Pernikahan Rahasia Dengan Adik Kelas

Pernikahan Rahasia Dengan Adik Kelas
Membalas Perbuatan Raffa


__ADS_3

"Lu liat Lily! Lu ngasih dia obat kan? Buat apa?! Lu mau nidurin dia?". Tanya Vicky


"Ini satu-satunya cara buat milikin Lily!". Ucap Raffa


"Tega lu Raf, gak punya otak..."


"Lu gak berhak atas Lily, gue mau bawa Lily ke suaminya. Awas!". Ucap Vicky


"Engga engga, lu gak bisa bawa Lily...gue bakal telfon bawahan gue buat ngabisin lu kalo lu ikut campur urusan gue!". Ancam Raffa


"Gue gak takut, gue bakal jaga Lily dari cowok brengs*k kaya lu!". Ucap Vicky sambil mendorong bahu Raffa


Vicky buru-buru mengangkat Lily menuju mobilnya


"Jangan! Jangan bawa Lily". Ucap Raffa


Raffa kembali menahan Vicky namun Vicky menendang perut Raffa sampai ia terjatuh


"Aarghh..."


"Sayang...jangan tinggalin aku".


Vicky pun buru-buru memasukkan Lily kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan tempat tersebut


"Sayaaang..."


"Panas...aku...gak...tahan".


Lily mencari-cari tangan Vicky, ia bawa tangan Vicky keatas pahanya


"Lily...sadar!". Ucap Vicky


Vicky menarik tangannya dan meraih tas Lily, mengambil ponselnya untuk menghubungi Kevin


"Arghh di sandi!". Ucap Vicky


Vicky panik, ponsel Lily diberi nomer sandi, bagaimana cara Vicky menghubungi Kevin


"Eungh..."


"Gak..kuaat".


Lily semakin meraja lela, Lily mendekat dan mengalungkan tangannya di leher Vicky dan mendekatkan wajahnya pada ceruk leher Vicky


"Sayaang...aku...ngga..kuat.."


"Bantuu..akuuu".


"Hmpphh..."


Lily mengecup leher Vicky, Lily sangat bergairah namun ini malah membuat Vicky merasa kesal


"Lily! Jangan kaya gini!". Ucap Vicky sambil menjauhkan kepala Lily


"Obatnya separah ini". Batin Vicky


"Sayanghh..please".


Lily memeluk Vicky, menghirup aroma tubuh Vicky sedalam-dalamnya


"Arghh!!".


Vicky pun menghentikan laju mobilnya, ia melepaskan Lily dan turun dari mobil agar fokus untuk membuka sandi pada ponsel Lily


"Apa sih sandinya". Batin Vicky


Setelah 2 kali gagal mencoba menebak-nebak apa angka yang cocok, akhirnya Vicky bisa membuka ponsel Lily dengan memasukkan tanggal lahir Lily


Vicky bernafas lega, ia segera menghubungi Kevin


"Halo sayang, kamu dim-"


"Ini gue, Lily ada sama gue, gue di jalan danau, lu cepet kesini Lily udah gak bisa di kontrol"


"Vicky, Lily kenapa bisa sama lu?"


"Kesini dulu, cepetan".


"Iya iya gue kesana".


Kevin memutus sambungan telfonnya,


"Arghh! Gue bakal bales lu Raf". Batin Vicky


Vicky kembali menghampiri Lily di kursinya, merapihkan gaun Lily yang sudah berantakan akibat ulah Lily sendiri


"Lily...tunggu ya...Kevin mau kesini". Ucap Vicky sambil merapihkan rambut Lily


"Sayaaang...aku mauu...". Ucap Lily sambil mengusap pahanya


"Bukan sama cowok lain Lily, sadar! Tunggu Kevin!". Ucap Vicky


Vicky tidak tega melihat keadaan Lily, ia bersimpuh dibawah sambil memegang tangan Lily dengan erat, mencegah tangan Lily untuk tidak bertindak yang macam-macam lagi


Tetapi tubuh Lily tidak bisa diam, Lily terus menggeliat sambil mengangkat-angkat kedua pahanya secara bergantian, badannya semakin panas.


