Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
36. Seberharga itu kah?


__ADS_3

Menangis mungkin memang bukan solusi yang baik, tapi setidaknya itu bisa membuat perasaan sedikit tenang.


Beruntung di rumah hanya dirinya seorang, karena mami dan papinya tengah pergi keluar Negeri, yang katanya akan melakukan bulan madu (lagi), sementara Laura di ajak jalan-jalan oleh nenek dan kakeknya.


Cleona seakan bebas menangis, menumpahkan rasa sakit yang Rapa beri, meskipun secara tidak sengaja.


Tok tok tok


Dengan cepat Cleona menyeka air matanya, menyalakan laptop dan memilih salah satu drama sebelum akhirnya ia membuka pintu kamar.


“Tumben pintu lo kunci,” kata Clara mendengus kecil.


“Takut ada buaya yang masuk,” balasnya dengan terkekeh kecil.


“Lo nangis, Queen?” tanya Clara begitu melihat wajah sembab teman semasa oroknya itu.


Cleona mengangguk dan memberikan wajah sedihnya. “Gue lagi patah hati sama Rapa,”


“Di apain lo sama abang gue?”


“Hik hik, masa abang lo bikin gue cemburu ....”


“Ck, itu mah bukannya udah dari dulu! Gue kirain beneran di bikin patah hati.” Clara berkata dengan wajah yang berubah santai. Tentu saja itu membuat perasaan Cleona kembali sedih. Tidak ada yang peduli akan perasaannya ternyata, padahal ia sudah bicara dengan jujur.


“Lo nonton ini masih aja nangis, padahal udah sering banget kita tonton,” ujar Clara yang sudah duduk di ranjang besar milik Cleona, menatap layar laptop yang menyala.


Menghela napasnya pelan, kemudian menyusul Clara duduk di ranjang. Percuma juga ternyata bicara pada sahabatnya itu, kejujurannya malah di kira becandaan. Mungkin memang sudah saatnya ia menyimpan lukanya sendiri, belajar untuk menghadapi masalah yang timbul dan menjadi lebih dewasa, seperti apa yang pernah maminya katakan. Bahwa tidak selamanya orang bisa mengerti, tidak selamanya orang selalu ada saat di butuhkan, tidak selamanya kita selalu bergantung, dan tidak selamanya orang paham akan apa yang kita rasakan. Dan yang paling utama adalah, tidak selamanya kita berada dalam kebahagiaan.


══════

__ADS_1


Rapa memang tidak pernah lupa akan kekasihnya, bahkan sikapnya pun tidak pernah berubah. Namun hati Cleona yang tengah merasakan perih semakin bertambah karena Rapa benar-benar tidak menganggap rasa cemburunya tempo hari hal yang serius.


Setiap kali ke kelas Rapa memang Cleona selalu melihat Mirna ada diantara Rapa dan teman-temannya, ia juga tahu akan Dava yang menyukai perempuan itu, tapi yang Cleona tidak mengerti kenapa perasaan cemburu itu baru tumbuh sekarang? Kenapa tidak dari dulu sejak pertama ia tahu bahwa Rapa memiliki sahabat perempuan yang bahkan sempat menyukai pria itu? Apa karena ia baru sadar akan kedekatan diantara mereka terlalu berlebihan? Atau matanya selama ini tertutup akan keyakinannya pada cinta Rapa yang ia anggap begitu besar kepadanya? Bolehkan ia berpikir seperti itu? Jika tidak, maka berikan alasan lain agar ia bisa memahami perasaan cemburunya sendiri.


“Queen kantin yuk,” ajak Clara


“Emang lo gak mojok sama Birma lagi? Biasanya tiada hari tanpa pacaran,” ledek Cleona, membuat teman sebangkunya itu mendengus.


“Dia mau main putsal sama teman-temannya."


“Lo gak ikut? Tumben, lagi berantem?” tanya Cleona, menaikan sebelah alisnya heran.


“Gak lah! Gue lagi lapar aja pengen makan di kantin, kangen sama bakso mang Ben,” jawabnya cengengesan.


“Woy ayo kantin!”


Teriakan dari ambang pintu, membuat Cleona dan Clara yang memang tersisa di kelas menoleh, mendapati Alisya, Nirmala, Shafa juga Kayla berdiri di sana. Kedunya bangkit menghampiri empat temannya, lalu melenggang bersama menuju kantin, dengan obrolan yang sesekali mengundang tawa.


