Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 52 - Kemarahan Olivia


__ADS_3

Ponsel Olive berdering tertera di layar hanya nomor saja. Nomor yang sama dengan sebelum nya.


Lu mau keluar sendiri atau gua hancurin sekolah lu?


Hancurin aja. Asal nyawa lu jadi bayaran nya!


Olive kesal dan mematikan sambungan telepon nya. Orang yang di sebrang sana mendengar perkataan begitu langsung merinding sekujur tubuhnya.


"Lama-lama gua ganti nomor nih." Kesal Olive.


Ponsel Olive berdering, kali ini Olive tidak mengangkatnya.


Apa lagi?


Heh? Ini bener nomor Via kok. Nggak salah sambung.


Olive yang mendengar sahutan dari kak Phia langsung duduk dengan benar.


Hehe... iya kak. Ada apa? Tadi abis nerima telepon salah sambung. Aku kira dia yang telepon lagi. Kakak sakit?


Ouh! Kirain ponsel kamu di ambil orang. Bikin kaget aja. Kamu dimana sekarang dek?


Aku di markas keluarga fausta kak. Kenapa?


Ouh, kok nggak ke sekolah? Sekolah kamu sepi banget. Ada apa dek?


Olive langsung berdiri.


Kak jangan bercanda deh. Kakak ngapain datang ke sekolah?


Hehe... kakak si rumah. Jangan panik gitu.


Kak, sumpah aku lemes banget kalo kakak beneran di sekolah.


Coba aja kamu nyalain kamera nya.


Olive menyalakan kamera namun ponsel nya terjatuh karena Phia benar-benar berada di sekolah. Kepala Olive rasanya sudah pusing memikirkan bahwa kakak nya akan menjadi sanderaan lagi.


Olive langsung menelpon ke markas Nugraha menggunakan telepon genggam.


"Angkat! Kakak ngapain sih kak. Sekolah lagi di teror. Kan kakak udah janji selalu di rumah. Kakak jangan kayak gini dong." Kesal Olive.


Halo?

__ADS_1


Kalian cepat ke sekolah atau kabari pasukan bayangan. Kak Phia ada di sekolah sendirian. Sampai terjadi---


Phia seperti mengobrol dengan seseorang.


"Permisi mbak, numpang tanya. Alamat ini kemana ya?" Tanya orang asing itu.


"Ouh kesan---"


Phia terdiam. Olive menggelengkan kepala dan dia tidak memperdulikan apapun lagi. Langsung berlari keluar markas lari secepat mungkin ke arah sekolah. Alden mengejarnya di ikuti para pasukan Fausta.


"Olive!" Teriak Alden.


Olive tidak memperdulikan panggilan itu, dia terus berlari. Bahkan Olive tidak memperdulikan jika kaki nya menginjak batu. Target dia adalah sampai sekolah sebelum terjadi apa-apa dengan Phia.


Sampai di belokan dengan cepat Olive menarik tangan Phia untuk berdiri di belakang nya.


"Ah, kau datang juga akhirnya. Ternyata dia sudah sadar dari koma nya? Ku kira dia sudah mati menyusul adik kecil mu itu. Kau tahu? Aku sangat menyukai saat dia berada di bawahku." Ujar Sam.


BUGGG!


Dengan tenaga nya Olive menonjok tepat di tulang hidung nya hingga membuat Sam mimisan. Olive sangat murka, Olive memukul telinganya dan menekan matanya. Lalu menendangnya hingga tersungkur.


Pasukan Clarke yang tadinya ingin menyerang takut hanya dengan melihat tatapan Olive.


Olive menampar kanan kiri hingga dengan keras bibir pinggir Sam berdarah. Sam terus berjalan mundur. Sam benar-benar babak belur. Alden yang baru saja datang langsung mengamankan Phia.


"Phia, pergilah ke markas ku. Disana aman. Biar aku yang mengurus disini." Ucap Alden.


Phia menurut. Alden perlahan menghampiri Olive yang ia tahu masih di selimuti amarah. Alden sadar jika Sam adalah salah satu orang yang memperkosa Phia.


"Kau! Kau benar-benar gila? Apa yang kau lakukan pada Sam?" Ujar Quira terkejut dengan muka Sam yang babak belur.


Quira langsung terkejut melihat tatapan tajam dari Olive. Dia langsung berjalan mundur. Olive benar-benar hanya diam, mata nya yang berbicara jika dia sangat marah.


"Pergi kalian selagi aku masih baik! Sekarang!" Teriak Olive.


"Wow! Sepertinya aku datang terlambat ada apa ini?" Tanya seseorang itu.


Olive menatap orang itu sesuai perkiraan nya bahwa Kevino akan muncul. Kevino turun dari mobil, Olive masih di selimuti kemarahan. Alden saja tidak berani untuk menyentuhnya.


