
Setelah mengeringkan wajahnya yang baru saja di cuci, Cleona kemudian keluar dari toilet, menepuk-nepuk seragamnya yang sedikit kusut hingga dirinya menabrak seseorang, karena berjalan sambil menunduk. Ringisan cukup keras dapat dirinya dengar dan itu membuat Cleona semakin merasa bersalah, dengan cepat mengucapkan kata maaf berkali-kali sebelum kemudian mendengus kesal begitu tahu siapa yang dirinya tabrak barusan.
“Lo kalau jalan pake mata dong!” maki orang itu membuat Cleona memutar bola matanya malas, menyesal juga sudah meminta maaf pada orang itu.
“Dimana-mana juga jalan itu pakai kaki, bukan pakai mata. **** lo pelihara!” dengus Cleona melangkah pergi dari hadapan perempuan rubah itu. Namun langkahnya terhenti, karena Nia, si perempuan yang tidak sengaja Cleona tabrak itu mencekal tangannya, membuat ia menghentikan langkah dan dengan cepat menghentakan tangannya agar terlepas dari cengkraman kakak kelasnya itu.
“Tangan gue gatal lo pegang-pegang,” kata Cleona bergidik jijik. Wajah perempuan berama Nia itu memerah, rahangnya mengeras menandakan bahwa dia tengah kesal.
“Gak ada sopan santunnya sama sekali lo sama gue, lupa lo kalau gue kakak kelas lo? Usia gue diatas lo, sopan dikit kenapa?”
“Lo punya usia tua aja bangga!" Cleona kembali memutar bola matanya malas.
Nia semakin menggeram marah dan tangannya mengayun melayangkan tamparan tepat di pipi Cleona, bunyi ‘plak’ seakan memekakan telinga Cleona dan rasa panas dapat pipi kanannya rasakan. Cleona benar-benar lengah, sampai tidak menyadari bahwa perempuan rubah itu melayangkan tamparan.
“Cih, lo jangan mentang-mentang dekat sama Rapa bisa seenanknya ngelawan gue. Berkali-kali udah gue peringati bahwa lo sama teman lo satu itu gak usah cari gara-gara sama gue. Tamparan itu hanya sekedar rasa kesal gue atas ucapan lo yang gak sopan terhadap gue, dan bisa lo bayangkan apa yang akan gue lakukan jika lo berani deketin Rapanya gue? Tolong di ingat bahwa gue gak pernah main-main dengan ucapan gue,” ucap Nia dengan tatapan tajam mengancam.
Cleona diam bukan karena dirinya takut, tapi rasa panas dan perih di pipinya membuat ia sulit mengeluarkan suara, pipinya seakan kebas saking kencangnya tamparan itu mendarat, dan rongganya terasa kaku. Cleona hanya melihat kepergian Nia, Si Rubah itu dengan tatapan kesal dan dalam hati ia berucap bahwa suatu saat nanti ia akan membalas perbuatannya ini. Kali ini ia membiarkan kakak kelasnya itu menang dan menganggap dirinya lemah, tapi tidak untuk nanti.
“Sial! Kenapa sakit banget?” Cleona bergumam kecil dan meringis begitu rasa perih kembali dirinya rasakan akibat bicara.
Melangkah cepat, Cleona menuju UKS untuk mengompres pipinya, menghilangkan bekas tamparan itu agar Clara dan teman-temannya yang lain tidak mengetahui mengenai kejadian barusan, apalagi dengan Rapa yang sudah pasti akan mengamuk jika tahu bahwa dirinya disakiti orang lain.
Mungkin memang lebih bagus kekasihnya dan teman-temannya itu tahu, tapi lebih bagus lagi untuk mereka semua tidak tahu, jelas bukan karena dirinya takut pada ancaman Nia, hanya saja ia ingin menyelesaikan masalahnya seorang diri tanpa melibatkan orang lain, Cleona hanya tidak ingin menyusahkan, kecuali nanti jika kakak kelasnya itu sudah berani bertindak lebih dari ini.
Beberapa kali Cleona meringis perih begitu kain kompresan mendarat di pipinya, dalam hati sumpah serapah terus Cleona lontarkan, makian terus dirinya layangkan juga merutuki dirinya sendiri yang bisa lengah disaat itu.
__ADS_1
“Pipi lo kenapa, Dek?” kakak kelas yang tengah bertugas menjaga UKS ini bertanya.
“Kena cakar rubah, kak,” jawab asal Cleona yang kembali mengeluarkan ringisan.
“Cakar rubah?” tanya kakak kelas yang tidak Cleona ketahui namanya itu kembali bertanya dengan kening berkerut, jelas sekali kebingungan nampak di wajah cantiknya. Cleona hanya membalas dengan anggukan, setelah itu tidak ada lagi pecakapan diantara keduanya.
Meraih ponsel di dalam saku seragamnya, Cleona mendapati beberapa pesan dari ketiga temannya yang menanyakan keberadaannya. Menghela napas panjang dan kembali meringis karena merasa perih, kemudian Cleona mengetik di layar datar itu, mengatakan pada mereka bahwa dirinya berada di UKS dan meminta untuk di izinkan kepada guru yang saat ini tengah mengajar di kelasnya. Setelah itu kembali Cleona menyimpan ponselnya kedalam saku lagi.
“Kak, ada cermin gak?” tanya Cleona pada kakak kelasnya yang bertugas jaga UKS.
Perempuan cantik itu mengangguk dan memberikan cermin berukuran sedang pada Cleona. “Terimankasih,” kata Cleona tersenyum tipis. “Oh iya, nama lo siapa? Dari tadi ngobrol tapi gak tahu nama,” lanjut Cleona kembali bertanya.