Mencoba biasa saja, Cleona kembali menyunggingkan senyum dan berlari menghampiri Rapa yang baru saja sampai di anak tangga terakhir. “Abang,” sapa Cleona seceria mungkin, berdiri di depan kekasihnya yang saat ini mengacak gemas rambutnya seperti kebiasan laki-laki itu.


“Mau ke kantin kan? Yuk, kita barengan,” kata Rapa melingkarkan tangannya di pundak sang kekasih.


“Ck, kebiasaan emang Si Cleo, kalau udah ada cowoknya suka lupa sama teman.” Cibir Kayla.


“Sirik aja lo jomblo!”


“Untung di sini bukan cuma gue yang jomblo jadi, gak terlalu sakit hati.”


Tawa kemudian terdengar, membuat beberapa orang di koridor menoleh ke arah mereka.

__ADS_1


Selama di kantin, entah kenapa Cleona merasa bahwa semua orang lebih fokus pada Mirna saat ini, meskipun teman-temannya sudah kenal dengan kakak kelasnya itu, karena beberapa kali Mirna ikut bergabung juga bersama mereka, tapi bolehkah ia berspekulasi bahwa semua orang tidak menyadari kesedihan dan lukanya saat ini? Atau apa mungkin ia yang terlalu berlebihan? Memikirkan itu membuat Cleona ingin segera pergi dari hadapan mereka dan menangis sepuasnya.


“Agak pendiam sekarang lo Cle, kenapa?” Daniel yang ternyata lebih dulu menyadari diamnya Cleona.


“Gue gak apa-apa, cuma lagi kurang enak badan aja,” bohong Cleona, kemudian tersenyum kecil.


“Kamu sakit, Queen? Ayo ke UKS.” Dengan nada khawatir Rapa berkata dan langsung bangkit dari duduknya.


Sebuah gelengan Cleona berikan, dan menarik Rapa kembali untuk duduk. “Gak perlu, mungkin ini karena tamu bulanan Queen mau datang aja.”


“Yakin?” tanya Rapa seraya mengarahkan tangannya pada kening dan leher Cleona. Mengecek suhu tubuh kekasihnya.


Mengangguk adalah yang tercepat untuk di lakukan, karena Cleona tidak yakin jika untuk kembali membuka suara, air matanya tidak akan meluncur dan meluapkan emosi di hadapan semua orang, mengungkapkan segala rasa sakit di hati akibat kecemburuannya yang belum jelas titik dasarnya.


“Jadi Abang harus segera siap-siap dong,” kata Rapa dengan nada di buat lesu.


“Siap-siap apa?” bingung Cleona.


“Kamu kan berubah jadi macan kalau lagi datang bulan.”


“Ish, semua perempuan juga gitu kali Bang, kalau lagi dalam masa sensitifnya.” Dengus Cleona melayangkan cubitan di pinggang kekasihnya itu.


“Iya, Si Mirna juga gitu kalau lagi dapat tamu bulanan, makin buas!” ujarnya seraya melirik ke arah di mana Mirna duduk.


Lagi-lagi denyutan perih itu timbul tanpa di sadari siapapun. “Tahu banget kayaknya Abang, tentang kak Mirna."


“Ya, gak tahu gimana coba, kan dia emang suka nyusahinnya ke Abang, perutnya sakit ngerengek ke Abang. Kalau tiba-tiba datang bulan di sekolah, Abang juga yang di suruh beli pembalut."


“Itu kan, karena cuma lo yang urat malunya udah putus, gue mah ogah beli gituan!” Dava bergidik.

__ADS_1


Dalam hati Cleona kembali meringis perih, ternyata kebiasaan itu bukan hanya untuk dirinya dan anggota keluarga saja pria itu lakukan, tapi untuk Mirna pun Rapa tidak keberatan.


Jadi bolehkan ia mempertanyakan seberapa berharganya Mirna di hati Rapa? Bolehkan ia cemburu? Karena meskipun itu hal sepele, tapi Mirna adalah orang luar, sedangkan yang ia tahu, Rapa tidak biasanya melakukan hal yang sama pada orang lain dengan orang-orang yang di sayanginya.


__ADS_2