Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
122. Flashback


__ADS_3

Cleona menyunggingkan senyumnya begitu tiba di pintu apartement yang sudah lama dirinya tinggalkan. Laura tidak mengganti sandi kuncinya, memudahkan Cleona untuk masuk mengajak serta suami dan anak-anaknya yang sudah tertidur dalam gendongannya juga Rapa.


Menatap sekeliling ruangan utama, Cleona kembali mengenang masa-masa sulitnya tujuh tahun dulu, dimana saat itu dirinya memutuskan untuk pergi dari sisi Rapa, atas kekecewaan yang ternyata bersumber dari kesalah pahaman.


“Abang percaya gak, kalau dulu Queen nangis di seharian di sana,” Cleona menunjuk sofa yang berada di depannya menghadap langsung pada jendela besar yang saat ini menampilkan cerahnya langit di Singapura.


“Nangis kenapa?” tanya Rapa dengan kening mengerut.


“Nangisin nasib Queen tanpa abang,” melangkahkan kaki semakin masuk, kemudian Cleona lebih dulu membaringkan anak-nya di ranjang kamarnya dulu di ikuti oleh Rapa.


Saat ini ia merasa menyaksikan kesedihannya dulu, begitu tiba di tempat asing ini, yang mana air manya menentes tanpa henti, menangisi kepergian sang mami yang tidak pernah Cleona sangka akan secepat itu. Di tambah dengan ingatan tentang Rapa yang dirinya tinggalkan tanpa pesan, selain sebuah kata pemutus hubungan.


“Satu minggu Queen nangis tanpa henti, gak mau makan bahkan minum,” senyum tipis terukir di bibir Cleona yang saat ini sudah duduk di sofa berwarna biru muda di ruang utama. Rapa pun mengikuti dan menatap istrinya dengan tatapan yang sedikit tak percaya. “Untung Queen gak mati saat itu, karena papi dengan cepat bawa Queen ke rumah sakit,” lanjut Cleona yang masih menatap lurus ke depan, menerawang ke waktu beberapa tahun lalu.


“Astaga, Queen!” Leo yang baru saja kembali dari mendaftar sekolah untuk Cleona dan Laura begitu terkejut saat melihat sang putri yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai ruang tengah. Laura yang melihat pun menangis dan meminta sang papi untuk segera membawa kakaknya itu menuju rumah sakit.


Dan lima jam kemudian Cleona sadar dari pingsannya dengan wajah pucat dan tatapan kosong yang begitu menyesakkan bagi Leo. Apa lagi saat mengingat beberapa jam lalu anaknya itu terus menggumamkan nama Rapa, juga memanggil nama Luna dan meminta sang mami untuk membawanya pergi. Leo terluka menyaksikan kerapuhan putri pertamanya, dan berjanji untuk tidak mempertemukan Cleona dengan Rapa yang sudah mengecewakannya.


“Papi Queen mau ketemu abang, Queen pengen jelasin semuanya sama abang kalau di antara Queen dan kak Alvin tidak ada hubungan apa-apa,” rengek Cleona dengan tangis yang kembali berderai.


“Dia juga salah, Queen. Si berengsek itu udah menyakiti kamu, mengecewakan kamu. Dan papi tidak terima anak papi di lukai laki-laki lain!” Leo memeluk tubuh lemah anaknya. “Lupakan dia, sayang, papi tidak ingin kamu kembali terluka. Dia sudah tidak peduli padamu. Bahkan di saat kamu begitu membutuhkannya, dia tidak sama sekali berada di samping kamu. Lupakan dia, dan carilah kebahagiaan kamu yang baru di sini. Papi mohon, jangan siksa diri kamu seperti satu minggu belakangan ini, papi gak sanggup, sayang. Papi gak sanggup jika harus kembali kehilangan.”


Kecupan demi kecupan Leo berikan di puncak kepala sang putri. Sementara Cleona yang berada dalam pelukannya hanya menangis dan mencengkram kuat kemeja yang Leo kenakan, sebelum kembali tidak sadarkan diri.

__ADS_1


“Saat itu Queen sadar bahwa Queen membutuhkan abang, membutuhkan pelukan abang, juga butuh kata-kata penyemangat dari abang. Dan Queen sadar bahwa Queen tidak sekuat itu tanpa abang,” Cleona menoleh sekejap ke arah Rapa yang saat ini duduk memperhatikan, dan mendengarkan dengan seksama cerita penuh luka istrinya.


“Begitu tahu bahwa mami telah pergi untuk selamanya, Queen mengharapkan bahwa abang berada di sisi Queen, memberikan pelukan yang selalu membuat Queen tenang. Tapi sayang, Queen harus kecewa dengan ketidak beradaan abang. Queen kecewa dan marah karena menganggap bahwa abang sudah tak lagi peduli terhadap Queen, juga begitu membenci Queen. Sampai pada akhirnya, Queen meminta papi untuk membawa Queen pergi sejauh mungkin dari abang. Sayang, keputusan itu malah semakin membuat Queen tak berdaya.”


Rapa masih tidak juga mengeluarkan suara, ia ingin mendengar semua cerita pilu sang istri atas kesalahannya dulu, meskipun sampai sini pun Rapa sudah jelas tahu bahwa gadisnya dulu sama terlukannya atas perpisahan mereka.


