Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 76 - Terbukanya Topeng


__ADS_3

Olive menatap kakek dan neneknya bergantian. Kakek nenek membalas dengan senyuman. Rasanya Olive tidak ingin pergi dan tetap di sini bersama mereka.


"Bisakah aku lebih lama disini dengan kalian, hanya sebentar saja." Mohon Olive.


"Kalo tidak kembali sekarang, kamu akan disini terus selamanya nak. Ingat nenek dan kakek akan selalu ada di hati kamu. Kami selalu akan mendukung apapun pilihan kamu, karena kami yakin kamu sudah memikirkan yang terbaik." Ucap Nenek.


"Setelah kamu keluar dari rumah ini, kamu jalan terus saja. Nanti ada pintu, kamu bisa kembali di sana." Ujar kakek.


"Apa tidak ada jalan lain?" Tanya Olive.


Nenek duduk di atas kasur lalu menepuk paha nya, meminta agar Olive tiduran di atas kepalanya. Olive pun menuruti itu. Nenek mengelus kepala Olive agar Olive tertidur seperti dulu semasa hidup.


"Kakek, nenek Via sayang kalian. Via mengantuk sekarang, via harap kalian bahagia disana tanpa memikirkan kami. Via---" Omongan Olive terhenti karena sudah semakin larut tidurnya.


Sampai akhirnya, Di dunia nyata. Phia melihat Olive meneteskan airmatanya. Ini sudah hari jum'at pukul 7 pagi. Oma kemarin membubarkan semua orang untuk beristirahat dan kembali besok. Phia datang lebih awal untuk merawat kembarannya. Alden yang tidak bisa tenang dan bahkan dia tidak tidur semalaman karena khawatir dengan Olive.


Alden sudah di sekolah, mood nya sedang jelek sekali. Biasanya Alden akan datang jam 6 bersamaan dengan Olive namun ini sangat mepet jam masuk. Alden juga di antar oleh Nel tidak menggunakan mobil sendiri. Saat memasuki kelas Ryan dan Rafa terkejut melihat Alden baru datang.


"Fa, sapa tuh bos." Bisik Ryan.


"Lu aja deh. Gua takut, muka dan aura nya serem cuy." Balas bisik Rafa.


"Kalo sampai---"


Belum Ryan menyelesaikan omongannya, Gitta dan Ilona masuk kelas seperti habis dari kantin.


"Baru juga mau gua omong." Kesal Ryan.


"Pagi Baby Alden." Sapa Gitta.


Tak ada sahutan dari Alden.


"Baby, besok aku sama kamu ya? Aku janji akan jadi lebih baik dalam segala hal." Ucap Gitta sambil mengelus punggung tangan Alden.


"Ehh lu buta atau amnesia sih? Jelas-jelas Bos gua udah punya pacar. Pake segala ngomong begitu." Ujar Rafa.


"Ya kan nggak ada yang tau itu si ******* bakal bangun atau nggak dari koma nya. Selagi ada kesempatan buat memperbaiki kenapa gak sih? Lebih Bagus kalo tuh orang mati aja gak usah balik." Tutur Ilona membuat Alden geram dan memukul meja.


"Apa kata lu? Sekali lagi coba diulang." Marah Alden menatap tajam ke Ilona dan Gitta bergantian.


"Ma---Maksudnya ada baiknya kalo dia bisa istirahat total dulu." Jawab Ilona gugup.

__ADS_1


"Kalian dengar baik-baik, kalo Olive notaben pacar gua yang notaben juga dia anak cucu yayan aja gak bisa hadir. Jangan harap gua bakal hadir. Gua bingung deh sama lu berdua, nggak ada tampang muka dosa sama sekali ya? Lu berdua mau gua bongkar disini? Pertama Olive baru hingan hari udah lu jebak, lu kurung di gudang rooftop pake embel-embel nama gua. Terus lu nyewa 3x penembak jitu buat bunuh Olive. Terus, lu kerjasama bareng sama musuh buat nindas Olive bahkan lu ketemu sama Wiyata di cafe." Jelas Alden buat ramai kelas dan Gitta Ilona panik.


"Ih gak nyangka ya bisa segitu obsesi nya. Sampai menghalalkan segala macam cara." Ucap Siswa.


"Iya ya, kalo orang tua nya tau sedih banget tuh." Sahut Siswi.


"Alden jangan fitnah kamu. Aku sama sekali nggak lakuin itu." Ujar Gitta.


"Tau nih. Gitta gak mungkin sampe mau bunuh orang begitu." Sahut Ilona.


"Aah, begitu. Kalo gitu coba kalian cek forum sekolah setelah itu jangan tunjukkan wajah kalian di sekolah ku lagi." Tegas Alden.


Setelah itu siswa/i langsung mengecek forum sekolah. Semua keburukan Gitta dan Ilona terbongkar disana.


"Ternyata anaknya pak Firman? Cih! Pantas aja sok kuasa." Tutur Siswa.


"Iyaya. Pantesan sok jadi paling cantik di sekolah. Bisa seenaknya bully adek kelas." Tutur siswi.


"Jangan adek kelas, bahkan kakak kelas aja gak di hormati sama dia." Tutur Siswa.


"Bener. Wah, untung Olive masuk sini. Coba kalo nggak, mana kita tau sampe mana dia bakal bersikap sok sebagai Ratu begitu." Tutur Siswi.


"Itu juga satu lagi, sebagai teman bukannya memberitahu tindakannya buruk malah ngebantu. Duh! Malu banget deh kalo sampe kesebar seluruh sekolah. Bisa-bisa di sekolah barunya malah mereka yang di bully habis-habisan." Tutur siswa.


