Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
82. Night Moment


__ADS_3

“Abang mau ajak Queen kemana sih, hm? Queen udah lelah tahu bang, pengen cepet pulang.” Ujarnya lesu, beberapa kali Cleona memang sudah menguap, tapi Rapa tidak akan berbaik hati menuruti istrinya kali ini. Enak saja pulang di saat rencananya sebentar lagi akan berhasil.


“Mau ajakin Queen ke suatu tempat. Sabar ya, lagian ini baru jam tujuh malam.” Rapa menoleh sekilas pada istri cantiknya sebelum kembali fokus pada jalanan di depannya.


“Tapi ini mata Queennya gak perlu di tutup juga kali, Bang, ini juga tangan, apa perlu di ikat gini? Kayak di culik aja deh,” dengusnya pelan.


Terkekeh, Rapa mengusak rambut istrinya yang saat ini cemberut. “Namanya juga kejutan.”


Hanya dengusan yang menjawab perkataan Rapa yang terakhir itu, Cleona memilih untuk diam, bersandar meskipun tidak nyaman sama sekali pada kepala kursi. Toh percuma juga sepertinya bertanya-tanya pada sang suami yang tidak juga ingin memberi tahu tujuan mereka, bukankah itu hanya membuang-buang energi?


Tak berapa lama, Rapa menghentikan laju mobilnya tepat di parkiran sebuah restoran, tempat yang Rapa siapkan untuk dinner romantisnya dengan sang istri tercinta.


“Udah sampai, Bang?” Cleona bertanya begitu di rasakan mobil yang di tumpanginya tak lagi bergerak.


“Udah, sebentar abang bantu kamu turun.” Berlari kecil menuju pintu penumpang, Rapa kemudian membantu sang istri untuk keluar, dan menuntunnya masuk ke dalam restoran tersebut yang di sambut ramah oleh beberapa orang pelayan, bahkan manager restoran yang tak lain adalah sahabat Rapa sendri.


“Bang kita dimana sih?” Cleona bertanya dengan ketakutan. Suasananya kini benar-benar horor dan Cleona tidak bisa melihat apapun dengan penutup mata yang tidak bisa dirinya lepas bahkan hanya untuk sekedar mengintip. Bayangkan saja, tangannya ikut di ikat kebelakang. Rapa bilang agar ia tak berusaha membuka penutup matanya. Suami durhaka emang.

__ADS_1


Cleona saat ini jadi merasa seperti korban penculikan yang akan di sandera, hanya saja si penculik tidak membawanya ke gudang kosong yang berbau menyengat. Wangi tempat ini cukup manis dan nyaman, tapi tetap saja tak menghilangkan rasa takut Cleona apa lagi saat ia di bawa menaiki tangga …


“Abang, gak niat culik Queen kan? Gak niat bunuh Queen kan, Bang?” dengan suara ketakutan Cleona bertanya. Kekehan terdengar, di susul dengan kecupan pada pelipisnya, Cleona tahu bahwa yang melakukan itu adalah suaminya, tentu saja, Cleona tahu aroma tubuh laki-laki itu, ia begitu hapal dengan suara kekehannya, bahkan Cleona hapal lembutnya permukaan bibir suaminya yang tidak pernah absen memberikan kecupan di sekitaran wajahnya.


“Masa iya abang bunuh istri sendiri,” kata Rapa terkekeh geli. “Abang rugi dong kehilangan istri secantik dan sebaik kamu.”


“Tapi ini kok gak sampe-sampe? Abang jangan bilang kalau ajak Queen ke tepi jurang? Ini anginnya kencang banget loh, Bang!”


Satu sentilan Rapa berikan di kening istrinya itu. “Kita udah sampai sayang, gak usah panik.”


Suara kaki kursi yang di tarik terdengar, dan Cleona refleks menyebutkan nama sang suami. Namun tak ada jawaban sama sekali, hingga berkali-kali Cleona memanggil nama Rapa dengan panik dan semakin panik begitu di rasa tidak ada orang di sekitarnya. Cleona ketakutan dan segera saja menarik lepas kain penutup matanya, tidak peduli lagi akan ancaman suaminya tadi. Cleona sudah tak sanggup.


