Pernikahan Rahasia Dengan Adik Kelas

Pernikahan Rahasia Dengan Adik Kelas
Percobaan Melarikan Diri


__ADS_3

Mereka yang ada disana ikut duduk dan mendengarkan ucapan Kevin dengan seksama


"Gue cuma ninggalin Lily sebentar buat beli minum, pas gue balik orang-orang disana bilang Lily pingsan dan dibawa ke mobil lain". Ucap Kevin


Mereka semua shock mendengar ucapan Kevin, mereka sangat menyayangkan kejadian yang dialami Lily,


Ditambah Hana dan Adel yang menangis, membuat Kevin semakin tertekan dan semakin merasa bersalah


"Den, non Keisha nangis terus". Ucap mbok Minah


Kevin bangun dan menghampiri Keisha yang sedang menangis di strollernya


"Sayang, kenapa nangis". Ucap Kevin sambil menggendong Keisha


"Susunya mana mbok?". Tanya Kevin


"Ini den". Ucap mbok Minah sambil menyodorkan sebotol susu


Kevin mengayun-ayunkan Keisha sambil memberikannya susu namun Keisha masih menangis, semakin kencang dan melengking


"Tuan putri kenapa nangis terus...gak mau susu sayang". Ucap Kevin pada Keisha


"Hiks hiks Keisha pasti ngerasain kalo mamanya dalam bahaya". Ucap Hana


"Maafin papa, papa janji akan bawa mama pulang, Keisha jangan nangis lagi ya".


"Mikir Vin mikir! Gimana caranya nyari Lily!". Batin Kevin


Sambil menggendong Keisha, Kevin berfikir keras mencari cara untuk menemukan keberadaan Lily


"Kalo yang nyulik badannya gede, apa itu orang-orangnya Raffa?".


"Vin, lu bilang Lily pingsan, sebelumnya dia baik-baik aja?." Tanya Tommy


"Iya baik-baik aja, Lily sadar". Jawab Kevin


"Lu udah nyoba telfon belum?". Tanya Rian


"Hp nya dimobil". Ucap Kevin


"Oh gak bawa hp". Ucap Rian sambil mengangguk


"Lu tau siapa yang nyulik? Katanya orang disana ngeliat?". Tanya Tommy


"Katanya orang-orang yang badannya gede". Ucap Kevin


"Jangan-jangan preman? Lily diculik preman?". Tanya Hana


"Bisa jadi". Ucap Kevin


"Kayaknya ini ada hubungannya sama mantannya yang semalem". Ucap Tommy


"Raffa? Kok lu bisa nebak kesitu?". Tanya Kevin


"Ya siapa lagi, dia kan obsesi sama Lily, siapa tau itu orang suruhannya". Ucap Tommy


"Sepemikiran sama gue..."


"Tapi semalem gue udah kasih pelajaran ke dia, gue juga ngasih ancaman, apa dia masih berani?". Tanya Kevin


"Yaaa gak tau sih, itu cuma tebakan gue". Ucap Tommy


"Vicky...gue harus minta bantuan Vicky". Ucap Kevin


"Hah? Gila lu bro. Buat apa njir". Ucap Rian


"Dia deket sama Raffa, gue mau minta dia buat nyari tau bener ngga ini ulah Raffa". Ucap Kevin


"Yaudah...ayo cari Vicky". Ucap Tommy


"Anjir lah, gak sudi banget". Ucap Rian


"Lu mau ikut ngga? Kalo gak mau lu tunggu sini". Ucap Tommy pada Rian


"Inget bro dia itu musuh abadi. Dia yang bikin lu masuk rumah sakit". Ucap Rian


"Sekarang gak penting ngebahas itu, lu mau Lily cepet ketemu ngga?". Tanya Tommy


"Ya mau sih". Ucap Rian


"Yaudah ayo". Ucap Tommy


"Gue nitip Keisha ya". Ucap Kevin pada Hana dan Adel


"Iya, tenang". Ucap Adel


"Lu harus bawa Lily pulang Vin". Ucap Hana


"Iya, doain aja". Ucap Kevin


Kevin pun memberikan Keisha kepada Adel dan mereka bertiga pun segera pergi meninggalkan rumah Lily


Tujuan pertama mereka adalah ke bengkel milik Vicky, kalau Vicky tidak ada, mereka akan mencarinya ke kampus tempat Vicky berkuliah.


***


Dirumah Raffa


Sudah satu jam Lily berada disana, Raffa tidak mengizinkan Lily untuk keluar dari gudang, bahkan untuk memberikan Lily minum saja, Raffa berteriak kepada pelayannya untuk mengantar minuman ke gudang


"Minum sayang". Ucap Raffa


"Gak mau, aku takut kamu ngasih...obat-".


