit. Alden bangun dari tidurnya kemudian turun dari kasur pergi kearah luar balkon tanpa membuat Olive bangun. Nel menelepon dan Alden mengangkatnya.
Ya.
Tuan, Kevino bersih dari catatan apapun. Semua ini benar-benar jebakan untuk keluarga Nugraha, ini permasalahan antar kakak beradik tuan.
Apa kamu sudah sangat yakin dengan itu?
Saya bisa memastikannya dan akan mengirimkan ke email tuan juga untuk di periksa. Ah, mengenai anak buah kepercayaan kakek Nugraha. Kevino menjadi salah satu orang terpercaya nya. Sepertinya kecelakaan kakek Nenek Nugraha juga berkaitan dengan Kecelakaan tuan kecil nugraha.
Ah. Aku mengerti, istirahatlah lebih awal.
Baik tuan.
__ADS_1
Alden mematikan ponselnya kemudian duduk di bangku balkon kamar Olive mengecek kiriman email dari Nel dengan teliti. Setelah memastikan laporan Nel benar Alden berdiri kembali dan menghadap ke taman. Olive bangun dan meraba kasur sebelahnya, mencari Alden. Tidak mungkin itu mimpi, saat melihat ke arah balkon Olive tersenyum dan memeluk Alden dari belakang.
Bersambung...