"Iya ya. Bener banget tuh. Gak ada attitude sama sekali." Tutur siswa.


Gitta dan Ilona yang melihat sekaligus mendengar komentar siswa/i kelasnya ketakutan. Mereka bisa saja di penjara karena percobaan pembunuhan. Sementara itu di rumah Fausta, ayah sedang mengecek prihal sekolah dan terkejut dengan isi forum yang baru beberapa menit yang lalu di terbitkan.


Tanpa banyak diam, ayah segera menuju sekolah untuk meminta penjelasan dari Firman, sahabat sekaligus kepala sekolah di sana.


"Kesabaran gua udah habis ngehadapin lu berdua. Olive mungkin bakal benci atau marah sama gua. Tapi, itu gak masalah selagi itu bisa menghentikan kalian. Olive udah terlalu baik sama kalian. Dimana hati nurani kalian sesama perempuan." Ucap Alden.


"Alden, di panggil kepala sekolah. Kayak nya bokap lu datang deh." Ujar salah satu siswa.


"Lihat? Bokap gua kebetulan lagi standby depan komputer. Habis lu sekarang, padahal gua cuman modal video perilaku kalian selama ini dan tolong terima resikonya jangan kabur." Tutur Alden kemudian pergi menuju ruang kepsek.


Gitta tidak merasa bersalah. Dia malah semakin ingin membunuh Olive. Sedangkan Ilona sudah duduk di bangkunya ketakutan. Dia tidak mau masuk penjara diusia muda seperti ini.


"Git, lu dipanggil ke ruang kepsek." Ucap Ryan menunjukkan pesan dari Alden.


Gitta pergi dengan menghentakkan kaki menuju ruang kepsek. Gitta akan mengungkap semua pembelaan yang dia siapkan. Gitta mengetuk pintu ruang kepsek, setelah mendapat jawaban Gitta pun masuk.

__ADS_1


Tok Tok Tok


"Masuk!" Nyahut Ayah.


"Permisi pak, ada apa ya saya di panggil?" Ujar Gitta.


Alden yang sedang duduk mendengar itu hanya tersenyum smirk, jijik kepada Gitta.


"Benar kan kata aku juga apa yah. Dia akan sembunyi dibalik topengnya yang berlapis-lapis itu. Mana mau penjahat ngaku, bisa penuh penjara." Tutur Alden.


"Lihat video ini." Ucap Ayah.


Ayah menyetel video itu dalam bentuk asli, original belum di edit atau pernah di hapus sama sekali. Alden juga kaget jika ayahnya bisa dapet yang full tanpa ada editan. Ayah baru menunjukkan video penculikan di rooftop atas.


"Kamu masih mau menyangkal? Apa pembelaanmu?" Ujar ayah.


"Perempuan itu lebih dulu menggangguku pak. Dia dekat dengan Alden hanya untuk tenar. Dia anak baru seharusnya tau dimana berada." Jawab Gitta.


"Alden, benar begitu?" Tanya papa.


"Salah, papa bisa ke cctv kantin untuk melihat drama selanjutnya. Olive dan teman-teman nya makan di meja terpisah dengan aku. Terus aku yang menghampirinya karena penasaran dan saat itu aku belum tahu bahwa dia anak yayasan juga sepertiku." Jelas Alden.


Ayah menyetel adegan Olive disiram oleh air teh manis dari ujung kepala. Terlihat ekspresi marah murkanya Gitta yang tidak rela kalo Alden tertawa dengan yang lain.


"Wah! Nyali anakmu hebat juga Firman. Bahkan kamu ikut andil dalam rencana untuk mempercepat hari promnight agar kelakuan kalian tertutup." Ucap ayah.


"Dia tidak berniat membunuh. Dia hanya kesal karena posisi nya tersingkirkan dengan mudah di samping Alden dan tergantikan oleh anak baru beberapa hari disekolah."Jelas Firman.


"Memangnya ada hak apa kamu sama cucu ku! Dia mau menikah dengan siapa dengan dengan siapa itu hak dia." Tutur Oma Fausta tiba-tiba datang.


"Oma." Gumam Alden.


"Tidak perlu di ceritakan semua. Selama ini Oma pura-pura tidak tahu masalah sekolah. Membiarkan kalian membereskan dengan cara kalian. Tapi, itu semua sudah berakhir. Kesabaranku sudah habis, Olive cucu ku juga walaupun dia keluarga Nugraha. Aku ikut turut menyambutnya saat dilahirkan. Pram! Lakukan seperti yang seharusnya dilakukan sejak awal kedatangan olive." Pinta Oma.


"Baik Nyonya!" Sahut Pram.


Pram memberikan surat peringatan untuk berhenti menjadi kepala sekolah serta membawa anaknya angkat kaki dari sekolah ini.


"Nggak! Ini tidak adil, aku hanya ingin bersama dengan Alden. Kalian tidak perlu ikut campur masalahku dan Olive. Lagi pula bukan hanya aku yang menginginkan agar Olive mati tapi orang yang bernama Wiyata juga menginginkan itu untuk membalas kematian keluarga nya." Jelas Gitta.


PLAKKK!!!

__ADS_1


"Kamu sadar tidak sedang melawan siapa? Dimana sopan santunmu? Kau bilang apa? Mau bersama dengan cucuku? Tapi perilaku mu seperti ini dengan orang yang lebih tua? Pengawal bawa mereka berdua! Masih untung tidak kumasukkan dalam penjara, aku sudah melaporkan kepada polisi setempat tentang hal ini dan bernegosiasi. Tau begitu kubiarkan saja kalian mendekap di penjara." Ucap Oma membua Gitta dan Firman menunduk takut.


Bersambung....


__ADS_2