Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
146. Kejutan Cleona


__ADS_3

Sejak ajakan dinner-nya di setujui sang istri sore tadi, Rapa langsung menghubungi aunty-nya untuk tidak mengantarkan si kembar dulu. Bukan maksud Rapa ingin menelantarkan anaknya, bukan juga karena tidak merindukan kedua jagoannya itu, tapi untuk saat ini, Rapa ingin menghabiskan waktu bersama istri tercinta, dinner romantis yang sudah lama tidak mereka lakukan. Dan lewat dinner kali ini Rapa akan membuat istrinya yakin sepenuhnya pada cinta yang dirinya miliki.


“Nanti kalau sudah selesai teriak panggil abang ya?” Cleona yang saat ini duduk di depan cermin riasnya untuk memoles sedikit wajahnya dengan make up, menganggukan kepala dan memberikan senyum pada suami tercinta yang kini tengah memeluknya dari belakang.


Cup.


Satu kecupan Rapa bubuhkan di puncak kepala istrinya, sebelum kemudian meninggalkan Cleona di kamar seorang diri. Memilih mengobrol dengan orang tua juga mertuanya yang baru saja pulang dari Bandung untuk perjalanan bisnis, dari pada harus menunggu sang istri yang akan merias wajahnya, karena ingin semakin terlihat cantik untuk malam ini.


Sebenarnya, Cleona sudah cantik meski tanpa riasan. Namun perempuan tetaplah mahkluk yang ingin selalu terlihat cantik dan sempurna, apa lagi di depan pasangannya, jadi, Rapa bisa apa selain membiarkan istrinya mempercantik diri. Setidaknya yang istrinya lakukan itu untuk di persembahkan pada suaminya bukan untuk pria lain di luaran sana.


Selesai dengan tampilannya yang terlihat natural dan cantik, Cleona tersenyum kemudian mengenakan flat shoes berwarna hitam, senada dengan mini dress yang kini melekat indah di tubuhnya. Itu semua sang suami yang menyiapkan dan Cleona hanya akan menuruti apa yang di pilihkan suaminya, selama dirinya pun menyukai itu.


Merasa tak lagi ada yang kurang, Cleona bangkit dari duduknya, sedikit berputar untuk melihat penampilannya secara menyeluruh, kemudian meraih tas selempang kecilnya, memasukan dompet Rapa juga ponsel serta kunci mobil, setelah itu melangkahkan kaki keluar dari kamar, menghampiri suaminya.

__ADS_1


Cleona yang entah kenapa merasakan gugup, menghentikan sejenak langkah kakinya untuk menarik napas yang lalu kembali di hembuskan, setelah itu kembali melanjutkan langkahnya, menghampiri semua orang yang kini tengah mengobrol dan tertawa di ruang tengah.


“Bang,” panggil Cleona pelan, namun masih mampu di dengar oleh semua orang yang ada di ruangan itu.


Keempat orang yang semula tengah tertawa langsung berhenti, dan kini mengalihkan tatapannya pada Cleona yang berdiri anggun beberapa langkah di depan mereka. Raut tak percaya dapat terlihat dengan jelas, dan itu membuat Cleona semakin gugup juga salah tingkah.


“Ka- kamu … sejak kapan?” terbata Rapa bertanya saking tak percayanya dengan apa yang di saksikannya kini. “Aku gak lagi mimpi kan?” tanya Rapa entah pada siapa. “Pi cubit abang, Pi,” pinta Rapa pada sang mertua yang duduk di sampingnya. Tatapan Rapa masih terfokus pada Cleona, menatap istrinya itu dari atas hingga bawah, dan menatap lama pada kaki jenjang istrinya yang berdiri sempurna tanpa bantuan apapun.


Leo yang juga sama tak percayanya memilih menuruti apa yang di minta sang menantu, karena ia pun ingin memastikan, bahwa apa yang di saksikannya kini bukanlah sekedar mimpi belaka. Leo mencubit paha menantunya itu dengan begitu kerasnya, sampai jeritan melengking Rapa terdengar mengejutkan semua orang termasuk Cleona yang segera melangkah cepat menghampiri suaminya, khawatir.


