Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 125


__ADS_3

“Yes! Aku dapat lokasi mereka. Mereka ada di villa perbatasan milik wiyata, ini sepertinya sudah di rencanakan dengan  benar oleh paman Tio. Mereka juga tidak bisa melewati perbatasan karena anak buah paman.” Jelas Belden membaca apa yang di temukan oleh Cenan.


“Sebentar. Sepertinya Alden sengaja mengaktifkan lokasinya, apa terjadi sesuatu di sana?” Pikir Kevan.


“Benar! Dia mengirim sinyal SOS sepertinya kita harus mengirim bantuan untuk mengetahui apa masalah yang di hadapi sekarang.” Ujar Cenan.


“Oma Opa, sekarang kalian sudah tahu kan bahwa mereka baik-baik saja. Sekarang pergilah istirahat, sisanya serahkan saja pada kami.” Bujuk Luna.


“Baiklah. Ma, ayo kita benar-benar harus istirahat. Aku ingin mengisi tenaga biar saat mereka pulang aku bisa memarahi mereka dengan benar. Dasar anak-anak nakal itu.” Kesal Opa.


“Tapi pa, aku takut kalo...”


“Biar aku yang urus ma, aku juga tidak akan biarkan keluarga kehilangan siapapun.” Ucap Adlan yang baru saja memasuki ruang tamu mansion.


Adlan segera ke mansion setelah mendengar bahwa Tio sudah ada di negara ini dan sedang dalam perjalanan menuju lokasi sera yang menyandera Reina sahabat kecil anak-anak nya terutama Robert.


“Adlan.” Panggil Oma.


“Ma, kali ini biar Adlan aja yang turun tangan buat bereskan semua masalah ini. Waktu kalian sudah habis, waktunya kalian untuk istirahat. Jangan membuat kami khawatir, jiwa kalian boleh muda. Tapi, usia dan tubuh kalian tidak akan pernah selalu kuat seperti dulu. Nanti Adlan akan mendisiplinkan Olive sama Robert juga.” Bujuk Adlan.


Oma Opa saling pandang dan tersenyum sambil mengangguk menyetujui apa yang katakan oleh anak sulungnya adalah benar.


“Nak, antar oma ke kamar.” Pinta Oma pada Luna.


Luna dan Thalia segera membantu oma opa untuk ke kamar dan beristirahat menyerahkan tanggung jawab kepada anak sulung nya.


“Belden, Cenan dan Luna kalian tetap dirumah jaga mereka. Kevan, firo dan barel susul Olive ke villa wiyata. Sepertinya ada pertikaian antara Olive dan Robert karena ketakutan kehilangan satu sama lain. Pengawalan semua bagi dua, saya akan memantau di markas dengan Belden.” Perintah Adlan.


“Baik!” Sahut semua langsung bergegas.


Thalia dan Luna keluar dari kamar melihat pengawal mempersiapkan diri siaga untuk melindungi tuan nya dengan segenap hati.


“Om, aku ikut ke tempat Olive boleh? Selain mereka mungkin ada baiknya bisa bujuk Olive juga buat pulang. Maksud aku, sesama perempuan akan lebih terbuka.” Pinta Luna.


“Nggak.” Jawab Belden.

__ADS_1


“Eh, kamu ikutan aja. Kalo laki-laki semua yang disana gimana Olive bisa di bujuk? Yang ada dia bisa langsung berangkat ke markas musuh tempat kelompok tato ular. Kamu mau gitu? Olive ngamuk kayak dulu lagi? Kesehatan dia belum benar pulih lho.” Ucap Luna.


“Tapi kan nggak harus kamu. Kalo nanti di jalan ada apa-apa gimana?” Kesal Belden.


“Bro! Kan ada kita-kita, tenang aja Luna udah gua anggap kayak adek kita sendiri kayak Olive pasti bakal kita lindungin. Lagian apa yang di omong luna ada benarnya juga, tuh Olive kan rada susah di bujuk apalagi kalo udah ngurung diri di kamar. Kalo di bujuk sama kita bertiga yang ada malah takut ada menyinggung apa gitu. Lu tau kan kalo perempuan sensitif banget. Atau lu mau bujuk dia? Tukeran tempat sama gua?” Sahut Kevan.


“Gimana kalo aku aja yang bujuk Via?” Tawar Phia yang tiba-tiba muncul di ruang tamu.


“Papa nggak setuju. Mereka itu ngincer kamu juga, kalo ada apa-apa sama kamu gimana dijalan?” Tegas Adlan.


“Pah, tapi memang harus ada perempuan yang bisa bujuk Via buat pulang atau mengurungkan rencana nya. Kalo papa posesif sama Phia terus Belden posesif sama luna, siapa yang bakal bujuk Olive? Mama yang pergi ni?” Tawar Thalia.


“Jangan dong mah.” Sahut Adlan dan Belden bersamaan.


Adlan dan Belden menghembuskan nafas kesalnya.


“Hei, kamu lupa siapa aku? Aku juga bisa lindungin diri aku sendiri sama kayak Olive. Aku janji nggak akan masuk wilayah berbahaya dan bujuk Olive buat pulang secepatnya.” Bujuk Luna.


“Iya aku tahu kamu juga punya lily yang bakal ngelindungin kamu 24jam. Tapi, tetap aja kamu tuh harusnya.... Oh baik-baiklah.” Belden menyerah untuk menahan Luna pergi karena melihat puppy eyes Luna.


"Janji ya kamu jaga diri benar-benar." Pesan Belden.


"Mas, kayak kamu tuh dulu. Aku di taman aja kamu heboh banget kayak apaan tahu. Lihat tuh menurun ke anak kamu." Ledek Thalia.


"Emang aku dulu begitu mah? Nggak ah..." Sahut Adlan sambil berlalu ke pintu yang tembus ke markas.


"Lho, pah. Kok aku di tinggal sih?" Protes Belden yang langsung menyusul Adlan karena tidak ingin malu sendiri.


Luna dan Thalia hanya tertawa sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan pasangannya. Terkhusus Luna karena sebentar lagi mereka akan menikah.


"Nanti kalo Belden begitu, lapor mama aja ya. Biar mama yang urus deh kalo soal itu, kamu bukan anak kecil yang harus 24 jam di samping dia. Emang nya kita cctv?" Protes Thalia.


"Hahaha... iya mah. Yaudah kalo gitu aku siap-siap dulu." Pamit Luna.


"Kamu tapi bener harus hati-hati ya nak. Kamu tahu kan gimana licik nya kelompok tato ular, jangan sampai terpancing." Pesan Thalia.

__ADS_1


"Aku paham mah." Sahut Luna.


"Yaudah berangkat sekarang sebelum terlambat. Perasaan mama agak nggak enak soal Olive, tolong jaga dia ya." Pesan Thalia.


Luna, Kevan, Cenan, Barel dan Firo ke pintu tembus markas untuk bersiap-siap di tempat mereka masing-masing.


Sementara itu di tempat markas Clarke....


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2