
Sejak kemarin Cleona benar-benar tidak tenang sama sekali, rasa cemas dalam hatinya tidak dapat ia hilangkan saat tidak sama sekali mendapatkan kabar dari suaminya hingga kini malam menjelang, apa lagi saat mengingat bahwa terakhir kali dirinya melakukan video call, suaminya itu tidak terlihat baik-baik saja, membuat Cleona semakin khawatir. Ia takut jika sampai suaminya jatuh sakit di sana.
Berkali-kali sejak kemarin Cleona menghubungin nomor ponsel Rapa, dan jawaban yang di dapat malah dari operator yang mengatakan bahwa nomor yang di tujunya tidak aktif.
Sang ayah yang membantunya menanyakan kabar lewat sekertaris Rapa selama di sana, tidak sama sekali membuat Cleona tenang, karena yang dirinya butuhkan adalah kabar langsung dari pria tercintanya itu, bukan dari orang lain yang bisa saja berkata bohong, untuk menyembunyikan keadaan Rapa yang sesungguhnya.
“Abang, kemana sih, bang, kenapa gak hubungin Queen juga. Gak tahu apa kalau Queen khawatir.” Cleona terus menggumamkan itu dengan wajah cemas yang tidak dapat di sembunyikannya. Kembali ia menghubungi nomor sang suami, tapi jawaban yang sama kembali Cleona dapatkan.
Menyimpan ponselnya yang sejak tadi ia genggam, Cleona kemudian membaringkan tubuhnya, menarik selimut dan berusaha memejamkan mata, karena malam sudah semakin larut dan lelah cukup dirinya rasakan meskipun tidak melakukan apapun sejak pagi.
❄❄❄❄
Begitu sang mentari menunjukan sinarnya hingga mengintip masuk melalui celah-celah gorden yang sedikit terbuka, Cleona mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya. Rasanya Cleona tidur terlalu nyenyak tadi malam, akibat rasa hangat yang dirinya rasakan, mengingatkan akan pelukan Rapa yang begitu ia rindukan.
Bergerak untuk meraih ponselnya di nakas, Cleona mengerutkan kening begitu menyadari bahwa kini tubuhnya terasa berat, seperti adanya sesuatu yang melingkar dan menahannya, juga hembusan hangat di sekitar lehernya membuat Cleona penasaran untuk melihat siapa yang sekiranya tertidur di ranjangnya. Meskipun kadang Cleona di temani sang papi sejak kepergian Rapa, tapi laki-laki tua biasanya akan tidur di sofa. Sedangkan sejak kemarin sang papi sudah meminta maaf tidak bisa menemaninya karena harus melakukan perjalanan bisnis ke luar kota untuk tiga hari ke depan.
Penasaran, Cleona perlahan berbalik, menoleh kebelakangnya, sampai wajah tampan itu dapat dirinya lihat dengan jelas, dan air mata mulai menganak sungai begitu tahu siapa yang memeluknya dengan begitu erat. Air mata itu seolah memberi tahu sebesar apa rindu yang Cleona rasakan pada laki-laki yang tengah tertidur memeluknya kini.
Tangan Cleona terulur menyentuh garis-garis halus di kening sang suami yang terlihat begitu damai dalam tidurnya dengan guratan lelah yang begitu ketara. Cleona sedih melihat bagaimana wajah tampan itu terlihat tak terawat dan kurus, membuat ia meresa gagal menjadi seoarang istri karena membiarkan suaminya seperti ini.
Kecupan kemudian Cleona bubuhkan di hidung mancung suaminya yang tidak merasa terganggu dengan setiap sentuhannya itu, menyakinkan Cleona bahwa mungkin suaminya memang selelah itu.
__ADS_1
Tak ingin mengganggu tidur Rapa, Cleona memilih tetap tinggal di ranjangnya, membalas pelukan suaminya yang masih juga terlelap.
Tak lama sura ketukan di susul dengan terbukanya pintu kamar, Cleona menoleh dan mendapati sang bunda yang datang menghampiri. Wanita paruh baya itu terkejut, dan segera menutup mulutnya begitu melihat keberadaan sang putra di samping Cleona.
“Abang kapan pulang?” tanya Lyra dengan suara sepelan mungkin agar tidak sampai mengganggu tidur Rapa. Menggeleng, Cleona menjawab pertanyaan mertuanya itu.
Mengamati wajah tampan anaknya yang terlihat menyedihkan dan kurus itu membuat Lyra sedih. Tanpa mengatakan apapun, Lyra segera melangkah cepat keluar dari kamar Cleona dan Rapa, meninggalkan menantunya itu dengan kebingungan.
Tidak perlu untuk repot mencari, karena Lyra jelas tahu dimana sang suami kini berada. Menghampiri Pandu yang saat ini tengah membaca koran sambil menikmati teh hangat yang sebelumnya dirinya siapkan.
