
langsung saja ponsel Olive berdering. Tanpa melihat nama yang menelepon Olive segera mengangkatnya.
Om Tio?
Kamu dimana?
Aku? Ini siapa? Hah? Opa? Opa aku harus nyusul om tio dulu. nanti aku hubungi lagi.
Sayang. Dengarkan Opa baik-baik. Tio dan Reina baik-baik saja begitupun Sera.
Bagaimana Opa tahu? Om tio sudah menelepon?
Sementara Olive sibuk menelepon dengan Opa Nugraha, Alden dan yang lain berusaha untuk membuka paksa pintu mobil yang di naiki Olive. Berhasil. Olive terkejut dengan suara buka pintu samping supir.
Opa sudah kirim bawahan opa untuk melindungi mereka. Kamu jangan kira opa akan diam saja melihat kalian seperti ini. Sekarang kembali ke markas utama. Kita kumpul semua.
Tapi opa...
Kamu tidak percaya pada opa?
Bukan begitu.
Kamu bukan ingin ke gudang terbengkalai itu, tapi kamu ingin nekat mendatangi markas Clarke? Benar begitu?
Opa ini semua mengarah padaku. Kalian dalam bahaya karena aku dan aku akan mendatangi ibrano untuk menanyakan apa kesalahanku padanya, hanya itu.
Oma bilang kembali ke markas utama Nugraha, dalam 5 jam kamu belum sampai. Oma akan kirim kamu ke perusahaan di Barcelona.
Hah? Halo? Oma... ya! Oma...
Olive berusaha menelepon Opa Oma dan markas pusat namun tidak ada jawaban. Olive kesal, tiba-tiba ada suara pesawat lewat. Olive segera turun dari mobil dan merebut senjata dari bawahannya kemudian menembakin pesawat itu.
Itu adalah pesawat yang di gunakan Ibrano, Rio, Quira, Sam dan Yumi untuk kabur. Pesawat itu sempat terasa oleng karena tembakan dari Olive.
"Arrghh! Sialan!" Kesal Olive lalu berlari ke dalam Villa.
Alden yang ingin mengejar namun di tahan oleh Luna.
"Biarkan saja. Kasih dia waktu sendiri, Opa nugraha meminta kita membawanya pulang ke Markas. Tapi kita tunggu kedatangan Paman Tio, Bibi Sera dan Reina dulu." Tutur Luna.
"Aku aja yang samperin kakak. Kalian tunggu disini." Ucap Robert.
"Kalau kamu masuk nanti malah tambah masalah. Suasana hati Olive sedang tidak stabil." Tahan Firo.
"Aku tahu apa yang harus aku lakuin kak. Kalian tenang aja." Ujar Robert lalu berlalu masuk ke Villa.
Tak lama itu Nel keluar dari Villa mengabarkan bahwa tidak ada korban dalam ledakan itu. Sementara di pesawat yang tadi sempat tertembak oleh Olive.
__ADS_1
"Wah! Penembak jitu ternyata." Tawa renyah Rio.
"Tuan, ada sedikit gangguan di mesin pesawat membuat kita harus memperbaikinya segera." Ujar bawahan Rio.
"Gangguan mesin? Ini pesawat mahal bagaimana bisa hanya kena sekali tembakan bisa terdapat gangguan?" Tanya kesal Rio.
"Aku sudah bilang dari awal, lawan kakak bukan anak kecil biasa. Daripada kita jatuh di hutan belantara lebih baik kita mendarat darurat saja." Tutur Sam.
"Mau mendarat dimana bodoh! Ini sudah di wilayah Wiyata, Fausta dan Nugraha. Kau ingin kita tertangkap?" Marah Rio.
"Jangan salahkan kak Sam berkata begitu. Ini semua karena kalian terlalu ceroboh tidak mengenal lawan dengan baik. Terutama kak Rio karena menaruh bom ledakan dalam gudang itu. Jika kita tidak bisa melewati pulau wilayah kekuasaan mereka dengan pesawat gangguan mesin seperti ini, ini adalah kesalahan kak Rio. Tidak seharusnya membangunkan macan wilayah." Jelas Yumi.
