Pernikahan Rahasia Dengan Adik Kelas

Pernikahan Rahasia Dengan Adik Kelas
Kembali Di Culik


__ADS_3

2 jam berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, Kevin masih terjaga, sementara Lily sudah kembali terlelap usai mengisi perutnya


Kevin masih menantikan kabar dari om Al, dan tidak berselang lama, Kevin mendapat


kabar kalau Om Al dan yang lainnya berhasil membawa Raffa ke sebuah gudang tua terbengkalai di tepi danau


Tanpa berlama-lama, Kevin segera bersiap menuju lokasi


"Aku pergi dulu ya". Bisik Kevin.


CUP, Kevin mencium kening Lily sebelum meninggalkan kamar hotel


****


30 menit perjalanan, akhirnya Kevin tiba di lokasi tersebut, Kevin segera melangkahkan kakinya memasuki gudang itu, gudang dengan lampu yang redup, berdebu dan aura mistis menyeruak dimana-mana,


Di tengah redupnya lampu, Kevin dapat melihat Raffa yang sedang duduk lemas di sebuah kursi dengan tubuh yang terikat dengan tali serta wajah yang babak belur


Kevin heran, dia belum menyentuh Raffa tetapi wajah Raffa sudah seperti ini, Kevin pun tertawa kecil, membuat Raffa tidak senang


"Haha kok udah babak belur gini? Kenapa om?". Tanya Kevin pada om Al


"Saat kami menemukan target di tepi jalan, target sedang dihajar oleh satu orang laki-laki mas..."


"Orang itu menyerahkan target kepada kami". Jawab Om Al


"Hahaha abis dihajar Vicky ya? Bisa diajak kerjasama juga dia". Ucap Kevin pada Raffa


"Langsung aja mas, biar kita abisin". Ucap salah satu pria bertubuh besar disana


"Betul mas, nyalinya besar juga sampai berani berbuat jahat pada bos kami". Ucap om Al


"Ini orang suruhan lu?". Tanya Raffa


"Yap, mereka cuma mengabdi sama atasannya, masa mereka diem aja Lily di perlakuin kaya gitu?". Ucap Kevin


"Maksud lu apa?". Tanya Raffa


"Lupa apa pura-pura bodoh?..."


"Tadi malem di restoran bokap lu, lu nyuruh pelayan disana buat ngasih minuman yang udah di campur obat kan ke Lily?". Tanya Kevin


"Hah, lu ngomong apa sih? Ngelantur?". Ucap Raffa


"Nggak ngelantur..."


"Tapi thanks ya, berkat obat yang lu kasih, Lily makin agresif..."


"Gue sangat menikmati". Bisik Kevin sambil tersenyum


Raffa menggeram mendengar ucapan Kevin, Kevin sudah memanas-manasi dirinya


"Lu salah orang, apa hubungannya sama gue?". Tanya Raffa


"Gak ngaku juga..."


"Ok, lu liat dan denger baik-baik". Ucap Kevin


Kevin membuka layar ponselnya, ia menunjukkan sebuah video yang dikirimkan oleh Tommy


"Benar, tuan Raffa yang menyuruh saya memberikan minuman itu untuk pacarnya, saya hanya menjalankan perintah, jangan laporkan saya ke polisi". Ucap suara dari video tersebut


"Ini orang yang lu suruh kan?..."


"Ck, pacar haha enak banget ngaku-ngaku Lily pacar lu". Ucap Kevin


"Jangan asal nuduh, bisa aja video itu setingan". Ucap Raffa


"Hmm...sayang banget pas kejadian itu semua CCTV dimatiin..."


"Enak ya jadi anak pemilik restoran, bisa ngelakuin apa aja, termasuk ngilangin bukti kejahatan". Ucap Kevin


"Maaf mas, kami sudah membawa bensin dan korek api sesuai permintaan mas Kevin". Ucap om Al


"Hah? Lu mau ngebakar tempat ini?". Tanya Raffa


"Bukan, lebih tepatnya ngebakar lu hidup-hidup". Jawab Kevin


"Lu cuma ngancem gue kan? Nakut-nakutin gue?". Tanya Raffa


"Nakut-nakutin lu? Buat apa?...."


"Om, siram bensin nya di sekitar sini". Ucap Kevin sambil melirik kearah sekekeling Raffa


"Baik mas".