"Engga sayang, aku gak nyuruh bibi buat campur apa-apa, kamu kan denger sendiri tadi". Ucap Raffa


"Kamu gak bohongin aku kan?". Tanya Lily


"Aku gak bohong sayang, minum ya". Ucap Raffa


Lily mengangguk, sejujurnya ia memang merasa sangat haus, ia segera meraih gelas di tangan Raffa dan meneguknya sampai habis


"Bibi lagi siapin makan, nanti kita makan ya sayang". Ucap Raffa dengan lembut


"Gak usah Raf, aku mau keluar-".


"Sayang, aku gak akan izinin kamu keluar dari sini". Ucap Raffa


"Raffa...kamu gak boleh egois, aku punya anak, anak aku butuh aku". Ucap Lily


"Kamu yang bikin aku kaya gini! Kamu gak pernah ngertiin aku Ly! Kamu yang egois! Kamu gak pernah sedikitpun buat inget aku! Mikirin perasaan aku!..."


"Kamu tau kan gimana perasaan aku ke kamu? Kita udah bertahun-tahun jalin hubungan Ly, perasaan aku udah sangat dalam ke kamu. Aku cuma mencintai kamu, sampai detik ini!..."


"KAPAN KAMU PAHAM SAMA PERASAAN AKU??!!". Ucap Raffa


"Raffa, jangan teriak". Ucap Lily


Raffa menghela nafas dalam-dalam lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia memandangi wajah cantik dihadapannya ini yang sedang termenung, ia merasa bersalah, namun ia tidak mau melepaskan wanita yang ia cintai ini untuk ke sekian kalinya


Tok tok


"Maaf tuan, makanannya sudah siap". Ucap pelayan dari balik pintu


"Bawa kesini". Ucap Raffa


"Baik tuan, saya siapkan dulu". Ucap pelayan tersebut


Tak berselang lama, Raffa membukakan kunci pintu untuk mengambil makanan dari pelayannya


"Ini kesempatan buat kabur". Batin Lily


Lily bangun dengan perlahan dan bersiap, saat Raffa membuka pintu ia harus bisa menerobos dan keluar dari sini


Ceklek


Celah pintu terbuka, dengan cepat Lily menarik pintu dengan lebar dan berlari sekencang mungkin


"Lily! Kamu mau kabur!!!".


Raffa pun mengejar Lily dengan kencang dan berhasil meraih tangan Lily


"Lepasin! Aku mau pulang!".


"Gak! Kamu udah janji gak akan ninggalin aku!..."


"Kamu main-main sama aku ya Ly. Jangan salahin aku kalo aku kasar!".


Raffa menarik Lily dengan kencang dan berhasil menggendong Lily seperti mengangkat karung di pundaknya


Lily memberontak, ia pukul Raffa berkali-kali dan mencabik punggung serta tangannya.


Tentunya Raffa kesakita, tetapi terus membawa Lily menaiki tangga, Lily semakin panik karna sepertinya Raffa akan membawanya ke kamar.


"Raffa turunin aku!!".


"Arghh!".


Akhirnya Raffa goyah, Raffa terjatuh begitupun dengan Lily, Raffa berhasil memegang besi tangga sementara Lily terguling dan seketika tidak sadarkan diri


"LILYYY!!".


Raffa berlari kecil menuruni tangga, ia tepuk-tepuk pipi Lily untuk menyadarkannya


"Sayang...bangun sayang...maafin aku".

__ADS_1


"Hahahaha udah mati ya?". Ucap Farah sambil tertawa


"Jaga ucapan mama!! Telfon dokter Siska ma!! Cepet!!". Ucap Raffa


"Buat apa? Biarin aja, kamu buang aja dia ke jurang". Ucap Farah


"Mama!!..."


"Bi kamu telfon dokter Siska suruh datang kerumah sekarang!!".


"Baik tuan".


"Dan kamu ikut saya kekamar, bawa minyak angin". Ucap Raffa


"Baik tuan".


