
'Hanya ada satu cara untuk memastikan ini.' Bathin Olive.
Olive langsung mengecheck cctv di monitor. Lalu seperti menghitung orang-orang yang tidak asing atau pernah bertemu dengannya. Olive mengganti channel cctv di setiap sudut rumah sakit bagian luar. Alden kaget tidak melihat Olive di kasur pemeriksaan, ketika ia mengedarkan ke sekeliling mendapatkan Olive sedang fokus di depan monitor cctv milik Dokter Tomi.
Alden penasaran apa yang di lihat oleh Olive hingga sampai fokus sekali. Alden mendekati Olive dan berdiri tepat di belakang nya. Mendengarkan setiap gumam an Olive.
"Jika ia memakai strategi yang sama maka sisi itu yang akan menjadi target lalu orang ini akan masuk menaruh nya di sisi ini kemudian orang ini akan ke sini dan terakhir akan di letakkan di sana. Oke, aku harus mengecheck Zet sekarang. Karena kemampuan Yumi sudah sangat meningkat." Gumam Olive yang memindahkan channel cctv pada kamarnya.
Terlihat di layar monitor Zet masih bertarung melawan Yumi.
"Berarti, masih ada waktu sampai Yumi memberi perintah baru orang-orang itu melakukan tugasnya. Sekarang yang harus aku lakukan adalah mengulur waktu Yumi. Tidak, aku akan keluar." Gumam Olive kemudian berdiri saat berbalik badan Olive terkejut jika sejak tadi Alden berada di belakangnya.
Alden membuat Olive terkunci dengan meletakkan kedua tangannya di samping Olive.
"Apa tidak ada rencana yang lebih gila selain menyerang seorang diri?" Ujar Alden membuat spasi di antara mereka semakin tersisa sedikit.
"Ah, ak--Aku berencana untuk memberitahu kakak tentang ini. Aku kira kakak tadi keluar, jadi ingin cari kakak dan memberitahu titik-titik barusan." Alasan Olive.
"Tidak cukupkah hukuman kemarin saat di ruangan opa? Itu adalah hukuman karena kamu berubah menjadi keras kepala dan selalu memulai sendiri tanpa aba-aba. Haruskah aku memberimu hukuman lagi disini? Mumpung yang punya ruangan tidak ada." Ucap Alden membuat Olive membelalakkan bola matanya dan mendorong tubuh Alden.
"Tidak perlu. Aku akan diam saja." Sahut Olive yang berhasil membuat Alden mundur dua langkah.
"Kamu ikut denganku, kita ke tempat pertama." Ajak Alden membuat Olive bingung.
"Hah?"
"Kaki mu sudah aman kan? Ikut lah dengan ku sebagai petunjuk arah. Ide mu tidak buruk bisa kita lakukan bersama." Lanjut Alden.
"Tapi---"
"Sudah ayo, sebelum aku berubah fikiran untuk mengunci mu di satu ruangan agar kamu tidak bisa melakukan apapun. Aku hitung sampai 5 , 1.... 2.....3...."
"Oke!" Jawab Olive yang mulai kesal dengan kejahilan Alden.
"Setelah itu kamu harus menghitung berapa hukuman untuk mu nanti nya." Sambung Alden yang menarik Olive keluar dari ruangan.
Alden membawa Olive dengan sembunyi-sembunyi. Olive merogoh kantong nya namun tidak menemukan belati miliknya. Tiba-tiba Alden memberikan belati itu. Olive pun dengan menghentakkan kaki meninggalkan Alden dengan sembunyi-sembunyi. Alden tertawa dengan respon Olive.
Sudah sampai di Tempat pertama. Ada sekitar 15 musuh disana. Olive sudah meminta penembakan jitu untuk bersiap jika mereka butuh bantuan. Saat Olive mau jalan menyerang di tahan oleh Alden.
"Apa lagi kak Alden? Jangan bikin aku tambah badmood ya." Bisik Olive kesal.
Cup!
Hanya kecupan sekilas kemudian Alden menyerang musuh itu. Sedangkan Olive masih mematung karena kecupan Alden sesaat tadi. Olive memicingkan mata nya ke Alden menahan muka nya yang memerah malu. Lalu ikut menyerang musuh bersama dengan Alden.
__ADS_1
Ternyata jumlah musuh bertambah tapi tidak membuat Alden Olive kewalahan. Mereka tetap tenang. Keadaannya mah mereka lebih untung. Tempat pertama pun selesai. Mereka lanjut pergi ke dugaan tempat kedua jumlahnya lebih sedikit.
Kali ini Olive yang memulai terlebih dahulu, ia tidak ingin terjebak lagi oleh Alden. Alden tersenyum, kemudian bergabung dengan Olive melawan musuhnya. Ada satu waktu Alden mengangkat Olive lalu ada juga waktu yang membuat Olive harus naik untuk melompati Alden melawan sisi yang lain.
Sementara itu keluarga Fausta dan Nugraha berkumpul di rumah Fausta mereka melihat kejadian-kejadian disana melalui rekaman cctv. Mereka bukan khawatir malah memberi semangat kepada cucu anak mereka untuk melawan musuhnya.
kembali ke situasi Zet, Zet telah berhasil membuat Yumi kelelahan tidak bertenaga. Zet langsung mengikat Yumi Clarke serta menutup mulut dan mata nya di satu ruangan. Zet langsung memanggil pasukannya untuk membantu nona nya bertarung di titik-titik yang sudah Olive kirimkan tadi melalui monitor Dokter Tomi ke email Zet.
