
"Bete banget sendirian,mending gue turun ngobrol sama mbak Dina". Batin Lily
Lily berjalan menuju lemari untuk mengambil bra dan bajunya
"Aww sakiitt". Lily mencoba memakai bra namun masih terasa sangat sakit
"Tapi kalo gak pake gue malu, kalo di depan Kevin sih gak pake juga gapapa, eehh". Batin Lily tersenyum
"Isshhh sakit bangeett". Lily meringis
"Gak usah pake ah, bodo amat".
Lily memilih baju yang lebih tebal agar dadanya tidak terlalu menerawang
"Nah, segini lumayan, gak keliatan banget". Lily memandangi dirinya dikaca
Dengan masih memakai rok sekolahnya, Lily turun kebawah untuk menemui Dina
"Ah itu mbak Dina". Batin Lily
Lily menghampiri Dian yang sedang mencuci buah-buahan.
"Hayy mbaakk".
"Ehh non Lily, ada apa non. Non perlu sesuatu?". Tanya Dina
"Engga,bete dikamar sendirian". Jawab Lily
"Suami non kemana...?"
"Oh maaf non maaf saya lancang nanya-nanya". Ucap Dina
"Gapapa mbak santai aja sama Lily, Kevin gak ada, udah balik lagi ke sekolah,tadi pulang nganterin Lily doang".
"Oh iya mbak, kamu udah menikah?".
"Sudah non, tapi sudah cerai, saya janda". Jawab Dina
"Ohh maaf mbak".
"Gapapa, jujur non saya juga sama seperti non Lily menikah waktu SMA..".
"Bedanya,saya tidak lanjut sekolah karna harus bekerja"
"Kalau suami mbak?". Tanya Lily
"Kerja di bengkel non". Jawab Dina
"Saya ada anak, tapi dibawa mantan suami saya non".
"Ya Allah,kok tega banget". Ucap Lily
"Maaf non, saya jadi curhat".
"Gapapa mbak, Lily malah seneng, Lily berasa punya temen dirumah"
Dina tersenyum mendengar ucapan Lily
"Sayaaang".
Terdengar suara Kevin yang menghampiri Lily di dapur
"Yeeyy udah pulaangg". Ucap Lily sambil menghampiri Kevin dan memeluknya
CUP
Bibir mereka bertemu dan saling mengecup
"Lagi ngapain sayang?". Tanya Kevin sambil merapihkan anak rambut Lily
"Gak ngapa-ngapain, cuma ngobrol aja sama mbak".
"Ayo keatas". Kevin dan Lily saling merangkul pinggang dan berjalan ke tangga menuju kamar
"Bahagianya jadi non Lily". Batin Dina
--
Di kamar
"Masih sakit ngga?". Tanya Kevin
"Masih, ini aku gak pake be*a, tadi udah coba tapi belum kepasang aja udah sakit".
"Nanti aku olesin lagi ya". Ucap Kevin
__ADS_1
"Iyaa sayang.."
"Kamu mau makan ngga? Mbak Dina udah masak". Ucap Lily
"Boleh".
"Makan disini ya? Aku ambilin dulu". Ucap Lily
"Iyaa sayang".
Lily berjalan keluar kamar untuk kedapur. Sambil menunggu Lily, Kevin ingin mengganti seragamnya lebih dulu
Kevin berjalan menuju lemari pakaian,
Saat membuka pintu lemari, Kevin melihat ada sebuah bingkisan ditumpukan baju-baju Lily
"Ini apa?". Batin Kevin
Kevin membawa bingkisan itu ke ranjang dan membukanya
"Woah, berlian? Lily beli ini? Tapi kapan, kok gue gak tau?". Batin Kevin bertanya-tanya sendiri
Kevin menutup kembali kotak perhiasan itu, dan saat ingin dimasukkan kembali Kevin melihat sebuah kartu ucapan berukuran kecil didalamnya
Kevin pun mengambil dan membaca kartu tersebut
"Hy Lily Florensia Atmaja. Apa kabar? Lama tidak berjumpa". Kevin membaca isi kartu ucapan tersebut
"Jadi ini dikasih? Tapi sama siapa". Batin Kevin
Ceklek *Lily masuk ke kamar membawa nampan berisi makanan dan minuman
"Vin?".
Kevin menoleh ke Lily
"Sayang, ini dari siapa?". Tanya Kevin sambil mengacungkan kartu ucapan itu
Lily meletakkan nampannya di nakas dan duduk disamping Kevin
"Aku gak tau, gak ada nama pengirimnya". Ucap Lily sambil merapihkan bingkisan itu
"Ngasih kamu 1 set berlian? Woah hebat". Ucap Kevin
"Yaa aku gak tau Vin, mbak Dina yang nganter kesini ya aku terima lah".
"Maybe". Ucap Lily sambil mengangkat kedua bahunya
"Udah sini masukin". Lily meraih kartu ucapan yang ada ditangan Kevin dan memasukkan kembali bingkisan itu ke dalam lemari.
