Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
85. Antara Lak-laki atau Perempuan


__ADS_3

"Selamat pagi, sayang,” sapa Birma begitu sang istri yang sejak tadi dirinya pandangi membuka matanya perlahan.


Birma selalu suka menikmati wajah cantik istrinya saat terlelap, dan itu akan ia jadikan pemandangan indah begitu matanya terbuka. Tidak akan pernah Birma lewatkan barang sehari pun menatap wajah bangun tidur Clara dan menutup hari dengan wajah cantik itu pula.


“Sekarang jam berapa?” suara pertama yang Clara keluarkan setelah beberapa detik mengumpulkan kesadarannya.


“Jam sebelas siang,” Birma mengucapkan itu dengan begitu lambat dan penuh penekanan. Ya, ini memang sudah siang, sengaja Birma mengucapkan selamat pagi saat istrinya membuka mata karena tidak ingin membuat Clara terkejut dan memaksa matanya terbuka, seperti sekarang ini, mata indah itu terbuka lebar dan mulutnya pun menganga.


“Kok kamu gak bangungin aku dari pagi?”


Mencebikan bibirnya, Birma menggerutu dalam hati dan mengatai istrinya yang tidur layaknya orang mati, sulit di bangunkan. Pada akhirnya Birma terpaksa melewatkan sarapannya dan mengurungkan niat yang ingin berjalan-jalan pagi membuktikan keindahan perkebunan teh yang semalam ia lihat dalam kegelapan. Tapi tak apa, karena pemandangan itu sudah tergantikan dengan wajah cantik istrinya yang terlelap kelelahan akibat pergulatannya semalam.


“Aku juga baru bangun sayang, jadi mana sempat bangunin kamu.” Tentu saja Birma memilih berbohong, dari pada harus berkata jujur dan malah mendapat pukulan atau omelan sang istri jika ia benar-benar mengatakan wanita itu tidur seperti mayat.


“Jadi hari ini kita melewatkan jalan-jalannya dong,” kata Clara dengan nada sedih.


“Gak apa-apa masih ada hari esok untuk jalan-jalan. Lagi pula bukannya sore nanti kamu pengen ke bukit bintang?” Birma mencoba membujuk. “Kita nginep aja gimana? sewa tenda dan menikmati malam disana.”


Meskipun masih sedikit kesal pada dirinya sendiri yang bisa-bisanya bangun kesiangan, akhirnya Clara mengangguk juga, menyetujui usulan sang suami yang tidak terlalu buruk. Toh selama ini ia belum pernah tahu bagaimana rasanya berkemah, meskipun ini bukan kemah yang sesungguhnya, tapi sepertinya tidak akan terlalu buruk juga.


Rapa awalnya menolak ajakan adiknya untuk berkemah, namun keantusiasan Cleona dan ancaman tetap pergi tanpa sang suami tentu saja membuat Rapa pada akhirnya mengalah untuk menyetujui rencana adik dan iparnya itu.


Pukul tiga sore, keempatnya baru saja keluar dari hotel dan menaiki mobil sewaan yang Birma pesan untuk di jadikan transfortasi menuju tempat tujuan, memutuskan untuk tidak menaiki mobil sendiri karena selain tidak ingin ribet juga karena mereka tidak ingin nyasar akibat tak tahu jalan mana yang harus mereka lewati, tentu saja ini adalah perjalanan pertama mereka di kota ini jadi, bukankah lebih aman menyewa kendaraan serta supir yang sudah jelas mengenal tempat-tempat yang ada di sana? Waktu mereka tak akan habis sia-sia dan yang jelas pasti sampai di tempat tujuan.

__ADS_1


“Aaa… bukankah ini benar-benar indah?” Clara merentangkan kedua tangannya menikmati hembusan angin di atas bukit yang saat ini menyajikan pemandangan indah sore hari dengan semburat oranye dan lampu kota yang mulai menyala.


“Bukan kah ini semakin indah,” Birma yang saat ini berdiri di depan sang istri mengedit-ngedipkan matanya genit.


Bukan semburat kemerahan yang pipi tembam istrinya keluarkan melainkan dengusan pelan yang perempuan cantik itu berikan. “Yang benar itu dengan adanya kamu pemandangan jadi lebih buruk!”


