Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 23 - Pemulihan


__ADS_3

Akhirnya para orang tua serta Delia pulang untuk beristirahat. Sementara itu, ponsel Alden berdering ada telepon masuk tertera di layar 'Ryan' sahabatnya.


Eh bos. Kirain nggak di angkat. Bar yuk bos... udah lama.


Gue dirumah sakit.


Hah? Siapa lagi yang sakit? Gue lagi sama shakila, Rafa sama Niesha nih.


Olive habis operasi dadakan.


Kak, terus gimana sekarang? Dia udah siuman? Kok bisa sih?


Kalian datang aja ke rumah sakit.


Oke bos kita otw.


Alden mengakhiri panggilan nya, karena merasa belum puas dengan penjelasan dokter akhirnya Alden pergi keruangan Dokter tomi.


"Ada yang bisa di bantu tuan? Ah, nona sudah siuman?" Tanya Dokter tomi.


"Belum. Saya mau tanya." Ucap Alden.


"Silahkan duduk tuan, saya akan menjawab sebisa saya." Sahut Dokter Tomi.


"Sejak kapan Olive ada tumor di otak nya?" Tanya Alden.


"Mungkin sudah sebulan belakang ini tuan. Karena sepertinya masih baru." Jawab Dokter tomi.


"Apakah akan balik lagi?" Tanya Alden.


"Untungnya tidak tuan, semua sudah terangkat tadi saat operasi." Jawab Dokter Tomi.


"Apa saja tanda saat tumor otak itu?" Tanya Alden.


"Untuk yang di alami nona, mungkin hormon nya naik turun atau bisa di bilang moody. Terus mual muntah juga, gampang lelah, pandangan kadang suka tiba-tiba buram dan yang paling utama adalah rasa sakit di kepala. Kalo misalkan nona selama ini terlihat baik-baik saja berarti ia menahannya atau menganggapnya seperti sakit kepala biasa. Begitu tuan." Jelas Dokter tomi.


"Berapa lama dia akan siuman?" Tanya Alden.


"Jika hasilnya positif maka tidak sampai esok nona sudah siuman tuan, tetapi jika hasilnya negatif kemungkinan kami akan melakukan pemeriksaan intensif untuk nona." Sahut Dokter tomi.


"Lalu efek apa yang akan terjadi saat siuman nanti?" Tanya Alden.


"Jika baik, maka tidak ada keluhan. Jika tidak, ada kemungkinan bahwa sebagian memory hilang." Ujar Dokter tomi.


"Berapa lama pemulihan nya?" Tanya Alden.


"Kurang lebih tiga sampai empat hari tuan. Tapi, pemulihan ini tidak bisa di gabung dengan terapi. Ini satu hal yang berbeda, sebaik nya fokus pada pemulihan dulu kemudian bicarakan tentang terapa tulang yang retak." Jawab Dokter tomi.


"Berapa lama terapi tulang itu?" Tanya Alden.


"Jika rutin seminggu tiga kali maka hanya butuh tiga sampai empat bulan paling lama enam bulan tuan. Jika tidak rutin mungkin membutuh kan waktu setahun bahkan bisa lebih." Sahut Dokter Tomi.


"Apa saking sakit kepala nya bisa mengakibatkan sampai pingsan? Karena tadi dia pingsan." Ucap Alden.


"Sangat mungkin tuan. Tidak ada yang bisa melawan sakit kepala jika sakit tumor ini. Nona sangat hebat jika menolak berfikir bahwa ini adalah penyakit serius." Jawab Dokter tomi.

__ADS_1


"Yasudah, nanti saat dia sadar aku akan panggil." Ucap Alden berdiri.


"Baik tuan." Sahut Dokter tomi menunduk hormat.


Saat kembali ke bangku depan kamar Olive sudah ada sahabatnya. Ryan dan Rafa sudah diberitahu detail mengenai sakit serius yang menimpa Olive oleh Shakila dan Niesha saat perjalanan. Orang seceria Olive bisa menahan rasa sakit seperti itu sangat hebat.


"Kak, biar kami yang berjaga disini." Ucap Shakila dan di setujui Niesha.


"Aku akan pulang setelah Olive siuman." Jawab Belden.


"Jangan khawatirkan kami, kami juga bisa tidur di mobil." Ucap Rafa.


Shakila dan Niesha mengangguk. Dua jam telah berlalu, jari-jari tangan Olive bergerak. Saat suster yang berjaga mengetahui hal itu langsung berlari ke ruang dokter Tomi. Dokter dan perawat datang untuk memeriksa membuat mereka terkejut. Takut jika hal buruk terjadi. Saat dokter keluar.


"Gimana dok?" Tanya belden.


"Sudah siuman, kalian sudah bisa masuk menjenguk." Sahut dokter.


"Terima kasih dokter." Ucap mereka.


Belden langsung masuk diikuti yang lainnya. Olive masih sangat lemah dan memakai masker anestesi. Olive melihat ke arah kakak dan teman-teman nya lalu tersenyum.


