
“Kayaknya emang keluarga ini aja yang paling heboh setiap kali ke rumah sakit,” Amel, yang tak lain adalah pemilik rumah sakit sekaligus sahabat ketiga orang tua itu menggelengkan kepala menyambut kedatangan keluarga koyol.
“Kurang keluarga Si Devi, Mel,” kata Lyra melenggang masuk tanpa di persilahkan oleh si pemilik ruangan, di susul oleh yag lainnya, sementara Amel mendengus kesal dan perawat yang mendampinginya hanya terkekeh geli, sudah biasa dengan keluarga dari sahabat sang atasan.
“Gue sampe kosongin jadwal cuma untuk keluarga lo, Ly.” Dengus Amel yang kemudian duduk di kursi kerjanya, sementara semua tamu sudah mengisi sofa yang tersedia sebelum Amel mempersilahkan. Tamu tidak tahu diri memang.
“Kenapa mesti di kosongin segala? Lo ngerasa ke ganggu?” kening Pandu mengernyit.
“Ck. Lo pada kan suka lama dan heboh kalau datang, bikin rumah sakit gue gempar.”
“Gue baik hati, Mel lama-lamain disini, mana tahu lo kangen laki gue,” kata Lyra memberikan kedipan genit pada sahabat dan suaminya itu.
“Masih aja kayaknya lo nyimpan dendam sama gue,” Amel memutar bola matanya jengah.
“Kalau gue dendam udah gue mutilasi lo dari dulu,” ujar Lyra yang kemudian terkejut begitu sang suami menariknya dan membungkam mulutnya dengan bibir tipis laki-laki itu yang hingga saat ini masih saja menjadi favoritenya meskipun sudah sama-sama tua.
“Papi, mata Ella ternodai!” jerit Laura yang kemudian bersembunyi di balik punggung papinya.
“Gak tahu tempat emang bunda sama ayah kamu itu!”
“Sirik aja lo Le mentang-mentang gak punya pasangan,” cibir Pandu begitu melepaskan pangutan bibirnya.
Cleona, Rapa dan Clara memang sudah terbisa mendapati suasana dan kejadian seperti ini, termasuk Laura sendiri, tapi Birma sebagai keluarga baru mereka tentu saja hampir di buat jantungan. Sementara Amel mengeluarkan dengusannya.
__ADS_1
“Aunty Amel yang sabar ya, bunda emang suka bengat cari perhatian papi. Makanya sindiran itu gak usai-usai.” Clara menatap prihatin Aunty-nya yang selalu menjadi sasaran sang bunda.
“Udah biasa Tu, santai aja. Lagi pula bunda kamu emang kayak gitu dari dulu, nyebelin.” Delik Amel.
“Sengaja gue, Mel, siapa tahu kan lo naksir lagi Pandu dan nawarin gue tukeran laki,” kata Lyra yang dengan cepat mendapat lemparang gulungan kertas dari Amel juga jitakan kecil dari sang suami yang kini cemberut.
“Noh Si Leo duda, lo gak tertarik?” Amel menunjuk Leo menggunakan dagunya.
“Gak selera gue sama duda gila macam dia,” delik Lyra pada sahabat sekaligus besannya. “Beda sama Dimas yang diam-diam tapi ngangenin,” lanjutnya, tidak peduli bahwa sang suami sudah menunjukan kecemburuannya, dan anak serta mantunya menatap geli.
“Lo kira gue juga mau sama lo? Dih ogah!” Leo mengibaskan tangannya dan bergidik seolah jijik pada sahabatnya itu.
“Udah deh udah, Ella pusing dengar perdebatan para tetua yang tidak berpaedah itu. Lebih baik sekarang Aunty Amel periksa kak Queen,” Laura angkat suara menghentikan omong kosong yang di lakukan para orang tua yang sepertinya lupa akan umur, mencoba kembali mengingatkan tujuan utama mereka datang ke rumah sakit ini.