Kedua pelayan Raffa segera melaksanakan tugasnya


"Dasar anak bodoh, masih peduli sama anak pembawa sial". Ucap Farah


Raffa tidak bergeming, ia segera mengangkat Lily dan membawanya ke kamar


"Sayang, bangun...maafin aku". Ucap Raffa sambil menepuk pelan pipi Lily


"Bi, kasih minyak angin di sekitar hidungnya". Ucap Raffa sambil memundurkan posisi duduknya


Pelayan itu patuh, ia membungkuk kearah Lily dan mengolesi minyak angin disekitar hidungnya, sambil menepuk pelan pipi Lily


***


Disisi lain,


Kevin dan kedua sahabatnya baru tiba di bengkel Vicky, bersyukur Vicky ada disana, jadi ia tidak susah-susah untuk mencarinya


Mereka bertiga turun dan menghampiri Vicky yang sedang duduk bersama 2 musuh bebuyutan mereka


"Eh lu, tumben kesini". Ucap Vicky pada Kevin


"Nganterin nyawa hahaha". Ucap salah satu teman Vicky


"Habisin lah, dia yang bikin Daniel patah tulang".


"Bisa diem ngga..."


"Ada apa kesini?". Tanya Vicky


"Gue mau minta bantuan lu". Ucap Kevin


"Ngobrol didalem aja". Ucap Vicky


"Lu disini aja, jangan bikin ribut di tempat gue!". Ucap Vicky pada Rian dan Tommy


"Lu juga, jangan nyari masalah". Ucap Vicky pada kedua temannya


Vicky dan Kevin melangkah memasuki ruangan yang ada di dalam bengkel


Didalam ruangan, Kevin menceritakan kronologis kejadian saat Lily diculik sesuai apa yang dilihat oleh saksi di sekitar lokasi


"Diculik sama orang yang badannya gede? Kaya preman gitu?". Tanya Vicky


"Kayaknya, atau anak buah suruhan seseorang, menurut lu siapa?". Tanya Kevin


"Raffa punya anak buah sih, apa Raffa yang nyulik?". Ucap Vicky


"Gue semalem udah ngancam Raffa, gue pikir dia takut dan kapok, jadi apa pelakunya masih Raffa?". Tanya Kevin


"Bisa jadi, siapa lagi yang mau nyoba nyulik Lily?..."


"Haha emang nya lu punya saingan lagi selain dia?". Tanya Vicky sambil tertawa kecil


"Gak ada, semalem lu pukulin Raffa?". Tanya Kevin


"Iya, kesel anjir, pas banget om-om nya Lily dateng gue dorong aja ke mereka hahaha". Ucap Vicky


"Pantesan..."


"Kira-kira kalo ini ulah Raffa, lu tau dia bawa Lily kemana?". Tanya Kevin


"Gak tau juga sih, gini aja, gue ke rumahnya dulu, mau liat dia ada apa engga..."


"Ya sekalian nyari petunjuk, siapa tau emang dia pelakunya". Ucap Vicky


"Lu mau bantu gue?". Tanya Kevin


"Pasti, Lily udah gue anggap kaya adek gue sendiri, gue bakal bantu lu". Ucap Vicky


Kevin bernafas lega, ia tahu kalau Vicky akan membantunya


"Thanks Vic, sorry kalo gue ngerepotin lu, gue gak tau mau nyari Lily kemana, gak ada petunjuk". Ucap Kevin


"Nih tulis nomer lu, biar gue gampang hubungin lu". Ucap Vicky sambil menyodorkan ponselnya kepada Kevin


Kevin pun mengangguk dan menulis nomor ponselnya di ponsel Vicky


***


Dirumah Raffa


10 menit kemudian Lily baru tersadar dari pingsan nya, saat ini dokter Siska memeriksa tubuh Lily untuk mengecek apakah ada luka serius atau tidak saat jatuh dari tangga tadi


Saat dokter Siska menyingkap pakaian Lily, dokter tersebut terkejut saat mendapati punggung Lily yang memar akibat luka dari ikat pinggang saat dipukul oleh Farah


"Nyonya ini ada luka, tapi sepertinya bukan luka akibat jatuh dari tangga". Ucap dokter Siska


"Iya...bukan dok..."


"Dokter, tolong bantu saya-".


Ceklek


Ucapan Lily terhenti saat ia melihat Raffa memasuki kamarnya, usaha Lily untuk meminta bantuan kepada dokter Siska harus gagal


"Gimana dokter?". Tanya Raffa


"Nyonya tidak apa-apa tuan. Tidak ada luka dalam akibat jatuh dari tangga tadi". Jawab dokter Siska


"Syukurlah". Ucap Raffa sambil mengusap kepala Lily


"Kalau gitu saya permisi". Ucap dokter Siska


"Terimakasih". Ucap Raffa


"Sama-sama tuan".