Om Al pun menyiram bensin tersebut disekeliling kursi Raffa


"Kurang ajar!! Lepasin gue!!". Ucap Raffa


"Haha nikmatin saat-saat terakhir lu Raffa". Ucap Kevin


Salah satu dari mereka memberikan sebuah korek gas kepada Kevin, dengan senang hati Kevin pun menerimanya


Raffa semakin takut, tubuhnya bergetar, bagaimana mungkin Kevin akan tega melakukan ini, Kevin tidak main-main dengan ucapannya


"Lu...serius...mau...bakar...gue?". Tanya Raffa


"Iya, kenapa? Lu takut?". Tanya Kevin


"Engga, engga! Gue gak mau mati! Lepasin gue! Bocah kurang ajar!". Ucap Raffa


"Haha bocah, yang bocah itu gue apa lu?..."


"Dah lah gak usah banyak omong. Mendingan lu berdoa buat terakhir kalinya". Ucap Kevin


"HAHAHAHA". Om Al dan yang lainnya kompak tertawa


"Lebih cepat lu mati itu lebih baik buat Lily". Ucap Kevin sambil memantik korek gas tersebut


Brak!!!


Pintu gudang di dobrak dari luar, ternyata anak buah Raffa yang menerobos masuk,


Raffa bernafas lega, orang suruhannya sangat datang tepat waktu, sekumpulan pria bertubuh besar yang mencoba untuk membebaskan Raffa, namun dihalangi oleh 'orang-orang' Lily hingga mereka pun saling baku hantam,


Dan satu orang berhasil melepaskan ikatan tali di tubuh Raffa, dengan sigap Kevin memukul orang tersebut, namun Raffa tidak tinggal diam, ia ikut memukul Kevin namun Kevin lebih dulu melayangkan pukulanny


Kevin baru mengetahui, sepertinya Raffa ini tidak pandai berkelahi, beberapa kali Raffa tersungkur kebawah, mencoba bangkit namun akhirnya terjatuh lagi karena pukulan Kevin


Kevin mencibir, bisa-bisanya Raffa tidak bisa berkelahi, ia membayangkan bagaimana caranya untuk melindungi Lily kalau melindungi dirinya saja tidak bisa


"Hahaha payah, ternyata lu gak ada apa-apanya Raf, lu itu cuma anak manja yang berlindung di balik badan gede". Ucap Kevin


"Gue harap ini terakhir kalinya lu ganggu Lily. Kalo lu masih berani, gue bakar lu hidup-hidup". Ucap Kevin


"Arrghh!". Raffa menggeram sambil memukul tanah, tubuhnya sudah tidak sanggup untuk berdiri


Dua orang menghampiri Raffa dan merangkulnya untuk meninggalkan gudang tua tersebut,


Kevin, om Al dan teman-temannya tertawa puas, mereka menjalankan tugas dengan baik, Raffa dan 'orang-orangnya' dapat ditumbangkan dengan mudah


Kevin berterima kasih, tidak lupa mengirimkan sejumlah uang untuk om Al dan teman-temannya karena telah membantunya


Setelah berpamitan, Kevin segera kembali ke hotel sementara om Al meminta izin untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya itu, tentunya Kevin pun mengizinkan.


***


1 jam kemudian, Kevin baru kembali ke hotel, ia tersenyum tipis saat melihat Lily yang masih tertidur pulas, Kevin segera membersihkan diri dan setelah itu menyusul Lily diatas ranjang


"Arghh". Kevin meregangkan otot di tubuhnya


Rasanya sangat lelah, setelah digempur habis-habisan oleh istrinya, ia harus baku hantam dengan Raffa dan 'orang-orangnya'. Sangat menguras tenaga, Kevin pun segera memejamkan matanya untuk beristirahat


Pagi Harinya


Jam menunjukkan pukul 6 pagi, Lily baru terbangun dari tidurnya saat mendengar ketukan dari pintu kamarnya


"Selamat pagi nona, saya ingin mengantar sarapan dan juga pakaian dari ibu Anita". Ucap pelayan tersebut


"Ah iya".


Lily membawa satu persatu-persatu nampan berisi makanan dan minuman kedalam kamar setelah itu mengambil tas yang berisi pakaian


"Terimakasih ya". Ucap Lily


"Sama-sama nona". Ucap pelayan tersebut sambil tersenyum kemudian pergi meninggalkan kamar Lily


"Mama sampe ngirim baju hehe".