“Kamu sejak kapan bisa jalan?” Leo tak menghiraukan protesan anaknya, karena yang terpenting saat ini rasa penasarannya terjawab. Masa bodo dengan Rapa yang masih saja meringis di sampingnya. “Lo berdua ... sejak kapan anak gue bisa jalan?” tanya Leo beralih pada kedua sahabat sekaligus besannya meminta penjelasan, tapi mendapat sebuah gelengan polos kedua orang itu, Leo tahu bahwa Lyra serta Pandu pun tidak mengetahuinya. Lalu…, “Queen …!”


Cengengesan, Cleona menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Dari satu bulan yang lalu.” Jawab Cleona pada akhirnya.

__ADS_1


Dengan mata membulat, sarat akan keterkejutan Leo menggeplak paha Rapa dengan begitu keras membuat jeritan itu kembali terdengar, tapi lagi-lagi Leo tidak memperdulikannya, walau sang menantu menyumpah serapahi.


“Kenapa gak bilang? Kenapa masih betah di kursi roda? Dan kenapa kamu gak jalan aja ke kamar mandi sendiri tanpa harus telpon-telpon papi, teriak-teriak ganggu papi yang lagi santai, lebih parahnya, papi harus tidur di sofa yang sempit demi nunggu kamu yang sesekali ingin ke kamar mandi di malam hari?!” tanya Leo bertubi-tubi. Perasaannya kini bercampur aduk antara senang dan kesal, karena mungkin saja selama sebulan ini dirinya di kerjai anaknya sendiri. Menggelengkan kepala, Leo melayangkan tatapan tajamnya pada sang putri yang malah bersembunyi di balik ketiak suaminya.


“Kamu benar-benar deh Queen, ngerjain papi sampai segitunya,” Leo menggelengkan kepala tak habis pikir. “Pinggang papi encok tahu gak, gara-gara harus gendong-gendong kamu. Di kira kamu gak berat apa!”


Mendengar kekesalan sang papi, Cleona bukannya merasa bersalah, wanita itu malah tertawa dengan begitu puasnya bersama Rapa yang kini sudah beralih memeluknya.


“Queen cuma pegan memberi kejutan pada kalian semua, dan Queen nunggu abang pulang untuk ini, jadi maaf kalau satu bulan ini Queen ngerjain papi, ayah, sama bunda juga. Salah ayah juga, kenapa gak secepatnya suruh abang pulang, jadi bukan salah Queen dong kalau selama itu Queen ngerjain papi sama ayah?” Cleona menaik turunkan alisnya.


“Ayah lagi yang kena.” Keluh Pandu, menghela napasnya panjang. Sementara Cleona hanya memberikan cengirannya.


“Bunda gak nyangka loh, Queen kamu bisa setega ini sama kita semua. Padahal setiap malam bunda selalu nangis karena gak tega dengan keadaan kamu,” menyeka sudut matanya, Lyra kemudian tersenyum lega. “Tapi bunda senang, karena kamu sudah bisa jalan seperti sedia kala, bunda senang karena itu artinya kamu tidak akan lagi nangis sendirian, kita semua telah melewati masa sedih itu, dan bunda senang kamu sembuh.” Bangkit dari duduknya, Lyra menghampiri menantunya itu dan memeluk Cleona dengan begitu erat, dengan air mata yang menetes, lega juga bahagia.

__ADS_1


“Bunda jangan nangis dong, Queen gak mau nangis, nanti make up Queen luntur, ini Queen mau di ajak abang dinner loh, bun,” ujar Cleona menahan sebisa mungkin air matanya agar tidak menetes dan membanjiri wajahnya yang sudah begitu cantik dengan riasan natural yang selalu menjadi andalannya.


Teringat akan rencananya, Rapa kemudian menatap jam di pergelangan tangannya, lalu berdiri dan menarik istrinya dari pelukan sang bunda untuk berdiri. “Maaf ya, nanti aja di lanjut lagi ngobrolnya. Abang mau pergi dinner dulu sama istri tercinta, kalian silahkan menunggu giliran. Ayo istri, nanti kita telat.” Ajak Rapa menggandeng tangan istrinya itu melangkah meninggalkan ketiga orang tua itu. Rapa tidak ingin rencana dinner romantis yang sudah dirinya rencanakan harus di gagalkan oleh pertanyaan-pertanyaan orang tuanya mengenai kesembuhan Cleona. Penjelasan itu bisa menunggu, yang penting sekarang adalah mengajak istrinya itu pacaran.


__ADS_2