
Dirumah Anita
"Hmm wanginya aja udah enak banget ma". Ucap Lily
"Kamu pinter deh bikin kue nya sayang, cepet ngerti". Ucap Anita
"Hehe makasih ya ma udah ngajarin, gak sabar nungguin kue nya jadi trus icip-icip deh".
"Sabaar, 10 menit lagi, nonton Tv dulu sini, biasanya jam segini ada gosip".
"Hehe mama sukanya acara gosip ya".
"Iya, masa suka drakor kaya kamu, gak sesuai umur hahaha..."
"Sini sayang sebelah mama". Ucap Anita sambil menepuk ruang kosong di sebelahnya
Lily pun segera duduk di sebelah Anita
"Maaf nyonya, didepan ada nyonya Winda dan non Silvi". Ucap bi Sari
"Oh iya bi, suruh masuk aja, anterin kesini ya bi". Ucap Anita
"Baik nyonya".
"Mau ngapain ma?". Tanya Lily
"Itu, mamanya Silvi baru pulang dari Paris, mama nitip tas sama sepatu hehe". Jawab Anita
"Ooh".
"Hay jeng". Winda pun datang menghampiri Anita diikuti dengan Silvi di belakangnya
"Haii...". Anita menyambut Winda dengan pelukan dan cipika-cipiki, begitu pun dengan Silvi
"Ayo duduk jeng, Silvi duduk sayang". Ucap Anita
"Iya tante". Ucap Silvi
"Bi, buatin minum ya". Ucap Anita pada bi Sari
"Baik nyonya".
"Aduh maaf ya jeng aku gak ikut kamu ke Paris, gak dibolehin sama suamiku, gak mau ditinggal katanya hehe". Ucap Anita
"Haha iya gapapa jeng, ni aku bawa titipan kamu...."
"Mana sayang?". Tanya Winda pada Silvi
"Ini ma". Silvi memberikan 4 tas belanja pada Winda
"Nah ini jeng, coba kamu liat dulu". Winda memberikan tasnya pada Anita
Anita pun membuka satu persatu tas belanja tersebut
"Hmm sesuai ekspetasi ku, bagus banget...."
"Ini sayang buat kamu". Anita memberikan 2 tas belanjanya pada Lily
"Hah? Buat Lily ma?". Tanya Lily
"Iya, buat mama 2, buat kamu 2. Couple-an hehe". Jawab Anita
"Ya ampun mama, Lily kan gak minta". Ucap Lily
"Tuh jeng, anakku tuh gini, dia gak pernah minta apa-apa ke aku, tapi aku rasanya pengen ngasih terus jeng, apalagi anak cewe, bawaanya pengen beli ini, beli itu yang lucu-lucu". Ucap Anita pada Winda
"Hehe iya sama kok jeng, aku juga gitu ke Silvi". Ucap Winda
"Hadiah buat anak mama yang sebentar lagi mau lahiran". Ucap Anita sambil mengusap tangan Lily
"Makasih ya ma". Ucap Lily
"Sama-sama sayang...gimana bagus kan? Akhirnya kita punya barang couple hihi".
"Iya bagus ma, semua yang mama kasih Lily selalu suka, semuanya bagus".
"Iya dong, harus yang terbaik buat anak mama yang cantik..."
"Oh iya jeng katanya mau liat koleksi tas ku, ayo ikut aku". Ucap Anita pada Winda
"Ayo jeng".
"Mama tinggal dulu ya sayang, kamu ngobrol aja sama Silvi". Ucap Anita pada Lily
"Iya ma".
Anita dan Winda pun pergi menuju ruang walk in closet milik Anita, meninggalkan Lily dan Silvi yang sama-sama terdiam
Ini adalah kali kedua mereka bertemu lagi setelah beberapa bulan yang lalu saat Silvi mencoba mendekati Kevin namun saat itu Anita berhasil menyelesaikan masalah antara mereka
Lily mengalihkan pandangannya pada layar Tv sementara Silvi memainkan ponselnya
"Kevin belum pulang sekolah?". Tanya Silvi
"Belum".
"Emang lu kapan lahiran?".
"2 mingguan lagi".
Lily menjawab tanpa memandang ke arah Silvi, Silvi pun kesal dan menatap Lily dengan tatapan sinis
"Males banget, mending gue tinggalin".
Lily bangun dan berjalan kearah kolam renang, lebih baik ia habiskan waktunya untuk berjalan santai keliling kolam renang,
Meskipun saat USG terakhir dokter mengatakan kalau posisi kepala sang bayi sudah masuk panggul dan pas sesuai dengan posisinya, Lily tetap rutin melakukan jalan santai itung-itung latihan mengatur pernafasan
"Sambil nunggu papa pulang kita jalan-jalan ya de".
