Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
52. Panik


__ADS_3

“Kamu ini ke mana aja sih, Bang? Hampir satu minggu loh bunda gak ketemu kamu padahal kita serumah,” omel Lyra saat Rapa baru saja masuk ke dalam rumah dengan wajah lelah yang amat ketara, dan itu cukup membuat Lyra meringis iba.


Dengan malas, Rapa menghampiri bunda dan ayahnya, lalu duduk di sebelah wanita tercintanya itu. “Bunda sama ayah kenapa belum tidur?”


“Bunda nunggu kamu, kangen sama anak lelaki bunda yang belakangan ini seolah segan hidup. Kamu kenapa, sayang?” Lyra mengulurkan tangannya mengusap lembut pipi tirus anaknya, tidak tega melihat jagoannya semenyedihkan ini.


“Abang gak apa-apa, Bunda cuma lelah aja.” Jawabnya tersenyum kecil.


“Jangan bohong sama bunda, Bang!”


Rapa mengulas senyumnya, kemudian memberikan satu kecupan singkat pada kening sang bunda. Wanita cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi itu memang selalu sulit di bohongi. Menoleh pada kedua orang tuanya, Rapa kemudian berucap, “Bunda, ayah abang boleh izin ke Bali?”


“Mau ngapain? Pantai di sini juga banyak, Bang, gak perlu jauh-jauh ke Bali,” ujar Pandu yang tatapannya masih terus tertuju pada televisi di depannya.


“Abang mau pindah,” kata Rapa tersenyum lesu.


“Kenapa? Apa abang udah gak betah lagi tinggal disini?” tanya Lyra dengan raut terkejut yang tidak bisa di sembunyikan. Dan satu anggukan dari Rapa membuatnya sedih.


“Abang gak bisa di sini terus, Bun. Abang gak sanggup. Queen gak bisa lagi abang miliki,” kata Rapa dengan lirih.


Lyra merengkuh tubuh anaknya itu, membiarkan Rapa menangis dalam pelukannya. Sebagai ibu tentu saja Lyra paham dengan apa yang di rasakan anaknya, sempat merasa tidak tega juga, tapi rencana sudah terlanjur di jalani. “Abang udah yakin mau pindah?” tanya Lyra untuk meyakinkan anaknya itu.


Rapa mengangguk kecil. “Setidaknya di sana gak ada Queen. Abang hanya ingin memulai kembali hidup yang baru, menyembuhkan luka yang tak kasat mata ini. Please, Bun, Yah, tolong izinin abang untuk pergi, karena jika disini terus abang gak yakin sanggup,” pinta Rapa dengan tatapan penuh permohonan pada kedua orang tuanya itu.


“Maafin Bunda ya, Bang, maaf karena Bunda tidak bisa membantu kamu kembali dengan Queen. Seberapa ingin pun Bunda menjadikan dia sebagai menantu, tapi hanya Tuhan-lah satu-satunya yang menghendaki,” ujar Lyra lembut.


“Gak apa-apa, Bunda, mungkin memang bukan Queen yang Tuhan takdirkan untuk abang,” Rapa berusaha mengelus senyum ikhlas, meskipun terasa berat ia lakukan.

__ADS_1


“Oke, Ayah izinin. Kamu siap-siap aja, besok setelah acara Queen selesai, Ayah dan Bunda akan langsung urus kepindahan kamu.”


“Abang gak pergi ke pernikahan Queen boleh gak?” tanya Rapa dengan sorot mata yang memohon untuk di mengerti.


Lyra dan pandu saling tatap untuk beberapa saat, sebelum kemudian kembali menoleh pada Rapa. “Kamu yakin gak mau datang?” tanya Pandu, menaikan sebelah alisnya. Rapa mengangguk yakin.


“Gak akan menyesal?” kali ini Lyra yang bertanya. Dan anggukan Rapa sedikit ragu.


“Kalau memang seperti itu keinginan kamu, Ayah sama Bunda gak bisa larang, tapi kalau memang berubah pikiran, kamu tahu 'kan dimana acaranya akan di selengagarakan?” tanya Pandu yang di jawab anggukan kecil oleh Rapa. “Tapi Ayah harap kamu bisa datang, setidaknya untuk menghormati Papi dan mendiang Mami.”