Dokter Siska pun keluar dari kamar Raffa


"Sini bi makanannya". Ucap Raffa sambil meraih nampan di tangan pelayannya


"Saya permisi". Ucap pelayan itu sambil membungkuk dan keluar dari kamar Raffa


"Makan ya sayang". Ucap Raffa


"Gak mau". Ucap Lily


"Ayo makan. Aku suapin...aku tau kamu ini manja, kamu selalu minta aku buat suapin kamu". Ucap Raffa sambil tersenyum


Prang


Lily menepis piring di tangan Raffa sampai jatuh dan pecah


"Aku gak mau makan! Aku mau pulang!!". Ucap Lily


"Kamu ngelawan aku!! Jangan bikin aku kehilangan kesabaran dan kasar sama kamu!". Ucap Raffa


"Aku gak takut".


Lily bangkit dari kasur dan menuju pintu kamar, ia ingin memegang knop pintu namun tangannya ditahan oleh Raffa


"Kamu gak bisa pergi dari sini!". Ucap Raffa


Plak, Lily mendaratkan tamparannya tepat di pipi Raffa


"Kamu jahat Raf! Kamu licik!". Ucap Lily


"Aku gak peduli kamu ngomong apa". Ucap Raffa


Raffa merapatkan Lily ke pintu kamar, mengunci tubuh Lily dengan kedua tangannya, dengan jarak yang sangat dekat, Lily dapat merasakan deru nafas Raffa dari hidungnya


"Kamu harus jadi milik aku!". Ucap Raffa


Ini saatnya Lily bertindak. Lily menendang area inti Raffa menggunakan lututnya dengan kencang


"Arghh" . Raffa meringis kesakitan


Raffa memundurkan langkahnya dan berjongkok, merasakan sakit luar biasa di area bawahnya


"Lily!! Awas kamu!!".


Lily segera keluar dari kamar dan berlari kecil menuruni tangga menuju pintu utama namun pintunya terkunci


"Nyonya, nyonya mau kemana". Ucap pelayan Raffa


"Bi, kunci...kuncinya mana cepet buka!!". Ucap Lily sambil memukul-mukul pintu


"Maaf nyonya, saya gak mau dipecat oleh tuan Raffa".

__ADS_1


"Buka bi saya mohon tolong saya!!".


Lily panik dan tergesa-gesa, ia melihat kearah ujung tangga, Raffa sedang berjalan tertatih-tatih menuruni tangga untuk menghampirinya


"Mana kunci nya bi saya mau keluar!!".


"JANGAN BERANI-BERANINYA KAMU BUKAIN PINTU!!".


"Iya, iya tuan".


Pelayan tersebut pergi meninggalkan pintu utama


"Hikss hikss...Ya Allah..."


"Raffa...bukain pintunya aku mau pulang..."


"Tolong".


"Ikut aku ke kamar ya". Ucap Raffa


"Gak mau, aku mau pulang hikss hikks".


"Jangan nangis sayang, aku janji gak akan nyakitin kamu, ikut aku ya". Ucap Raffa sambil menghapus air mata Lily


"Aku mau ke toilet". Ucap Lily


"Aku anter. Toilet dikamar aku aja". Ucap Raffa


"Gak, disitu aja". Ucap Lily sambil menunjuk kearah toilet di samping dapur


"Yaudah".


Raffa menggenggam tangan Lily berjalan menuju toilet, Sementara Lily berjalan sambil mengedarkan pandangannya, mencari telfon rumah untuk menghubungi Kevin atau menelfon ke ponselnya dengan harapan Kevin akan mengangkat telfon darinya


Dalam pandangan matanya, Lily menangkap sebuah telfon rumah berwarna putih diatas meja


"Ah, itu telfonnya, tinggal cari cara buat nelfon Kevin".


"Kamu tinggalin aku aja". Ucap Lily dengan pelan


"Yaudah, nanti kalo udah selesai keruang kerja aku ya, aku tunggu". Ucap Raffa sambil mengusap kepala Lily


"Iya". Ucap Lily


Raffa pun meninggalkan Lily di depan pintu toilet dan berjalan menuju dapur, menghampiri pelayannya


Sementara Lily segera masuk ke dalam toilet untuk buang air kecil


"Kesempatan, Raffa di ruang kerjanya, gue bisa nelfon Kevin".


Setelah buang air kecil, Lily membuka pintu toilet dengan pelan, berjalan dengan langkah perlahan dengan kewaspadaan tingkat tinggi


"Permisi nyonya". Ucap salah satu pelayan dirumah Raffa


Lily membuang nafas kasar, ia sangat terkejut dengan kedatangan pelayan ini


"Ada apa bi?". Tanya Lily


"Tuan Raffa menyuruh saya membuatkan jus mangga dan pancake untuk nyonya". Jawab sang pelayan


"Yaudah taro aja di meja makan". Ucap Lily


"Baik Nya".


