Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
87. Pamit


__ADS_3

Begitu selesai makan malam bersama dengan Birma sebagai anggota baru di keluarga konyol, Cleona yang di ekori sang suami membawakan cake strawberry yang sore tadi di buatkan adik dan mertuanya menuju gazebo, tempat yang mereka jadikan untuk berkumpul di saat malam, selain udaranya yang sejuk di tempat itu juga nyaman untuk bercengkrama, yang selalu menjadikan hubungan kekeluargaan ini menjadi lebih akrab dan hangat.


Dengan senyum lebar dan mata berbinar semua menyambut ke datangan Cleona, lebih tepatnya cake yang di bawa perempuan cantik yang selalu di ekori suaminya, hanya Clara yang tak ikut menyambut makanan tersebut, mengingat memang cuma perempuan itu yang tak menyukai apapun yang berbau strawberry. Entahlah, semua orang pun tidak tahu apa penyebab Clara tidak menyukai buah itu.


“Kamu anak siapa sih sebenarnya, Tu? Bunda heran, yang lain suka strawberry, cuma kamu doang yang enggak.”


“Anak tetangga, mungkin.” Jawab Clara dengan cuek.


“Terus ngapain ada di sini? Sana pergi,” kata Leo yang langsung mendapat delikan tajam Clara.


“Pa…”


“Papi pegang tangan Ella,” pinta Laura tiba-tiba mengulurkan sebelah tangannya pada sang papi, memotong Clara yang hendak berucap. Itu semua tentu saja membuat semua orang menoleh, termasuk Leo yang saat ini mengernyit bingung juga menatap anaknya itu dengan curiga.


“Kenapa?” tanya Leo yang tentu saja masih enggan meraih tangan anaknya, karena takut terkena kejahilan putri bungsunya itu.


“Pegang aja kenapa sih, Pi!” gemas Laura yang terus meminta sang papi meraih tangannya.


“Gak mau! Nanti papi kena prank kamu, malas.”

__ADS_1


“Papi pegang!”


“Kamu gak niat jahilin papi kan, La?” masih juga enggan percaya, Leo malah justru menyembunyikan tangannya di belakang punggung.


“Papi, please!” mohon Laura yang kembali mendapat gelengan dari laki-laki tua itu.


“Papi milih menurut apa menyesal?” dengus Laura yang sudah mulai kesal. Terkesan tak sopan memang, tapi mau bagaimana lagi, Laura sudah terlanjur kesal saat ini pada sang papi yang tidak juga mau menjabat tangannya. Tidak kah pria tua itu tahu bahwa tubuhnya sudah mulai lelah?


Melihat raut memelas sang putri, Leo akhirnya menyambut uluran tangan anaknya yang sejak beberapa menit lalu terarah padanya. Perasaan ragu yang semula hinggap kini justru malah membuatnya meneteskan air mata begitu tangan mungil anaknya ia genggam dengan erat.


Wajah yang semula menampilkan Laura yang tengah memohon, kini berubah menjadi sosok cantik yang begitu amat di rindukannya tengah tersenyum manis. Semua yang ada di sana tentu saja heran, apa lagi saat mendengar isakan yang keluar dari bibir Leo. Mereka menyangka bahwa laki-laki tua itu berhasil di kerjai oleh Laura, tapi nyatanya anggapan mereka semua salah begitu mendengar Laura yang mulai mengeluarkan suara.


“Aku mau pamit, sama kamu, sama kalian semua. Maaf saat itu pergi tanpa mengucapkan apapun terlebih dulu. Sekarang aku sudah tenang, apa lagi menyaksikan kalian bahagia,” wajah Laura yang di hiasi senyum khas Luna bergerak menatap satu per satu orang yang berada di sana. Sebelum kemudian kembali memfokuskan diri pada Leo yang satu-satunya bisa melihat kehadirannya saat ini.