“Gue kira lo tahu nama gue,” ucap perempuan itu terkekeh kecil.
“Emang setenar apa sih lo, kak?” canda Cleona mendelik sebal. Perempuan cantik itu tertawa, dan Cleona begitu suka dengan tawanya, terlihat anggun dan tidak di buat-buat.
“Seterkenal itu gue sampai lo bisa tahu nama gue? Gak nyangka gue.” Cleona menggeleng-gelengkan kepalanya tak menyangka. Lagi perempuan bernama Anggun itu tertawa, dan itu begitu cocok dengan namanya. Cleona sepertinya akan menjadikan kakak kelasnya ini sebagai idolanya, selain cantik, anggun dan ramah, perempuan ini juga terlihat baik, tidak seperti Nia, Si Rubah itu.
“Gue baca name tag di seragam lo,” katanya masih dengan sisa tawanya.
“Aish, gue kira …!” Cleona ikut tertawa dan itu sukses membuatnya kembali meringis begitu perih di sudut bibirnya kembali terasa akibat mulutnya yang terbuka terlalu lebar.
Begitu di rasa merah di pipinya akibat bekas tamparan wanita rubah sialan itu sedikit berkurang dan sakitnya tidak lagi dirinya rasakan, Cleona memutuskan untuk segera ke kelas, karena jam pelajaran baru saja berganti dan ia tidak ingin jika harus ketinggalan pelajaran lagi. Cukup satu pelajaran saja yang ia tinggalkan, karena bagaimana pun Cleona bukanlah murid jenius yang tanpa belajar bisa mengerjakan soal dalam ulangan nanti, Cleona memang cukup pintar, tapi tentu saja akibat rajinnya ia belajar.
“Lo ngapain di UKS, Cle?” Nirmala, teman sebangku Cleona bertanya begitu bokongnya baru saja mendarat di kursi kayu itu.
__ADS_1
“Lo sakit, Cle?” Alisya ikut bertanya, sementara Shafa hanya menatap penasaran.
“Gue gak apa-apa, tadi cuma kecelakaan kecil waktu selesai dari toilet,” bohong Cleona. Ketiga temannya itu menatap prihatin dan menanyakan bagian mana yang luka, sampai akhirnya guru datang dan pelajaran kembali berlanjut. Shafa, Nirmala, juga Alisya tidak lagi bertanya dan itu membuat Cleona menghela napas lega.
“Minggu depan kita ulangan jadi, persiapkan dari sekarang. Ibu gak mau sampai nanti ada yang nilainya di bawah 7!” Bu Marsya selaku guru Geografi memberi ultimatum sebelum akhirnya keluar dari kelas, karena jam mengajarnya sudah habis.
Murid-murid kelas X IPS B ini sedikit menghela napas, kemudian berhamburan keluar dari kelas, tidak terlalu memikirkan ulangan yang akan datang karena bagi mereka selagi masih ada bahan contekan maka semua bukanlah masalah.
“Satu bulan lagi pemilihan ketua OSIS baru, kan?” Alisya bertanya.
“Kata siapa?” Shafa menaikan sebelah alisnya.
“Ck, makanya update dong lo, jangan cuma mantengin buku doang! Hidup lo terlalu datar tahu gak, Fa? Pengumumannya udah ada di madding beserta siapa-siapa aja yang menyalonkan diri jadi calon ketua OSIS dan wakilnya.” Alisya menjelaskan.
“Emang yang begituan penting?” kata Shafa menaikan sebelah alisnya. Alisya dan Nirmala yang memang selalu tahu tentang apa saja mengenai gosip-gosip di sekolah mencebikkan bibirnya.
“Cowok lo nyalonin diri juga jadi ketua OSIS, Cle,” kata Nirmala yang beralih menoleh pada teman sebangkunya.
“Gue tahu, dia sendiri kok yang bilang. Waktu itu juga Rapa nyuruh gue sama Ratu ikutan OSIS, tapi ya jelas mana mau gue ikut organisasi gitu, mending rebahan dari pada ikut rapat-rapat dan ngurusin ini itu, males gue.” Kata Cleona tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel.
Meskipun ia tahu bahwa dulu Maminya menjadi bagian dari OSIS bahkan Ayah dan Bundanya menjadi ketua dan wakil, tapi itu tidak membuat Cleona dan Clara tertarik masuk dalam organisasi itu. Papinya bilang bahwa ikutan seperti itu hanya membuat waktu main kita tersita dengan rapat, kumpul gak jelas dan tanggung jawab yang harus di pikul nantinya.
Alasan Clara dan Cleona tidak tertarik dengan organisasi itu bukan karena alasan yang di sebutkan Papinya, melainkan karena keduanya memang tidak ingin. Satu yang Clara dan Cleona tahu mengenai organisasi seperti itu adalah kebanyakan anggotanya hanya ingin mencari muka pada guru-guru, mencari kepopuleran dan menjadi yang berkuasa. Meskipun tidak semua, tapi tidak sedikit yang seperti itu.
Cleona memang tidak tahu itu benar atau tidak, dan berlaku atau tidak di sekolah ini, tapi menurut pengamatannya saat SMP dulu, ya, memang seperti apa yang di sebutkannya tadi. Maka dari itu, Cleona tidak ingin menjadi bagian dari OSIS, karena ia tidak ingin popular. Menjadi perhatian orang-orang aja, Cleona enggan, apa lagi menjadi popular.
__ADS_1
Baginya itu tidaklah berguna, karena Cleona bukanlah orang yang haus akan popularitas. Ia justru merasa risi begitu mata orang-orang mengarah padanya. Namun kedekatannya dengan Rapa yang sudah menarik perhatian banyak orang terpaksa harus Cleona terima.