Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 48 - Back to School 2


__ADS_3

Alden langsung menyentil kening Olive pelan.


"Aduh! Kak---"


Olive langsung terdiam karena eyes contact dengan Alden. Kemudian menunduk kembali.


"Emm, sekarang hindarin eyes contact nih ceritanya." Goda Alden.


"Ng--Nggak." Jawab Olive gugup.


Tiba-tiba kedua sahabat Alden yang datang.


"Bos!" Sapa Ryan Rafa.


Olive langsung berbalik badan memanfaatkan kesempatan untuk kabur.


"Aduh! Kebetulan banget ada kak rafa sama kak ryan. Aku harus ketemu pak Firman nih. Kak tolong bantuin kak Alden ya. Makasih!" Kabur Olive meninggalkan perpus.


Alden langsung menggelengkan kepala dan tersenyum smirk. Ryan dan Rafa bingung dengan keadaan nya. Lalu tiba-tiba Olive balik lagi untuk mengambil tas.


"Hehe... tas aku ketinggalan. Makasih lho kak, nanti istirahat aku traktir!" Ucap Olive pergi.


Ryan dan Rafa saling menatap kemudian angkat bahu lalu serentak melihat bos nya yang tersenyum-senyum.


"Bos, kita nggak salah kan?" Tanya Ryan.


"Waktunya kurang tepat. Sudah bantu aku beberes buku ini sebelum bel masuk bunyi." Ujar Alden.


Akhirnya mereka bertiga merapihkan buku secepat mungkin. Sedangkan Olive yang sedang menuju kelas tiba-tiba di cegat oleh Gitta dan Ilona. Olive yang tidak ingin berdebat mengabaikannya namun di tahan dan di dorong oleh Ilona.


"Maaf kak, aku mau lewat bentar lagi bel masuk bunyi." Ucap Olive berusaha sopan.


"Cih! Lu fikir karena lu anak yayasan dan berkuasa terus bikin gua takut gitu?" Ujar Gitta.


"Maksud kak Gitta apa sih? Kak, ini sekolah bukan tempat buat adu bully. Permisi aku mau ke kelas." Sahut Olive namun tidak di beri jalan.


"Lu kemana aja sama Alden sampe bisa barengan 4 hari nggak masuk sekolah?" Tanya Gitta.


"Ya Ampun, aku sakit kak. Aku dirumah doang nggak kemana-mana. Aku mana tau kak Alden kemana, seharusnya kakak tau dong. Tanya aja sendiri sama orang nya. Ada di perpus tuh." Sahut Olive.


"Alden ke perpus? Hahaha... dia selalu anggap perpus daerah terlarang buat di masukin. Mana mau dia masuk ke perpus." Ujar Ilona.


"Ada apa ini?" Tanya Ryan yang membukakan jalan untuk Alden.


"Tuh, kakak tanya aja sama kak Alden dia darimana. Mumpung ada orang nya kan." Ucap Olive.


"Kamu habis dari mana? Habis dari belakang sekolah kan?" Tebak Gitta.


"Dari perpus. Beberes buku, kenapa?" Jawab Alden santai.


"Sudah terjawab kan? Jadi, permisi kak aku mau ke kelas." Ucap Olive.


"Tunggu dulu. Terus kemarin Alden kemana? Bisa samaan nggak masuk berturut-turut?" Tanya Ilona.


"Gua? Ada urusan keluarga. Gua harus keluar negeri. Eh, emangnya lu siapa gua harus laporan begini. Bisa nggak sih buang fikiran negatif lu itu? Muak gua lama-lama." Sahut Alden.


"Gimana aku nggak curiga kalo foto ini tiba-tiba nyebar di group sekolah kita." Kesal Gitta menunjukkan foto yang tadi pagi terjadi.


Olive dan Alden terdiam.


"Lihat kalian nggak bisa jawab kan? Berarti aku benar pasti ada apa-apa di antara kalian." Ungkap Gitta.


"Hem! Olive, setelah taruh tas kamu segera ke perpus ada yang mau saya bicarakan." Ucap penjaga perpus tiba-tiba.


