
Pulang kantor
"Nona, mau langsung pulang atau nona mau mampir dulu ke suatu tempat?". Tanya Ammar
"Pulang aja Mar".
"Baik nona".
"Pengen cepet-cepet ketemu Kevin". Batin Lily sambil tersenyum
Setibanya dirumah, Lily dibuat sedih karna ia tak melihat mobil Kevin terparkir di halaman rumah
"Yaah, Kevin gak ada yaa". Batin Lily
"Non, udah pulang non". Tanya pak Supri
"Iya pak, Kevin kemana pak? Kok mobilnya gak ada?". Tanya Lily
"Den Kevin nganterin mbak Alin kerumah sakit non, tadi jatuh dari tangga". Jawab pak Supri
"Ya Allah...daritadi keluarnya pak?". Tanya Lily
"Iya non, sudah lama".
"Oh..makasih ya pak".
"Sama-sama non".
Lily kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, menuju dapur untuk mengambil minum
"Lily, suami kamu lagi keluar sama Alin". Ucap Eva
"Iya tante, kerumah sakit kan?".
"Yaa, hati-hati suami kamu nanti naksir sama Alin kalo deket-deket terus". Ucap Eva
"Hehe maaf ya tante. Lily lebih tau gimana suami Lily dibanding tante".
Tidak mau terlalu banyak omong dengan Eva, Lily memutuskan untuk pergi meninggalkan dapur
"Liat aja, semua laki-laki itu sama, gak mungkin bisa setia sama satu wanita". Batin Eva
***
Dikamar,
Lily memutuskan untuk mandi lalu menonton tv sambil menunggu Kevin pulang,
Lily berusaha menepis pikiran buruknya tentang Kevin yang disebut Eva akan menaruh perasaan dengan Alin, sepupunya.
"Aww..sakit".
Terdengar seperti suara rintihan dari lantai bawah, Lily pun buru-buru keluar dari kamar untuk melihat situasi diluar sana,
Tetapi belum sempat menuruni tangga, pandangan Lily kini tertuju pada Kevin dan Alin yang berada dibawah, posisi Kevin dan Alin sangat dekat karna Kevin sedang me-mapah Alin berjalan
Alin pun sesekali berteriak mengaduh kesakitan di pergelangan kakinya yang ditutupi plester
"Gendong Vin, gak mungkin Alin bisa naik keatas". Ucap Eva
"Tapi tante-"
Ucapan Kevin tertunda saat melihat Lily yang berdiri di ujung tangga atas
"Kevin gak bisa". Ucap Kevin
"Trus aku naiknya gimana Vin. Sakit banget kaki aku". Ucap Alin
"Naik sendiri". Ucap Kevin
"Vin, please, tolongin aku". Kini Alin memohon sambil meraih tangan Kevin
__ADS_1
Kevin kembali menoleh kearah Lily yang masih memperhatikannya
"Kenapa sih? Kamu takut Lily marah? Gak akan lah, kamu kan cuma bantu sodaranya". Ucap Eva
"Iya Vin, Lily gak marah kok, ayo".
Tiba-tiba Alin mengalungkan tangannya di leher Kevin, dengan sangat terpaksa Kevin membopong Alin ala bridal menaiki tangga,
Lily pun segera masuk ke dalam kamar
BRAK
Terdengar suara dobrakan pintu dari bawah, tentu saja Lily menutup pintu kamarnya dengan kencang
"Ada yang panas". Batin Alin sambil tersenyum
Eva pun juga menyunggingkan senyumannya, senyuman sinis, senyuman kemenangan karna ia dan Alin berhasil menjalankan rencana mereka
Setibanya dikamar Alin, Kevin pun mendudukan Alin di ranjangnya
Alin memegang tangan Kevin saat Kevin hendak keluar kamarnya
"Kevin, makasih ya udah bantuin aku".
"Hmm".
