Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
42. Berakhir


__ADS_3

Kembali ke sekolah bukan lah yang Cleona inginkan sebenarnya, karena selain sudah merasa tak nyaman, Cleona pun tidak tahan jika harus diam-diaman lebih lama dengan Clara. Tadinya ia kira Clara akan kembali setelah tahu sang mami telah pergi, Cleona sempat mengira bahwa sahabatnya itu akan merangkulnya dan memberikan seucap penyemangat atau mengajaknya untuk menangis bersama. Namun ternyata semua itu tidak sesuai dengan bayangannya. Clara masih tetap sama, mengabaikan dan terlalu sering menghindar begitu dirinya berusaha untuk mendekat. Bahkan keempat temannya sampai kehabisan akal untuk kembali mendekatkan keduanya.


Sakit rasanya di perlakukan seperti itu oleh sahabat yang paling dekat, lebih sakit dari pada di abaikan Rapa.


Mengingat laki-laki itu, Cleona menjadi rindu akan sosok kekasihnya yang memang beberapa waktu ini tidak lagi dirinya ganggu untuk memohon maaf. Ya, Cleona memutuskan untuk berhenti. Bukan karena tidak lagi mencintainya, tapi Cleona cukup sadar bahwa mungkin Rapa tak lagi ingin berada di sampingnya, Rapanya sudah tidak peduli, bahkan di saat ia begitu membutuhkannya ketika sang mami pergi untuk selamanya. Cleona juga berpikir bahwa dirinya terlalu egois untuk Rapa.


═════


Sekembalinya dari perpustakaan, Cleona hanya bisa mengulas senyum sedihnya begitu melihat sosok Rapa dan Mirna berada tidak jauh dari posisinya. Kekasih yang amat ia rindukan itu sepertinya baik-baik saja, melihat senyum terukir di bibirnya dan raut bahagia seperti biasa saat becanda dengan sahabatnya itu. Cleona jadi merasa bahwa sepertinya Rapa memang lebih baik tanpa dirinya.


Melewati begitu saja kedua orang itu, Cleona berusaha untuk menahan diri agar tidak berbalik dan memeluk laki-laki yang masih menjadi kekasihnya, juga menahan agar air mata yang sudah terbendung tidak meluncur dengan lancangnya. Cleona tidak ingin lagi menangis, ia akan berusaha tegar mulai saat ini.


“Queen,”


Langkah Cleona tiba-tiba terhenti mendengar panggilan itu, tapi untuk menengok rasanya ia tidak sanggup, air mata yang sejak tadi terbendung seakan saling dorong meminta kebebasan. Maka dari itu Cleona memilih pada posisinya saat ini, karena ia jelas tidak ingin kedua orang itu melihat air matanya.


“Abang mau bicara,” kata Rapa pelan.


Cleona mengerutkan keningnya, sebelum kemudian tersenyum tipis nyaris tak terlihat, kedutan perih hatinya rasakan hanya karena tiga kata itu. Apakah pendengarannya tidak salah? Apakah yang laki-laki itu ucapkan tidak melantur? Kenapa rasanya Cleona ingin sekali menangis dan tertawa secara bersamaan saat ini. Merasa lucu dengan apa yang baru saja keluar dari bibir manis Rapa.


Kemana dia saat dirinya ingin memberi penjelasan atas kesalah pahaman kemarin? Kemana dia saat dirinya memohon maaf? Bukankah saat ia mengejar, laki-laki itu justru berlari seolah tak lagi ingin di campuri? Lalu begitu sekarang dirinya memilih untuk menyerah, Rapa justru meminta untuk berbicara. Tidak sadarkah dia bahwa di saat ia membutuhkan sandaran dan pelukan Rapa malah tak ada? Jadi, haruskah ia tertawa kencang saat ini?


Membuang napas terlebih dulu, Cleona terus berusaha menahan air matnya agar tidak menampakan diri sebelum kemudian berkata, “Bicara apa? Bukankah di antara kita sudah tidak ada yang mesti di bicarakan?”


Rapa terkejut dengan nada datar dan dingin yang baru saja di keluarkan sang kekasih, keningnya mengerut, bingung. “Apa maksudnya? Apa Abang gak berhak bicara sama pacar sendiri?”


“Gue kira status itu udah hilang.”


“Apa maksud kamu Queen? Abang gak pernah mengakhiri hubungan kita …!”

__ADS_1


“Kalau begitu biar gue yang mengakhirinya,” Cleona memotong upacan Rapa, kemudian menoleh, dan menatap tepat pada wajah tampan yang dihiasi keterkejutan itu. “Mulai sekarang hubungan kita berakhir.”


Rapa yang mendengar pernyataan Cleona barusan tiba-tiba merasakan sesak di dada seolah tertimpa reruntuhan akibat gempa besar yang baru saja terjadi, membuat jantungnya seakan berhenti berdetak sampai kemudian kesadarannya kembali setelah sebuah tepukan di pundaknya Mirna berikan.