Lyra tanpa aba-aba langsung menjewer telingan Pandu, hingga membuat laki-laki itu meringis dan mengaduh meminta di lepaskan. “Bunda apa-apaan sih tiba-tiba main jewer aja,” Pandu mengusap-usap telinganya yang panas akibat jeweran sang istri yang tidak pernah berubah rasanya.
“Gara-gara ayah, anak bunda jadi gak ganteng lagi!” kesal Lyra memukul-mukul dada suaminya, semetara yang di pukul mengernyitkan kening bingung dengan apa yang di tuduhkan istrinya itu.
“Si abang kurus banget, ayah! Wajahnya juga jadi jelek, ayah tega banget sama anak sendiri, ish. Pokoknya lain kali bunda gak akan izinin ayah kirim si abang jauh-jauh, apa lagi seorang diri.”
“Abang emang udah pulang?” tanya Pandu yang masih belum sepenuhnya paham dengan maksud kemarahan istrinya.
“Udah, dia lagi tidur. Ya Tuhan, bunda gak tega lihat dia yang gak terawat, udah gitu kurus banget. Wajah kebanggaan anak bunda gak ganteng lagi,” lirih Lyra menyeka sudut matanya yang berair. “Pokoknya ini salah, ayah!” serunya, kemudian pergi meninggalkan Pandu yang hanya bisa melongo melihat kepergian istrinya.
“Jadi penasaran gue, sejelek apa muka anak gue.” Pandu melangkahkan kaki menuju kamar anak dan menantunya, kemudian masuk setelah mendengar sahutan Cleona yang mempersilahkannya masuk.
__ADS_1
“Abangnya masih tidur, Yah,” kata Cleona saat tahu bahwa ayah mertuanya itu menatap ke arah Rapa.
Pandu hanya mengangguk, kemudian melangkah semakin masuk, dan mendekat ke arah ranjang saking penasarannya pada penampakan wajah sang putra. Sedangkan Cleona yang duduk bersandar pada kepala ranjang, mengerutkan keningnya bingung.
“Ada apa, Yah?”
“Gak apa-apa, Ayah cuma penasaran pengen lihat wajah suami kamu yang kata bunda udah gak ganteng lagi. Sampai marah-marah bunda kamu itu dan telinga ayah di jewer karena katanya wajah abang jelek gara-gara ayah.” Pandu menunjukan telinganya yang memang merah itu pada sang menantu yang saat ini tengah menahan tawa geli.
Rapa yang merasa di perhatikan, mulai terganggu dan mengerjap beberapa kali sebelum kemudian menggeliat dan membuka matanyanya perlahan. Terdiam untuk mengumpulkan kesadarannya, Rapa memicingkan mata menatap Pandu yang berdiri dengan tangan terlipat di dada, setelah itu mendongak dan di sambut dengan senyum manis sang istri yang begitu dirindukannya.
Tanpa mempedulikan bahwa sang ayah ada di sana, Rapa kemudian sedikit mengangkat tubuhnya agar bisa melayangkan kecupan pada seluruh wajah istrinya yang cantik itu, membuat Pandu mendengus dan segera meninggalkan kamar itu tanpa mengucapkan apapun, dan menutup pintu kamar dengan sedikit di banting, menimbulkan suara dentuman kerasa, mengejutkan Rapa juga Cleona yang berada di dalamnya.
“Untung ayah orang tua, kalau bukan, abang lempar tuh pintu ke kepala ayah!” gerutu Rapa pelan, tidak ingin sampai ayahnya itu mendengar, karena jika itu terjadi habislah dia kena bogeman mentahnya.
“Abang kapan pulang?” tanya Cleona menatap penuh kerinduan pada Rapa yang saat ini sudah mengubah posisinya menjadi duduk.
“Pukul tiga pagi. Abang ambil penerbangan begitu kerjaan abang selesai, gak mau lagi abang nunda-nunda waktu untuk pulang dan ketemu kamu sama anak-anak, tapi begitu sampai abang malah gak lihat si kembar di kamarnya. Di kemanain jagoannya abang?” penjelasan Rapa diakhiri dengan tanya.
“Di bawa sama Aunty Devi, buat hibur Dania yang sampai saat ini gak juga mau berhenti ngurung diri.” Rapa mengangguk paham, dan tidak melayangkan protesan seperti biasanya. Memeluk tubuh ramping istri cantiknya, Rapa menyalurkan kerinduaan yang selama empat bulan ini dirinya tahan.
“Mandi dulu yuk, setelah itu kita sarapan,” ajak Cleona yang kini sudah asyik memainkan rambut suaminya sudah memanjang.
__ADS_1
“Nanti aja, abang masih pengen peluk kamu kayak gini. Abang rindu.”
Tersenyum, Cleona menganggukan kepalanya dan tak lagi membalas ucapan suaminya, membiarkan laki-laki itu memeluknya, karena Cleona pun sama rindunya dengan pria itu.