Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 34 - Ups!


__ADS_3

Orang itu berjalan mundur sambil tetap mengarahkan pisau belati kepada Alden.


"Baiklah. Aku akan meladeni mu untuk sekarang. Setelah anda kalah silahkan tinggalkan tempat ini dan jangan pernah muncul lagi." Ucap Alden.


"Cih! Kau yang harusnya tidak ikut campur antara keluarga Clarke dan Nugraha. Enyahlah kau!" Ujar Orang itu mulai menyerang.


Dengan cepat Alden menghidari serangan itu dengan gesit.


"Wow! Santai. Aku bahkan belum mengeluarkan senjata ku. Tidak adil jika kau menggunakan senjata sedangkan aku tidak." Kata Alden sambil mengeluarkan pisau belatinya.


Namun sesaat kemudian orang itu menyerang seperti tidak mengizinkan Alden untuk menggunakan sejata nya.


"Tuan berhati-hatilah." Khawatir dokter tomi.


Dengan cepat Alden mengembalikan keadaan jadi menyerang orang itu hingga kewalahan.


Srakkk!


Pisau belati Alden mengenai baju orang itu hingga menggores kulit tangan nya sebanyak dua kali.


"Pergilah selagi aku masih berbaik hati. Bawa semua pasukan mu! Atau ingin bertukar nyawa dengan mereka menjadi makanan pembuka Alta di pulau itu. Boleh juga." Ujar Alden.


"Awas kau!" Teriak orang itu ingin menyerang Alden lagi.


Namun, Ryan segera memelintir tangannya hingga senjata itu terjatuh. Orang itu berteriak kesakitan.


"Bos tidak apa?" Tanya Rafa.


"Tidak. Kalian datang tepat waktu singkirkan orang-orang ini. Dokter ikut denganku." Perintah Alden.


"Ya! Tepati janji mu ingin melawanku satu lawan satu. Jangan seperti pengecut! Aku bahkan belum mengeluarkan tenaga asli." Teriak orang itu.


Alden yang baru saja berbalik badan terhenti langkahnya.


"Kau yakin bisa melawanku dengan tangan terluka mu itu?" Tanya Alden.


"Khawatirkan saja kedua telapak tanganmu itu yang luka nya mulai terbuka lagi!" Ujar orang itu.


Alden berbalik badan dan langsung mendapat serangan dengan cepat Alden menghindarinya. Kali ini serangannya cukup membabi buta. Alden dengan cepat merubah keadaan menjadi seimbang.


"Bos! Berhati-hatilah." Khawatir Ryan.


Sementara Olive dengan perasangan sangat khawatir menunggu ada yang melapor keadaan di ruang UGD. Lalu teringat tentang kedua kakak nya ingin datang ke rumah sakit membawakan pakaian untuknya. Olive menggunakan telepon ruang direktur untuk menghubungi rumahnya karena meninggalkan ponselnya di kamar..


Halo?


Papah? Ini Olive.


Ada apa sayang? Ini kamu menggunakan apa kok telepon ke rumah?

__ADS_1


Pah, dengarkan aku. Aku diruang direktur rumah sakit Fausta. Ada kericuhan di bawah dan aku lupa membawa ponselku tadi. Apa kakak sudah berangkat?


Ya Ampun. Apa papa perlu mengirimkan bantuan? Ah, mereka masih bersiap-siap.


Perlu. Kirimkan bantuan ke rumah sakit. Bilang pada kakak untuk tidak perlu datang ke rumah sakit. Besok saja jika keadaan stabil.


Baiklah, papa mengerti. Apakah Alden bersama mu? Dia menjaga mu bukan?


Sepertinya kak Alden terlibat di bawah.


Baiklah. Kamu tetap di ruangan itu sampai siapapun yang kamu kenal menjemput.


Baik pah, aku mengerti.


Olive menutup telepon nya lalu dia menelepon ruang UGD. Di angkat oleh salah satu suster berjaga disana.


Suster?


Nona muda kedua? Ada yang bisa kami bantu?


Bagaimana situasi disana? Adakah yang bisa berbicara dengan ku? Kak Alden atau yang lain?


Em... tuan muda sedang melakukan penyerangan yang sengit nona. Sebentar.


"Tuan Ryan, Nona Olive menelepon." Ujar suster itu.


"Kau yang akan mati!" Balas Alden.


Olive yang mendengar itu merasa merinding sekujur tubuh nya dan hanya bisa berdoa agar Alden baik-baik saja.


Olive?


Kak Ryan? Kak apa yang terjadi sebenarnya?


Apa maksudmu bagaimana keadaan Alden sekarang? Tenang saja. Dia akan baik-baik saja. Ini hanya sebuah pemanasan untuknya. Tidak perlu khawatir.


Tapi kak, luka tangan kak Alden masih basah. Apa yakin tidak apa?


"Bos! Ada yang mengkhawatirkan mu. Cepatlah selesaikan jangan membuatnya lebih khawatir lagi." Teriak Ryan.


"Begitukah? Baiklah!" Sahut Alden.


Olive yang mendengar itu langsung menutup telepon nya.


