
Rapa yang mendapat kabar dari adiknya bahwa Cleona sudah pulang tentu saja mengulas senyum bahagia dan langsung mengemasi barang-barangnya sebelum kemudian mencari tiket kembali ketanah air.
Pekerjaan yang ayahnya tugaskan sudah ia selesaikan dari tiga hari yang lalu, dan tiga hari itu ia gunakan untuk mencari sang pujaan hati. Namun tidak juga dirinya temukan, dan sekarang begitu tahu bahwa perempuan yang di carinya sudah pulang, membuat Rapa tidak ingin lagi menyia-nyiakan waktunya. Ia ingin segera bertemu dengan mantan kekasihnya yang masih amat ia cintai dan memperbaiki semua kesalahpahaman yang dulu sempat terjadi.
Duduk di kursi tunggu, Rapa beberapa kali melirik jam di pergelangan tangannya, sudah tidak sabar menunggu pesawat yang akan mengantarkannya pulang ke tanah air, dan segera bertemu dengan Cleona. Bahkan semalam ia sampai tidak bisa tidur karena takut kesiangan dan tertinggal pesawat.
Waktu kurang dari dua jam yang Rapa habiskan di dalam pesawat, entah kenapa merasa begitu lama ia rasakan, membuat orang yang duduk di samping Rapa menatapnya aneh memperhatikan kegelisahannya. Namun itu tidak sama sekali Rapa hiraukan, karena dalam pikirannya sekarang adalah bagaimana dirinya akan merengkuh tubuh mungil yang dirindukannya itu, mengutarakan rasa cintanya, meminta maaf atas kesalahannya dan merangkai kata dalam hatinya meminta perempuan itu untuk kembali bersamanya.
Sesampainya di depan komplek perumahan tempatnya tinggal, Rapa menghentikan taxi yang mengantarnya pulang dan tidak lupa membayar sesuai kargo sebelum kemudian masuk ke dalam rumah papinya dengan semangat dan senyum yang terukir lebar. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan pujaan hatinya.
Namun begitu sampai di pekarangan rumah besar itu, senyum Rapa tiba-tiba luntur saat matanya menangkap sosok cantik yang berdiri di samping mobil Mercedes Benz CLS-Class berwarna silver bersama seorang laki-laki tampan yang masih dirinya kenal.
Mungkin hatinya tidak akan sesakit ini jika saja kedunya hanya berdiri berhadapan atau sekedar mengobrol biasa, tapi ini jelas berbeda, karena yang dilihatnya senyum Cleona begitu lebar terukis dan kemudian cemberut dengan menggemaskannya saat si laki-laki mengusak rambutnya yang tergerai indah.
Dunia Rapa seakan mendadak runtuh menyaksikan kebahagiaan Cleona bersama laki-laki lain, tubuhnya lemas dan hatinya menolak untuk menerima. Rapa ingin sekali menghampiri keduanya, melayangkan pukulan pada wajah tampan Alvin yang saat ini sudah membukakan pintu mobil untuk Cleona, di tambah dengan gadis itu yang menerimanya dengan senang hati.
“Mau marah, tapi sadar bahwa tidak punya hak itu sakit 'kan, Den?”
Rapa menoleh pada pak satpam yang berdiri di sampingnya, menatap ke arah dimana pemandangan indah, yang menyesakan untuk Rapa, kemudian laki-laki tua itu segera berlari menuju gerbang dan membukanya dengan lebar begitu klaskson dari mobil Alvin terdengar.
Mata Rapa mengikuti lajunya mobil tersebut dan sedikit melihat bagaimana Cleona di dalam sana yang sama sekali tidak menyadari keberadaanya karena sibuk tertawa bersama laki-laki di dalam mobil itu. Rasa semangat yang semula berkobar, mendadak padam dan di gantikan dengan rasa sesak yang amat menyakitkan.
“Cinta itu di perjuangkan, Den,” kata pak satpam yang sudah kembali berdiri di samping Rapa, menepuk pundaknya dan memberikan senyum dukungan sebelum kemudian kembali berucap, “selama janur kuning belum melengkung, menikung masih di perbolehkan.”
