Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
110. Keluarga Menyebalkan


__ADS_3

Rapa yang pada akhirnya menemani sang istri di dalam ruangan bersalin benar-benar lemah saat jeritan demi jeritan istrinya keluarkan, terdengar seolah mengambil setiap kekuatan yang Rapa miliki. Namun Rapa berusaha menguatkan diri berada di samping Cleona, memeluk dan memberikan kata-kata penyemangat untuk sang istri sampai tubuhnya semakin melemah dan kesadarannya hilang, bertepatan dengan suara tangisan anak keduanya terdengar. Begitu pun dengan kondisi Cleona yang kritis akibat banyaknya darah yang keluar.


Entah berapa lama Rapa berada dalam ketidak sadaran, sampai akhirnya terbangun di ruangan yang serba putih tanpa di temani siapapun. Teringat kejadian beberapa waktu lalu, Rapa dengan cepat bangkit dan keluar dari ruangan tersebut, khawatir akan keadaan sang istri yang entah berada di mana saat ini.


Merongoh saku celananya, Rapa kemudian mendengus saat tak menemukan benda persegi yang dapat menghubungi anggota keluarga sampai akhirnya memutuskan kembali ke ruangan yang beberapa menit lalu ia tinggalkan, tapi benda yang di carinya tidak juga Rapa temukan.


“Niat banget kayaknya mereka ngerjain gue,” guman Rapa mendengus kesal, sebelum kembali keluar dan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi dan membingungkan, membuatnya cukup sulit untuk menemukan jalan menuju meja resepsionis.


“Mimpi apa gue punya keluarga yang nyebelinnya kebangetan gini!” dengus Rapa, celingukan memilih lorong yang akan di lewatinya.


“Mana sepi banget lagi. Ini sebenarnya rumah sakit apa kuburan, sampai gak ada satu pun orang di sini? Aunty Amel mulai bangkrut apa gimana lantai seluas gini gak ada penghuninya. Liftnya juga di sebelah mana sih ini?” tanya Rapa pada disi sendiri, mulai lelah juga kesal karena terus berkeliling di tempat asing yang entah berada di lantai berapa. Seketika Rapa meyesal kenapa dulu tidak menjelajahi dan mengenal setiap ruangan di rumah sakit milik aunty-nya itu.


“Awas aja, sampe gue ketemu nanti, gue kurung kalian semua di ruang mayat!” kesal Rapa kembali melanjutkan langkah, sampai lift yang di carinya ia temukan dan membelalakan mata begitu angka 7 terlihat di pinggir atas pintu lift.


“Emang deh, cuma keluarga gue kayaknya yang gilanya keterlaluan. Masa ia gue di asingkan gini.” Menggelengkan kepala, Rapa kemudian masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.


“Perlu gue lelang kayaknya mereka semua, gue tuker sama keluarga normal.”


“Sekarang gue di ilang-ilangin, baru tahu rasa mereka kalau gue ngilang beneran.”

__ADS_1


“Nyebelinnya kebangetan punya keluarga. Mau gue buang sayang. Sialan emang!”


Gerutuaan-gerutuan Rapa, baru saja berhenti ketika sampai di lobi rumah sakit dan segera menghampiri resepsionis untuk menanyakan ruangan sang istri. Dan beruntung pihak sang aunty tidak menyuruh mereka untuk menyembunyikan dimana istrinya berada, padahal Rapa sudah deg-degan, takut keluarganya tidak juga puas mengerjainya.


Tanpa menunggu lama, Rapa segera masuk kembali ke dalam lift dan menekan angka tiga dan mencari ruangan perawatan istrinya sesuai dengan yang di tunjukan si resepsionis.


“SELAMAT DATANG PAPA BARU.”


Sambutan meriah dan heboh itu Rapa dapatkan begitu masuk ke dalam ruangan yang di isi oleh semua anggota keluarganya, juga sang istri yang menampilkan senyum cantiknya, membuat rasa kesal yang semula Rapa rasakan menguap begitu saja, di gantikan dengan rasa haru dan bahagia melihat istrinya baik-baik saja.