“Lo baik-baik aja kan?” tanya Mirna cemas.


Rapa tidak sama sekali menjawab, ia justru kembali menoleh ke arah Cleona semula berdiri. Namun gadis itu sudah tak lagi berada di tempatnya, bahkan keberadaannya tidak lagi terlihat. Jadi, apa selama itu dirinya berada dalam ketidak sadaran?


“Lo ke perpus sendiri aja ya, Mir.” Kata Rapa dengan lesu.


Mirna menatap kepergian Rapa dengan tatapan iba, tidak menyangka sahabatnya itu anak serapuh ini begitu kata putus terlontar dari mulut kekasih tersayangnya. Mirna cukup tahu bagaimana cintanya Rapa pada Cleona, dan dengan alasan itu jugalah ia memilih mundur untuk meraih cinta laki-laki itu, karena mirna jelas sadar bahwa dirinya tidak akan pernah menang.


══════


“Tolong beresin buku gue dong, No,” kata Rapa dengan sedikit memohon.


“Please No, gue harus ke kelas Queen. Takut dia keburu pulang.”


“Bukannya rumah lo sama dia sebelahan?”


“No…”


“Oke, gue beresin. Sana lo pergi, kejar bidadari lo.” Ujar Nino yang tidak tega melihat wajah kusut sahabatnya.


Setelah mengucapkan terima kasih, Rapa dengan cepat bangkit dan berlari keluar dari kelasnya. Tidak peduli dengan dengusan beberapa orang yang dirinya tabrak, karena sekarang ia harus dengan cepat menuju kelas kekasihnya untuk meminta penjelasan soal apa yang tadi Cleona katakan.


Rapa menghela napas lega begitu sampai ambang pintu dan dirinya masih menemukan Cleona yang masih duduk di bangkunya, membereskan alat tulisnya ke dalam tas. Namun ada saja yang membuat fokusnya teralihkan.


“Clara Ratu Yeima!” panggil Rapa dengan nada rendah, dan itu sukses membuat kedua orang yang tengah becanda di pojokan kelas menoleh. “Sejak kapan lo pacaran?”

__ADS_1


Clara yang terkejut dengan kehadiran Rapa yang tiba-tiba, berjalan cepat menghampiri kakaknya itu. “Lo ngapain ke sini? Gue kan udah izin kalau gu…”


“Apa! Selama ini lo selalu izin pulang lebih dulu dengan alasan kerja kelompok, main sama teman dan sebagainya itu karena lo mau pacaran? Sejak kapan lo punya pacar? Lupa lo, gue selalu bilang kalau mau punya pacar bilang gue dulu! Setidaknya gue tahu cowok yang deketin lo baik atau tidak. Lo gak pernah anggap ucapan Abang lo, Tu?”


“Birma laki-laki yang baik, Abang gak usah berlebihan deh,” jawab Clara memutar bola matanya jengah.


“Gue seperti ini karena gue khawatir, Tu. Gue gak mau adik gue ada yang menyakiti. Apa gak boleh gue berlebihan sama adik gue sendiri?!” Rapa berkata dengan sedikit membentak, membuat Clara menundukan kepala, takut juga sedih karena baru kali ini mendapatkan kemarahan sang kakak.


“Tapi gue janji gak akan menyakiti Clara, Kak. Gue janji akan jaga dia…”


“Dan gue harus percaya? Jangan mimpi! Lo…”


Rapa terpaksa mengurungkan niatnya untuk memarahi laki-laki yang menjadi kekasih dari adiknya begitu melihat Cleona sudah berdiri dari bangkunya dan hendak pergi. Menurutnya, sekarang yang lebih penting adalah urusannya dengan Cleona dari pada kisah percintaan adiknya.


“Queen sebentar aja, Abang ingin bicara,” kata Rapa mencegat kepergian Cleona yang hendak keluar.


“Sorry gue gak bisa, Alvin udah nunggu.”


"Kamu lebih milih dia dari pada Abang?” Rapa menggeleng tak percaya.


Cleona menoleh, kemudian menaikan sebelah alisnya heran. “Hubungan kita sudah berakhir, dan lo gak berhak menanyakan hal seperti itu.”


“Jadi benar, ada hubungan diantara kalian?” tanya Rapa dengan wajah memerah, menahan marah.


“Kalau iya, memangnya kenapa?” kata Cleona yang kemudian pergi begitu saja meninggalkan Rapa, Clara dan Birma.


“Arrgghh!” teriak Rapa, melayangkan tinjuan pada pintu, melampiaskan kemarahannya atas ucapan yang di layangkan Cleona barusan.


“Berengsek. Berani-beraninya lo khianatin gue!”

__ADS_1


__ADS_2