Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
35. Apa Boleh Aku Cemburu?


__ADS_3

Semenjak Alvin tidak ada, menunggu Rapa selesai kumpul OSIS menjadi rutinitas baru Cleona. Apalagi sejak mengetahui Clara memiliki kekasih, ada saja yang calon adik iparnya itu jadikan alasan untuk mengelabuhi Rapa agar mengizinkannya pulang lebih dulu, meninggalkan Cleona seorang diri duduk di depan ruang OSIS.


Namun meski begitu Cleona tidak pernah mengeluh, karena memiliki kekasih yang pengertian adalah sebuah anugerah. Rapa tidak pernah membuatnya menunggu dalam kebosanan, selalu saja banyak cemilan laki-laki itu berikan untuk menemaninya menghabiskan waktu.


Anggota OSIS yang lain bahkan sudah terbiasa dengan keberadaannya, Cleona juga tidak jarang mengobrol dan bercanda dengan mereka. Banyak dari mereka yang menyukainya dan mendukung hubungannya dengan Rapa, tapi sudah jelas bahwa yang tidak menyukainya pun ada, karena Nia, Si Rubah licik yang sayangnya kurang cerdik untuk melawan Cleona dan Clara masih berkeliaran di sana, terlebih sebentar lagi akan melepas masa jabatan yang mana rapat ini dan itu membuat OSIS yang akan lengser sibuk dan Nia semakin mempunyai kesempatan untuk menempel pada Rapa.


Satu jam menunggu, akhirnya Cleona bisa bernapas lega begitu pintu ruang OSIS terbuka dan satu per satu dari mereka keluar hendak pulang. Beberapa dari mereka menyapa dan pamit pada Cleona, sementara Nia malah memberikan tatapan tajam sarat akan permusuhan. Memang tidak pernah bosan perempuan itu mencari ribut, padahal sudah seringkali Cleona kalahkan.


Mengabaikan wanita rubah itu, Cleona memilih melenggang masuk ke dalam ruang OSIS untuk menghampiri Rapa yang belum juga keluar, tapi langkahnya terhenti begitu saja di ambang pintu saat matanya melihat dua orang yang tengah becanda, terlihat manis dan mesra bahkan jika orang lain melihat pasti akan mengira bahwa mereka adalah pasangan yang romantis.


Beberapa detik berdiri untuk menyaksikan, Cleona kemudian memilih mundur dan kembali duduk di kursi yang tadi dirinya tempati selama menunggu Rapa. Dadanya yang tiba-tiba sesak membuatnya tidak kuat berdiri lebih lama, hatinya sakit menyaksikan kekasihnya dengan wanita lain, meskipun ia tahu bahwa Mirna adalah sahabat dekat Rapa, tapi bolehkan ia merasakan cemburu?


Memang ia sudah cukup mengenal Mirna, tahu juga bahwa perempuan itu menyukai Rapa sejak kelas sepuluh dulu. Becandaan dan saling meledek sudah pernah Cleona saksikan, dan awalnya ia biasa saja, merasa bahwa memang tidak ada salahnya sahabat seperti itu, tapi seiring berjalannya waktu, kenapa rasa sesak itu kian tumbuh? Di tambah dengan melihat kejadian barusan, rasa sesak dan perih itu seakan mengganggunya.


“Ayo Queen kita pulang.”


Cleona mengerjap beberapa kali saat sebuah elusan di kepalanya ia rasakan, membuatnya mendongak dan melihat wajah tampan Rapa tengah tersenyum manis kearahnya yang tentu saja langsung ia balas.


“Selesai! Yuk, Rap.”

__ADS_1


Menoleh, Cleona sedetik kemudian menyurutkan senyumnya begitu melihat Mirna yang sudah berdiri di samping Rapa, senyum tidak juga surut, apa lagi saat Rapa memberikan sentilan di kening perempuan itu dan kemudian keduanya tertawa.


Seharusnya ia biasa saja melihat tingkah mereka ini, sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun entah kenapa sekarang itu terasa berbeda, hatinya berdenyut nyeri apa lagi sepanjang peralanan menuju parkiran kedua orang itu tidak hentinya saling memberikan ledekan yang selalu di akhiri dengan tawa. Cleona jadi merasa berjalan bersama sepasang kekasih yang tengah becanda, tapi disini dirinya yang merasa menjadi orang ketiga.


“Gue nebeng gak apa-apa kan, Cle?” tanya Mirna begitu mereka tiba di parkiran.