"Lu itu beruntung ya". Ucap Silvi saat menghampiri Lily
Lily menoleh kearah Silvi yang berada di belakangnya,
"Kenapa?". Tanya Lily
__ADS_1
"Ya beruntung, lu bisa nikah sama Kevin dan sekarang hamil anaknya Kevin".
"Ya trus kenapa? Masalah buat lu?". Tanya Lily
Lily membalikkan badannya dan kembali melangkahkan kakinya
Bruk
"Arghh..Silvi"
Lily meringis kesakitan sambil memegangi perutnya saat Silvi mendorongnya sampai ia tersungkur tepat ke tepi kolam renang
"Aarghh sakiiitt"
"Haha emang enak?".
"Sil...tolong....bangunin gue arrghhh..sakiittt"
"Sini gue bangunin".
Silvi membangunkan Lily dan membawanya ke arah kursi panjang, namun Silvi kembali mendorong Lily ke tembok, dengan posisi perut Lily yang menghantam tepat di ke tembok
"Aaaarghhhh..."
"Maamaa....tolong...Lily".
"Haha tante Anita gak bakal denger". Ucap Silvi
"Sini".
Silvi membalikkan tubuh Lily agar berhadapannya dengannya, ia menjambak rambut Lily dengan kencang
"Lu..kenapa..Sil..lepasin..sakit".
"Sakit? Baru kaya gini sakit? Dasar cewek lemah, pantesan Kevin takluk sama lu, lu pake kelemahan lu buat ngelabuin Kevin..."
"Oh ya gue mau nanya, gimana sih ceritanya lu bisa jadi istrinya Kevin? Apa lu jebak dia biar mau nikah sama lu?..."
"Jawab!".
Silvi berteriak sambil memperkencang jambakannya
"Sakiitt Silvi..sakit".
Lily berusaha melepaskan tangan Silvi namun gagal, akhirnya ia mencakar lengan Silvi sampai Silvi menjerit dan melepaskan tangannya
"Sakit Lily!".
Lily segera pergi dari posisinya namun Silvi kembali mendorong tubuhnya kedua kali kearah tembok
"Aaarghhh".
Kali ini Lily terduduk lemas, ia merasakan perutnya benar-benar sakit luar biasa
Ia melihat ada darah diantara sela-sela pahanya
"Astagfirullah, non Lily".
Bi Sari terkejut melihat Lily yang sudah terkulai lemas dibawah
"Lily kenapa bi?". Tanya Kevin sambil berlari kearah kolam renang
"Kevin?". Ucap Silvi
Akhirnya Kevin pulang, Lily pun bernafas lega
"Ya Allah sayang, kamu kenapa?". Tanya Kevin
"Non Lily didorong sama non Silvi den". Ucap bi Sari
"MAMAAAA!!! MAMAAAA!!!"
Kevin berteriak sekencang mungkin hingga Anita datang menghampirinya
"Ya Allah Lily kenapa sayang.. ayo kita bawa kerumah sakit, Lily ngeluarin darah". Ucap Anita
"Lu tunggu balasan dari gue". Ucap Kevin pada Silvi
Tanpa berlama-lama Kevin membopong Lily ke mobilnya dan membawanya kerumah sakit
"Kamu ngapain Lily Sil?". Tanya Winda
"Gak ma, gak Silvi apa-apain". Jawab Silvi
"Bohong, saya liat dari atas kalo non Silvi mendorong non Lily ke tembok, dan pas saya sampai sini non Lily sudah terjatuh...."
"Saya akan laporin ini ke nyonya dan tuan". Ucap bi Sari
Silvi pun geram mendengar ucapan bi Sari, ia mengepalkan kedua tangannya dan pergi meninggalkan rumah Anita
****
"Maaa...sakiiittt"
"Sabar ya... bentar lagi kita nyampe..."
"Cepetan sayang". Ucap Anita pada Kevin
"Iya ma, ini macet". Ucap Kevin
"Lily gak kuat ma...gak kuat".
"Tahan ya sayang, sebentar lagi".
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang terasa sangat panjang, mereka pun tiba dirumah sakit, Lily pun segera dibawa ke UGD
Kevin dan Anita hanya menunggu di depan ruangan dengan rasa khawatir
Ceklek, pintu kamar UGD pun terbuka, terlihat dokter keluar dan menghampiri Kevin dan Anita
"Maaf apa disini ada suami dari pasien?".
"Saya, saya suaminya dok".