"Hai!" Sapa Kevino.


Kevino merinding mendapat tatapan tajam dari Olive. Olive mendekati Vino dan Vino berjalan mundur.

__ADS_1


"Pergi sekarang jika kau tidak ingin menyusul orang tua mu detik ini juga." Tekan Olive dengan segala amarah nya.


"Santai nona ak---"


Olive menonjok kaca mobil hingga pecah membuat Vino dan yang lain terkejut kaget.


"Mulut dia sudah berbicara sangat kotor di depan ku dan menjadi seperti itu. Apa kau juga menginginkannya? Pergi!" Ujar Olive mengertakkan gigi nya yang terdengar jelas oleh Vino.


"Kak Vin, kita pergi saja. Ayo kak!" Ajak Quira.


Sam di gotong oleh beberapa pasukan Clarke. Mereka pun pergi semua dari area sekolah. Alden mengode untuk memeriksa keadaan sekitar apakah benar aman. Saat orang-orang Clarke dan Wiyata sudah pergi, kaki Olive terasa seperti jelly. Untung saja Alden sigap menopang nya.


Mobil pasukan Nugraha baru saja tiba, Alden langsung menggotong Olive masuk ke dalam mobil.


"Kalian periksa dengan benar sekitar sekolah, aku akan membawa Olive ke markas Fausta." Ucap Alden.


"Baik tuan." Sahut pasukan Nugraha.


Zet menunggu di markas Fausta. Dia terkejut dengan keadaan nona nya. Kaki dan tangan kanan nya penuh darah. Zet membantu membukakan pintu, sekarang Shakila, Niesha dan Phia yang terkejut.


Olive benar-benar bungkam tak berbicara apapun. Rasa amarahnya setelah mendengar perkataan Sam belum surut. Alden meminta agar mereka bertiga mengobati luka Olive.


Olive bahkan tidak mengeluarkan suara, entah itu perih ataupun merasa kesakitan. Hari ini Olive di kejutkan dengan dua fakta, di pertemukan lagi dengan penabrak adik tersayang nya dan Salah satu pemerkosa kembarannya saat mereka di culik.


"Maafin kakak dek, hiks... hiks... kali ini benar-benar janji nggak akan keluar dari rumah. Maafin kakak ya hiks... hiks... jangan diam aja." Tangis Phia yang gemetar mengobati tangan Olive yang tadi menonjok kaca mobil.


Olive seperti mati rasa. Airmata nya tidak akan keluar lagi, Olive hanya ingin marah dan marah. Olive memejamkan matanya, rasa amarah dan rasa perih nya sangat tidak seimbang. Lebih besar rasa marahnya.


Tiba-tiba ada yang membuka pintu markas, itu Oma Opa Fausta dan Nugraha. Mereka terkejut melihat keadaan Olive. Olive hanya menutupi wajahnya dengan bantal. Muka nya masih merah karena sangat murka.


"Apa yang terjadi? Bagaimana---Olive." Ucap Oma Nugraha.


"Oma, Opa. Silahkan ikut aku ke ruangan. Aku akan menceritakan semua nya." Ujar Alden.


Oma Opa Nugraha dan Fausta mengikuti Alden memasuki sebuah ruangan kedap suara. Pelayan menyuguhkan minuman. Alden mulai bercerita.


"Singkatnya, tadi Phia tiba-tiba saja berada di sekolah. Tanpa menunggu lama Olive langsung berlari ke sekolah tanpa alas kaki. Lalu yang aku bisa simpulkan adalah Sam Clarke salah satu tersangka yang memperkosa Phia waktu mereka di culik. Aku menyadari itu karena Olive benar-benar memukuli Sam hingga babak belur dengan tangan kosong. Kemudian, Kevino Wiyata datang membuat suasana makin panas hingga Olive menonjok kaca mobil hingga pecah. Olive benar-benar menahan amarahnya untuk mereka tapi dia menyakiti dirinya sendiri." Cerita Alden.


Oma Opa Nugraha mulai emosi, semakin hari malah semakin terlihat apa yang mereka cari sejak dulu tak pernah ketemu. Di luar ruangan, Phia masih berusaha membujuk Olive untuk berbicara.


"Dek, marahlah sama kakak. Bentak aja, nggak apa. Kakak mengaku salah. Tolong jangan diam begini. Kamu membuat kakak takut sayang." Ucap Phia.


Kejadian ini terulang lagi, Setelah Robert meninggal, Olive menjadi diam tidak berbicara apapun hampir sebulan lebih. Olive tidak memiliki nafsu makan. Dia hanya makan sesuap lalu pergi dan hanya minum.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2