Sampailah mereka di titik kelima.
"Kau!" Ucap Olive kaget.
"Kenapa kau sangat terkejut?" Tanya perempuan itu.
"Kukira kau sudah tertabur di tengah laut." Pancing Olive.
Alden terkejut dengan cara Olive menyulut emosi musuh. Dia sangat menyukai nya.
"Kali ini aku tidak akan kalah dari mu!" Teriak Sam Clarke.
"Tentu saja. Karena aku akan memberikan dagingmu kepada Alta. Alta sangat menyukai daging segarmu itu." Sahut Alden yang sudah memulai perperangan.
"Kali ini aku juga tidak akan mengalah darimu. Aku akan membalaskan kematian orang tua ku!" Ujar Quira Clarke mulai menyerang.
Dengan gesit Olive menghindar dan memulai perperangan sengit ini. Para pasukan saling bertempur sedangkan para majikan mereka juga ikut bertempur. Pertarungan ini sangat sengit, tidak ada kesempatan untuk kedua belah pihak menyudahinya.
Mereka mundur dan mengatur nafas mereka. Olive Alden memberikan waktu untuk musuh nya mengambil senjata nya.
"Level kemampuan kita seimbang." Ujar Quira Clarke.
"Tidak. Aku hanya menyamakan saja derajat kita. Aku tidak sudi di samakan oleh orang-orang keji seperti kalian." Jawab Olive memancing emosi.
"Sialan! Kau---"
"Ah! Kau tidak pernah berubah selalu mengumpat sebelum menyerang." Sahut Olive yang memotong ucapan Quira Clarke dengan menyerang lebih dulu.
"Wow! Boleh juga." Kagum Alden yang langsung ikut menyerang Sam Clarke.
Clarke bersaudara kewalahan dengan serangan dadakan dari Olive dan Alden. Pasukan Fausta dan Nugraha juga mendominasi lebih banyak dari pasukan yang di miliki Clarke.
"Bagaimana jika kita menyudahi ini, aku yakin Yumi membutuhkan pertolongan kalian." Ucap Olive membuat fokus mereka buyar.
Pada kesempatan itu Olive Alden memberikan hadiah goresan di beberapa lengan dan kaki berulang kali. Membuat mereka menyudahi pertarungan ini. Pasukan Clarke sudah habis sedangkan milik Fausta dan Nugraha masih banyak.
"Lanjutkan." Ujar Quira emosi.
__ADS_1
Saat ingin menyerang namun di tahan oleh Sam.
"Sudahi saja. Kami tidak menyukai pertarungan yang tidak seimbang. Apa kalian ingin habis dengan pasukan kami? Lihatlah pasukan kalian sudah tidak ada." Ucap Alden.
Clarke bersaudara menyadari situasi mereka yang sudah terkepung. Akhirnya mereka pergi tanpa membawa Yumi.
"Kami akan mengirimkan Yumi berupa paket abu!" Teriak Olive.
Olive berjalan memasuki lobby dan duduk disana. Tak lama itu Zet dan dokter Tomi datang.
"Nona, minumlah." Ujar Zet.
"Dimana Yumi?" Tanya Olive sambil menerima sebotol minuman.
"Di gudang belakang nona." Sahut Zet.
"Kirim dia ke rumah lama keluarga Clarke. Ikat dia di sebuah kursi dan tinggalkan saja. Ah, pasang kamera tersembunyi juga." Perintah Olive.
"Apakah Nona kedua mu selalu sadis begini?" Tanya Alden yang sedikit terkejut dan mendapat tatapan tajam dari Olive.
"Untuk keluarga Clarke, sudah menjadi musuh abadi nona muda kedua, tuan. Bahkan mungkin akan lebih parah dari tadi tidak akan memandang keluarga Clarke manusia lagi." Jelas Zet.
"Ya! Kalian benar-benar menyebalkan. Sudahlah, aku ke kamar saja." Kesal Olive menuju lift.
Alden mengikuti Olive sambil tersenyum. Olive memasuki lift diikuti Alden. Alden menekan tombol 10 sedangkan Olive menekan tombol 25 alias rooftop.
"Bukan ke kamar? Katanya ingin ke kamar." Ucap Alden.
Olive masih diam tidak menyahuti. Alden yang merasa terpancing emosi membuat Olive berjalan mundur tetapi dengan cepat Olive menghindarinya namun malah jadi terpojok di sudut. Olive terkejut dengan gerakan respon cepat Alden.
"Aku membaca gerakanmu tadi selama pertarungan. Tapi, jangan harap kamu bisa lolos dari aku." Bisik Alden.
Olive melihat angka di lift masih menunjukkan angka lantai 8 tadi Alden sengaja menekan semua lantai agar lama mereka di dalam lift.
"Kak, aku ingin ke rooftop untuk menetralisir fikiran buruk ku selanjutnya." Sahut Olive pelan.
"Fikiran buruk seperti apa?" Tanya Alden.
Sayang kamu lupa mematikan teleponnya.
Suara Oma Nugraha pada lift membuat mereka sadar.
"Oma! Berhentilah melihat cctv dan matikan telepon nya. Bukankah aku sudah meminta kak Belden untuk mematikannya? Ya! Kakak!" Teriak Olive.
Alden pun langsung memutus kabel cctv karena kesal di ganggu.
__ADS_1
"Aku akan mengganti cctv dan juga earphone ini." Kesal Alden yang melepas kedua earphone Olive menekan tombol off lalu dengan tingkahnya.
Bersambung...