Pelayan itu membungkuk dan pergi meninggalkan Lily


Lily pun bernafas lega, ia kembali melangkahkan kakinya menuju meja dan berhasil meraih gagang telfon


"LILY!!".


Brak


Gagang telfon digenggaman Lily terjatuh, Raffa melangkah dengan cepat menghampirinya


"Mau ngapain?". Tanya Raffa


"Aku...gak...ngapa-ngapain". Ucap Lily


"Mau nelfon siapa? Minta bantuan?". Tanya Raffa


"Hmm....engga-"


"Ikut aku". Ucap Raffa


Raffa menarik tangan Lily memasuki ruang kerjanya yang terletak di samping kamar tamu


"Bi, bawa jus sama pancake nya ke ruang kerja saya!". Ucap Raffa kepada pelayannya


"Baik tuan".


Diruang Kerja Raffa


Raffa menghempaskan tubuh Lily ke sofa dengan kasar, sepertinya Raffa sudah mencapai puncak emosi, Lily sungguh mempermainkan dirinya saat ini


"Mau berapa kali pun kamu coba lari dari aku, gak akan bisa Ly, gak semudah itu". Ucap Raffa


Lily tidak menjawab, ia menunduk sambil mencengkram pinggiran sofa dengan kencang


"Kamu selalu bikin aku marah, kamu menguji kesabaran aku". Ucap Raffa


"Aku cuma mau keluar dari sini, tolong biarin aku pulang!". Ucap Lily


"Udah berapa kali aku bilang, aku gak akan lepasin kamu". Ucap Raffa


"Keterlaluan kamu Raf, kamu bener-bener jahat! Aku benci sama kamu!". Ucap Lily


"Hah"


"Sayang...sayang jangan ngomong gitu".


Raffa menghampiri Lily dan bersimpuh dibawahnya


"Jangan benci sama aku, aku kaya gini karna kamu, aku cuma mau kita sama-sama lagi..."


"Kita kaya dulu lagi". Ucap Raffa sambil menggenggam tangan Lily


"Lepasin". Lily menarik tangannya


Raffa bangun dan mengacak-acak rambutnya, lalu duduk di kursi kerjanya


"Makan kue nya, kamu dari pagi gak mau makan". Ucap Raffa sambil melirik sepiring pancake di meja sofa


"Gak usah, aku gak laper". Ucap Lily


Sejujurnya Lily sangat lapar....ia sudah tidak bertenaga usai percobaan nya melarikan diri dari rumah ini walau hasilnya selalu gagal


Lily melirik kearah gelas jus mangga di hadapannya, sangat menyegarkan dan menggoda tenggorokannya


Lily meraih gelas tersebut dan menyesap minuman itu secara perlahan dari sedotannya


Raffa tersenyum tipis, Lily tidak tahu kalau Raffa sudah menyuruh pelayannya untuk memasukan obat pe rang sang ke dalam minuman itu


"Kali ini pasti berhasil, kamu ada dibawah pengawasan aku, gak akan ada yang bisa gagalin rencana aku lagi".


Setengah gelas minuman itu sudah Lily habiskan, Lily menyandarkan tubuhnya di sofa, ia memandangi wajah Raffa yang perlahan pudar dan menjadi bayang-bayang


"Akhirnya kamu masuk perangkap ku lagi sayang". Batin Raffa sambil tersenyum


***


Disisi Lain


Vicky berkunjung kerumah Raffa, tujuannya untuk mengobrol dan sekedar basa-basi kepada Raffa. Kedatangan Vicky disambut oleh pelayan Raffa


"Raffa ada bi?". Tanya Vicky


"Ada den, tuan Raffa sedang diruang kerjanya, biar saya panggilkan". Ucap pelayan tersebut


"Hmm, kirain pergi ke acara ulang tahun rekan bisnisnya". Ucap Vicky


"Tidak den, tuan Raffa sedang bersama nyonya diruang kerjanya". Ucap pelayan tersebut


"Nyonya? Tante Farah?". Tanya Vicky


"Bukan den, nyonya Lily, calon istri tuan Raffa".


"Jadi Raffa yang culik Lily? Wah gak bener".


"Yaudah panggilin Raffa nya bi, saya ada perlu sebentar". Ucap Vicky


"Baik den". Ucap pelayan tersebut


Setelah pelayan tersebut pergi, Vicky mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Kevin yang sedang menunggunya dimobil


"Lily ada disini, cepet masuk".


****


Bersambung...


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan hadiahnya~


__ADS_2