"Halo? Wah! Hahaha... di matiin bos. Sepertinya dia malu." Ujar Ryan.


"Ouh! Kau menggoda nya? Dasar kau ini." Sahut Alden.


Dengan cepat Alden menyelesaikan serangannya dengan memberinya tiga menggoreskan bagian tangan juga kaki. Kemudian menyudahinya.

__ADS_1


"Asah kembali kemampuan mu. Kita bertemu lagi nanti." Ucap Alden kemudian pergi memasuki lift.


Orang itu di bantu anak buah nya untuk meninggalkan TKP kembali ke markas. Sementara Olive menunggu kedatangan Alden dengan keadaan gusar.


Olive hanya melihat gedung-gedung tinggi dari jendela. Untuk mengalihkan kekhawatirannya. Namun, Olive merasa tidak tenang akhir nya memutuskan untuk keluar dari ruangan. Untungnya kursi roda nya menggunakan tombol jadi tidak mengayuh menggunakan tangan.


Olive memutuskan untuk ke bawah. Olive menekan tombol lift, lalu tak lama kemudian pintu lift terbuka. Saat Olive ingin menekan tombol, Olive melihat ada kaki disana. Olive mendongakkan kepala dan kaget ternyata itu Alden.


"Mau kemana kamu?" Tanya Alden.


"A---Aku. Turun ke bawah." Jawab Olive.


Tanpa banyak kata Alden membawa Olive masuk kembali ke ruangan Opa nya. Saat Alden menutup pintu Olive memutar kursi roda nya.


"Kak---"


Cup!


Alden menempelkan bibirnya pada bibir Olive. Olive terkejut membelalakkan matanya. Namun, tubuhnya tidak menolak. Alden memejamkan matanya menyalurkan ketenangan disana. Alden tahu jika Olive sangat khawatir. Setelah merasa Olive sudah lebih tenang, Alden menjauhkan bibir nya.


"Aku tidak ingin berdebat denganmu. Dengarkan aku baik-baik, situasi dibawah sudah terkendali. Orang itu tidak akan kembali untuk sementara waktu karena aku membuat goresan di tangan dan kaki nya. Aku tidak apa, hanya luka tangan ini terbuka lagi setelah keadaan benar-benar stabil aku akan mengantarmu kembali ke kamar baru setelah itu akan ku obati lagi luka ini. Sekarang, apa kamu sudah lebih tenang?" Ucap Alden dengan menukuk lutut nya sambil menggenggam kedua tangan Olive dan menatap manik mata Olive lurus.


Olive menganggukkan kepalanya, mengerti. Alden tersenyum, karena Olive menuruti perkataannya. Namun Olive tidak mengerti maksud dari ciumannya itu. Apa itu bisa disebut First Kiss untuk mereka? Apa maksudnya dan alasannya? Pertanyaan itu hanya terus terlintas di kepala Olive tanpa ada keberanian mengucapkan hal itu.


Berbeda dengan Alden, Apa dia akan marah karena kebodohan ku tentang ciuman itu? Bagaimana jika dia menanyakan alasannya? Apakah itu First kiss nya? Apakah dia akan marah karena aku merebut itu darinya? Apa dia akan menjauhi ku? Banyak pertanyaan yang terlintas di otak Alden namun tidak berani ia utarakan.


"Maaf." Ucap Alden dan Olive bersamaan.


"Kamu duluan." Ujar Alden.


"Emm... maaf tadi aku membuat kakak kesal. Aku bahkan nggak tau kalo kakak terluka saat menolongku di kecelakaan itu." Kata Olive.


"Aku juga minta maaf karena membuatmu tertekan dengan setiap ucapan egoisku. Maaf jika kata-kata ku membuatmu sakit hati dan yang barusan aku juga minta maaf. Aku benar-benar khilaf dan tidak bermaksud lain." Kata Alden.


"Kalo gitu, boleh nggak aku obatin luka kakak?" Tawar Olive.


"Alatnya---"


Olive menunjuk kotak P3K di atas meja. Alden tersenyum, kemudian membantu Olive untuk mendekati meja itu.


"Baiklah." Sahut Alden.


Alden duduk di kursi yang berhadapan dengan Olive. Olive pun membuka perban tangan kanan Alden perlahan, karena tangan itu yang banyak bergerak tadi untuk melawan sehingga darahnya lumayan cukup banyak. Sesekali Alden meringis karena perih. Setelah terbuka, Olive membersihkan darah dengan tissu. Lalu memberikan sedikit Alkohol di kapas sedikit untuk lebih membersihkan luka Alden.


Sesekali Alden meringis perih, saat itu juga meniup agar tidak terlalu perih. Lalu mengoleskan salep luka disana, Olive sangat lembut dan perlahan hingga membuat Alden nyaman. Setelah selesai Olive membalut luka Alden kembali dengan perban dan melakukan hal yang sama dengan tangan kiri Alden.


Kurang lebih satu setengah jam Olive menggantikan perban luka telapak tangan Alden. Sudah hampir dua jam namun belum ada telepon dari siapapun. Akhirnya Alden menggunakan intercom untuk menelpon bagian UGD.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2