"Kakak." Panggil Olive.


"Kamu udah nggak apa?" Tanya Belden dan Olive menggeleng.


"Apa kata dokter kak?" Ujar Olive.


"Dokter bilang semua nya normal dek, tapi kamu butuh waktu pemulihan di rumah sakit sekitar tiga sampai empat hari." Jawab Belden.


"Sudah dek, tinggal pemulihan dan setelah itu kamu bisa terapi buat tulang kamu yang kemarin." Sahut Belden.


Olive melihat ke arah teman-teman nya.


"Kalian nggak pulang? Ini udah larut malam kayak nya. Aku kali ini beneran udah nggak kenapa-napa. Kalian pulang dan istirahatlah." Ucap Olive.


"Kalo kita pulang yang nemenin kamu siapa?" Tanya Shakila.


"Ada banyak suster sigap disini. Buktinya tadi aku gerakin tangan aja mereka langsung datang. Kak Belden juga pulang, bilang ke mama papa dan oma opa jangan khawatir lagi." Ucap Olive.


Olive bingung apa yang di fikirkan Alden. Kenapa dia cuman diam aja? Apa dia marah karena aku berbohong tentang tempo hari? Apa dia kecewa?


"Biar Shakila sama Niesha tetap disini jaga kamu. Kita masih belum tahu efek samping apa yang terjadi nantinya." Ucap Alden yang akhirnya buka suara.


"Benar kata Alden dek, suster tidak selalu dua puluh empat jam di tempat jaga nya. Terlebih kamu masih pakai alat begini, hanya sampai alatmu boleh di lepas." Lanjut Belden.


"Sementara aja, lagian ada tempat tidur untuk yang nunggu." Sahut Niesha.


"Baiklah." Jawab Olive.


Alden, Ryan, Rafa dan belden pamit pulang.


"Yaudah, kalo gitu kita balik pulang." Pamit Belden dan Olive mengangguk.


"Ahh, kak. Kapan alat ini boleh di copot? Uap ini sungguh mengganggu." Kesal Olive.

__ADS_1


"Belum juga sehari di rumah sakit kamu sudah mengeluh. Bagaimana tiga empat hari kedepan sayang." Ujar Belden menyentil masker anestesi.


Olive hanya cemberut tidak bisa membalas karena masih lemah. Belum ada tenaga seperti biasanya.


"Yasudah, kalo ada apa-apa telepon kita ya." Ucap Belden.


"Oke kak." Sahut Shakila dan Niesha.


"Alden sangat khawatir denganmu. Kakak rasa kamu harus tau itu." Bisik Belden kepada Olive membuat Olive batuk tiba-tiba.


Uhukk... Uhukk!


Olive menatap tajam ke kakak nya yang sangat usil jail itu.


"Bye dek!" Pamit Belden dengan mengedipkan satu mata nya.


"Hati-hati kalian." Ucap Olive membuat Alden sempat tersenyum kecil namun ia tahan.


Alden, Ryan dan Rafa pun menyusul Olive keluar ruangan. Tiba-tiba pintu terbuka kembali.


"Sarapan untuk kalian langsung saja ya seperti biasa. Kamu makan bubur rumah sakit nggak ada penolakan." Ucap Alden lalu pergi.


Shakila dan Niesha saling menatap lalu tersenyum seperti mengerti maksud sebenarnya dari perkataan Alden berusaha yang ditunjukan kepada Olive. Olive melihat kedua sahabat nya tersenyum pun merasa bingung.


"Kalian kenapa?" Tanya Olive.


"Cieee! Udah ngomongin sama mana nih? Masalah perjodohan?" Tanya Shakila menggoda Olive.


"Nggak ada." Sahut Olive.


"Terus kenapa kak Alden bisa se khawatir itu sama lu? Udah kayak sama calon istri tau." Goda Niesha membuat Olive tersenyum malu.


"Khawatir gimana, orang dari tadi diam doang." Gumam Olive.


"Hahaha! Cieee minta di perhatiin cieee!" Goda Niesha dan Shakila bersamaan.


Olive pun hanya tersenyum malu, setelah itu mereka memutuskan untuk istirahat.


Di parkiran rumah sakit, Alden menahan Belden memasuki mobil.


"Sejak kapan kakak tau?" Tanya Alden.


"Baru kemarin pas jemput sekolah yang dia sama lu nunggu di gerbang." Jawab Belden.


"Sebelumnya dia nggak pernah ngeluh sakit gitu?" Tanya Alden.


"Ngeluh. Tapi dia bilang udah biasa nanti hilang sendiri. Bodoh nya gue nggak curiga dia ngomong begitu. Kedepan nya gue akan lebih perhatiin." Sahut Belden menyesal.


"Emm, yaudah. Hati-hati kak di jalan." Ujar Alden.


"Lu sama yang lain juga. Langsung pulang, nanti aja hari lain ke bar bareng sama gue sekalian mau mantau juga." Ucap Belden.


"Oke kak." Sahut Alden.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2