
Rapa menendang pintu cukup keras begitu tiba di kelasnya, membuat semua yang ada di dalam maupun di luar kerkejut dengan itu.
Kecewa, marah dan rasa sakit bercampur menjadi satu membuat ia tidak bisa menahan emosi, dan apa pun yang menghalangi menjadi sasaran amarahnya, salah satunya kursi kayu yang saat ini sudah tergeletak tidak berdaya dengan kaki-kakinya yang patah. Sebab itu juga lah semua yang ada di sana menyingkir jauh, karena tidak ingin mendapat kemalangan yang sama.
Dava, Chiko, Daniel, Akbar dan Nino saling bertatapan sebelum akhirnya mendekat pada sahabatnya yang datang membawa kegaduhan. Rapa memang selalu merusuh, tapi tidak pernah dengan emosi seperti ini. Sebagai orang terdekat sejak kelas sepuluh, mereka cukup tahu bagaimana sahabatnya yang satu itu, dan ini untuk pertama kalinya.
“Lo kenapa, Rap?” tanya Nino memberanikan diri, walau sesungguhnya ia gemeteran.
“Itu muka kenapa? Abis adu ikan?” Dava yang kali ini bertanya, niatnya melayangkan candaan. Namun tidak menyangka malah mendapat tatapan tajam yang amat menyeramkan, membuat nyalinya ciut dan memilih mundur, bersembunyi di belakang punggung Chiko.
“Kalau ada apa-apa di bicarain baik-baik, Rapa. Gak…”
“Lo semua gak usah banyak bacot! Lebih baik lo pada pergi dari pada cuma bikin gue tambah pusing.” Sergah Rapa menatap marah sahabat-sahabatnya.
Keempat teman Rapa mendengus kecil, tapi kemudian melangkah mundur dan meminta teman-teman sekelasnya untuk bubar, mengosongkan kelas dan membiarkan Rapa tenang lebih dulu.
Meskipun tidak paham apa yang tengah menimpa sahabatnya, tapi keempatnya cukup tahu bahwa ini pasti ada kaitannya dengan Cleona, karena hanya gadis itu yang bisa membuat Rapa sekacau dan tidak terkendali seperti ini.
“Astaga, Rapa, lo kenapa bisa sampai kayak gini? Berantem sama siapa? Tadi gue lihat Cleo…”
“Arrghh, jangan pernah sebut nama dia depan gue!” sentak Rapa, sukses membuat Mirna yang baru datang, mundur beberapa langkah, karena benar-benar terkejut.
__ADS_1
“Tunggu, gue ambil P3K dulu untuk obatin luka lo,” kata Mirna yang langsung berlari keluar dari kelas tanpa menunggu persetujuan Rapa.
Beberapa orang menatap dari kaca jendela karena penasaran, ada juga yang sengaja bertahan di dalam kelas dan duduk cukup jauh dari Rapa, tidak ingin mengambil resiko terkena tonjokan.
Mirna tak lama kembali dengan kotak putih juga air mineral botol di tangannya. Menghampiri dan berdiri di depan Rapa, berniat untuk mengobati luka di wajahnya. Namun dengan cepat di tepis laki-laki itu, membuat Mirna tersentak kaget.
Tidak ingin menyerah, ia tetap kekeh ingin mengobati luka itu, meskipun penolakan selalu Rapa berikan. Mirna tidak peduli meskipun ia menjadi sasaran amarah laki-laki itu. Sebenarnya sejak tadi Dava sudah menariknya untuk mundur, tapi Mirna kekeh pada tujuannya.
“Gue bilang gak perlu, ya gak perlu. Ngerti gak sih lo!” kembali bentakan Rapa layangkan, tapi tidak juga membuat Mirna menyerah, walau pun air mata sudah menetes sejak tadi, yang entah karena bentakan Rapa atau karena rasa pedulinya terhadap sahabatnya itu.
“Diam Rapa, gue obatin dulu luka lo, biar gak infeksi!” bentak Mirna cukup keras, dan mendorong Rapa agar kembali duduk di kursinya semula. “Diam, gue cuma obatin, gak gue tambahin.”
═════
“Papi sama mami kapan pulang?” Cleona bertanya pada Leo yang berada di sambungan telepon.
“Sabar dong Queen, nanti Papi pulang kok kalau udah selesai bulan madunya.” Jawaban Leo dari seberang sana membuat Cleona mendengus kesal, yang di timpali dengan kekehan kecil.
“Queen kangen, Pi, pengen cerita,” kata Cleona dengan suara yang lirih, terdengar begitu sedih di telingan Leo.
“Papi dan Mami juga kagen kamu, Kak, kangen Priela juga. Tapi maaf kami belum bisa pulang, mami kamu masih betah di sini.”
__ADS_1
“Ish, kenapa coba bulan madunya lama banget. Ini udah lebih dari sebulana loh, Pi! Queen gak mau punya adik lagi.” Rengek Cleona manja, membuat Leo tertawa.
“Sabar ya, Kak, secapatnya Papi sama Mami akan pulang kok. Kakak Queen baik-baik di rumah bareng nenek, kakek dan Priela. Jangan pacaran terus sama Abang, ingat sebentar lagi ulangan semester!”
Tak ada jawaban dari Cleona, karena gadis itu saat ini tengah melamun, air mata yang sejak tadi di tahan menetes juga pada akhirnya. Namun sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan isakan yang akan membuat sang papi khawatir.
“Papi tutup teleponnya ya, Queen, mau jalan-jalan dulu sama Mami. Bye sayang.”
Cleona terisak cukup kencang begitu sambungan ia putus tanpa menjawab ucapan terakhir sang papi. Ia tidak ingin orang tuanya tahu bahwa dirinya menangis, dan membuat mereka khawatir.
Sejak pulang dari sekolah tadi sore, Cleona tidak lagi keluar dari kamarnya, bahkan ia sampai melewatkan makan siang dan malamnya karena terlalu sibuk menangis.
Kemarahan Clara dan Rapa membuatnya begitu sedih. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada kedua orang tersayangnya, karena sebelum berucap pun Clara malah pergi lebih dulu dan Rapa tidak juga mengangkat teleponnya. Cleona bukan tidak ingin mengunjungi kekasih dan sahabatnya itu di rumah, tapi ia tidak ingin di anggap mencari pembelaan dari kedua orang tua mereka dan malah membuat dirinya semakin di benci.
“Kenapa kesalah pahaman ini harus terjadi? Bukankah seharusnya gue yang marah?” tanya Cleona pada dirinya sendiri.
Melempar semua benda yang dekat dengan jangkauannya sambil terus menangis, kemudian menjerit untuk menumpahkan segala emosi dan kesedihannya. Kasur yang tidak berdosa, Cleona pukul-pukul sekuat tenaga hingga kelelahan dan berakhir tidak sadarkan diri.
Wajah cantik yang biasa ceria dan merona itu kini penuh dengan air mata, terlihat pucat dan kesedihan begitu nampak, membuat siapa saja yang melihatnya akan meringis prihatin. Iba akan tiadanya semangat dari tubuh mungil itu.
Mungkin apa yang di hadapi Cleona menjadi hal sepele untuk orang lain. Namun berbeda untuk gadis yang tidak biasa menghadapi sebuah masalah, apalagi dengan orang-orang yang sangat di sayanginya. Jadi jangan sebut dirinya cengeng karena setiap orang tidak sama dalam menanggapi cobaan hidupnya.
__ADS_1