Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 105 - Berdua denganMu


__ADS_3

"Hah! Kamu bener juga tentang itu kalo dia beneran baik. Bahkan oma sudah mengakui bahwa Kevino juga orang kepercayaan kakek. Aku akan coba minta tolong Zet untuk memeriksa tentang perusahaan kakek atau peralatan kakek dulu. Mungkin disana ada petunjuk yang kakek tinggalkan. Sudahlah tidak usah di fikirkan dulu aku mau mandi. Setelah itu, persiapan makan siang sekalian packing ada beberapa barang yang pengin aku bawa." Ucap Olive.


"Yaudah, kaloo gitu aku juga mandi deh. Nanti tunggu aku di ruang tengah aja ya." Ujar Alden.


"Eh tunggu, emang kamu bawa baju?" Tanya Olive.


"Bawa dong sayang. Kan emang aku sudah niat abis jelasin tentang kesalahpahaman kita aku mau nginep di hotel. Terus tadi pagi aku langsung balik ke rumah, tapi nggak jadi karena ketakutan kamu semalam." Jawab Alden.


"Ah benar semalam, aku ketiduran ya pas nonton sama kamu. Terus kok bisa tiba-tiba aku dikamar? Jangan bilang..."


"Benar, aku yang pindahin kamu ke kamar. Masa iya aku tega ninggalin kamu tidur di sofa, nanti badan kamu sakit-sakit jadinya." Sahut Alden.


"Ouh, yaudah deh. Mandi dulu, nanti baru lanjut ngobrol. Udah nggak betah banget rasanya." Kata Olive.


Saat Olive dan Alden ingin masuk kamar masing-masing untuk bebersih. Bik fira datang,


"Nona sama Aden mau makan siang apa? Bibik masak atau mau pesan ddi restoran?" Tanya Bik fira.


"Pesan aja bik, Aku pulang nanti malam pakai mobil." Usul Olive.


"Ouh Nona jadinya pulang sama aden. Terus mau pesan apa jadinya?" Tanya bik fira lagi.


"Apa aja bik, samain kayak Olive aja pesanan aku." Sahut Alden.


"Kalo gitu pesan makanan berat aja bik, kan biasanya aku makan siang jarang makanan berat. Yang kayak biasa aku pesan aja." Ucap Olive.


"Oke nona, dimengerti." Jawab Bik fira.


Akhirnya Olive dan Alden memasuki kamar masing-masing kemudian bik fira menelepon restoran untuk memesan makan siang hari ini. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang dini hari, Olive dan Alden menonton film action seputar mafia. Sementara itu di kediaman Nugraha,


Ponsel Olive di pegang oleh Robert, ada beberapa kali telepon masuk tanpa nama bisa di tebak jika itu berasal dari clarke. Robert tahu jika keberadaan kakak nya dekat dengan bagian perbatasan antara Nugraha dan Clarke jadi tidak di angkat. Namun, hampir setiap jam ponsel Olive berdering membuat Robert terpancing amarah sedikit dan hampir tergoda untuk mengangkat nya jika tidak di ingatkan oleh Pram juga Zet.


"Kapan kakak pulang?" Tanya Robert.


"Sepertinya malam ini tuan muda kecil. Karena kalo dari rencana Aden Alden harusnya pagi ini dia balik kerumah. Tapi kata Nel Aden Alden belum datang. Jadi, kemungkinan mereka sudah berbaikan karena kesalahpahaman dan akan pulang bareng malam ini." Jawab Zet.


"Tunggu, pulang bareng? Dimana kak Alden tidur semalam? Mungkinkah?" Curiga Robert.


"Yang saya ketahui jika Villa itu memiliki banyak kamar tuan, Bahkan Nona Kedua menambahkannya lagi." Jelas Zet.


"Untuk apa kakak membutuhkan banyak kamar? Ini Villa pribadi kakak yang mana sih? Sebenernya berapa Villa yang Kak Via punya?" Ujar Robert Bingung.


"Yang saya tahu dengan lokasi yang jelas ada 5 Villa tuan, tapi yang sekarang di datangi oleh nona lokasi nya sama sekali tidak bisa di lacak. Maksud saya, nona selalu berhasil menipu saya untuk tidak mengetahui lokasi Villa yang ini dan muungkin ada 2 lagi yang saya tidak tahu juga. Karena nona, beli Villa tanpa ada nama Nugraha jadi sulit untuk di telusuri." Jelas Zet.


"Maksudmu, kak Via membeli Villa dengan nama samaran agar tidak di ketahui oleh musuh dan kita?" Tebak Robert sambil tersenyum sinis.


"Kurang lebih seperti itu tuan strategi yang di pakai nona beberapa tahun terakhir setelah kejadian tuan muda kecil dan Nona Phia." Jawab Zet.