Lily menyimpan tas tersebut dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhnya


Grep


"Heh!". Lily dikejutkan dengan pelukan Kevin dari belakang,


"Ih kamu ngapain, kalo masih ngantuk tidur aja". Ucap Lily


"Hmm kamu jam segini udah mandi. Mau kemana sih". Ucap Kevin dengan lembut


"Mau cepet-cepet pulang, kangen Keisha". Ucap Lily


Kevin tersenyum mendengar ucapan Lily, ia membalikkan tubuh Lily agar menghadap kearahnya


"Sebelum pulang satu ronde dulu ya". Ucap Kevin sambil mengusap bibir Lily


"Ih baru bangun udah mesum". Ucap Lily


"Ya begini lah suami kamu hehe". Ucap Kevin


CUP, Kevin menciumi bibir Lily dengan lembut


"Hmpph.."


"Udah, gak bisa nafas". Ucap Lily sambil mendorong bahu Kevin


"Payah, udah sering masih aja gak bisa ngatur nafas". Ucap Kevin


"Hehehe...kamu mau mandi ngga?". Tanya Lily


"Ya mandi lah, baju aku udah basah gini". Ucap Kevin


Kevin pun mulai melucuti satu persatu pakaiannya hingga tubuh mereka kini sama-sama polos


"Let's go". Ucap Kevin

__ADS_1


"Apaan?". Tanya Lily


"Hehe satu ronde aja". Jawab Kevin


"Iya yaudah". Ucap Lily


Kevin tersenyum nakal, ia kembali menciumi bibir Lily sambil merapatkan tubuhnya ke dinding kamar mandi


"Eungh"


Lily mengeluh saat merasakan jari-jari Kevin bermain diarea inti nya, sangat geli namun nikmat,


"Aahh"


"Sayanghh"


"Stop"


"Geli"


Kevin menghiraukan ucapan Lily, ia malah semakin bermain-main disana, dengan satu jari yang ia masukkan ke liang kenikmatan milik Lily, membuat Lily semakin tidak berdaya


"Aaaahh" Lily mencapai pelepasan pertamanya, tubuhnya seketika lemas, dengan sigap Kevin menangkapnya


"Sayaang..jangan berdiri..kaki ku lemes". Ucap Lily


"Hehehe gemes.."


"Yaudah duduk ya, sini". Ucap Kevin


Kevin duduk dipinggiran bathup. Meraih tangan Lily untuk menuntunnya agar duduk di pangkuannya


Lily pun paham, ia melebarkan kakinya dan duduk sambil memasukkan senjata tumpul suaminya kedalam sarang miliknya


"Ahh" keduanya men de sah saat milik mereka saling menyatu, sangat hangat mereka rasakan


Lily mulai menggerakkan tubuhnya, sementara Kevin mengunci pinggang Lily dengan pelukannya


Setengah jam 'bermain', mereka sama-sama sudah mencapai puncaknya, mereka segera membasuh tubuh dan bersiap untuk sarapan sebelum meninggalkan hotel.


****


Di perjalanan pulang kerumah,


"Oh iya om Al tau ngga kita pulang? Nanti dia malah nunggu di hotel". Ucap Lily


"Tau, semalem aku suruh om Al langsung kerumah, gak usah ke hotel". Ucap Kevin


"Oh...semalem Raffa di apain?". Tanya Lily


"Dipukul aja, kenapa? Khawatir ya?". Tanya Kevin


"Ih ngapain khawatir sama orang jahat". Jawab Lily


"Hahaha bercanda kali..."


"Oh iya berhenti dulu ya sebentar, aku mau beli minum". Ucap Kevin sambil menghentikan mobilnya di sebelah minimarket


"Yaudah". Ucap Lily


"Kamu mau nitip apa?". Tanya Kevin


"Minuman juga, yang rasa coklat". Ucap Lily


"Yaudah tunggu ya, jangan kemana-mana". Ucap Kevin


"Iya sayang". Ucap Lily


Kevin segera turun dari mobilnya dan memasuki minimarket, sementara Lily menunggunya didalam mobil sambil memainkan ponselnya, mengirim pesan kepada Adel, sahabatnya


^^^"Del, Keisha rewel ngga?".^^^


Tidak sampai 1 menit Adel membalas pesannya


"Engga, paling rewel kalo minta susu aja".


