
Selesai mandi dan berganti pakaian, Cleona keluar dari kamarnya masih dengan wajah yang di tekuk masam. Meskipun rambutnya setengah basah, tapi tidak membuat gadis berusia 15 tahun itu terlihat segar. Apalagi setelah mengengok kanan dan kirinya, kakinya ia hentakan dan mulutnya kembali mengeluarkan dumelan.
“Bukannya di bujuk, malah pergi. Ish, dasar Rapa sialan, nyebelin! Awas aja nanti kalau so manis, gue gak akan mau nanggepin lo la…”
“Pengen di bujuk kayak gimana sih, Queen? Ini Abang dari tadi nunggu kamu loh, gak pergi ke mana-mana,” ucap Rapa yang baru saja kembali dari dapur dengan satu gelas berisi air mineral dingin di tangannya.
Cleona yang tengah mengomel itu pun sedikit terkejut mendengar suara Rapa yang tiba-tiba. Sedikit malu sebenarnya karena terpergok tengah mengomel, tapi bukan Cleona namanya jika tidak bisa menyembunyikan rasa malunya itu. Cleona kembali memberikan wajah judes andalannya dan mendelik pada Rapa.
“Ngapain masih disini, pergi sana!” ketus Cleona tanpa menatap wajah tampan Rapa.
“Abang nunggu Queen,”
“Ck, gak perlu!”
“Yakin gak perlu? Nanti Abang pergi, Queen ngambek, Abang kan gak mau sampai itu terjadi.”
“Dih ge'er banget, lagian gue gak butuh lo tungguin.”
Ucapan dan hati Cleona tentu saja berbeda, wajahnya boleh terlihat judes, ucapannya boleh terdengar ketus, tapi ketahuilah bahwa hatinya berbunga, kupu-kupu tengah bertebaran di dalam sana, menggelitik sampai Cleona ingin sekali menarik bibirnya ke atas, membentuk sebuah senyum, tapi egonya terlalu tinggi, dan Cleona tidak ingin Rapa tahu bahwa dirinya mudah luluh hanya karena kata-kata manis laki-laki itu.
“Kamu cemburu, gara-gara Abang sama Priela?”
“Dih siapa juga yang cemburu, ge’er!” elak Cleona melangkah cepat keluar dari rumahnya.
Jelas saja dirinya tidak ingin mengakui itu, karena jika sampai itu terjadi, mau di taruh dimana wajah cantiknya. Cemburu pada adik sendiri? Cleona tidak dapat mengelak karena meskipun masih kecil Laura memang kadang lebih dewasa darinya, lebih bisa mengontrol emosi dan satu hal yang tidak pernah ingin Cleona akui bahwa adiknya itu lebih cantik darinya, Cleona bahkan bukan sekali dua kali merasakan takut akan Rapa yang berpaling pada adiknya itu.
Pembawaan Laura yang tenang dan kalem menjurus pada Maminya, sedangkan Cleona campuran antara kedua orang tuanya, dan manjanya di wariskan oleh sang Papi, begitu pun tingkah kekanakannya, sedangkan sifat keras kepalanya jelas dari Mami-Papinya. Dan judesnya ia dapat dari Aunty Devi
-nya. Entahlah apa hubungannya dengan Aunty-nya itu, karena Cleona sendiri pun tidak tahu.
__ADS_1
“Kamu itu lucu tahu gak Queen kalau lagi cemburu,” Rapa bicara sedikit berteriak dan melangkah panjang agar bisa sejajar dengan Cleona.
“Siapa yang cemburu? Queen gak cemburu Abang!”
“Ah, masa sih? Kok, dari tadi wajahnya di tekuk? Yakin gak cemburu?” goda Rapa menaik turunkan alisnya.
“Yakin lah!”
“Benar nih, yakin? Terus kenapa dari tadi marah-marah terus?”
“Gak tahu, mau PMS kali,” jawab Cleona yang masih saja tidak mau mengakui, Rapa terkekeh geli di buatnya. Wajah Cleona yang saat ini memerah membuat gadis itu terlihat semakin cantik, apa lagi sejak tadi Cleona selalu membuang muka begitu tatapannya bertemu.
“Abang masih ingat loh, Queen baru selesai PMS dua minggu lalu. Masa udah PMS lagi?”