10 menit menunggu, akhirnya Kevin datang bersama om Al


Kevin terkejut melihat Lily yang tidak seperti biasanya, terlihat dari gelagatnya yang sangat aneh dan meng'geli'kan


"Sayaaang...kamu kenapa sayang?". Tanya Kevin dengan panik


Kevin menangkup wajah Lily, melihat tatapan sayu dan wajah Lily yang memerah namun masih berusaha tersenyum seolah-olah sedang menggoda


"Kenapa Lily bisa kaya gini?!". Tanya Kevin


"Ulah Raffa, dia ngasih obat ke Lily. Gue ngambil Lily dari mobilnya". Jawab Vicky


"Kurang ajar...harus dikasih pelajaran". Ucap Kevin


"Gue yang urus, lu urus Lily aja". Ucap Vicky


"Yaudah gue pergi dulu, thanks". Ucap Kevin


"Sama-sama". Ucap Vicky


Kevin pun membawa Lily pergi dari tempat tersebut,


Di perjalanan, Lily semakin menjadi-jadi, bagai menemukan sebuah sentuhan yang dingin di kulitnya, ia merapatkan tubuhnya pada Kevin, membenamkan wajahnya pada ceruk leher Kevin


"Eungh..."


"Panaass...sayaaanghhh".


Lily mengecup dan menggigit leher Kevin bagai singa kelaparan, tangannya pun tak tinggal diam, tangan Lily masuk kedalam pakaian Kevin, meraba-raba dada dan perut Kevin secara teratur dari atas ke bawah


Kevin pasrah, ia merasa sedih melihat istrinya seperti ini, andai saja Vicky tidak berhasil mendapatkan Lily, entah bagaimana nasib Lily, sudah pasti Raffa lah yang akan senang hati mendapatkan perlakuan seperti ini dari istrinya


"Sayaaang".


"Hmm? Tahan ya".


"Panaaasshh".


"Maaf mas, apa perlu kita berhenti dulu, biar saya turun". Ucap om Al


Sepertinya om Al paham apa yang telah terjadi pada bos kecilnya ini, ia ingin memberikan waktu untuk Lily dan Kevin di dalam mobil


"Gak usah om, di cepetin aja langsung ke hotel". Ucap Kevin


"Baik mas". Ucap om Al


Meskipun Kevin tidak tega melihat kondisi Lily yang semakin 'panas' tapi rasanya tidak mungkin jika 'meredakan' nya didalam mobil, mereka pasangan halal dan sah, bukan pasangan yang belum terikat pernikahan yang 'melakukan' nya didalam mobil layaknya sepasang ABG 'nakal' yang sedang berpacaran


"Panaassh sayaaaangg".


"Brengs*k lu Raf, gue gak akan tinggal diem". Batin Kevin sambil mengepalkan tangannya


****


*Flashback on*


Satu hari sebelum hari ulang tahun Lily


Raffa dan Vicky sedang berada didalam mobil untuk menuju ke suatu tempat. Di perjalanan, mereka melihat Kevin yang sedang berada di toko bunga, sepertinya Kevin baru pulang sekolah, terlihat ia masih memakai seragamnya


Raffa pun menghentikan mobilnya di samping toko bunga tersebut


"Itu suaminya Lily kan?". Tanya Raffa


"Iya, Kevin. Kenapa?". Tanya Vicky

__ADS_1


"Ngapain disitu?". Tanya Raffa


"Ya beli bunga kali". Jawab Vicky


"Oh iya, besok Lily ulang tahun kan?". Tanya Raffa


"Iya". Jawab Vicky


"Gue mau kasih kejutan". Ucap Raffa


"Gak usah aneh-aneh deh, ngucapin aja kaya biasa". Ucap Vicky


"Terserah gue". Ucap Raffa


"Ayo jalan, ngapain disini". Ucap Vicky


"Sebentar, tuh lu liat dia pergi kearah sana...itu kan bukan kearah rumah Lily..."


"Gue yakin dia lagi nyiapin sesuatu buat Lily". Ucap Raffa


"Yaudah biarin, dia suaminya...lu gak usah ikut campur". Ucap Vicky


"Gue cuma mau tau". Ucap Raffa


Raffa pun kembali melajukan mobilnya mengikuti Kevin, sepertinya ia sangat penasaran dengan kejutan apa yang akan di berikan oleh Kevin untuk Lily


Tak jauh dari toko bunga tadi, Kevin membelokkan mobilnya memasuki area restoran, Raffa dan Vicky terkejut melihat Kevin memasuki restoran tersebut


"Raf, ini kan restoran bokap lu". Ucap Vicky


"Iya, mau ngapain dia kesini". Ucap Raffa


"Gak tau". Ucap Vicky sambil mengangkat kedua bahunya


10 menit menunggu, Kevin kembali ke mobilnya dan pergi dari restoran tersebut, giliran Raffa yang masuk kedalam restoran untuk mencari tahu apa tujuan Kevin datang kesini


"Selamat sore tuan". Ucap kepala restoran yang terlihat masih duduk disalah satu kursi


"Anak SMA tadi ngapain?". Tanya Raffa


"Reservasi tuan, mas tadi mem-booking restoran untuk acara besok malam". Jawab kepala restoran


"Oh, jam berapa?". Tanya Raffa


"Setengah 9 malam tuan".