Berhambur memeluk sang istri, air mata Rapa tumpah dan kata maaf terlontar dari bibirnya, karena telah menjadi laki-laki lemah di saat istrinya merenggang nyawa demi mengeluarkan sang buah hati, itu tentu saja membuat semua yang ada di sana ikut terharu dan suasana yang semula riuh seketika sunyi. Hanya isakan tangis dan penyesalan Rapa yang terdengar.


“Sekarang anak-anak abang dimana? Mereka pada sehat kan?” tanya Rapa menatap sekeliling ruangan luas itu, mencari keberadaan sang buah hati yang belum sempat di lihatnya.


“Mereka tidur di ruangan anak. Abang kemana aja, kok baru datang? Gak mungkin kan abang pingsan sampai seharian?” tanya Cleona dengan mata memicing.


Rapa seolah kembali diingatkan akan rasa kesalnya yang sejak tadi ia gumamkan akan membalas dendam, dengan segera menoleh ke arah anggota keluarganya yang saat ini pura-pura sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.


Dengusan kesal Rapa berikan sebelum kemudian melayangkan tatapan tajam pada sang uncle, papi serta sang sepupu yang lebih terlihat mencurigakan, di tambah dengan anggapan Rapa yang kuat memang tertuju pada tiga orang itu. Siapa lagi memang yang jahilnya kebangetan dan selalu mengerjai Rapa jika bukan mereka?

__ADS_1


“Ada setan yang nyembunyiin abang di kamar lantai 7.” Jawab Rapa dengan nada sinis dan sarat akan menyindir, tatapan tajamnya ia tujukan pada sang sepupu yang masih saja berpura-pura sibuk dengan ponselnya.


“Kok bisa?” heran Cleona menaikan sebelah alisnya.


“Gak tahu deh, setan-setannya emang senang banget jail. Untung aja abang bukan penakut. Muter-muter cari jalan keluar sampai entah berapa lama akhirnya ketemu lift dan bisa nemuin ruangan kamu,” kembali dengusan Rapa berikan. “Abang lelah istri, ponsel abang sampe di sembunyiin juga. Emang deh terniat itu setan ngerjain abang.”


Rapa menceritakan itu dengan bersungut-sungut. Sedangkan Cleona tertawa melihat wajah kesal suaminya di tambah dengan wajah orang-orang di dalam ruangan rawatnya yang mulai merah, akibat sebutan setan yang di berikan Rapa. Tentu saja sejak awal Cleona tahu siapa yang tengah di bicarakan suaminya, karena bagaimana pun kejahilan itu akan ada, apa lagi formasi meraka yang lengkap saat ini.


“Sepanjang jalan, abang bersumpah akan masukin mereka ke ruangan mayat, dan abang kunciin di sana.” Lanjut Rapa yang belum juga meredakan rasa kesalnya.


“Sadis bosku,” Birma menyahuti, sementara Leo, Levin dan Devin yang memang menjadi tersangka utama bergidik ngeri.


“Emang lo tahu siapa orangnya?” tanya Leo meremehkan menantunya itu, padahal dalam hati Leo merutuki diri sendiri karena telah ikut andil dalam rencana pasangan anak bapak sableng di sampingnya yang memang memiliki ide penuh untuk mengerjai Rapa.


“Abang mah gak akan cari setan yang gak kelihat, Pi. Di keluarga kita kan emang banyak setan jahilnya, termasuk papi.” Delik Rapa, membuat Leo seketika bungkam, termasuk Levin dan Devin yang kemudian cengengesan tak berdosa.


“Bunda kamu juga ikutan loh, Bang.” ujar Levin tak ingin menjadi yang paling di salahkan.


“Iya tahu, kalian semua emang terlibat kok ngerjain abang. Puas-puasin aja sekarang mumpung abang masih tabah. Tapi jangan lupa pembalasan itu akan ada, tunggu aja.”

__ADS_1


__ADS_2