Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
76. Wedding Clara-Birma #1


__ADS_3

"Queen, gue deg-degan masa!” ujar Clara meletakan tangannya di dada, seolah menahan jantungnya yang kini berdebar hebat agar tidak melompat dari tempatnya.


“Gue gak kaget kalau dengar orang hidup deg-degan, kalau yang deg-degannya orang mati, baru deh gue pingsan.”


Dengusan pelan Clara berikan, kesal dengan sang kakak ipar yang bukannya menenangkan malah membuatnya sebal. Tidak kah perempuan itu paham dengan perasaannya sekarang? Atau saat dia menikah tidak merasakan apa yang ia rasakan?


“Atu ayo keluar, ijab kobulnya sudah selesai di lakukan.” Bunda Lyra yang tiba-tiba masuk dan mengatakan bahwa ijab kobul sudah selesai membuat Clara terkejut dan menaikan sebelah alisnya heran. Siapa yang laki-laki itu nikahi, sedangkan ia masih berada di tempat persembunyiannya?


“Kamu kenapa malah ngelamun, Dek? Ayo hampirin suami kamu,”


“Yang Birma nikahin siapa, Bun? Atu masih di sini, kenapa ijab kobulnya malah udah selesai?”


Satu sentilan Cleona berikan pada kening adik ipar yang tiba-tiba berubah bodoh itu. Cleona gemas, dan langsung mengarahkan pengantin itu agar menatap layar 24 inc yang menayangkan keadaan di ballroom tempat acara di selenggarakan. Namun Clara tetap saja masih kebingungan dengan maksud dari apa yang di perlihatkan kakak iparnya, sukses membuat bunda Lyra serta Cleona tepuk jidat.


“Dari tadi kamu ngapain aja sebenarnya, Dek sampai gak sadar kalau Birma sudah melakukan ijab kobul? Kamu gak nonton di televisi itu?”


“Nonton sekilas, Atu kira itu nikahan orang lain makanya gak di simak sampai habis, keburu jantungnya jumpalitan, Atu gak kuat!”


“Astaga, apa salah gue punya anak model gini!” Lyra menggeleng-gelengkan kepala. “Udah lah biar nanti kamu lihat siaran ulangnya aja. Sekarang ayo hampirin suami kamu dulu, yang lain udah nunggu.”

__ADS_1


“Tapi tadi Birma gak salah jabat tangan ayah kan, Bun? Yang dia jabat benar-benar tangan ayah Pandu ‘kan bukan ayah orang lain?”


“Bodo amat Ratu!” jengah Cleona, mengampit tangan sebelah kiri Clara kemudian membawa adik iparnya itu ke luar dari persembunyian untuk bertemu dengan dengan mempelai pria yang sudah sejak tadi menunggu.


Langkah pelan Clara yang di ampit oleh kedua orang tersayangnya cukup pelan dan anggun, mengundang orang-orang menatap ketiganya namun lebih kepada sang pengantin yang hari ini tampil memukau dengan gaun mengembang indah berwarna putih gading.


“Ijab kobulnya udah selesai, Bir?” suara pertama yang Clara keluarkan begitu sudah duduk di samping sang suami.


“Udah, emang gak lihat tayangannya di televisi ruang ganti kamu?” Clara menggeleng dan di susul dengan cengirannya.


“Kok bisa?” kening Birma mengerut.


Pak penghulu memberikan pengarahan-pengarahan untuk kedua mempelai mendatangani berkas-berkas nikah mereka, membaca doa kemudian meminta pengantin untuk mencium tangan dan kening. Kali ini tidak ada kejadian tawar menawar mencium seperti yang di lakukan Rapa sebulan yang lalu. Keduanya mengikuti intruksi si penghulu sebelum kemudian di lanjutkan pada acara sungkeman pada kedua keluarga yang saat ini sudah duduk di kursi yang di sediakan di depan pelaminan.


Ibu, tahun demi tahun berlalu engkau terus mendidik kami dengan penuh cinta dan kasih sayang. Hingga akhirnya hari ini tiba. Hari dimana kami akan melangkah menjadi seseorang yang mandiri dalam wadah pernikahan yang baru saja kami mulai.


Ibu, mohon maaf jika selama ini banyak sekali hal yang menyakiti hati ibu atas kenakalan dan tingkah laku kami yang mungkin membuat ibu lelah. Untaian rasa terima kasih tak mungkin bisa membalas semua hal yang telah ibu berikan dan ibu lakukan terhadap kami. Jasamu tak akan pernah bisa kami balas. Namun, ibu lembaran baru akan segera kami ukir, bukalah pintu maafmu ibu agar kami bisa melangkah dengan penuh kebahagiaan.


