
Keesokkan harinya, Olive bangun lebih dulu. Tak lama itu suster masuk untuk memeriksa perkembangan kondisi Olive.
"Sus, kapan alat-alat ini boleh di copot?" Tanya Olive.
"Sebentar nona saya tanyakan dahulu ke dokter tomi. Nanti saya akan kembali lagi." Jawab suster.
"Terima kasih suster."Ucap Olive.
Setelah menunggu sepuluh menit, suster itu masuk kembali bersama dokter tomi. Dokter tomi memeriksa secara menyeluruh keadaan Olive.
"Nona coba gerakan jemari kaki nya." Pinta dokter Tomi.
"Bagaimana dok?" Tanya Olive yang menggerakkan kakinya.
"Bagus. Coba tangan nya di kepal dan buka kembali. Yang sebelah kanan lanjut sebelah kiri." Pinta dokter.
"Bagaimana dok? Sudah cukup?" Tanya Olive.
"Semua nya normal nona tetapi untuk berjalan anda harus terapi atau belajar jalan dan semua alatnya sudah bisa di copot." Jawab dokter.
"Terapi jalan? Maksudnya belajar jalan dokter?" Tanya Olive.
"Betul nona. Ada tempat khusus untuk itu. Nona bisa memulai nya ketika selesai sarapan." Jelas dokter.
"Baik dokter. Terima kasih sudah bekerja keras dalam melakukan operasi yang mendadak semalam." Ucap Olive.
"Sama-sama nona. Kalo gitu saya permisi, suster tolong copot alat-alat itu dan persiapkan ruang terapi jalan." Perintah Dokter.
"Baik dokter." Sahut Suster itu.
Satu persatu alat sudah tercopot. Tersisa infusan, karena harus selalu di pakai sampai menjelang hari pemulangan. Olive sudah merasa sedikit nyaman karena tidak ada alat-alat lagi di badannya hanya benar-benar tersisa infusan. Olive melihat ke arah sisi kamar, disana terdapat kedua sahabatnya yang masih tertidur.
Ting!
Suara ponsel Olive ada pesan masuk di nakas samping tempat tidur nya berbunyi. Tertera di layar 'Kak Alden" mengirim pesan.
[Gimana keadaannya? Sudah merasa lebih nyaman? Aku meminta dokter tomi untuk memeriksamu lebih awal.]
__ADS_1
Olive merasa pipi nya memanas karena malu.
[Iya kak. Sudah di copot, aku merasa nyaman banget sekarang tersisa infusan aja. Makasih banyak kak, maaf buat kakak repot akhir-akhir ini.]
Alden yang sedang memainkan gitar pun langsung berhenti ketika melihat ada pesan dari Olive lalu tersenyum kecil. Akhir-akhir ini semenjak dekat dengan Olive Alden banyak tersenyum, bahkan bisa tertawa lepas di sekolah adalah hal yang tak pernah terjadi sebelumnya.
[Jangan meminta maaf begitu, keluarga kita sangat bersahabat. Sudah sepatutnya kita saling membantu. By the way, tadinya aku mau bawain makanan atau minuman sesuatu buat kamu tapi kata dokter belum boleh. Mungkin besok atau lusa baru boleh. Satu hal lagi, sebenernya aku agak marah denganmu karena membohongi ku mengenai tulang retakmu itu.]
Olive menekan sebuah tombol agar kasurnya bisa agak tegak, karena Olive merasa pegal jika tiduran datar terus. Tadi suster sempat membawakan buah-buahan untuk Olive. Sudah terkupas, saat memakan beberapa ponselnya berbunyi dan segera beralih.
Olive yang membaca pesan dari Alden tersenyum dan tertawa kecil namun ada rasa bersalah.
[Aku hanya tidak suka banyak orang mengkhawatirkan aku, sedangkan pekerjaan atau aktifitas mereka atau kalian lebih penting dari itu. Maaf sudah berbohong, bahkan aku meminta dokter tomi juga untuk menutupi itu. Iya kak nggak apa, aku juga udah di bawain buah buat ngemil sebelum sarapan bubur hambar khas rumah sakit. Oh ya, nanti aku ada terapi jalan sekitar jam sepuluh. Info aja biar nanti pas jenguk kakak bisa kasih tau yang lain supaya nggak khawatir.]
Alden tersenyum membaca balasan pesan dari Olive, ada rasa aneh di hatinya untuk pertama kalinya. Rasa khawatirnya sangatlah nyata, lalu detak jantungnya berdetak lebih cepat jika ia menerima kabar baik bahkan buruk yang harus dia pantau sendiri baru merasa tenang.
[Kata siapa kamu tidak penting, kesehatan anggota keluarga itu nomor satu. Jika merasa tidak nyaman bercerita ke keluarga kamu bisa cerita ke sahabat kamu ataupun aku. Jangan merasa sungkan. Ah. Jadi dokter itu juga ikut berbohong. Ouh kamu boleh makan buah? Kamu ingin buah apa? Biar aku bawakan nanti saat menjenguk. Ouh sudah di tetapkan jadwal terapi jalan nya, oke deh. Semangat latihannya.]