^^^"Maaf ya ngerepotin, gue lagi dijalan mau balik".^^^


"Santai aja kali, hati-hati".


tok tok *suara ketukan kaca mobil


Lily menoleh kesamping, ia melihat sosok pria yang berdiri di depan pintu mobilnya, Lily segera menurunkan kaca mobilnya untuk menanyakan keperluan dari pria tersebut


"Ada apa pak?". Tanya Lily


"Hmmpph"


Lily pingsan, pria tersebut dengan cepat membekap Lily menggunakan sapu tangan yang sudah diberi obat bius


Ponsel yang berada di genggaman Lily terjatuh di dekat pedal kaki dibawah kemudi, pria itu segera membuka pintu mobil dan melepas seatbelt kemudian membopong Lily kedalam mobilnya


Beberapa pedagang kaki lima di sekitar hanya berteriak meminta tolong saat melihat Lily dibawa masuk kedalam mobil, tidak ada yang berani mencegahnya


Sampai akhirnya Kevin keluar dari minimarket, para pedagang itu berlari menghampiri Kevin untuk memberitahu kalau Lily sudah dibawa pergi oleh seorang pria


"Mas, perempuan yang didalam mobil mas-"


"Kenapa pak?!".


"Istri saya kemana pak?!". Tanya Kevin


"Dibawa orang mas, istri mas pingsan dan dibawa ke mobil lain". Ucap salah satu pedagang


"Ya Allah, bapak-bapak gak ada yang cegah?!". Ucap Kevin


"Maaf mas, kita gak ada yang berani, mereka kelompok orang berbadan besar mas".


"Hah. Mereka kearah mana pak, bapak ada yang liat plat nomernya? Atau mereka pake mobil apa?".


"Waduh, saya gak sempet lihat mas"


"Saya juga mas"


"Setau saya jenis mobil matic berwarna hitam mas, kearah sana". Ucap salah satu pedagang sambil menunjuk kesebuah arah


"Mobil matic warna hitam, yaudah makasih pak".


Kevin buru-buru memasuki mobilnya dan mengejar mobil yang dimaksud, walaupun kemungkinan bertemu dengan mobil itu sangat kecil, namun Kevin ingin mencoba mencarinya terlebih dahulu.


****


Disisi lain


Lily baru tersadar dari pingsannya saat ia sudah berada di sebuah gudang, sepertinya ini gudang di sebuah rumah, terlihat dari kondisi gudang yang bersih dan barang-barang disana juga tersusun rapih


"Arghh"


Lily merasakan kepalanya sangat sakit dan pusing, ia ingin memegang kepalanya namun tangannya terikat, kakinya pun juga


"Diiket...."


"Gue di culik?? Aduh gak ada hp lagi..."


"Tapi ini dimana ya".


Ceklek, pintu gudang terbuka


Sesosok wanita setengah paru baya masuk menghampiri Lily


"Tante...."


"Tante Farah".


Lily panik, ternyata Farah lah yang telah menculiknya, dan sepertinya ini adalah gudang dirumah Raffa


"Tante...kok tante nyulik Lily?".


"Perempuan pembawa sial! Apa yang kamu lakukan ke Raffa!!!". Ucap Farah sambil berteriak


"Lily gak lakuin apa-apa ke Raffa".


"Terus? Kenapa Raffa babak belur?! Orang suruhannya Raffa bilang kalau itu ulah suami kamu!!".


"Suami Lily kaya gitu ada alasannya tante".


"Apa?!! Kamu harus rasain apa yang dirasakan sama Raffa! Tante balas perbuatan suami kamu!".


PLAK


PLAK


Farah melayangkan dua kali tamparannya di pipi Lily, Lily tidak bisa berkutik karna tangannya terikat, ia hanya pasrah menerima perlakuan dari Farah


"Hiks hiks, tante..."


"Lily minta maaf buat sikap suami Lily, tolong lepasin Lily".


"Lepasin kamu? Kamu harus menderita seperti apa yang Raffa rasakan..."


"Dasar perempuan pembawa sial! Selalu bawa musibah buat Raffa!!!".


"Tante, Raffa udah jahat ke Lily, suami Lily marah karna ulah Raffa!".


"Raffa jahat?!! Yang jahat itu kamu!!".


Lily mencoba menyeret tubuhnya ke samping untuk menjauhi Farah, tapi Farah mencengkram rambutnya dengan kencang


"Seumur hidup saya, kamu orang yang paling saya benci!! Ayah kamu! Ibu kamu! Saya benci!!!".