Kevin menarik tangannya dan segera keluar dari kamar Alin
"Ini masih permulaan Lily". Batin Alin
***
"Sayang, maafin aku, jangan marah". Ucap Kevin sambil menggenggam tangan Lily
"Aku cemburu". Ucap Lily
"Maafin aku ya, aku terpaksa".
"Iya gapapa, aku ngerti..."
"Belum, aku mau makan sama kamu". Ucap Kevin
"Yaudah turun yuk, makan". Ajak Lily
"Aku aja, nanti kamu capek naik turun tangga, aku ambilin ya".
CUP . Kevin mencium tangan Lily sebelum keluar kamar
"Aku tau Vin, kamu gak akan semudah itu tergoda sama cewek lain". Batin Lily
***
Malam Hari
Jam menunjukkan pukul 8 malam, Lily sedang duduk bersandar didalam dada Kevin sambil menonton Tv
Menikmati acara komedi sambil makan camilan dan meminum es coklat
"Uhuk uhuk". Lily buru-buru meraih gelasnya saat tersedak kacang telur yang ia makan
"Ketawanya gitu banget sih gimana gak keselek". Ucap Kevin
"Hahahaha lucu tau".
Lily menaruh beberapa bungkus camilan yang sedari tadi ia peluk
"Kenapa? Udahan makannya?". Tanya Kevin
"Hmm kenyang". Jawab Lily
"Aku juga gemes liat kamu ngunyah mulu, lama-lama aku gigit tu pipi". Ucap Kevin
__ADS_1
Ide jahil Kevin muncul, ia menyibak rambut Lily dan menciumi area leher Lily dari belakang
"Hmm mulai deh". Ucap Lily
"Hehe badan kamu enak wanginya..bikin aku sang-"
"Heh ngomongnya".
"Kenapa sih haha".
"Dah ayo tidur, sebelum terjadi hal yang tidak-tidak". Ucap Lily
"Haha tidak-tidak gimana, justru dapet pahala tau". Ucap Kevin
"Iyaa bener, tapi sebaiknya kita tidur".
Lily membereskan sampah camilannya dan segera kekamar mandi untuk cuci tangan
"Haha kabur lagi".
"Mamaa"
"Mamaaa"
Terdengar suara teriakan Alin dari dalam kamarnya, Lily dan Kevin saling bertatapan sejenak
"Gak usah disamperin". Ucap Kevin
Mereka pun memutuskan untuk naik ke ranjang tapi lagi-lagi Alin kembali berteriak memanggil Eva
"Dih berisik banget". Ucap Kevin
"Liat dulu sana". Ucap Lily
"Gak, males".
"Mamaaaaaa".
"Ayo liat, sama aku". Ucap Lily
Akhirnya mereka pun menuju kamar Alin
Ceklek
"Alin, kamu dimana". Ucap Lily saat melihat tidak adanya Alin di ranjang
"Aku dikamar mandi Ly".
Lily dan Kevin pun berjalan kearah kamar mandi
"Hah"
Lily terkejut saat melihat Alin yang sudah terduduk di lantai, sepertinya ia jatuh karna terpeleset
Tapi justru pandangan Lily beralih pada pakaian yang dipakai Alin. Celana yang sangat sexy dan atasan bertali dengan potongan rendah dibagian dadanya,
Tentu saja ini membuat Lily cemas karna Kevin berada disini, ia tidak mau Kevin melihatnya
"Vin, kamu disini kan? Bantuin aku bangun dong". Ucap Alin
Seketika Lily melirik ke arah Kevin yang masih berdiri di posisinya
"Kevin gak ada, biar aku bantu". Ucap Lily
Lily memberi kode agar Kevin keluar dari kamar Alin, Kevin pun paham dan segera keluar dari sana
"Emang kamu bisa angkat aku". Ucap Alin
"Bisa kok hehe ayo".
Dengan sekuat tenaga Lily membantu Alin bangun, memapah nya dengan pelan menuju ranjang
__ADS_1
***
Bersambung