
"Queen, kantin yuk!" ajak Rapa begitu tiba di kelas sang kekasih.
“Lo bisa gak sih sehari aja gak jemput Cleo untuk ke kantin, Bang. Kita sebagai kaum jomblo iri tahu gak?!” ujar Alisya dengan bibir yang sudah di majukannya beberapa senti.
“Makanya cari pacar biar gak iri mulu,” cibir Cleona yang sudah bangkit dari duduknya dan menghampiri Rapa.
“Nino naksir katanya, Sya, mau gak? Nanti Abang comblangin,”
“Ih, gak mau, Lisya maunya kak Akbar aja, lebih imut. Kan cocok kalau sama Alisya yang manis ini,” kedipan mata genit wanita centil itu berikan, membuat Cleona dengan cepat menarik Rapa keluar dari kelas, karena tidak ingin penyakit cacingan temannya menular.
“Teman kamu itu masih aja gak berubah,” ucap Rapa yang sejak tadi masih saja tertawa.
“Kalau dia berubah yang ada nanti dunia kiamat, Bang.”
Dan ucapan Cleona barusan membuat tawa Rapa semakin keras, sampai beberapa orang di koridor meliriknya. Tatapan kagum, juga geli Rapa dapatkan, tapi tidak sama sekali ia hiraukan, karena gadis cantik di depannya pasti akan berakhir dengan cemberut.
“Hai, Kak Rapa.”
“Kak Rapa makin ganteng aja."
“Senyumnya manis banget sih, Kak!"
“Ya Tuhan, gue meleleh lihat tawanya. Manis banget!"
Sapaan, pujian juga kedipan genit beberapa orang perempuan berikan begitu Rapa melintas di depan mereka, membuat Cleona mendengus kesal dan tidak jarang melayangkan tatapan tajam yang sayangnya tidak di tanggapi, mereka seakan-akan menganggap Cleona tidak ada di samping Rapa.
“Gak pada lihat apa ya, yang di samping ini pacarnya. Genit banget sama cowok orang!” dengus Cleona menghentakan kakinya.
“Cie cemburu,” Rapa mencubit gemas pipi bulat kekasihnya itu.
“Au ah, Abang nyebelin. Bukannya di marahin, malah di diemin gitu. Ish, bete!"
Tawa Rapa pecah begitu kekesalan Cleona keluar. Memang melihat kekasihnya cemburu seperti ini adalah kebahagiaan bagi Rapa, ia jadi merasa amat di cintai oleh gadis di sampingnya ini. Coba saja dari dulu Cleona mengutarakan langsung rasa cemburunya seperti sekarang, sudah dapat di pastikan bahwa mereka akan pacaran sejak lama.
“Abang gemas kalau lihat Queen cemburu gini, bikin jatuh cinta terus!"
“Di buat cemburu setiap saat juga gak baik, Bang, nanti Queen malah milih pergi. Emang Abang mau?”
__ADS_1
“Queen gak akan pernah Abang izinkan untuk pergi, karena tempat Queen, hanya ada di sisi Abang.”
“Aaaa … Adek baper Bang,” ucap seseorang dari belakang mereka, membuat Rapa juga Cleona menoleh, dan mendapati Clara bersama teman-temannya yang saat ini tertawa.
“Geli gue denger ucapan lo, Rap,” Clara melayangkan pukulan kecil di tangan kakaknya itu.
“Ish, Ratu! Ganggu aja deh,” dengus Rapa kesal.
“Tanpa gue, hidup lo gak akan menyenangkan, Rap."
“Senang-senang aja gue mah selagi ada Queen,” kata Rapa mengedipkan sebelah matanya pada Cleona.
“Ih, Abang udah keturan cacingannya, Alisya,” Cleona berucap dengan nada ngeri dan sedikit menjauh dari kekasihnya itu.
“Sialan lo, Cle ngatain gue cacingan!”
“Yang suka kedip-kedip gitu 'kan emang cacingan, karena yang normal itu ya kayak gue, kalem, anggun dan cantik. Ga…”
Pletak. Satu geplakan mendarat di kepala Cleona. “Lo emang kalem saat di sekolah, tapi kalau udah nyampe rumah gilanya sebelas dua belas sama bapak lo!”
“Lo emang cantik, Cle, tapi sayang bukan cewek gue!” kata seseorang yang baru saja duduk bergabung dengan mereka.
“Kak Alvin ngagetin deh, tiba-tiba main nonghol aja,”
“Aish, ada aja perasaan yang ganggu!” dengus Rapa kesal, kemudian bangkit dari duduknya. “Ayo, Queen pindah tempat,” ucap Rapa meraih tangan Cleona agar ikut dengannya.