“Tahu ah, Abang nyebelin!” satu pukulan Cleona daratkan di dada Rapa, wajahnya semakin memerah akibat kesal juga malu, tapi Rapa dapat melihat bahwa sudut bibir gadis itu terangkat, membentuk sebuah senyum.
“Gak khuat apha, Bhwang?” Rapa semakin tertawa mendengar ucapan Cleona yang tidak jelas itu, semakin menekan dan menguyel pipi berisi Cleona saking gemasnya, apa lagi bibir yang bergerak-gerak kesusahan seperti mulut ikan di dalam air.
“Abang takut gak kuat untuk gak segera halalin kamu,” ucap Rapa dengan diakhiri mencubit gemas pipi Cleona yang memerah.
“Ish, Abang sakit!” rengekan kesal yang terkesan manja itu membuat Rapa kembali tertawa dan sekali lagi mencubit pipi Cleona dengan sedikit kuat, kemudian lari meninggalkan Cleona yang meringis dan cemberut.
“Abang nyebelin!” teriak Cleona berlari mengejar.
“I love you too, Queen." Kata Rapa balas berteriak, masih dengan berlari dan tertawa cukup jauh dari Cleona.
Mendengar teriakan itu, Cleona menghentikan larinya. Wajahnya tiba-tiba memanas dan hatinya menghangat, tidak pernah menyangka bahwa kekasihnya itu akan mengatakan kata cinta yang terdengar manis di indranya itu di jalanan seperti ini. Meskipun jalanan komplek ini tidak ramai, tapi tetap saja ada beberapa orang yang melintas dan sudah dapat di pastikan bahwa mereka mendengar teriakan Rapa.
“I love you, Rapa.” Cleona tentu saja mengucapkan itu dengan suara pelan, agar tidak ada yang dapat mendengarnya dan membuat dirinya malu sendiri.
__ADS_1
Sejak dulu efek Rapa memang begitu besar untuk kerja jantungnya jadi, jangan salahkan bahwa dua tahun ke belakang, Cleona sempat membenci dan menghindar dari laki-laki tampan itu.
“Queen, kok kamu lama, Nak?” tanya Luna begitu mendapati anaknya melangkah masuk ke ruang makan.
“Tadi di depan macet, Mi,” jawabnya asal.
“Emang di depan bisa macet, ya, Queen? Memangnya ada apa?” kali ini Pandu yang bertanya dengan kening berkerut heran.
“Ya, bisa dong, Yah namanya juga jalanan,” kata Cleona dengan entengnya, kemudian duduk di kursi kosong yang bersebelahan dengan Clara dan Rapa.
Mengingat Rapa, tiba-tiba pipi Cleona kembali menghangat dan sudah dapat di pastikan bahwa wajahnya memerah saat ini. Beberapa kali, Cleona berdehem untuk menetralkan kembali dirinya agar tidak terlihat salah tingkah, karena jika itu terjadi, maka bersiaplah untuk menjadi bahan bullyan anggota keluarganya termasuk Leo yang senang sekali menggoda Rapa dan Cleona.
“Kamu kenapa, Kak, sakit?” Leo bertanya.
“Gak apa-apa kok, Pi, Queen cuma ngerasa tenggorokan Queen kering,” bohongnya, kemudian meraih gelas air di depannya dan meneguk isinya hingga habis.
Semua orang yang berada di meja makan hanya menggelengkan kepala dan melanjutkan aktivitas makannya, berbeda dengan Rapa yang sesekali melirik Cleona dan kemudian tersenyum. Clara yang memergoki kakaknya itu hanya memutar bola mata jengah.
Orang jatuh cinta kadang memang selalu mendekati gila, itu pikir Clara dalam hati. Apa lagi tadi dirinya sempat melihat tingka kedua manusia kasmaran itu dari jendela kamarnya di lantai dua yang kebetulan mengarah pada jalanan di depan.
“Semoga Ratu gak gila seperti mereka, di saat jatuh cinta nanti.” Clara berguman dalam hatinya sebelum kembali melanjutkan makannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=❤❤❤\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
untuk hari ini aku kasih bonus Laura Priela Arsyatami, adiknya Cleona Queenisa. semoga suka ya, maaf nih ngehalunya ketinggian sampai pakek wajah korea.
Bila ada yang gak suka, tolong abaikan aja ya visualnya. 😊
__ADS_1