"Ba-Baik bu." Sahut Olive.


Olive pun pergi ke kelas menaruh tas kemudian ke koridor yang masih ada petugas perpus.


"Ayo pergi." Ajak penjaga perpus meminta Olive jalan lebih dulu.

__ADS_1


"Ya bu... " Sahut Olive pergi.


"Ngapain kalian masih berdiri disini. Masuk kelas!" Perintah petugas perpus.


Anak-anak yang di koridor pun membubarkan diri. Alden memasuki kelasnya, Gitta menghentakkan kaki kesal ketika petugas perpus itu sudah menjauh menyusul Olive ke arah perpus.


Saat ingin membuka pintu perpus Olive di tahan oleh petugas perpus.


"Eh, kenapa bu?" Tanya Olive.


"Kamu nggak apa kan? Tadi saya cuman ingin menyelamatkan kamu aja dari Gitta." Ucap petugas perpus.


"Ouh, aku nggak apa bu. Makasih ya bu sudah membantu saya." Sahut Olive lega.


"Sama-sama. Kamu selalu membantu saya membereskan buku, saya pasti akan bantu kamu juga. Sekarang kembalilah ke kelas bel nya sudah berbunyi. Saya temani, saya juga mau ke kelas IPS." Ujar petugas perpus.


"Baik bu." Sahut Olive.


Tiba-tiba muncul tiga orang berpakaian serba hitam tertutup. Olive langsung berdiri di depan petugas perpus untuk melindungi nya.


"Kalian siapa?" Tanya petugas perpus.


Tiga orang itu tiba-tiba mengeluarkan pisau lipat membuat petugas perpus ketakutan.


"Bu, masuklah ke perpus kunci pintu nya." Perintah Olive.


"Tapi kamu---"


"Saya bisa bu, percayalah." Sahut Olive.


Petugas itu buru-buru masuk kedalam perpus dan mengunci nya.


"Siapa yang mengirim kalian?" Tanya Olive.


"Kau tidak perlu tahu gadis kecil." Sahut salah satu dari tiga orang itu.


"Wah! Kalian main keroyokan sama perempuan ya. Pengecut sekali bos kalian itu." Ujar Olive.


"Kenapa? Kau takut hah? Bukankah ada pengawalmu disini." Ujar orang itu.


"Hah? Aku takut? Aku bahkan bisa dalam hitungan detik menghabiskan kalian." Ucap Olive.


Seorang murid lari memasuki kelas Olive.


"Sha, Kil. Olive di kepung. Di lapangan!" Ucap siswa itu.


Niesha dan Shakila langsung keluar terkejut berteriak.


"Olive! Olive berhati-hatilah!" Teriak Niesha dan Shakila terdengar oleh Alden.


Alden langsung berlari keluar.


"Olive!" Teriak Alden.


Alden langsung turun diikuti Ryan dan Rafa. Olive yang mendengar teriakkan kedua sahabatnya pun agak panik. Mereka mulai menyerang satu demi satu, Olive menghindari nya dengan gesit.


"Hei, kalian curang menggunakan senjata." Protes Olive yang mulai lelah menghindar.


Tiba-tiba ada tiga orang yang membantu Olive. Mereka adalah Alden, Ryan dan Rafa.


"Kamu nggak apa?" Tanya Alden.


"Nggak kak, aku masih sempat ngehindar. Kak, mereka menggunakan senjata. Kita nggak bisa melawannya. Anak-anak melihat dari koridor." Bisik Olive.


"Lakukan yang harus di lakukan. Jangan takut, aku dan yang lain membawa senjataku. Apa kamu lupa? Jika kamu tidak bawa serahkan mereka pada kami." Ujar Alden.


"Nggak. Aku membawanya tapi ku titipkan pada Zet, kemana Zet saat di butuhkan." Kesal Olive.


Tiba-tiba mereka di serang lagi. Alden mengangkat Olive dan Olive menendang orang itu.

