
Di pagi hari yang biasanya menjadi pagi sibuk Cleona menyiapkan sarapan dan segala kebutuhan suami, ayah serta adiknya kini harus di habiskan dengan kebosanan, karena ketiga orang itu tidak lagi membiarkannya melakukan itu semua.
Sejak kemarin sang aunty mengatakan bahwa dirinya memang hamil, semua keluarga seakan bersekongkol untuk menjadikannya putri raja yang tidak di izinkan melakukan apapun. Membosankan, dan keluarganya berubah menjadi menyebalkan.
“Kamu ikut abang ke bantor ya, Queen,”
“Ngapain?” Cleona mengernyitkan keningnya.
Rapa menelan terlebih dulu nasi yang berada dalam mulutnya. “Nemenin abang aja, biar sekalian juga abang bisa ngawasin kamu.”
“Emangnya Queen buronan apa, sampai di awasin segala!” dengus Cleona memutar bola matanya malas.
“Bukan gitu, sayang, abang cuma gak…”
“Oke, Queen ikut abang.” Keputusan itu Cleona ambil dengan sangat terpaksa, karena tidak ingin lebih lanjut lagi berdebat dengan suaminya, entah lah hari ini Cleona sudah benar-benar bad mood dan terlalu malas meladeni suami maupun ayahnya.
Begitu menyelesaikan sarapannya, Rapa lebih dulu bangkit dari duduknya dan langsung berjalan cepat menuju kamarnya yang berada di lantai atas, mengambil tas kerjanya juga tas kecil milik sang istri setelah itu kembali turun dan menghampiri istri serta adiknya yang akan berangkat ke sekolah.
“Ella pulang sekolah ke kantor abang juga biar temenin kak Queen,” kata Rapa begitu mobil yang ia kendarai meninggalkan pekarangan rumah.
__ADS_1
“Gak bisa, Bang, Ella mau kerja kelompok hari ini,”
“Ck, kerja kelompok! Bilang aja sih kalau mau pacaran,” cibir Rapa yang langsung mendapat tinjuan pelan dari tangan mungil adik iparnya.
“Sembarangan aja kalau ngomong! Ella masih kecil, Bang, lagi pula papi gak izinin Ella pacaran, katanya nanti papi jadi kaum jomblo seorang diri, dan makin kesepian.” Laura terkekeh sendiri mengingat perkataan papinya yang selalu mengingatkan untuk dirinya tak dulu memiliki kekasih.
“Iya sih memang, abang juga gak akan izinin lo pacaran, lo harus jadi dokter yang hebat dulu, sesuai cita-cita lo waktu kecil,” Rapa menoleh lewat kaca spion menatap adik iparnya yang mengangguk dengan semangat.
Begitu sampai di depan gerbang SMA Kebaperan, Rapa menghentikan laju mobilnya, membiarkan Laura turun sebelum kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju kantor bersama sang istri yang sejak tadi tak membuka suara selain memberikan semangat pada adiknya yang akan menuntut ilmu.
Rapa yang tahu akan mood sang istri yang buruk memilih hanya diam dan menghabiskan sisa perjalanan dalam keheningan, tidak tahu bahwa Cleona menggerutu dalam hati karena merasa di abaikan, bahkan sampai mereka tiba di kantor obrolan tidak juga berlangsung selain Rapa yang membuka kan pintu dan menuntunnya dengan hati-hati masuk ke dalam bangunan tinggi itu, dan setelah meminta istrinya untuk duduk di sofa serta melayangkan kecupan di kening Cleona, Rapa sudah langsung sibuk dengan pekerjaannya yang cukup banyak akibat beberapa hari tak masuk kerja.
“Bang, Queen lapar.” Akhirnya Cleona memilih membuka suaranya lebih dulu, dan itu berhasil mengalihkan Rapa.
“Queen mau makan apa, biar abang belikan,” Rapa melangkah menghampiri Cleona dan duduk di sampingnya.
“Enoki krispi, pempek sama dim sum ayam,” Cleona menyebutkan keinginannya dengan mata yang terfokus pada ponsel di tangannya.
“Abang yang beli, apa pesan antar?”
__ADS_1
“Pesan antar aja, abang seduhin mie cup aja buat Queen makan sekarang.”
Rapa tersenyum lebar dan memberikan hormat pada sang istri sebelum kemudian melenggang keluar dari ruangannya untuk langsung melaksanakan perintah istrinya yang sepertinya mulai mengidam.
Senyum Cleona pun terbit melihat kepergian suaminya yang terlihat semangat itu, entah kenapa hatinya menghangat saat Rapa langsung menuruti keinginannya, padahal Cleona sendiri tidak benar-benar menginginkan apa yang di pesannya barusan, Cleona hanya menginginkan perhatian suaminya, itu saja, tidak menyangka bahwa dengan alasan lapar saja sudah berhasil. Bukan kah itu membahagiakan? Setidaknya itu bagi Cleona, entah jika orang lain.
“Yang, ini mie-nya,” Rapa berucap riang seraya menghampiri sang istri tercinta yang sudah menunggu dengan wajah berbinar, yang entah sejak kapan benar-benar menginginkan makanan itu. Namun itu hanya sekejap sebelum kemudian Cleona merasakan perutnya bergejolak dan mual yang luar biasa, membuat Rapa mengernyit bingung dan sadar begitu istrinya lari menuju kamar mandi. Sialnya, Rapa malah justru membawa mie cup yang sudah di seduh tersebut mendekati Cleona, tentu saja itu malah semakin memperparah keadaan istrinya.
“Maaf sayang, abanh buang dulu mie-nya. Tunggu sebentar,” Rapa dengan segera berlari keluar dan memberikan sumber masalah itu pada sekertarisnya yang menatap dengan bingung, tapi dari pada menjelaskan yang tidak penting tentu saja Rapa memilih menghampiri istrinya dan mengolesi minyak angin pada leher Cleona.
Meskipun dalam keadaan khawatir, entah kenapa Rapa juga merasakan bahagia melihat istrinya seperti ini. Bukan karena senang istrinya sakit, tapi karena ia akhirnya bisa merasakan tanda-tanda kehamilan yang sesungguhnya. Rapa jadi tak sabar dengan apa yang akan dirinya alami setelah ini.
“Abang, yang benar mijitnya!” Rapa tersentak dari lamunannya begitu mendapat pukulan kecil tangan mungil istrinya.
“Maaf, Queen maaf,” sesal Rapa yang kemudian kembali memijat tengkuk istrinya. “Gimana udah enakan?”
Anggukan lemas Cleona berikan, setelah itu bersandar pada dada bidang suaminya yang langsung di raih laki-laki itu, dan di gendongnya menuju sofa.
“Abang, Queen pengen mie cap,” ucapnya dengan memelas.
__ADS_1
“Tapi kan baru nyium baunya aja udah buat kamu mual-mual, sayang. Yakin masih mau makan mie itu?”Cleona mengangguk, dan Rapa sebagai suami baik hati yang tidak ingin anaknya ngeces memilih untuk menuruti keinginan istrinya itu. Namun lebih dulu Rapa membuka dasinya dan melilitkannya menutupi hidung Cleona, agar bau dari mie tersebut tidak terlalu menyengat dan membuat istrinya kembali mual-mual.