Kehidupan baru akan segera kamu tapaki. Doakan kami ibu, agar bisa menjadi pasangan yang senantiasa penuh keberkahan. Doakan kami agar bisa menggapai pernikahan bahagia seperti yang telah ibu bangun. Sungguh doa dan nasihat darimu adalah harta yang akan selalu kami tunggu di kala kami menjalankan bahtera rumah tangga.

__ADS_1


Ibu, terima kasih untuk semuanya. Doakan kami agar bisa menjadi pasangan yang di berkahi Tuhan.


Air mata mengiringi setiap kata yang di lontarkan pemandu acara saat Birma dan Clara tengah bersimpuh di depan ibu mereka masing-masing. Iringan musik yang begitu lembut menyentuh setiap kata yang di ucapkan seperti berpuisi, menyesakan dan begitu tepat mengenai perasaan, membuat isakan keluar dari pasangan ibu dan anak itu. Tidak jauh berbeda dengan Cleona yang saat ini sudah menangis tersendu di dalam pelukan sang suami.


Kedua pengantin itu kemudian di minta untuk berpindah, duduk bersimpuh di dapan ayah mereka masing-masing. Pandu, sudah lebih dulu meneteskan air matanya meski si pembaca naskah belum mengucapkan apapun.


Baru kali ini Clara melihat ayahnya menangis padahal begitu du pernikahan sang abang ayahnya itu hanya menampilkan wajah sedihnya tanpa ada setitik pun air mata yang ke luar, berbeda dengan sang papi yang justru tanpa malu mengeluarkan air matanya di hadapan banyak orang. Sebegitu sulitnyakan melepaskan anak perempuan? Clara terharu, dan berhambur memeluk pinggang sang ayah yang saat ini menangis sambil mengecup puncak kepalanya. Dan naskah mulai kembali di bacakan.


Ayah, terima kasih untuk semua pengorbananmu selama ini, terima kasih atas pelindunganmu yang telah engkau lakukan sejak kami kecil hingga dewasa kini. Terima kasih ayah, terima kasih atas apa yang sudah engkau berikan untuk kami.


Hari ini kami bersimpuh di hadapanmu untuk memohon restu mengambil alih tanggung jawabmu membina keluarga yang akan kami bangun. Ayah, walau apapun yang kami lakukan tidak akan pernah dapat mengobati penat lelahmu, tidak akan pernah dapat membayar cucuran keringatmu, tidak akan pernah dapat menggantikan siang dan malammu ketika engkau harus menafkahi kami sehingga kami bisa tumbuh dewasa seperti sekarang ini.


Ayah, memang tidak setiap saat engkau memberikan belaian, pelukan juga genggaman tangan, tapi engkau selalu khawatirkan kami, berjuang setengah mati untuk mewujudkan pinta kami. Kini, saat kami belum membayar jasa-jasamu, kami harus kembali merepotkanmu untuk hadir dalam pernikahan kami.


Ayah, bekali kami tangan kokoh seperti tanganmu yang memberi tanpa pamrih dan hati tegar seperti hatimu yang menumbuhkan tekad baja tak kenal lelah. Kami bersyukur memiliki darahmu mengalir di tubuh kami. Ayah, semoga air mata haru yang engkau titiskan hari ini salah ridho Tuhan untuk kami. Satu tugas besar yang Tuhan berikan untukmu pun telah kau tunaikan dengan menikahkan kami. Terima kasih ayah, kami akan selalu mengingat nasehat-nasehatmu dan akan kami teruskan kepada anak-anak kami kelak.


Sepertinya bukan hanya kedua mempelai dan kedua orang tua mereka saja yang menangis haru pada hari yang sakral ini, nyatanya beberapa orang yang duduk di kursi tamu pun tak sedikit yang menyeka air mata mereka, termasuk Cleona, Rapa, Leo, Laura dan sahabat-sahaba mereka yang duduk di barisan kursi kedua.


“Kenapa air mata gue gak juga mau berhenti mengalir? Siapa sih yang naro bawang di pangkuan orang tua sama mertua gue? Perih astaga!” teriak hati Clara bagitu acara sungkeman selesai di langsungkan.

__ADS_1


__ADS_2