"Hmm makasih". Ucap Raffa


"Sama-sama tuan"


Tidak ingin berlama-lama, Raffa segera kembali mobilnya


"Hahaha ok ok, besok malem setengah 9". Ucap Raffa sambil tertawa


"Terus? Lu mau apa?". Tanya Vicky


"Gue punya rencana". Ucap Raffa


"Gak usah nyari masalah, lu tau Kevin kaya gimana". Ucap Vicky


"Bisa diatur, tinggal nyuruh anak buah buat ngeberesin suaminya". Ucap Raffa


"Gue gak akan ngebiarin, udah lah Raf, biarin Lily bahagia, besok ulang tahunnya, jangan bikin kacau". Ucap Vicky


"Lu mau ngalangin gue?". Tanya Raffa


"Ya, sebiasa mungkin. Gue gak mau liat Lily sedih..."


"Dan kalo lu bertindak sedikit aja, gue pastiin Lily bakal membenci lu seumur hidup". Ucap Vicky


"Justru Lily bakal cinta lagi sama gue, gue bakal perlakuin Lily selembut mungkin, gue gak akan nyakitin dia". Ucap Raffa


"Hah? Maksud lu?". Tanya Vicky


"Gak usah ikut campur". Ucap Raffa


"Liat aja Raf, gue gak akan biarin sesuatu terjadi sama Lily". Batin Vicky


*Flashback off*


***


Dengan susah payah, Kevin membawa Lily memasuki hotel menuju kamar mereka, dengan 'gelagat' Lily yang seolah sedang mengharapkan sebuah sentuhan, tentunya ini membuat Kevin kesulitan


Tubuh Lily tidak bisa di kontrol, Kevin menghempaskan Lily keatas ranjang, ia memperhatikan Lily yang sedang menggeliat dengan ekspresi dan 'pose' seolah sedang menggoda seorang pria


Kevin prihatin, sungguh malang istrinya ini, Lily dibuat seperti wanita penggoda, Lily terus merajuk mengharapkan sebuah sentuhan


Dengan perlahan Lily bangkit, ia menyeret tubuhnya mendekat kearah Kevin


"Sayaaang".


"Apaa?".


Lily memegang tangan Kevin, menarik tangannya sampai Kevin naik keatas ranjang


CUP, Lily menciumi bibir Kevin dengan lembut dan sangat dalam


Tangannya pun tidak tinggal diam, ia membuka gaunnya dari bahu sampai dada


Lily sejenak menghentikan ciumannya, meraih tangan Kevin untuk me re mas kedua benda kenyal miliknya


Kevin menurut, ia paham, Lily sedang menginginkannya, efek obat itu masih terus bekerja bahkan semakin terasa, Terlihat dari sikap Lily yang agresif sejak di perjalanan tadi


5 menit berlalu, tubuh mereka sudah sama-sama polos, Lily mendorong Kevin ke permukaan kasur, dengan segera Lily menduduki perut Kevin dan kembali menciumi bibir Kevin dengan rakus


Kevin hanya bisa menerima perlakuan dari 'iblis' yang berwujud istrinya ini, rasanya seperti di per ko sa, tetapi ia biarkan istrinya ini yang memimpin 'permainan' kali ini


1 jam berlalu, sepertinya Lily sudah puas mendapatkan apa yang ia inginkan, setelah permainannya dengan sang suami, Lily terkapar dan langsung memejamkan matanya


Sementara Kevin menyelimuti tubuh polos Lily dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri


Tak berselang lama, Kevin kembali duduk di tepi ranjang, ia membuka ponselnya untuk menghubungi om Al dan pria bertubuh besar lainnya yang bekerja dibawah perintah Lily untuk menculik Raffa dan membawanya ke sebuah tempat


"Siap mas, laksanakan". Ucap om Al dari seberang telfon


Kevin memutuskan sambungan telfonnya,


"Gue bakal kasih balesan yang setimpal". Batin Kevin


Kevin menoleh ke belakang, menatap wajah Lily yang sedang terlelap dengan damai, masih tersirat kesedihan dan penyesalan pada dirinya sendiri