“Bisa banget bohongnya,” Birma mencebikan bibirnya sebelum kemudian merengkuh tubuh ramping itu dan membubuhkan satu kecupan di kening Clara bersamaan dengan terbenamnya matahari yang sejak tadi Clara nantikan. Dan akibat terhalang tubuh tinggi sang suami, membuatnya tidak dapat menyaksikan itu. Bukankah itu menyebalkan?


“Kenapa di halangin sih, Birma!” kesal Clara mendorong tubuh suaminya yang tidak juga bergerak barang sesentipun.


“Matahari masih akan datang esok hari, sayang, tapi kebersamaan kita tidak bisa kita lewatkan barang sedetikpun.”


“Uuhh, so sweet!”


“Nyesel gue ajak kalian berdua kesini!” dengus Birma yang kemudian membawa istrinya menjauh dari kedua peganggu yang jika saja tak takut dosa dan hukuman sudah Birma lemparkan dari atas bukit ini.


🌼🌼🌼


“Beruntung kita datangnya hari ini, langitnya cerah dan bintang pun bertaburan, bukankah indah?” kata Birma saat keduanya sudah duduk di atas bangku yang sepertinya terbuat dari akar pohon yang usianya sudah puluhan tahun.


“Tapi tanpa kamu, duniaku tidak akan seindah saat ini,” Clara berkata seraya menatap wajah terkejut suaminya, yang entah kenapa lebih terlihat konyol dan menggemaskan. “Dan aku sama beruntungnya dengan malam ini karena memiliki kamu.”


“Uuu … manisnya istriku ini,” menangkup wajah cantik istrinya dengan kedua telapak tangannya, Birma kemudian membawa wanita itu ke dalam pelukan hangatnya. Satu kecupan ia berikan di puncak kepala sang istri. “Aku lebih beruntung memiliki kamu, Cla. Mau kan janji untuk menghabiskan waktu bersama hingga maut memisahkan kita?”

__ADS_1


“Jangan bicarain maut sekarang, Bir. Aku belum siap kehilangan kamu, aku masih ingin menghabiskan banyak waktu bersama kamu, dan tentu saja bersama anak-anak kita nanti.”


Entah kata apa yang cocok untuk mengambarkan kebahagiaannya kini. Birma benar-benar bersyukur memiliki istrinya yang tak hanya cantik dalam paras, Clara pun memiliki hati yang sama cantiknya, dan Birma tidak akan tahu bagaimana jadinya jika dulu ia tak bisa menjaga hati untuk perempuan cantik di depannya ini.


“Ngomong-ngomong tentang anak, aku boleh minta anak laki-laki gak?”


“Gak! Aku pengennya yang pertama itu perempuan, Bir,”


“Laki-laki, Yang, biar nanti jadi pelindung untuk adiknya.”


“Perempuan juga bisa jadi pelindung, bahkan perempuan biasanya lebih dewasa dalam bersikap,"


Birma menggelengkan kepala tak setuju. “Anak pertama harus laki-laki pokoknya! Lihat tuh abang kamu, bisa menjadi pelindung untuk kamu sejak kecil.”


“Ish, abang mah bukan melindungi, tapi mengekang.” Clara mendengus begitu mengingat kakaknya yang selalu saja melarangnya ini dan itu termasuk berdekatan dengan lawan jenis, sampai membuatnya harus sembunyi-sembunyi ketika pacaran dengan Birma. Percayalah itu tidak lah menyenangkan.


“Tapi kan abang kamu seperti itu juga demi kebaikan kamu juga, sayang,” Birma mencoba memberikan pengertian pada istri tercintanya.


“Ya ta- tapikan gara-gara abang juga dulu kita gak bisa pacaran terang-terangan.” Clara berkata dengan sedikit terbata, sebab malu sudah mengakui itu.


“Tapi kan pada akhirnya kita bisa menikah juga sekarang, jadi gak boleh kesal lagi sama abang kamu, ya?” satu anggukan pada akhirnya Clara berikan, menerbitkan senyum di sudut bibir Birma. “Jadi sepakat ya, anak pertama kita laki-laki?” Birma menaik turunkan alisnya.


“Gak bisa, pokoknya perempuan yang jadi anak pertama kita!” kekeh Clara.

__ADS_1


Perdebatan mengenai itu terus berlanjut dan langit menjadi saksi bisu mereka.


__ADS_2