"Aku setuju dengan Yumi. Jika kalian tidak memperdebatkan perempuan gila itu, kita pasti tidak akan mengalami hal ini." Sahut Quira.
"Usahakan kita mendarat di pulau terpencil dan perbaiki secepatnya." Perintah Rio.
"Baik tuan." Jawab Bawahan Rio.
Sementara itu di kamar Villa perbatasan wiyata, Olive sedang tertawa bahagia sambil menyalakan musik kebangsaan. Tak lama itu terdengar ketukan pintu sebanyak 3 kali.
"Masuk!" Sahut Olive.
"Kak...." Terdiam.
"Hahaha... la la lala...la la lala... haha! Kenapa dek?" Tanya Olive sambil mengayunkan jemari lentiknya mengikuti alunan lagu.
"Kakak berhasil nembak di bagian mesin?" Tebak Robert.
"Wah! Kakak keren sekali. Ah sekarang itu tidaklah penting. Kita harus kembali ke markas kak. Oma Opa pasti sangat marah." Ujar Robert.
"Mereka tidak akan marah kepada kita. Setelah tahu bahwa aku membidik tembakan dengan tepat. Aku akan selalu stand by siapa tau bisa mendapatkan mangsa di wilayah kita, karena wilayah kita sangat panjang. Pesawat mereka tidak akan bisa melewatinya, tapi jika mereka pintar mereka akan mengambil jalur pendek untuk mendarat di pulau terpencil." Sahut Olive bersemangat.
"Wahhh, jiwa killer kakak benar-benar menyeramkan." Takut Robert.
"Dengar. Apapun yang terjadi ceritakan padaku, meskipun rencanaku terdengan terlalu ceroboh tapi itu ada keuntungan sedikit. Tadinya aku mau tembak 2 kali tapi itu pasti akan langsung buat pesawat mendarat. Tidak seru jika terlalu mudah tertangkap. Reina sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Kak Reno juga, jadi apapun yang kamu ketahui tentang mereka ceritakan padaku. Mengerti?" Tegur Olive.
Robert memeluk Olive sangat erat.
"Kak maafin ucapanku yang kasar tadi. Tapi aku juga tidak akan bisa membuat kakak menerima ini sendirian. Ada aku dan yang lain akan selalu ada di sisi kakak bukan dibelakang. Jadi kakak gak perlu tanggung sendirian." Ucap Robert.
"Iya kamu benar. Kakak juga minta maaf ya, kata-kata kakak juga tadi agak kasar ke kamu. Yaudah, daripada kita melow begini. Beberes aja, kembali ke markas lebih awal." Tutur Olive.
"Okay kak." Sahut Robert.
Tanpa sepengetahuan Olive dan Robert. Alden dan yang lainnya mendengarkan dari depan pintu mereka tersenyum setelah tahu bahwa mereka sudah berbaikan dan salah mengira jika Olive akan marah besar.
"Adik Belden emang the best. Beda banget yang satu ini, cantik nya unik terus bisa jadi penembak jitu. Nggak nyangka bakal kena mesin pesawatnya dengan jarak yang super jauh kayak tadi. Alden, Jagain tuh anak bener-bener. Kalo lu sakitin atau bikin nangis. Lu berhadapan sama kita." Pesan Barel.
__ADS_1
"Iya bener banget. Beruntung banget lu bisa dapatin hati Via semudah ini, dulu kita deketin dia susah setengah mati. Gua juga bingung kok lu gampang banget sih?" Iri Kevan.
"Yaiya dong gampang. Kayak gua sama Belden aja, kalo hobi dan segala sifat mirip mah satu cara juga udah kelar." Ucap Luna.
"Iya kak aku janji." Papar Alden.
Akhirnya mereka ke kamar masing-masing untuk beberes barang bawaan. Kemudian kembali ke markas secara beriringan.
Mobil Olive ada Zet Nel duduk di depan. Kemudian ada Olive Alden. Mobil Robert ada Prass Kevan. Lalu ada Luna Robert dan paling belakang ada firo dan Barel. Sisanya 10 mobil adalah pengawal bawahan dari Wiyata Nugraha dan fausta. Ada beberapa bawahan dari opa oma.
Saat di pertengahan jalan...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...