__ADS_1


"Kita harus kerja sama, sampai Zet datang." Ucap Alden dan Olive mengangguk.


"Kak, di arah jam 5." Ucap Olive yang langsung mendorong Alden namun tetap menggenggam tangan Alden. Kemudian menendangnya.


"Gesit sekali. Bagus juga." Puji dan ledek Alden jadi satu.


"Berhentilah meledek kakak." Ucap Olive sambil merapatkan gigi nya dan melawan mereka dengan cara menghindar lalu pukul.


Tiba-tiba ada yang berteriak.


"Nona muda tangkap ini!" Ucap Zet melempar pisau belati milik Olive.


Olive menangkap itu, lalu di posisi siap dengan senjata.


"Nah, gini kan adil. Sekarang kalian nikmatin balasan dari ku." Kata Olive mulai menyerang yang membuat musuh kewalahan.


Alden tidak kaget lagi dan langsung bergabung dengan Olive, Rafa, Ryan dan Zet disana. Namun ada satu penembak jitu yang menargetkan Olive dari jauh mengarahkan tepat pada jantung Olive.


Saat semua musuh sudah rata tergeletak, Olive menyimpan kembali pisau belatinya. Namun, Olive melihat penembak di atas sana menargetkan dirinya dengan cepat dia menghindar namun itu berhasil menggores tangan nya.


"Akkh! Zet kejar orang itu dia disana!" Perintah Olive yang tadi berguling untuk menghindar namun tetap mengenai nya.


Olive menekan luka nya agar darahnya tidak mengalir. Alden yang mengetahui Olive kena tembakan langsung lari ke Olive yang duduk di tengah lapangan sambil menahan perih goresan tembakan.


Zet langsung meniup pluit dan penembak jitu itu terkepung oleh pengawal bayangan.


"Kamu nggak apa?" Tanya Alden yang langsung merobek baju nya untuk di ikat di tangan Olive untuk menahan darahnya agar tidak mengalir.


"Nggak kak, kakak harus kesana. Penembak itu sudah terkepung." Pinta Olive.


"Kau ini... " Alden langsung menggotong Olive menuju UKS dan berteriak memanggil dokter.


Alden tidak peduli lagi dengan anak-anak sekolah yang melihatnya. Shakila dan Niesha lari menuju UKS juga. Olive langsung di tangani dokter, di obati dan harus mendapat jahitan sebanyak dua belas jahitan dalam keadaan terbius pada bagian tangan saja.


Olive memejamkan matanya sambil menggenggam tangan Alden erat-erat. Walaupun tidak terasa sakit tapi Olive sangat benci saat melihat jarum. Alden menenangkan Olive agar lebih rileks tidak tegang.


"Sebentar lagi selesai. Bertahanlah." Ucap Alden.


"Aku benci jarum kak. Tidak terasa, tapi aku benci saja." Sahut Olive kesal.


"Hahaha... bisa benci juga ternyata kamu." Goda Alden.


"Ish! Kakak ini, masih bisa juga menggoda ku. Diamlah." Sahut Olive cemberut.


Alden mencapit hidung Olive gemas.


"Ihh... jangan cemberut seperti itu atau nanti bibirmu---" Bisik Alden terpotong


"Kak... diamlah." Rengek Olive membuat Alden tertawa.


"Sudah selesai tuan." Ucap Dokter.


"Terimakasih." Sahut Alden.


Dokter itu keluar bergantian dengan sahabat-sahabat mereka masuk ke UKS.


"Kamu nggak apa?" Tanya Shakila dan Olive menggeleng.


"Hanya dua belas jahitan." Sahut Olive.


"Hem! Bos, pegangan mulu. Mau nyebrang ya?" Ledek Ryan.


Olive dan Alden langsung melepas genggaman nya membuat ke empat sahabatnya menahan senyum.


"Bagaimana dengan penembaknya?" Tanya Alden mengalihkan suasana.


"Sudah di bawa ke markas bos. Semua termasuk tujuh orang tak di kenal yang menyerang Olive." Sahut Ryan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2