Olive menekan sebuah tombol dan gorden kamar terbuka sedikit, terlihat view kamarnya yang sangat Bagus. Ponsel nya berbunyi dan teralihkan lagi. Olive membaca balasan itu, ada rasa sangat senang yang berkali-kali lipat. Olive merasa pipi nya memerah karena senang.
[Makasih kak atas perhatian nya. Aku sangat beruntung di kelilingi orang-orang yang baik banget. Itu aku yang memintanya untuk berbohong. Emm, aku sebenarnya ingin anggur yang tidak ada biji nya. Tapi, kalo susah untuk di cari tidak perlu repot kak. Iya kak, pasti semangat. Kan kakak udah tau aku nggak betah di rumah sakit.]
[Baiklah. Anggur tidak ada biji? Ouh! Aku tau tempatnya nanti di bawakan. Giliran keluar rumah sakit semangat banget kamu. Yaudah istirahat dulu masih terlalu pagi.]
Olive tersenyum sedih. Sejujurnya, Olive ingin benar-benar menjauh dari Alden karena takut perasaan nya semakin besar dan nyata. Bahkan Olive takut mengungkapkan dirinya ingin di anggap lebih dari sekedar teman atau sahabat.
[Iya kak. Kakak juga nggak perlu buru-buru datang kesini nya. Masih bisa istirahat sebentar. Oiya, aku boleh minta tolong lagi?]
Alden langsung membaca pesan itu.
[Minta tolong apa? Selagi bisa pasti bakal aku tolong kok.]
Olive tersenyum hangat lagi membacanya.
[Ingin pinjam buku yang kakak janjikan. Hehe...]
Alden langsung menggeleng kepala namun tersenyum karena gemas dengan Olive. Sedang sakit masih saja memikirkan untuk belajar.
__ADS_1
[Tidak bisa. Nanti saja jika masa pemulihan sudah selesai. Fokuslah dulu kesembuhan kamu baru kembali belajar. Kesehatan itu nomor satu.]
Olive pun langsung membaca itu.
[Kak, aku bosan tidak ada aktifitas lain selain tiduran dan memainkan ponsel. Aku janji jika lelah tidak akan memaksakan terus belajar. Hanya untuk keisengan saja. Ya?]
Alden membaca pesan itu dan ada emot pupple eyes di akhir. Gila belajar mereka sama-sama tinggi. Tapi menurut Alden saat pemulihan bukan waktu yang tepat untuk belajar. Tapi juga, jika dia di posisi Olive mungkin dia akan meminta hal yang sama.
[Baiklah. Aku bawa satu mata pelajaran aja yang bikin kamu belum ngerti. Apa itu?]
Olive yang di perbolehkan merasa senang dan tersenyum lebar.
[Yeah! Emm... aku ada dua mata pelajaran yang belum begitu mengerti. Antara Fisika dan Matematika. Kakak pilihkan saja satu untukku.]
Alden membaca pesan itu dan tersenyum.
"Kesulitan kita pun sama." Gumam Alden sambil tersenyum.
[Baiklah. Ingat untuk pembagian waktunya ya, waktu istirahat harus lebih banyak dari belajar.]
Olive pun tersenyum merekah membaca pesan itu.
[Siap laksanakan kak. Eh, ada suster antar sarapan. Aku sarapan dulu kak. Kakak jangan lupa sarapan juga dan Makasih udah mau bawain anggur sama buku nya. Have a nice day! βΊοΈ]
Alden merasa ada rasa puas sekaligus senang karena balasan dari Olive. Jantungnya berdetak menjadi tidak beraturan akhir-akhir ini.
[Have a nice day too. Enjoy your breakfast, jangan buru-buru? makan nya nanti kesedak. Aku nggak akan minta, karena pasti rasanya hambar π]
Olive yang sudah mulai memakan sarapannya pun benar tersedak membaca pesan Alden lalu tersenyum Olive tidak sadar jika kedua sahabatnya pura-pura tidur. Mereka tidak ingin mengganggu Olive yang sedang merasa sangat senang.
[Huuu! Dasar. Jail yaaa ππ]
Alden pun tersenyum dan tertawa membaca balasan dari Olive sambil menuruni tangga menuju ruang makan. Ayah, Bunda, Bibik dan Delia saling menatap satu sama lain karena tingkah aneh Alden.
"Bunda, kakak kenapa sih akhir-akhir ini aneh banget. Moody nya naik turun kayak perempuan PMS. Kemarin beberapa hari senang, terus jadi nggak fokus sering melamun dan sekarang happy lagi. Delia jadi takut bun." Bisik Delia.
"Sama sayang, bunda juga heran kakak mu asik chat an dengan siapa sih sampai bisa ngubah mood kakak mu naik turun begitu. Bunda jadi penasaran." Sahut Bunda sambil berbisik.
__ADS_1
Bersambung..