Lebih dulu Rapa membeli beberapa cemilan, roti juga air mineral, lalu mengajak Cleona keluar dari kantin meninggalkan yang lainnya. Melangkah, menaiki satu persatu undakan tangga. Cleona sendiri tidak banyak bicara, memilih untuk mengikuti kekasihnya itu yang sudah dapat ia tebak bahwa laki-laki itu akan membawanya ke atap sekolah. Tempat favoritnya belakangan ini, karena menurut Rapa disini lah mereka bisa tenang berduaan.
“Malam minggu nanti kita kencan yuk, Queen?” Rapa menoleh pada gadis di sampingnya.
“Izin sama papi aja, Bang. Kalau papi izinin baru deh Queen setuju.”
“Ah, pasti harus ada perdebatan dulu. Emang deh gak pernah mudah kalau sama Bapak tua yang satu itu, apa-apa selalu di buat ribet. Padahal cuma kata ‘iya’ yang Abang butuhin.”
Cleona tentu saja tertawa mendengar keluhan Rapa. Memang bukan sekali dua kali Rapa beradu mulut dengan sang papi, bahkan mungkin bisa di katakan tiap hari.
Setiap kali ingin mengajak Cleona pergi, segala omelan, cibiran juga hujatan selalu Leo berikan terlebih dulu, dan itu benar-benar menghabiskan waktu cukup banyak, bukan hanya waktu, tapi juga tenaga dan emosi.
__ADS_1
Namun meskipun begitu, Rapa menyayangi orang tua keduanya itu. Bisa di bilang Rapa lebih dekat dengan Leo, karena pembawaannya yang selalu santai dan easy going, membuat Rapa nyaman dan berasa dengan teman sebaya. Berbeda jika dengan sang ayah. Pandu memang sosok orang tua yang baik, tapi dia teralalu kaku untuk Rapa yang petakilan. Jadi jangan heran jika sikap Rapa lebih dominan pada Leo, dibandingkan ayahnya. Sebab sejak kecil, Rapa memang lebih dekat dengan Leo, tapi rasa sayangnya terhadap Pandu, tidak boleh ada yang meragukan, karena bagaimana pun Pandu adalah panutannya untuk menjadi seorang pemimpin dalam rumah tangga.
“Emang abang mau ajak Qeen kencan ke mana?”
“Pengennya sih ke KUA, tapi Abang tahu, malam minggu KUA tutup. Jadi, gimana kalau kita ke pasar malam?” usul Rapa yang dengan cepat Cleona angguki.
“Queen pengen arumanis,” ucapnya menerawang ke depan dengan mata berbinar.
“Arumanis cinta lebih manis, apa lagi kalau abang yang kasih."
“Emang ada?”
“Ada dong. Gimana, mau?”
Dengan antusias Cleona mengangguk. “Dimana belinya, Bang? Ayo beli, Queen gak sabar mau cobain,” dengan tidak sabar Cleona menarik-narik ujung seragam Rapa.
“Yakin mau nyobain?” sekali lagi, Cleona mengangguk dengan semangat.
“Queen-nya tutup matanya dulu,” pinta Rapa.
“Kok, tutup mata, emang arumanis cintanya dimana?” bingung Cleona, mengerutkan kening.
“Udah tutup aja. Mau apa enggak?”
“Oke, Queen tutup mata. Awas kalau abang berani ngerjain Queen!” ancam Cleona, menatap tajam kekasihnya itu. Rapa mengangguk, benar-benar gemas pada perempuan di depannya.
Baru saja Cleona menutup kelopak mata, sesuatu yang kenyal menempel di bibirnya, dan itu sukses membuatnya terkejut, kemudian kembali membuka matanya. Di depannya, wajah Rapa begitu dekat, dan perlahan mata laki-laki itu terpejam, Cleona seakan terhipnotis untuk ikut memejamkan kembali matanya, dan menikmati sensasi aneh dari benda kenyal dan hangat itu.
Debaran di dadanya benar-benar menggila, seolah jantungnya ingin melompat keluar dan kupu-kupu di perutnya pun seakan menggelitik. Cleona tidak menyangka Rapa akan melakukan ini, lebih tidak menyangka lagi bahwa dirinya membalas ciuman itu.
Beberapa detik berlalu, Rapa melepaskan pagutan bibirnya, dan memberikan senyum manis pada Cleona yang masih terbengong tak percaya. “Manis,” ucap Cleona yang entah di sadarinya atau tidak.
“Mau lagi?” tanya Rapa menahan rasa gelinya pada Cleona yang masih saja bengong menatapnya.
“Mau. Eh .…” Dengan cepat Cleona menutup mulutnya, dan memalingkan wajah karena malu dengan apa yang di ucapkannya barusan. Beberapa kali menepuk-nepuk bibirnya yang sudah keceplosan berucap.
Tawa Rapa sendiri pecah begitu mendapati wajah salah tingkah Cleona. Mengusak rambut gadis itu dengan gemas, kemudian menariknya ke dalam pelukan. “I love you, Queen.”
__ADS_1