PLAK


"Hikss..hiks..."


"Udah tante, sakit".


"Sakit? Saya akan tunjukkin apa itu sakit". Ucap Farah


Farah melangkahkan kakinya keluar dari gudang, dan kembali memasuki gudang dengan sebuah ikat pinggang di tangannya


"Tante...tante mau apa?". Tanya Lily


"Kamu harus bayar apa yang udah suami kamu lakukan ke anak saya!". Ucap Farah


BUK, Farah memukul punggung Lily menggunakan ikat pinggang tersebut,

__ADS_1


"Aarrghhhh"


"Sakit tante...."


"Udah hiks hiks".


"Ini belum seberapa dibanding penderitaan Raffa!!!".


BUK, Farah kembali memukul Lily


"Arghh"


Lily tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan memohon kepada Farah, walau tubuhnya sudah sangat sakit dan perih


"MAMA!!!!". Raffa berteriak saat memasuki gudang, Raffa langsung mendorong Farah agar menjauh dari Lily


"Sayang, kamu gapapa". Ucap Raffa sambil menangkup wajah Lily


"Cih, apa-apaan kamu..."


"Raffa! Liat kondisi kamu, kamu kaya gini karna ulah dia!!!".


"Ini bukan salah Lily!!!". Ucap Raffa berteriak


"Hikss hikss..."


"Raffa...aku mau pulang". Ucap Lily pada Raffa


"Jangan berani-beraninya kamu lepasin dia!! Mama harus kasih balasan buat dia karna udah bikin kamu kaya gini..."


"Awas!!!". Farah mendorong tubuh Raffa agar menjauh dari Lily dan kembali melayangkan pukulannya


"Mama jangan!!!".


BUK


"Arrghh". Raffa meringis, ikat pinggang itu mengenai tubuhnya saat ia melindungi Lily


"Raffa!! Kamu kenapa ngelindungin dia!!". Ucap Farah berteriak


"Raffa hikss hikss...kamu gapapa?".


"Aku gapapa sayang".


"Sini kamu! Kamu gak usah ikut campur urusan mama!!!". Ucap Farah sambil menarik tangan Raffa


"Engga ma!! Mama keterlaluan, mama gak boleh nyiksa Lily!!!".


"Anak bodoh!! Dia yang bikin kamu kaya gini!!".


"MAMA!!! KELUAR!!". Raffa berteriak pada Farah


Raffa bangun dan mendorong Farah keluar dari gudang sampai jatuh, Raffa pun buru-buru menutup pintu gudang dan menguncinya dari dalam


tok tok tok


"Raffa!! Buka!! Kenapa kamu kunci pintunya!!!".


tok tok tok


"Raffa!! Buka!!!".


"Raffa...mama kamu marah". Ucap Lily


"Gak usah takut sayang, aku akan jagain kamu". Ucap Raffa sambil merapihkan rambut Lily


"Hiks hikss..."


"Raf, tolong lepasin iketan aku". Ucap Lily


"Engga, aku gak mau...."


"Kalo aku lepasin iketan ini kamu akan berusaha kabur, aku gak mau kehilangan kamu". Ucap Raffa


"Kamu sekongkol sama mama kamu buat culik aku?". Tanya Lily


"Jujur aku gak tau kalo mama akan lakuin ini". Ucap Raffa sambil mengusap tangan Lily


"Aku harus pulang, Kevin pasti cemas nyariin aku". Ucap Lily


"Gak bisa, berhenti pikirin suami kamu Ly, inget aku, aku lelaki yang lebih dulu dan lebih lama kamu cintai, bukan suami kamu". Ucap Raffa


"Udah cukup Raf, aku gak mau bahas ini..."


"Tolong lepasin aku". Ucap Lily dengan tatapan memohon


"Aku gak mau kehilangan kamu lagi sayang". Ucap Raffa sambil mengusap bibir Lily, membuat Lily mengalihkan wajahnya


"Lily, kamu cinta pertama dan terakhir aku, aku selamanya mencintai kamu..."


"Kita perjuangin cinta kita lagi ya, aku akan bantu kamu pisah dari suami kamu, kita menikah, kita hidup bahagia". Ucap Raffa


CUP, Raffa melabuhkan kecupannya di kening Lily


"Raffa...tolong lepasin iketan aku, ini sakit banget". Ucap Lily


"Kamu kesakitan sayang?". Tanya Raffa dengan wajah cemasnya


Lily hanya mengangguki ucapan Raffa dengan lemah


"Aku akan lepasin kamu, tapi janji kamu gak akan pergi dari aku". Ucap Raffa


"Gak bisa Raffa, aku harus pulang". Ucap Lily


"Gak mau, aku gak akan biarin kamu ninggalin aku lagi". Ucap Raffa


"Raffa...please....".


