Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
99. Gara-gara Tamu tak di Undang


__ADS_3

Melangkah menghampiri istrinya, Rapa yang napasnya masih sedikit tak beraturan itu duduk di samping sang istri dan langsung memeluknya, seraya mengadukan rasa lelah akibat main kejar-kejarannya dengan sang mertua. Meskipun sudah tua, tapi Rapa harus akui bahwa kekuatan papi mertuanya tidak bisa di remehkan.


“Lo ngapain kesini?” tanya Rapa saat Alvin kembali dari dapur dengan nampan berisi beberapa gelas jus jeruk dan satu toples cemilan.


“Jenguk istri muda gue lah, ngapain lagi?” jawab Alvin dengan tenang dan duduk di antara Freya dan Cleona, tangannya ia rentangkan di kepala sofa seolah merangkul kedua wanita kesayangannya yang sama-sama tengah hamil. Dan tentu saja itu membuat Rapa kebakaran jenggot, menepis tangan mantan kakak kelasnya untuk menyingkir dari Cleona.


“Kayaknya papi lebih setuju lo jadi mantu gue deh Al dari pada Si Rapa.” Leo yang duduk selonjoran di lantai buka suara, mengabaikan tatapan protes sang menantu. “Queen, mau gak jadi istri mudanya Si Alvin?” tanya Leo beralih pada anaknya.


“Gak ada!" sahut Rapa cepat. "Papi mah sembarangan aja kalau bicara. Gak suka abang!” ucapnya dengan cemberut. Membuat Leo melemparkan sendal jepit yang di kenakannya kearah Rapa, seraya bergidik jijik.


“Mimpi apa gue punya mantu yang najisinnya kayak lo,” Leo menggeleng-gelengkan kepala. Bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.


“Abang juga mimpi buruk punya mertua semenyebalkan papi,” gumam Rapa sepelan mungkin, agar pria tua jomblo itu tidak mendengarnya. Namun tetap saja anaknya berada dekat jadi, cubitan panas tetap Rapa terima.


“Gitu-gitu juga, itu papinya Queen loh, Bang.”


“Iya makanya, abang gak berani lempar papi ke laut untuk jadi makanan paus, karena dia papinya kamu. Coba kalau bukan, gak akan deh abang mikir-mikir lagi.” kembali cubitan Cleona berikan, membuat Rapa meringis dan selanjutnya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri, tidak peduli walau kedua tamu yang berada di sofa yang sama mengernyit geli sekaligus jijik.


“Queen,” panggil Rapa berbisik, dan hanya sebuah deheman kecil yang menjadi jawaban Cleona. “I love you.” Hanya tiga kata sederhana, tapi sudah mampu membuat wajah Cleona memerah bak kepiting rebus.

__ADS_1


“Masih gue liatin,” ucap Alvin dengan nada datarnya. Cleona yang sadar akan keberadaan Alvin pun segera melepaskan Rapa yang masih memeluknya, menatap Alvin dengan cengengesan dan menggaruk tengkuknya merasa bersalah karena telah mengabaikan tamunya. “Cuma di rumah ini gue jadi tamu tapi di anggurin, di suruh bikin minum sendiri pula!” lanjut Alvin mencebikan bibirnya.


“Gak usah manja lo, Vin. Lagian lo tamu gak di undang jadi, jangan banyak protes,” delik Rapa, kembali memeluk istrinya. Tidak peduli meski wanita itu menolak.


“Kak Freya sama kak Alvin kemana aja?” tanya Cleona mengalihkan agar tak lagi ada perdebatan yang berlanjut antara suami dan sahabatnya.


“Sibuk kerja gue, sibuk ngurus ini bocah juga,” kata Alvin menunjuk istrinya dengan dagu, tidak lupa delikan tajam ikut di layangkan.


“Jadi lo nyesel ngurusin gue?” balas Freya sengit. “Lupa siapa yang udah bikin gue bunting?” lanjutnya dengan galak. Alvin yang sudah paham akan kemana kelanjutannya segera memberikan kecupan di bibir ranum istrinya.


“Aku cuma becanda, Bae. Aku kan cinta kamu, mana mungkin aku nyesel.” Kali ini kecupan Alvin berikan pada pipi berisi istrinya itu, yang sejak hamil semakin bertambah, mengalahkan tembamnya kue bakpau.


“Kalian berdua kenapa sih masih aja suka berantem? Heran gue, anak udah mau berojol juga masih aja kayak ayam sama ular,” Cleona menggelangkan kepala.


“Ya abis gimana Cle, kakak lo satu ini emang doyan banget ngajak ribut.”


“Apa lagi ributnya di ranjang, ya gak, Bae?” kata Alvin menaik turunkan alisnya yang kemudian mendapat jitakan keras dari Freya dan Cleona atas ucapan mesumnya itu.


“Emang kapan lo lahiran, Fre?” kali ini Rapa yang bersuara. Calon ayah si kembar itu sepertinya tengah mulai berada dalam mode kalem saat ini. Terlihat dari sorot matanya yang tidak memperlihatkan binar menyebalkan yang biasanya selalu menjadi andalan laki-laki itu.

__ADS_1


“Kata dokter sih dua mingguan lagi,” jawab Freya seraya mengelus perutnya yang hampir sama besar dengan perut Cleona, hanya saja bedanya usia kandungan Cleona masih berusia 7 bulan, sementara Freya sudah saatnya keluar. Tentu saja, karena Cleona mengandung dua bayi sekaligus.


“Terus kenapa malah jalan-jalan, bukannya diam di rumah?”


“Siapa yang bilang gue jalan-jalan? Ini bukannya diam di rumah?” menaikan sebelah alisnya Freya berkata.


“Iya juga sih,” kata Cleona dan Rapa mengangguk bersamaan. “Eh, tapi kan ini bukan rumah lo. Maksud gue di perjalanan gak kenapa-napa? Rumah kalian kan lumayan jauh,” dengan cepat Cleona meralat.


“Kenapa emang? Lo gak senang gue datang? Oke kalau gitu, gue pulang!”


“Bukan gitu maksud gue … ah bodo ah gimana lo aja. Sebal gue!” dengus Cleona kesal, membuat kedua tamu itu tertawa.


Obrolan yang menyenangkan kembali berlanjut, dengan Cleona dan Freya yang membahas soal kehamilan, dan kedua laki-laki membahas soal pekerjaan walau sesekali ikut nimbrung pada obrolan kedua wanita hamil itu, apalagi saat masa-masa ngidam ikut dalam pembahasan. Tentu saja Rapa paling semangat mengeluarkan unek-uneknya akibat ngidam yang menyebalkan beberapa waktu lalu.


Dan Alvin yang mendengarkan benar-benar tertawa puas, seolah derita laki-laki itu adalah kebahagiaannya. Bukan kah itu menyebalkan? Rapa tak lupa menyumpahi mantan kakak kelasnya itu untuk merasakan apa yang pernah di rasakannya, saat nanti Freya kembali hamil.


Berbagi pengalaman hamil dan mengidam itu menyenangkan, apa lagi untuk mereka yang baru saja melewati pase itu untuk pertama kalinya. Keempatnya sampai lupa waktu, dan begitu sadar hari sudah menunjukan gelapnya. Rapa yang tadi berniat membawa istrinya membeli perlengkapan bayi terpaksa batal gara-gara tamu tak di undang itu.


Sebenarnya memang bukan salah tamunya, karena dirinya pun menikmati obrolan itu, tapi Rapa ya tetap Rapa yang tidak ingin salah, tanpa menyalahkan orang lain.

__ADS_1


__ADS_2