Rencana yang sudah ia persiapkan sedemikian rupa untuk ulang tahun Lily ternyata kacau, tidak berjalan mulus. Kevin sangat menyesal, andaikan saat itu Lily datang bersamanya, sudah pasti Lily akan aman


Kevin juga tidak bisa menyalahkan kejadian ini pada Om Al yang seakan tidak 'becus' menjaga Lily, Raffa menjalankan aksinya dengan mulus tanpa kecurigaan Om Al yang memang sedang duduk berjaga diluar teras restoran


Tiba-tiba Kevin teringat sesuatu, bagaimana cara Raffa membawa Lily pergi dari sana? Rasanya Kevin ingin mencari tahu


Kevin kembali membuka ponselnya, kali ini ia menghubungi kedua sahabatnya untuk mencari tahu soal kejadian di restoran tadi, kedua sahabatnya ini pasti bisa diandalkan


***


15 menit berlalu, Kevin yang sedang asik memakan camilan mendapat telfon dari Tommy, Kevin pun mendengarkan ucapan Tommy dengan seksama


"Iya dia itu bayar pelayan buat ngasih minuman itu ke Lily, dan ternyata restoran itu punya bokapnya"


"Pantes aja mulus, semua dia kendaliin...lu ada buktinya ngga? CCTV?".


"Pas kejadian itu semua CCTV dimatiin, dia udah ngatur semuanya biar gak ada bukti".


"Licik".


"Tapi tenang, gue ada video pengakuan dari pelayan tadi".


"Serius lu? Dia ngaku?".


"Iya dia ngaku, soalnya Rian ngancem bakal masukin dia ke penjara hahaha videonya gue kirim di chat"


"Hahaha ok, thanks Tom".


"Yoi, sama-sama".


Kevin memutus sambungan telfonnya, dan tidak berselang lama, Tommy sudah mengirimkan video seorang pelayan yang telah mengaku membantu Raffa menjalankan kejahatannya


"Bagus, kalo dia berani ngelak, video ini bisa bikin dia bungkam..."


"Tapi sayangnya gak ada bukti CCTV, gak bisa masukin dia ke penjara".


"Sayang? Kamu ngapain?".


Kevin dikejutkan oleh suara Lily dari arah ranjang, Kevin segera bangun dan menyusul Lily

__ADS_1


"Gak ngapa-ngapain..."


"Kok bangun? Laper ya?". Tanya Kevin sambil mengusap kepala Lily


"Iya...baju aku mana?". Tanya Lily


"Oh iya, sebentar".


Kevin berjalan ke lemari pakaian, mengambil satu kaos untuk Lily gunakan


"Pake ini dulu ya, sementara". Ucap Kevin


"Yaudah".


Lily pun memakai kaos yang sangat kebesaran di tubuhnya itu, tidak apa-apa, daripada tidak memakai pakaian sama sekali


"Kepala aku kenapa sakit ya". Ucap Lily


"Udah terjadi sesuatu sama kamu, kamu inget nggak, di restoran?". Tanya Kevin


"Hmm, aku dateng ke restoran sama om Al, trus aku masuk, disambut sama pelayan, dikasih minum". Ucap Lily


"Setelah minum, kamu ngerasain apa?". Tanya Kevin


"Sakit kepala, badan aku juga panas, tapi panasnya beda...gimana ya jelasinnya..."


"Aduh kok gak inget sih". Ucap Lily


"Ternyata bener, di minuman itu ada obat pe rang sang". Ucap Kevin


"Hah? Obat pe rang sang?...."


"Ih kamu ngasih aku obat kaya gitu? Emang aku kurang ganas ya? Kamu ngga puas?". Tanya Lily dengan wajah polosnya


"Bodoh". Ucap Kevin sambil menyentil dahi Lily


"Hmmm...trus kenapa kamu ngasih obat kaya gitu?". Tanya Lily


"Bukan aku, tapi mantanmu". Jawab Kevin


"Mantanku? Raffa? Apa hubungannya sama dia?". Tanya Lily


"Dia yang nyuruh pelayan buat ngasih minuman itu ke kamu". Jawab Kevin


"Hah?". Seketika Lily membelalakan matanya, Lily terkejut, bagaimana Raffa bisa melakukan itu


"Raffa..."


"Ya Allah, aku sama Raffa...abis ngapain". Ucap Lily dengan suara pelan


"Tenang, kamu sama dia gak ngapa-ngapain. Karna Vicky nyelametin kamu". Ucap Kevin sambil mengusap pipi Lily


"Vicky?". Tanya Lily


"Iya". Jawab Kevin


"Dia kakak yang baik, selalu jagain aku". Ucap Lily sambil tersenyum


"Aku berterimakasih sama dia karna udah bawa kamu pergi dari Raffa..."