"Baiklah. Tidak apa yang penting masih ada orang yang bisa menjadi mata-mata untuk mengawasi kakak agar tidak terjadi hal buruk. Aku tidak ingin hal buruk terjadi setelah aku kembali sekarang. Aku menginginkan keluarga yang utuh." Harap Robert.

__ADS_1


"Saya mengerti tuan muda kecil. Kalian sudah melewati masa-masa yang sangat sulit kemarin. Saya juga berharap jika Tuan Alden, tidak akan menyakiti Nona Olive sesuai janjinya." Harap Zet.


"Apakah kalian sudah menyelidiki tentang Kevino yang akan menikah dengan kak Phia?" Tanya Robert.


"Sudah tuan. Selama ini Aden Kevino ada di Negara L seorang diri untuk penyembuhan kaki nya karena luka yang dibuat oleh Nona kedua Olive." Sahut Pram.


"Jadi, benar jika yang selama ini yang kita lawan adalah yang palsu? Siapa orang dibelakang semua ini? Ingin membuat Mafia terlihat jelek dimata dunia saja." Kesal Robert.


Zet dan Pram saling melihat satu sama lain. Berbeda dengan Belde,Sophia dan Olive yang besar bersama dengan oma nya. Sedangkan Robert sempat tinggal dengan Bik Sera dan Paman Tio. Betapa menyakitkan hatinya jika Robert mengetahui itu.


"Kenapa kalian diam saja?" Tanya Robert.


Zet memberikan flashdisk yang kemarin di berikan oleh Alden.


"Ini tuan, tapi saya mohon tuan jangan pernah terpancing emosi setelah mengetahui kebenarannya." Jawab Pram.


Karena Robert penasaran jadi dia dengan percaya diri membuka isis file satu persatu. Tanpa sadar tangan Robert sudah mengepal setelah tahu kebenarannya. Aura nya berubah menjadi menakutkan, Zet dan Pram meminta pengawal yang lain untuk meninggalkan ruang kontrol sementara.


"Kalian tidak akan melakukan kesalahan kan?" Tanya Robert dengan raut wajah yang menakutkan.


"Itu file asli dari Kevino tuan muda kecil dan setelah di telusuri semua mengarah tepat  ke Tuan Tio dan Nyonya sera. Berdasarkan CCTV yang dulu pernah kami kumpulkan saat tuan kecelakaan juga ini sangat terhubung." Jelas Pram.


"Apalagi yang kalian tahu?" Tanya Robert.


"Kematian kakek dan nenek tuan juga berhubungan dengan mereka." Tutur Zet ragu mengatakannya namun terdengar sangat jelas di telinga Robert.


Raut wajah Robert berubah seperti menahan amarah, seperti merasa di permainkan.


"Itu adalah kenyataan yang terjadi tuan. Mungkin kami berdua belum bisa membuktikannya tapi hanya dengan melakukan hal itu semua harta Nugraha bisa jatuh ke tangan mereka." Jelas Pram.


"Kami baru memiliki bukti ini, saya menunggu perintah dari Nona kedua untuk mengecheck kebenaran ini di kediaman kakek dan Nenek terakhir mungkin kita bisa menemukan bukti yang di sembunyikan selama ini disana." Sambung Zet.


Robert pun membuka folder dan file yang mengarah bahwa pelaku pembunuh kakek nenek nya adalah Bik Sela dan Paman Tio.


"Dimana mereka tinggal sekarang?" Tanya Robert.


"Mereka sedang di negara D tuan. Menurut data mereka beberapa kali datang kesini untuk memastikan bahwa tuan benar sudah meninggal. Maaf tuan, tapi ini hanya kecurigaan saya saja. Orang dibalik semua drama ini adalah mereka. Mereka ingin Nugraha terpecah belah dan saling membunuh dengan begitu nama Mafia akan jelek dan mereka akan mendapatkan harta Nugraha." Jelas Pram.


"Jadi maksud kalian, semua rencana penabrakan aku sampai kejadian Olive kemarin adalah kelakuan dari Bik Sera dan Paman Tio?" Tanya Robert untuk memperjelas pengartiannya.


"Maaf tuan, bukan maksud kami lancang menuduh tapi memang beenar jika semua ini mengarah ke mereka." Ucap Zet berlutut diikuti Pram di hadapan Robert karena takut.


"Berdirilah. Aku mengerti ketakutan kalian dan aku yakin kalian tidak akan salah info karena pasti sudah di selidiki secara menyeluruh. Jangan katakan apapun apa yang aku tanyakan kepada kak Olive oma dan Opa. Pram selidiki rumah mereka dan berikan padaku kemana saja mereka pergi selama 8 tahun terakhir ini." Pinta Robert.


"Baik tuan, saya mengerti." Sahut Pram dan Zet.


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore Alden Olive sudah membereskan barang-barang nya dan menyusun di mobil. Saatnya Olive berpamitan dengan Bik fira, sangat jarang mereka bertemu dan Olive sudah menganggap Bik fira seperti ibu nya sendiri.