Dokter pun memasang wajah kebingungan, sepertinya ia heran melihat sosok suami yang masih berpakaian seragam SMA
__ADS_1
"Emm begini pak..mas...bayi dalam kandungan istri anda harus segera dikeluarkan, karna istri anda mengalami pendarahan dan baru saja pecah ketuban, kami akan segera melakukan proses persalinan".
"Saya boleh masuk dok?". Tanya Kevin
"Boleh, silahkan mas".
"Kevin masuk ya ma".
"Iya sayang".
Kevin pun masuk kedalam mengikuti dokter tersebut, ia segera menghampiri Lily yang sedang terbaring lemah dengan kondisi kedua paha yang terbuka lebar,
"Sayang tenang ya..kamu pasti bisa". Ucap Kevin
Kevin menggenggam tangan Lily dengan erat sambil mengusap-usap kepalanya
"Aku takut".
"Jangan takut, ada aku".
"Ayo mba, coba atur nafasnya dulu ya, bukaannya udah lengkap, kepala dedenya juga udah keliatan". Ucap bu dokter
Dokter pun mulai memakai sarung tangannya dan sudah berhadapan dengan mulut rahim yang siap mengeluarkan bayi mungil
"Tarik nafas yang dalam lalu mengejan yang kuat ya mbak".
Lily pun mengikuti arahan dokter dan mulai mengejan sekuat tenaga, sementara Kevin berdoa dalam hati sambil terus menggenggam tangan Lily
"Ayo sayang, kamu bisa".
"Aarghhhh"
"Haaah"
"Haaaah"
Lily mengatur nafasnya dan kembali mengejan
"Aarghhh".
"Haaaah"
"Gak....kuat".
"Kuat mbak kuat, mbak bisa..ayo ulangi lagi". Ucap bu dokter
"Bisa sayang". Kevin mencoba meyakinkan dan menguatkan Lily
Lily mulai kembali mengejan sekuat mungkin, dengan keringat yang sudah membasahi dahinya, Lily berusaha mengeluarkan sang bayi dari mulut rahimnya
"Jangan berhenti, ayo mbak.. ujung kepalanya sudah keluar mbak". Ucap bu dokter
Akhirnya dengan sisa tenaga yang Lily punya, Lily berusaha mengejan dengan sekali hentakkan hingga sang bayi berhasil keluar dengan selamat
"Oeekk oeekk"
Tangisan bayi pun memenuhi seisi ruang UGD, Lily Kevin dan dokter kompak mengucap rasa syukur
Hingga Kevin tak kuasa menahan air mata bahagianya sambil mengecup kening Lily cukup lama
"Makasih sayang...makasih". Ucap Kevin
"Hmm". Lily hanya mengangguk lemah sambil tersenyum
"Mas nya silahkan tunggu diluar ya, kami akan bersihkan sisa persalinan dan memandikan bayinya, setelah itu mbaknya di pindahkan ke kamar rawat". ucap bu dokter
"Iya dok...."
"Aku keluar dulu ya sayang".
CUP, sekali lagi Kevin mencium kening istri mungilnya sebelum meninggalkan ruangan.
Kevin pun keluar dari ruang UGD sementara dokter kembali melakukan tindakan, memotong ari-ari dan menjahit area inti Lily agar kembali seperti semula.
"Alhamdulillah cucu mama udah lahir, selamat ya sayang". Ucap Anita sambil memeluk Kevin
"Selamat ya Vin". ucap Devan
"Thanks bang".
"Selamat ya Vin.. aduh gak sabar mau liat ponakan gue. Ucap Hana
"Ponakan gue". Ucap Rian
"Dih apaan sih, ponakan gue". Ucap Adel
"Bukan, yang bener tu ponakan gue". Ucap Tommy
"Udah udah, ponakan kalian semua". Ucap Bastian
"Hahaha jadi rebutan". Ucap Anita
Rian dan Tommy menghampiri Kevin kemudian saling berpelukan
"Selamat bro, lu resmi jadi papa muda". Ucap Rian
"Haha thanks".
"Selamat Vin, gue ikut seneng". ucap Tommy
"Iya Tom, thanks udah dateng".
"Oh iya Lily kapan dipindahinnya sayang?". Tanya Anita
"Sebentar lagi ma, tungguin aja disini". jawab Kevin
Mereka semua kembali duduk dan menunggu Lily dipindahkan ke kamar rawat.
****
Bersambung...
.
.
__ADS_1
Fyuuhhh akhirnya sampe juga di bab ini. Tetap nantikan bab selanjutnya sampai selesai ya~
Thank you