__ADS_1
Rapa menatap satpam yang sudah sangat di kenalnya itu dengan dalam, sebelum kemudian senyum Rapa kembali terukir dan pancaran semangat kembali naik. “Bapak emang yang terbaik,” kata Rapa mengacungkan kedua jempol di depan wajah satpamnya itu. “Kalau begitu Rapa akan tikung. Demi Queen, Rapa tidak akan menyerah.”
“Tapi, Den tadi saya sempat dengar bahwa mereka akan mengurus pernikahan."
Mengurungkan niatnya untuk pergi, Rapa kembali menatap satpamnya itu dan memberikan tatapan tajamnya, meminta penjelasan atas apa yang baru saja di katakan. “Tadi saya dengar langsung dari Neng Queen saat izin sama papinya.”
Brukkk.
“Tuhan tidak ada kah kejutan yang lebih menyakitkan dari ini?” jerit bati Rapa setelah mendengar retakan yang begitu menyakitkan hatinya.
Koper yang semula sudah dalam genggamannya tiba-tiba terjatuh begitu saja saking lemasnya Rapa saat mendengar penuturan laki-laki baya itu. “Bapak gak bohong 'kan?” tanya Rapa yang menolak untuk percaya.
“Saya tadi kebetulan lagi cuci mobil saat Neng Queen dan papinya ngobrol.”
“Apa benar Queen akan menikah, Tu?” tanya Rapa, tanpa menghiraukan perkataan adiknya. Satu anggukan Clara berikan, dan itu membuat Rapa semakin lemas, hingga terduduk di undakan tangga paling bawah, kemudian mengacak rambutnya frustasi. “Kenapa lo gak bilang kalau kepulangan Queen untuk rencana pernikahannya?”
“Semalam lo langsung tutup telepon gue gitu aja, padahal gue belum selesai bicara.” Kata Clara yang menolak untuk di salahkan.
“Arrggghh sial! Kenapa harus jadi seperti ini? Kenapa kepulangan gue harus di sambut dengan kabar yang tidak mengenakan ini?!” teriak frustasi Rapa, mengusap wajahnya dengan kasar.
“Yang sabar, Bang. Mungkin Queen emang bukan jodoh lo,” ujar Clara prihatin, menepuk pundak kakaknya dengan pelan. Dalam hati ia ingin sekali tertawa dengan sekencangnya, tapi juga merasa kasihan melihat bagaimana kacau dan tidak semangatnya Rapa saat ini.
“Kapan pernikahannya?”
__ADS_1
“Gue gak tahu,” kata Clara menggelengkan kepalanya.
“Jangan bohong lo, Dek! Kasih tahu gue kapan Queen nikahnya?”
“Ya, mana gue tahu Bang, yang mau nikah juga dia bukan gue,” ujar Clara memutar bola matanya jengah. “Lagian ngapain juga lo tanya-ta...”
“Mau gue gagalin pernikahannya!” potong Rapa dengan cepat.
“Jangan gila lo, Bang!”
“Sampai kapan pun gue gak akan rela Queen nikah sama laki-laki lain. Dia milik gue, dan selamanya akan tetap seperti itu.”
“Segitu cintanya ya, Bang, lo sama Queen?”
“Lo pikir untuk apa selama ini gue nyari dan nunggu dia?”
Nada marah itu jelas dapat Clara dengar, di dukung dengan wajah merah dan rahang kakaknya yang mengeras.
“Gue kira karena hanya rasa bersalah lo doang, Bang,” cicit Clara pelan.
“Cinta gue terhadap Queen gak sedangkal itu, Ratu!” dengus Rapa, menggelengkan kepala.
“Ya, kan gak bisa menutup kemungkinan Bang. Dulu aja lo bisa mengabaikan Queen gara-gara sahabat kesayangan lo itu jadi, bisa aja kan lo nunggu dia hanya karena rasa bersalah?” kata Clara mengangkat bahunya.
__ADS_1
Rapa mendengus kasar dan bangkit dari duduknya, melanjutkan langkahnya menaiki undakan tangga meninggalkan Clara seorang diri. Sekarang sudah tidak ada waktu lagi untuknya terus berdiam diri, karena bagaimana pun ia harus bisa mencari cara untuk kembali meraih Cleona dan cintanya.