“AB…


“Selamat satu bulan pernikahan, sayang.” Rapa menampilkan senyum tampannya.


Cleona yang hendak menjerit, tertelan begitu saja begitu di hadapannya terdapat sang suami tampannya dengan senyum menawan di depan cahaya lilin yang berada di atas meja. Air mata Cleona luruh begitu saja, ada rasa haru, bahagia juga rasa takut yang belum hilang sepenuhnya.

__ADS_1


“Abang kenapa harus bikin Queen jantungan dulu sih?! Gak tahu apa kalau Queen benar-benar panik dan ketakutan. Abang tega, banget sama istri sendiri. Tapi gimana dong, Queen senang abang ingat tanggal pernikahan kita, dan lebih senang lagi karena abang menyiapkan semua ini.” Cleona dengan segera bangkit dari duduknya dan memeluk tubuh sang suami yang sedikit terkejut akibat serangan tiba-tiba yang Cleona lakukan. “Makasih abang, Queen bahagia.”


Rapa membalas pelukan itu, dan tersenyum di balik punggung istrinya. “Abang juga bahagia sayang, abang bahagia karena sudah memiliki kamu.” Rapa mengurai pelukan istrinya, membantu menyeka sudut mata Cleona yang sedikit berair kemudian melabuhkan kecupan di sana, setelah itu membantu istrinya untuk kembali duduk.


“Ini di mana, Bang? Indah banget,” tanya Cleona begitu menatap sekeliling yang berhiaskan lampu-lampu kecil, bunga mawar juga balon-balon yang menghiasi setiap sudut dan pagar pembatas roftoop yang cukup luas, namun hanya di isi dengan dua kursi dan satu meja di tengah-tengah yang di tempati mereka, juga layar berukuran 32 inc yang kini menampilkan slide foto-fotonya dengan Rapa sejak bayi hingga pernikahan mereka satu bulan yang lalu.


“Ini… sejak kapan abang siapin?” tanya Cleona yang benar-benar terharu.


“Udah lama, tadinya abang mau tayangin ini pas pernikahan kita, tapi abang urungkan mengingat kita mengusung pernikahan di pantai, rasanya gak cocok aja gitu. Jadi, baru sekarang deh abang perlihatkan. Kamu suka?” Cleona dengan cepat mengangguk dan kembali memfokuskan matanya pada layar di depannya itu hingga tayangan habis dan diakhiri dengan tulisan “FOREVER WE WILL BE TOGETHER”


“Cleona Queenisa, terima kasih telah bersedia menjadi ratu dalam istanaku, terima kasih telah bersedia menjadi pelabuhan terakhirku, menutupi kekuranganku dengan kelebihanmu, dan menutupi kecacatanku dengan cinta tulusmu. Selama ini aku menyadari bahwa aku bukanlah lelaki yang sempurna, namun setelah denganmu kesempurnaan itu aku miliki. Terima kasih sayang, terima kasih atas segalanya. Aku mencintaimu.”


Rapa yang sudah lebih dulu membawa istrinya untuk berdiri melayangkan kecupan dalam di kening sang istri, cukup lama hingga Cleona menutupkan kelopak matanya untuk lebih menghayati dan menikmati kehangatan yang suaminya salurkan.


Kebahagiaan yang benar-benar tak dapat Cleona utarakan, dan air mata lah yang mewakilinya. Ini jelas bukan air mata kesedihan, melainkan air mata bahagianya. Ia bahagia memiliki Rapa, suami yang begitu mencintainya bahkan sejak mereka masih berada di usia kanak-kanak, Cleona sudah merasakan cinta dan kasih sayang pria itu.


“Tuhan jangan kau berikan ujian berat pada pernikahan kami, karena aku tak yakin bisa kehilangan lelakiku ini.”

__ADS_1


__ADS_2