Cleona menoleh pada Rapa, dan laki-laki itu hanya mengedikan bahunya. Kembali menatap Mirna, akhirnya mau tidak mau Cleona mengangguk meskipun dengan berat hati, karena ia tahu, Rapa pasti lebih dulu memberi izin sebelum mereka berjalan keparkiran. Lagi-lagi ini memang bukan untuk pertama kalinya, tapi kenapa sekarang rasanya sangat berat?


“Lo gak bukain pintu buat gue juga, Rap?” kata Mirna begitu melihat Rapa membuka pintu mobil untuk Cleona seperti kebiasaannya.


“Dih, lo mah buka aja sendiri. Gue cuma bersedia untuk bidadari gue doang,” balas Rapa menjulurkan lidahnya. Cleona hanya tersenyum kecil sebelum akhirnya masuk, duduk di kursi penumpang depan.


“Nyebelin emang lo, Rap, awas aja kalau nanti ulangan nyontek gue,”


“Laga lo, curut. Gak ingat lo kalau setiap ada PR selalu nyontek gue!?”


“Itu mah karena gue malas aja, Mir.”


“Alasan. Kok, lo mau sih Cle jadi pacar dia? udah gesrek, nyebelin lagi!” kata Mirna memberikan delikan pada Rapa yang tengah menyetir.

__ADS_1


“Gak sadar lo, Kak, dulu juga lo naksir pacar gue. Apa sekarang juga masih?” Cleona bukan tanpa alasan bicara seperti itu, ia ingin menyindir kakak kelasnya. Namun sayang karena sepertinya itu tidak berhasil membungkam Mirna.


“Haha, itu karena dulu gue khilaf, Cle. Untung aja sekarang udah sadar dari peletnya.” Mirna membalas masih dengan sisa tawanya.


“Gue gak pake pelet aja cewek-cewek udah mendekat. Pesona gue emang gak bisa di hindari.”


“Cih, sombong sekali Anda bapak ketu!”


Cleona rasanya ingin sekali segera sampai di rumah dan menjuh dari kedua orang itu. Andai tahu akan seperti ini jadinya, Cleona memilih pulang sendiri sejak tadi.


Rapa seolah tidak memperdulikan keberadaannya, dan malah asik dengan sahabat perempuannya itu. Bukan berarti Cleona diam saja sejak tadi,sesekali ia ikut meladeni kedua orang itu, tapi sepertinya ia tidak bisa mengalihkan fokus Rapa untuk hanya tertuju padanya, karena sekarang akhirnya Cleona memilih diam dan memalingkan wajah menatap jalanan.


Sampai di depan pagar rumah Mirna, Rapa menghentikan mobilnya, meminta sahabatnya itu untuk segera turun, yang di balas dengan delikan tajam juga pukulan di pundak Rapa yang membuat laki-laki itu tertawa terbahak. Lagi-lagi Cleona tersenyum tipis melihat itu, hatinya semakin sakit dan ingin sekali menangis saat ini juga.


“Abang sedekat itu ternyata sama, kak Mirna,” kata Cleona membuka pembicaraan begitu mobil yang di kendarai Rapa kembali melaju.


“Dia sahabat perempuan satu-satu yang memang buat Abang nyaman Queen, dia itu apa adanya yang kadang mendekati gila, meskipun orang yang baru mengenal akan menyangka Mirna sosok yang galak dan kaku.” Rapa menjawab dengan senyum kecil mengukir di sudut bibirnya.


“Boleh gak Queen cemburu karena Abang seakrab itu sama dia?”

__ADS_1


“Haha, jadi Queenya Abang lagi cemburu nih?” goda Rapa mengusak gemas rambut Cleona. “Ngapain juga cemburu sama dia? Lagi pula dia sahabat Abang, apa yang mesti di cemburuin coba? Kan udah jelas Abang cintanya cuma sama kamu,” lanjut Rapa, meraih satu tangan kekasihnya, kemudian ia berikan kecupan di jari-jari tangan mungil itu.


Tersenyum kecil Cleona kemudian memalingkan wajahnya dari Rapa, menatap lurus ke depan sambil menikmati rasa sakit itu seorang diri. Ternyata Rapa tidak sepeka itu pada perasaannya. Memang benar, sedekat apapun kita, selama apapun kita dekat, bahkan seerat apapun hubungan kita, orang ketiga itu akan selalu hadir, lebih parahnya dalam kedok persahabatan. Meskipun tidak ada niat untuk menghancurkan, tapi satu yang mereka tidak sadari, bahwa luka itu nyata walau tak kasat mata. Dan luka itu nyata Cleona rasakan.


__ADS_2