
"Bukan. Setelah kejadian Robert adik kami, tatapan Olive terhadap musuh yang ini seperti bukan menatap manusia lagi. Saat itu usia Olive baru 12 tahun sedangkan Robert 8 tahun. Olive sedang menunggu adik nya di sebrang jalan saat pulang sekolah. Tiba-tiba saja, ada mobil yang melintas menabrak Robert hingga terpental jauh. Tanpa lama, Olive membuat mobil itu meledak ketika ingin kabur dengan menembaknya. Dia melihat dari sisi lain ada puluhan orang ingin menyerangnya. Dengan tatapan tajam membunuh dia mengeluarkan pistol dan tak ragu untuk menembak musuh-musuh itu. Dia mengamuk tak menentu arah, bahkan ia datang ke markas musuh dan habis satu rumah. Untungnya kami menemukan dia sebelum lebih jauh. Maka nya dia sangat menjaga kembarannya dan orang di sekitarnya tanpa memperdulikan dirinya dulu. Itu membuatku terpukul." Cerita Belden yang merasa hati nya perih.
Alden bisa merasakan sakitnya itu, walaupun dia tidak memiliki pengalaman yang sama tapi ia ikut merasakan perih di hati nya. Lebih menyakitkan dari apapun.
"Maaf kak, buat kakak harus membuka luka kakak kembali." Ujar Alden dan Belden menggeleng.
"Tak apa. Kamu harus tau itu dan jangan pernah membahas tentang ini kepada nya. Aku sebagai kakak nya tidak bisa menahannya apalagi kamu yang masih orang asing untuknya. Waktu itu jika bukan karena Phia, Olive tidak akan berhenti." Sahut Alden.
"Apa separah itu?" Tanya Alden.
"Ya. Karena dia sudah sejak lama merengek menginginkan punya adik karena dia tidak ingin menjadi bungsu. Tapi tuhan berencana lain. Hem... sudahlah, sebaiknya kamu istirahat mandi. Lalu istirahat, lihat kantung matamu itu. Belum bekerja di kantor sudah seperti itu gimana saat kamu bekerja lembur di kantor berhari-hari. Kalian beristirahatlah. Kita tidak tahu, serangan apa lagi yang akan datang. Jika kalian tidak dalam keadaan kondisi baik, bisa kalah kita nanti." Ucap Belden.
"Tapi kak---"
"Kalian tidak perlu khawatir. Lihat pengawal mulai berdatangan. Istirahatlah minimal satu jam kalian tidur." Pinta Belden.
Alden, Dokter Tomi dan Zet pun pergi. Belden masuk ke kamar rawat adiknya dan memberitahu pengawal agar menjaga di depan kamar. Tetap, Belden mengunci pintu nya berlapis-lapis. Untuk mengantisipasi.
Alden memilih untuk mendi air dingin kemudian tidur. Sekarang dia mengerti kenapa sikap Olive sangat berubah-ubah dan memilikj aura membunuh yang menakutkan. Alden juga akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi kepada keluarganya.
Namun Alden jadi penasaran, siapa yang berani membunuh anggota keluarga Nugraha. Pasti bukan sembarang orang. Entahlah, Alden mulai memasuki alam mimpi.
Dikamar rawat Olive Belden tidur sisi kanan dan Phia sisi kiri. Olive tidak bisa tidur akhirnya bangun perlahan tanpa membangunkan kedua kakak nya. Olive duduk di pinggir kasur pasien sambil menatap luar jendela.
'Kak Phia benar, aku harus menyiapkan semua nya secara sempurna. Clarke hanya latihan untukku. Sampai nanti aku bertemu dengan orang itu aku harus persiapkan fisikku dengan sangat matang. Aku harus mengkhawatirkan diriku. Semua akan baik-baik saja, selama diriku pun baik-baik saja.' Bathin Olive.
Olive baru sadar jika tidak melihat Alden. Olive mengambil ponsel nya di meja nakas untuk memeriksa ada informasi apa saja yang terlewatkan.
"Ah, benar. Gadis kecil itu." Gumam Olive melihat email dari Zet.
Olive mengechcek secara keseluruhan.
...Nama : Amira Zaylee Wiyata (Angkat)...
Olive kaget membaca nama marga pembunuh adiknya pada anak kecil itu. Tidak ingin memberikan kesimpulan sendiri Olive tetap membaca sampai kepada intinya yaitu Clarke dan Wiyata adalah saudara masih satu darah. Tidak heran saat kemarin melawan keluarga Clarke cara penyerangan metode nya sama.
"Sial! Selama ini mereka sangat dekat denganku. Baiklah kita tunggu sampai kapan dia bersembunyi. Aku tidak akan memberikannya hidup lagi."Amarah Olive menaik.