“Aku ada, Le. Aku selalu ada… di hati kalian.” Luna menjawab masih dengan senyum yang sepertinya tidak juga ingin pudar, menambah kecantikan Luna yang saat ini lebih bercahaya dengan gaun putih bersihnya. “Leo, berjanjilah untuk tidak kembali bersedih, aku tidak akan pernah bisa pergi jika kamu terus seperti itu,” tangan Laura terulur menyeka bulir bening di pipi Leo. Dingin, itu yang Leo rasakan begitu tangan mungil itu berada di wajahnya.


“Jangan selalu menangis di saat sendirian, Le." Senyum lembut itu membuat air mata Leo semakin deras mengalir. Dan ya, Leo mengakui bahwa hingga kini dirinya masih selalu menangisi istrinya di kala ia sendiri.


“Aku pengen ikut kamu, Lun,” isak Leo menggenggam erat kedua tangan dingin sang istri.

__ADS_1


Sosok cantik itu menggeleng. “Priela masih membutuhkan kamu, Le termasuk anak manja kita,” ucapnya seraya menoleh ke arah Cleona yang menangis di samping Rapa. Leo ikut menoleh pada anak pertamanya yang kini menatapnya dengan sedih.


“Kamu ihklaskan aku pergi, bisa kan, Le?” pinta Luna memohon.


Setelah beberapa detik terdiam, Leo akhirnya mengangguk pelan, sadar akan apa yang sebelumnya ia ucapkan akan terkesan egois bagi kedua putrinya.


Kembali Leo menatap lekat-lekat istri cantiknya yang saat ini begitu sulit di rengkuh, ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk menatap puas-puas wajah istrinya, karena Leo tahu bahwa Luna tidak akan pernah lagi kembali setelah ini.


“Terima kasih sudah menemaniku selama ini, terima kasih sudah menjadi suami yang baik untukku, menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita, dan terima kasih sudah menemaniku hingga napas terakhir,”


Setiap kata yang di ucapkan istrinya air mata Leo mengalir dengan derasnya. Mungkin saat ini Leo lebih mirip dengan remaja cewek yang baru putus cinta. Namun bukankah yang di alami Leo ini lebih dari itu?


“Aku bahagia hidup bersama kamu, menghabiskan sisa waktu bersama seseorang yang kucintai. Kamu tahu, sejujurnya aku masih ingin hidup denganmu, berkumpul bersama anak, keluarga juga sahabat-sahabatku, tapi Tuhan lebih membutuhkan aku. Maaf jika selama ini aku masih belum cukup dalam membahagiakan kamu, maaf jika selama ini aku tidak bisa menjadi apa yang kamu inginkan dan maaf jika selama ini aku lebih banyak merepotkan kamu, di tambah dengan meninggalkan anak-anak bersamamu.”


Leo semakin terisak, begitu juga dengan, Lyra, Cleona, Clara dan Rapa. Sebenarnya air mata Birma dan Pandu pun ikut menetes dan kesedihan jelas terlihat, hanya saja kedua pria itu lebih menegarkan hati untuk lebih menguatkan istri masing-masing, berbeda dengan Rapa yang tak mampu lagi menahan kesedihannya, karena bagaimana pun sejak kecil dulu, mami Luna ikut berperan dalam mengurusnya.


“Leo, aku mencintai kamu. Sangat mencintai kamu, tapi maaf aku harus pergi, bukan untuk meninggalkan kamu, hanya saja kini dunia kita sudah tak lagi sama. Aku harap setelah ini kamu bisa benar-benar melepaskan kepergianku. Berbahagia lah, Le, bersama mereka yang menyayangi dan membutuhkanmu. Jangan tangisi aku lagi,” pinta Luna terlihat sekali memohon.


Seulas senyum yang lebih lebar terukir indah di wajah cantik itu, membuat Leo terpesonan dan begitu enggan melepaskan tatapannya.

__ADS_1


Perlahan sosok Luna menarik tangannya dari genggaman erat Leo. “Aku titip Queen sama Ella ya, Le. Dan aku titip cucuku.”


Itu kata terakhir yang Luna ucapkan sebelum sosoknya menghilang bersamaan dengan ambruknya tubuh lemas Laura.


__ADS_2