Meski usia masih remaja, nyatanya Laura mampu menghentikan semua orang yang sejak tadi heboh sendiri, dan aunty Amel mulai meminta Cleona untuk berbaring di ranjang yang tersedia untuk melakukan pemeriksaan.
Cleona sudah ingin menangis karena tidak ada satu pun yang dirinya rasakan atau alami, begitu pun dengan Rapa yang di tanyai hal yang sama dengan jawaban yang sama juga, yaitu sebuah gelengan kepala, membuatnya semakin ragu dan takut akan mengecewakan keluarganya. Di tambah dengan suaminya yang saat ini sudah menunggu penjelasan aunty Amel dengan harap-harap cemas. Bahkan ruangan yang semula ramai pun kini menjadi sunyi, menunggu dengan tak sabar akan hasilnya.
“Mel, gimana hasilnya?”
“Sayang banget…”
“Jadi, Queen gak hamil, aunty?” tanya Cleona yang saat ini sudah terisak dan berhambur memeluk suaminya.
__ADS_1
“Sayang banget kamu gak ngerasain tanda-tanda hamil, bayinya terlalu baik,” Amel melanjutkan sebelum desahan kecewa semua orang keluarkan.
Isakan Cleona terhenti bersamaan dengan riuhnya semua orang yang ada di ruangan luas itu, Amel menyunggingkan senyumnya ikut bahagia dengan kebahagiaan keluarga sahabatnya ini.
“Aunty yakin?” Cleona bertanya untuk meyakinkan dirinya sendiri dan sebuah anggukan membuat Cleona kembali menangis, hanya saja kali ini tangis itu sebagai bentuk rasa bahagianya.
“Abang, anak kita ada, Bang,” kata Cleona mengguncang tubuh suaminya yang masih diam membeku.
Beberapa tetes air mata jatuh dari ke dua mata indah Rapa. “Kerja keras kita setiap malam akhirnya membuah kan hasil, Queen. Abang gak nyangka bahwa jagoan kita akan tercipta secepat ini,” Rapa memeluk tubuh ramping istrinya dan melayangkan kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah Cleona yang basah oleh air mata meski senyum terukir dengan indahnya.
“Selamat Queennya papi, akhirnya kamu akan menjadi seorang ibu. Jaga baik-baik kandungan kamu ya, Nak?” Cleona mengangguk dan kini beralih memeluk sang papi yang berusaha menahan air mata harunya.
“Selamat ya kakak ipar, gue harap bini gue secepatnya nyusul,” ujar Birma ikut bahagia. Cleona kembali menjawab dengan anggukan kecil dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.
“Selamat calon kakek dan nenek, gue ikut bahagia untuk kalian.”
Lyra segera menarik menarik Amel yang hendak memeluk mereka bertiga, “biar gue aja yang wakilin pelukan kedua laki tersayang gue.” Dokter cantik itu mencebikan bibir dan menggelengkan kepala. Sahabat yang pernah di khianatinya itu masih saja sama seperti dulu, tidak pernah membiarkannya bersentuhan dengan Pandu walau pun secara tidak sengaja.
“Lo kapan nyusul jadi nenek juga, Mel?” celetuk Lyra begitu pelukan mereka terlepas.
“Masih lama kayaknya, anak gue gak mau di nikahin.” Amel menghempaskan tubuhnya di sofa.
Obrolan terus berlanjut hingga sore menjelang dan Amel benar-benar mengosongkan jadwalnya hanya demi keluarga besar sahabatnya yang tengah berbahagia itu, bahkan Devi dan Levin yang berada jauh di negara seberang ikut serta lewat video call, juga mengucapkan selamat pada pasangan yang akan menjadi orang tua baru itu.
__ADS_1
Dan hari ini benar-benar membahagiakan bagi Rapa dan Cleona, serta keluarga besar mereka.
“Mami, Queen tahu mami pun ikut bahagia di surga sana."