"Bik, aku pamit pulang dulu. Nanti aku kabarin kalo mau kesini lagi bibik cerita aja kalo perlu apapun nanti aku kirimin. Aku udah menganggap bibik kayak ibu aku dan keluarga aku sendiri jadi nggak perlu sungkan." Ujar Olive.

__ADS_1


"Jangan gitu nona, bibik kan juga sudah bukan bagian dari pekerja di keluarga nona lagi." Tutur Bik fira.


"Kata siapa? Buktinya bibik masih kerja sama aku disini. Pokoknya kalo ada apapun harus laporan ke aku apalagi di sini dekat perbatasan daerah musuh aku takut bibik yang jadi inceran mereka buat tangkap aku atau apapun itu. Maaf ya bik, aku dan keluarga bikin bibik dalam bahaya kayak gini." Ucap Olive menyesal.


"Nona Olive jangan ngomong begitu. Sejak awal niat bibik benar-benar murni membantu bekerja di keluarga nugraha untuk bahaya yang bakal bibik dan keluarga bibik hadapi kedepan itu adalah resiko bibik sendiri. Bukan salah nona dan keluarga, Bibik malah bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga sebaik Nugraha walaupun hanya sebagai pelayan di rumah." Sahut bik fira.


Olive memeluk Bik fira erat.


"Dulu bibik yang harus nunduk buat nenangin nona kalo nangis. Waktu berjalan dengan cepat Nona sudah tubuh dengan sangat baik, bibik bangga." Kata bik fira.


"Bibik, itu pujian apa ejekan hem?" Ambek Olive.


Kemudian mereka bertiga tertawa.


"Sudah-sudah kalian pergilah, ini sudah sangat sore sebentar lagi malam. Nona sama Aden hati-hati di jalan ya dan kalo sudah sampai kabarin bibik." Ujar bik fira.


"Baik bik, salam buat kak yesa ya bik. Nanti kalo aku kesini bareng sama yang lain suruh ikutan gabung  aja, Pasti robert seneng deh." Sahut Olive.


"Ah, bibik hampir lupa. Dapet salam dari yesa sama yeni, nanti bibik sampaikan ya nona. Sekarang berangkatlah." Pinta bik fira.


Akhirnya Olive Alden benar-benar pergi untuk pulang kembali ke rumah. Di perjalanan, Alden sudah memasang kamera pengintai jika ada mobil berbahaya di belakang dan menaruh belati serta senjata tajam di tempat tengah.


"Kamu membawa itu?" Tanya Olive.


"Hanya untuk jaga-jaga sayang, aku tidak akan menggunakannya jika tidak begitu bahaya. Tenang saja." Sahut Alden.


"Bukan itu. Aku selalu siap sedia senjata lengkap di bagasi hehe... Jadi aku bingung kenapa kamu masih harus nambah senjata lagi." Ujar Olive.


"Oh ya? Jangan bilang kardus-kardus di belakang isi nya..."


Kamu benar, sebagian ada senjata sebagian amunisi nya. Tapi nggak apa, lebih baik ada di dekat seperti ini jadi nanti kalo memang dalam bahaya nggak perlu ke belakang buat ambil." Tutur Olive.


"Kamu sangat penuh kejutan sayang. Tapi kamu tidak perlu khawatir, Nel sudah mengirim beberpa pengawal bayangan dengan jarak yang aman dan pasti. Bagaimana liburannya nona, kita sedang melakukan weekend sekarang." Ucap Alden.


"Ah, kamu benar juga. Itu menyenangkan, sangat menyenangkan apalagi ada kamu yang nemenin. Oh ya, motor kamu bagaimana?" Tanya Olive.


"Tidak masalah, nanti juga di urus dengan Nel untuk di bawa pulang. Kalo kita pulang dengan menggunakan motor juga berbahaya, kamu benar juga. Tunggu, kamu belum mendapatkan surat izin mengemudi kenapa kamu mempunyai mobil?" Bingung Alden.


"Aku menggunakan nama samaran tanpa ada kata Nugraha. Begitupun dengan Villa-Villa yang aku beli, aku pikir Oma maupun Opa harusnya tahu dimana keberadaan aku jika mereka bisa menebak cara-cara ku." Jawab Olive.


"Kita belum makan malam, kamu ingin malam dimana?" Tanya Alden.


"Aku nggak begitu tahu daerah sini. Nanti saja kalo sudah masuk kota yang sudah familiar." Sahut Olive.


"Sepertinya perjalanan akan cukup panjang, karena di maps merah jalanan nya." Kata Alden.


"Tidak apa, nikmati saja perjalanannya. Lagipula besok juga masih hari minggu." Ujar Olive.


Akhirnya mereka menghabiskan 2 jam terjebak di kemacetan. Namun saat sudah memasuki jalanan yang cukup lancar, tiba-tiba....

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2