__ADS_1
Ting!
[Bagaimana keadaanmu? Apa sudah membaik?]
Olive tersentak kaget dengan notif ponselnya. Olive langsung membuka dan membaca nya, hatinya menghangat. Olive bingung, selama ini tidak ada yang dapat menurunkan emosi nya semudah ini. Mengapa Alden berbeda.
[Sudah lebih baik. Kakak nggak istirahat?]
Balas Olive. Alden yang baru bangun dari tidur nya langsung mengirim pesan seperti tadi kepada Olive. Mendapat notif pesan, Alden membuka nya. Alden tersenyum, kali ini Alden akan selalu menuruti kata hatinya.
[Aku baru saja terbangun. Tidak terasa sudah tidur dua jam. Kamu ingin makan sesuatu? Aku akan membelikannya untukmu.]
Balas Alden. Olive merasa senang mendapat tawaran itu. Olive sangat menginginkan soup ayam dan minum Es jeruk lemon.
[Emm... Aku tidak tau apakah jam segini makanan itu ada atau tidak. Aku menginginkan yang hangat seperti soup ayam dan minum es jeruk lemon. Tunggu, apakah dokter Tomi mengizinkannya?]
Balas Olive. Alden melihat jam, ini tepat jam makan siang. Di kantin pasti ada. Alden akan memastikan itu. Alden menelepon bagian kantin.
Selamat siang, ini kantin rumah sakit Fausta ada yang bisa kami bantu?
Ouh tuan. Tentu ada tuan, apa kami perlu mengantar ke ruangan tuan?
Tidak. Aku akan kesana dan membelinya sendiri.
Baik tuan, akan kami siapkan untuk di panaskan terlebih dahulu. Apalagi tuan?
Minuman. Apa ada es lemon tea?
Ada tuan.
Baiklah, siapkan dua itu. Sebentar lagi aku kesana.
Baik tuan saya mengerti.
Alden memutuskan sambungan telepon. Olive bingung kenapa Alden belum membalasnya. Apakah Alden tertidur kembali, itu wajar karena mereka kemarin sudah melawan mungkin lima puluh orang lebih.
Ting!
__ADS_1
[Maaf lama membalas pesanmu, aku menelepon kantin tadi menanyakan pesanan mu apakah ada. Jam satu aku akan ke kamarmu. Aku harus bebersih terlebih dahulu.]
Olive tersenyum membaca pesan Alden.
[Baiklah. Aku tunggu.]
Hati mereka sangat senang dan seperti melupakan kejadian kemarin. Olive mengayunkan kedua kaki nya tersenyum dan menatap keluar jendela. Mereka sedang di mabuk Cinta.
Phia terbangun dari tidur nya, meraba kasur namun kosong. Phia langsung panik.
"Via!" Panggil Phia.
Belden terbangun karena teriakkan Phia dan ikut panik karena Olive tidak ada di antara mereka.
"Olive!" Teriak Belden.
Olive yang mendengar itu, menengok ke belakang dan berjalan ke arah kamar tamu.
"Ada apa kak?" Tanya Olive ikut panik.
"Kamu kemana aja. Kakak kaget kamu nggak ada di kasur." Ujar Phia.
"Hehe... Aku tidak bisa tidur lagi tadi. Jadi aku duduk disana sambil pilih belanja Online buat persiapan Promnight sekolah. Maaf." Sahut Olive.
"Kamu yakin tetap ingin hadir? Bagaimana dengan kaki mu? Kamu yakin bisa melewati itu besok?" Tanya Phia.
"Tadi kakak udah bicara dengan Dokter Tomi. Kemungkinan besok adalah ******* rasa sakitnya. Untuk mengurangi itu kamu harus berendam dengan obat yang berikan." Jelas Kak Belden.
"Aku akan tetap hadir sabtu depan kak. Aku sudah terlalu sering tidak masuk bulan ini. Kalo begitu aku akan mandi sekarang." Sahut Olive.
Olive menyiapkan air hangat dan meneteskan obat nya 10 tetes. Sekarang masih jam setengah dua belas, Alden akan datang satu setengah jam lagi. Itu cukup untuk olive. Olive merendamkan tubuhnya di dalam bathtub.
Rasanya sangat nyaman untuk Olive. Olive tidak lupa memasang alarm tepat jam dua belas. Cukup tiga puluh menit berendamnya atau kulitnya akan keriput nanti. Sesekali Olive membasuh muka nya dengan air itu. Menggosokkan kaki yang di oleskan minyak panas secara menyeluruh.
Setelah selesai berendam. Olive mandi di bawah pancuran. Selesai. Olive menggunakan baju yang sudah di bawa nya tadi.
Bersambung...
__ADS_1