"Apa dari mantan pacar kamu?". Tanya Kevin
Lily langsung terdiam dan mencoba mengingat sesuatu
"Sayang..?". Ucap Kevin
"Berlian? Pacar?Raffa....pernah ngasih berlian juga". Batin Lily
Lily segera berlari ke kamar mandi dan menguncinya
Kevin yang melihat Lily tiba-tiba lari langsung menyusul Lily
Tok tok tok
"Sayang kamu kenapa?". Tanya Kevin
"Hikss hikss"
"Kenapa gue keinget sama Raffa". Batin Lily
"Sayang, kamu nangis?".
"Hikss hikss hikss".
"Sadar Ly,Raffa udah meninggal".
"Raffa, kenapa hati aku masih ha**ncur kalo inget kepergian kamu, apa kamu udah lupain semua janji-janji kita". Batin Lily
"Hiksss hikss".
"Sayaang, buka dong, kamu kenapa?". Ucap Kevin
"Raffa udah gak ada dan lu punya suami,lu gak boleh mikirin cowok lain Ly".
Lily segera menghapus air matanya dan membuka pintu kamar mandi
__ADS_1
Ceklek
"Sayang kenapa?kok nangis?". Tanya Kevin
"Aku gapapa". Lily meninggalkan Kevin yang mematung di depan kamar mandi
"Sayang". Kevin menarik tangan Lily hingga Lily menghadap kearahnya
"Apaaa sih Vin?".
"Bener itu dari mantan kamu?". Tanya Kevin
"Bukan,aku gak tauu". Ucap Lily
"Jujur". Kevin mencengkram tangan Lily semakin kuat
Lily meringis merasakan sakit di pergelangan tangannya
"Aku gak tau itu dari siapa!". Jawab Lily
"Kenapa kamu nangis? Jawab yang bener!". Tanya Kevin
Lily membuang nafas kasar dan memalingkan wajahnya
"Kenapa? Bener kan?". Tanya Kevin
"Iya,aku pernah dikasih perhiasan yang sama kaya gitu sama mantan aku,tapi udah lama,4 tahun lalu. Sebelum dia meninggal". Jawab Lily
Kevin melepaskan tangannya dari pergelangan Lily
"Meninggal?". Tanya Kevin
Lily mengangguk
"Terus kenapa hari ini kamu bisa dapet kiriman yang sama?". Tanya Kevin
"Aku gak tau".
"Bener mantan kamu meninggal? Apa masih hidup?".
Lily teringat, saat itu Lily tidak diizinkan untuk melihat jenazah Raffa dan menghadiri pemakamannya. Jadi Lily tidak tahu persis apakah itu Raffa atau bukan
"Hey".
"Aku gak tau, aku gak dibolehin liat jenazahnya, dan gak boleh dateng ke pemakamannya, soalnya keluarganya benci sama aku". Jawab Lily
Kevin mengusap wajahnya
"Terus gimana kamu tau itu dia apa bukan yang meninggal...?"
"Coba kamu pikir, hari ini kamu dapet kiriman yang sama kaya 4 tahun lalu, yang dikasih sama mantan kamu yang katanya udah meninggal, tapi kamu sendiri aja gak mastiin kalo yang meninggal itu dia apa bukan.. "
"Aku feeling,dia masih hidup. Dia dateng lagi ke kamu.. "
"Bakal ada masalah lagi disini".
Lily menghampiri Kevin dan menggenggam tangannya
"Viinn, itu bukan dari dia, dia udah gak ada. Itu cuma kebetulan aku dapet kiriman sama". Ucap Lily
"Kebetulan gimana Ly? Siapa sih orang yang ngasih barang mewah tanpa kasih nama pengirim? Dan harusnya barang mewah tuh dikasih langsung ke penerima kan?tanpa perantara apalagi semewah berlian. Dan kenapa harus satu set berlian? Kenapa gak kalung? Cincin atau gelang?..."
"Dia masih hidup, dia mau ngingetin kamu tentang masa lalu kamu sama dia, hari ini dia ngasih kode kalo dia bakal hadir lagi di hidup kamu".
"Vin, gak kaya gitu. Percaya sama aku, itu bukan dia. Ini cuma kebetulan". Ucap Lily meyakinkan Kevin
"Oke, kita liat aja". Ucap Kevin
Lily memeluk Kevin dengan erat, Lily takut kalo Kevin akan marah karena soal ini
"Coba jawab aku, tadi kenapa nangis..?
"Waktu aku tanya apa itu dari mantan pacar kamu atau bukan, tiba-tiba kamu lari ke kamar mandi dan nangis... "
"Kamu juga keinget dia kan? Kamu masih sayang sama dia makanya kamu nangis?". Tanya Kevin
Lily terdiam, sebenarnya Lily menangis karena teringat bagaimana dirinya hancur saat mengetahui kekasihnya meninggal padahal baru beberapa jam bertemu dan mengucapkan janji-janji berdua.
"Oke, aku bisa simpulin, kamu masih sayang sama dia, dan saat dia balik nanti, aku yakin kamu bakal tinggalin aku dan kembali sama dia, cowok yang bener-bener kamu cintai, bukan aku, cowok yang dipaksa jadi suami kamu".
.
.
.
__ADS_1
--