"Jujur aku gak bisa bayangin kalo gak ada Vicky, mungkin kamu gak ada disini, kamu lagi berduaan dikamar sama Raffa". Ucap Kevin


"Hmmm sayang...aku minta maaf ya". Ucap Lily


"Ini bukan salah kamu, ini salah aku, andai kita berangkat bareng ke restoran, pasti kamu masih aman..."


"Sayang maaf ya, hari ulang tahun kamu jadi kacau begini, semua diluar dugaan, aku mau bikin kejutan dan dinner romantis tapi gagal..."


"Aku ngerasa bersalah, kamu pasti kecewa". Ucap Kevin


"Engga sayang, aku gak kecewa, gak ada yang bisa nebak kalo kejadiannya kaya gini..."


"Gak usah mikirin soal kejutan atau apapun, bisa sama kamu aja aku udah bahagia, gak ada yang lebih penting dari itu". Ucap Lily


"Kamu gak marah?". Tanya Kevin


Lily menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, ia mendekat dan memeluk leher Kevin


"Buat apa marah? Seharian ini suami terbaikku udah bikin aku bahagia, ini udah cukup". Ucap Lily


Kevin tersenyum mendengar ucapan Lily, ia balas pelukan Lily seerat mungkin, betapa beruntung dan bahagianya memiliki seorang istri seperti Lily,


"Sayang, leher kamu merah-merah banget...emang aku-".


"Kamu ganas". Ucap Kevin


"Ganas?". Tanya Lily


"Iya, kamu per ko sa aku, tiga ronde". Ucap Kevin


"Hah? Aduh...pasti gara-gara obat itu". Ucap Lily sambil menutup wajahnya dengan tangannya


"Hahahaha malu ya". Ucap Kevin sambil meledek


"Iihh rese". Ucap Lily


"Hehe kamu tau ngga, aku nyampe gak bisa jalan nih". Ucap Kevin


"Hahaha kayak abis di perawanin". Ucap Lily


"Bukan ih, lemes banget kaki aku hahaha". Ucap Kevin


"Sini aku pijitin". Ucap Lily sambil memegang kaki Kevin


"Nah gitu dong, biar aku bertenaga...nanti gantian aku yang nyerang kamu". Bisik Kevin


"Mesuuumm". Ucap Lily


"Kamu tuh yang mesum, di mobil pegang-pegang aku, cium aku...gak sabaran banget..."


"Oh iya aku mau ngomong sesuatu". Ucap Kevin


"Apa?".


"Hmm...ini kan ulah Raffa, aku nyuruh om Al sama om om kamu yang lainnya buat nyulik Raffa". Ucap Kevin


"Hah? Mau diapain?". Tanya Lily


"Dikasih pelajaran aja sedikit, karna dia udah berani bawa istri aku dan ngasih obat yang aneh-aneh..."


"Gapapa kan?". Tanya Kevin


"Gimana ya...aku juga kesel sih, aku pengen dia dihukum karna udah berani bertindak kaya gitu..."


"Tapi aku cuma takut kamu jadi berurusan sama orang tuanya, mereka jahat, licik". Ucap Lily


"Hahaha orang tua nya? Raffa anak mami papi ya? Apa dia bakal ngadu?". Tanya Kevin


"Yaa gak tau sih, aku cuma takut aja, orang tua sama anak sama-sama licik". Ucap Lily


"Gak usah khawatir, ini kesalahan anaknya, anaknya harus nerima resiko atas perbuatannya..."


"Aku bakal bikin dia kapok, berani-beraninya masih nyoba buat rebut istri kesayangan aku". Ucap Kevin


CUP, Kevin melabuhkan ciumannya di bibir Lily


"Nanti kalo ada kabar dari om Al aku langsung kesana, cuma sebentar..."


"Gapapa kan aku tinggal? Aku janji gak lama". Ucap Kevin


"Iya, gapapa". Ucap Lily


"Yaudah..."


"Aku telfon pelayan dulu buat anter makanan, sebentar ya". Ucap Kevin


"Iya sayang". Ucap Lily


"Maafin aku Raf, mungkin kamu harus dikasih peringatan, semoga dengan kejadian ini kamu kapok dan gak usik aku lagi". Batin Lily


***


Bersambung...


*


*


*


Jangan lupa like, vote dan hadiahnya~

__ADS_1


__ADS_2