"Gak bisa Lily! Kamu harus janji gak akan ninggalin aku!".


Lily menghela nafas, sepertinya ia harus menyetujui ucapan Raffa, setidaknya ikatan pada tangan dan kakinya harus lepas terlebih dahulu, soal rencana selanjutnya akan ia pikirkan lagi


"Iya aku....janji". Ucap Lily dengan pelan dan penuh keraguan


"Serius? Kamu janji gak akan ninggalin aku?". Tanya Raffa dengan senang


"Hmmm, tapi lepasin iketan aku". Ucap Lily


"Iya, iya aku akan lepasin iketannya". Ucap Raffa bersemangat


Raffa segera melepas tali di tangan dan kaki Lily, kemudian memeluk Lily seerat-eratnya


"Makasih sayang, aku yakin kamu masih cinta sama aku, kita memang ditakdirkan buat bersama...."


"Aku yakin kita akan hidup bahagia". Ucap Raffa dengan penuh keyakinan


Lily tidak berkutik, ia sibuk memikirkan gimana caranya keluar dari rumah ini.


***


Disisi lain, sudah satu jam Kevin berkeliling mencari Lily, tetapi hasilnya nihil, bahkan Kevin menghentikan beberapa mobil matic berwarna hitam hanya untuk mengecek keberadaan Lily, tetapi tidak ada. Kevin hanya membuat beberapa pengemudi mobil tersebut marah dan merasa terganggu


"Maaf pak, saya lagi cari istri saya, saya kira ada didalam, sekali lagi saya minta maaf pak". Ucap Kevin


Pengemudi itu tidak menjawab, dan langsung pergi meninggalkan Kevin


"Arghh".


"Kamu kemana sayaaang".


Kevin frustasi, ia bingung harus mencari Lily kemana, informasi dari para pedagang sangat tidak membantu, ia tidak mungkin seharian menghabiskan waktunya untuk menghentikan mobil seperti tadi


Kevin pun kembali memasuki mobilnya dan segera pulang kerumah.


Setibanya dirumah, kondisi disana sudah ramai, ada Anita, Bastian, Devan, kedua sahabatnya dan kedua sahabat Lily.


Mereka sedang berkumpul diruang keluarga untuk menyambut dan memberikan kejutan untuk Lily yang baru berulang tahun,


Kevin melangkahkan kakinya dengan langkah berat, saat tatapannya tertuju pada Keisha, ia langsung menangis


Kevin terduduk lemas di ruang tamu, semua yang mendengar suara tangisan Kevin segera menghampirinya


"Sayang, kamu kenapa?". Tanya Anita sambil mengusap kepala Kevin


Kevin memeluk Anita, tangisannya semakin menjadi-jadi


"Maafin Kevin ma, Lily diculik". Ucap Kevin sambil menangis


"HAH?!". Semua kompak berteriak


"Apa? Diculik?". Tanya Bastian


"Bercanda lu, kak Lily pasti ngumpet kan diluar?". Tanya Rian


Rian melangkahkan kakinya kedepan rumah, celingukan mencari keberadaan Lily


"Gue serius! Orang-orang ngeliat Lily pingsan dan dibawa ke mobil". Ucap Kevin


"Ya Tuhan Lily...Del...Lily diculik". Hana berhambur memeluk Adel, mereka ikut menangis


Devan menghampiri Kevin, ia menarik kerah baju Kevin dengan kencang


"Gobl*k!! Kenapa lu gak bisa jagain Lily!! Lu gak becus!!". Ucap Devan


"Bang udah bang, tenang dulu". Ucap Tommy sambil menjauhkan Devan dari Kevin


"Maafin gue". Ucap Kevin dengan pelan


"Lily...anak mama....".


"TANTE!". Hana dan Adel kompak berteriak saat melihat Anita pingsan


"Ya Allah mama!". Bastian buru-buru membawa Anita ke kamar tamu


"Gimana ceritanya Lily bisa diculik?". Tanya Tommy


****


Bersambung...


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan hadiahnya~


__ADS_2