“Hari-hari, Queen lewati tanpa semangat, tanpa gairah hidup bahkan tanpa harapan sedikit pun. Sampai pada akhirnya Queen bertemu dengan Kak Freya,” kini sedikit senyum Cleona terbitkan saat mengingat bagaimana pertemuannya dulu dengan kakak tingkat cantik itu yang ternyata juga adalah tetangganya.


“You live here?”


Cleona celingukan begitu wanita cantik di depannya melayangkan tanya. “Are you asking me?” tanya Cleona menunjuk pada dirinya sendiri begitu tidak mendapati keberadaan seorangpun selain dirinya di lorong itu.


“Yes, whats your name?” tanya wanita cantik dengan rambut sepunggung itu. Cantik, kata pertama untuk memuji perempuan di depannya.


Dan siapa yang sangka bahwa pertemuan mereka terus berulang hingga menjadi dekat dan kemudian berteman. Freya wanita cantik yang menyenangkan, baik juga penyayang membuat Cleona nyaman berteman dengan kakak tingkatnya itu. Dan kehadiran Freya juga sedikit membuat Cleona melupakan kesedihannya, meskipun di saat sendiri, air mata itu selalu menetes tanpa dirinya minta.


“Selama dua tahun berada di sini tidak ada satu pun yang mau menjadi teman Queen, karena mereka menganggap bahwa Queen adalah orang yang sombong, mengingat saat itu Queen memang menjadi sosok pendiam dan tertutup, tidak akan bicara jika tidak ada yang bertanya, itu pun selalu Queen jawab seadanya, membuat mereka pada akhirnya menjauh perlahan. Cuma Kak Freya yang mampu bertahan berteman dengan Queen, sampai pada akhirnya Queen bertemu dengan Edrick,”


Raut cemburu mulai Rapa keluarkan begitu nama laki-laki di sebutkan istrinya, sementara Cleona kini sudah terkekeh pelan, melihat wajah masam suami tampannya. Ekspresi cemburu Rapa yang selalu Cleona sukai.


Memasuki kuliah semester dua, Cleona yang saat itu masih berada di kelas seorang diri di hampiri oleh laki-laki tampan yang tidak sama sekali Cleona ketahui siapa namanya. Kening Cleona mengernyit melihat uluran tangan laki-laki itu.


“Edrick,” laki-laki itu menyebutkan namanya di iringi dengan senyum yang menawan, membuat Cleona terpesona seketika, tapi dengan cepat ia kembali melirik pada tangan yang masih terulur. “Tidakkah kamu ingin menerima perkenalanku?” tanya laki-laki itu yang kini sudah menurunkan senyumnya.

__ADS_1


“Cleona,” pada akhirnya Cleona mengenalkan dirinya walau tanpa senyum, tidak seperti laki-laki yang bernama Edrick itu.


“Mulai sekarang kita berteman.” Ujar laki-laki itu dengan raut bahagia, sedangkan Cleona hanya mengernyitkan kening. Apa lagi saat laki-laki itu mengajaknya keluar dari kelas. Dan di sepanjang perjalanan menuju kantin Edrick terus bercerita yang tidak banyak Cleona pahami.


Sejak saat itu lah pertemanan mereka terjalin, perhatian, pengertian dan kebaikan laki-laki itu membuat Cleona nyaman di tambah dengan kecerian Edrick yang membuatnya mampu kembali mengukir senyum. Dengan semua sikap laki-laki itu membuat Cleona hampir saja membuka hati untuknya jika saja kenyataan yang sebanarnya tidak segera ia ketahui.


“Dia yang kata Queen naksir Alvin itu?” tanya Rapa yang di jawab anggukan oleh Cleona.


“Kak Alvin waktu itu datang untuk kedua kalinya, dan kebetulan Queen lagi kumpul di sini sama Freya dan Edrick …” Cleona berhenti sejenak hanya untuk terkekeh geli sebelum kemudian melanjutkan ceritanya.


Teng nong …


Di tengah kegiatan menggosip, bel aparteman berbunyi dengan nyaring, menghentikan obrolan mereka.


“Ck, siapa sih itu yang bertamu? Ganggu aja!” dengus Edrick dengan logat feminimnya.


“Sebentar aku bukain pintu dulu,” pamit Cleona pada kedua temannya itu. Dan begitu ia membuka pintu Cleona menjerik kesenangan melihat bahwa Alvin lah tamu yang datang. Memeluknya dengan erat, Cleona kemudian menarik Alvin untuk masuk dan mengenalkan pria itu pada Edrick, karena Freya sudah mengenal saat pertemuan pertama mereka.


Sikap tenang khas laki-laki yang pertama kali Edrick perlihatkan saat memperkenalkan diri pada Alvin. Namun begitu tahu bahwa Alvin adalah kakak sekaligus sahabat Cleona, jiwa feminim Edrick muncul mengejutkan Alvin. Sementara Cleona dan Freya hanya menertawakan Alvin yang wajahnya sudah memerah karena di peluk Edrick dengan begitu posesif.


“Keberadaan mereka lah yang kemudian membuat Queen bangkit dari kesedihan, itu lah mengapa Queen sayang sama Kak Alvin, Freya juga Edrick. Mereka berarti dalam hidup Queen, karena mereka bertiga lah yang menemani di saat Queen bersedih.”


Rapa memeluk istrinya, kemudian memberikan beberapa kecupan di puncak kepala sang istri. “Mulai saat ini tidak akan ada lagi kesedihan, karena abang akan selalu ada di samping kamu untuk membahagia kan kamu dan juga anak-anak kita."

__ADS_1


__ADS_2