»«»«»«»«


Selesai mengemas barang-barang yang akan di bawanya untuk pindah, Rapa kini kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya yang polos seraya membanting ingatan akan kebersamaannya dulu bersama Cleona. Cintanya yang hadir sejak usianya masih kanak-kanak hingga tumbuh menjadi dewasa seperti sekarang ini, dimana cinta itu semakin besar dan dalam.


Sekarang kenyataan bahwa gadisnya dulu bukan lagi miliknya membuat Rapa seakan terhempas pada dalamnya jurang. Hatinya sakit, dadanya sesak, dan sekarang dirinya bingung antara hadir atau justru memilih untuk pergi meninggalkan perempuan tercintanya tanpa kata perpisahan.


Kepergiannya yang tinggal beberapa jam lagi itu membuat Rapa semakin bimbang. Apa lagi mungkin saat ini Queen-nya tengah bahagia bersama suaminya yang baru saja di sah kan. Haruskah ia ikut bahagia di saat hatinya terluka?


Membuang napasnya kasar, Rapa kemudian bangkit dari tidurnya, meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi, karena bagaimana pun waktu terus berjalan dan kepergiannya semakin mendekati.


Jam sudah menunjukan pukul 14.00 sementara keberangkatannya ke Bali pukul 17.30, masih ada waktu untuk setidaknya datang lebih dulu ke acara pernikahan Cleona. Ya, Rapa memutuskan untuk datang setelah sebelumnya berpikir panjang. Ia tidak ingin jika nantinya menyesal, maka dari itu setidaknya ucapan selamat dan kata perpisahan harus ia utarakan.


Menyemangati diri, Rapa sekali lagi menatap cermin dan merapikan penampilannya. Siapa tahu jika melihatnya tampil rapi dan tampan Cleona akan kembali berpaling padanya. Harapan konyol yang sepertinya mustahil terjadi, tapi tidak ada salahnya 'kan jika ia berharap?


Aku hanya ingin mencintaimu


Dengan sepenuh jiwa dan ragaku

__ADS_1


Tapi mengapa kau tinggalkanku


Pacarku hilang diambil orang


Apakah wajahku kurang tampan sayang...


Rapa berdecak kesal saat mendengar ponselnya berdering, lebih kesal lagi mendengar lagu yang menjadi nada deringnya, ia yakin bahwa teman-temannya yang sudah mengganti itu. Tanpa melihat siapa yang menghubunginya, Rapa mengarahkan ponsel tersebut ke arah telinga setelah tombol hijau itu ia geser.


“Ha...”


“Arrggghhh ... Abang to...”


Tut ... tut ... tut ....


“Hallo, hallo Queen ...!"


Wajah Rapa yang semula terlihat kesal, kini berubah menjadi panik begitu teriakan dari seberang telepon terdengar jelas oleh inderanya. Suara Cleona yang terdengar ketakutan itu membuat Rapa amat sangat panik juga cemas, lalu bergegas lari keluar dari kamarnya. Tentu saja ia tidak melupakan membawa kunci motornya, yang langsung Rapa naiki begitu tiba di parkiran dan melajukannya dengan kecepatan penuh. Rasa panik membuatnya tidak bisa berpikir jernih saat ini, bahkan Rapa tidak berpikir bahwa bisa saja caranya mengemudi membahayakan dirinya sendiri atau orang lain.


Di tengah perjalanan,l sebenarnya Rapa bingung akan ke mana, tapi tanpa dirinya sadari hatinya membawa ia untuk datang ke ballroom hotel tempat acara pernikahan Cleona di langsungkan. Namun begitu sampai di sana Rapa semakin panik dan khawatir, karena tempat acara terlihat sepi dan gelap. Tidak ada satu pun lampu di ruangan luas itu yang menyala. Padahal ia ingat betul lift yang mengantarkannya ke lantai 10 ini masih berfungsi dengan baik, jadi tidak mungkin jika terputusnya aliran listrik.


Namun itu tidak lah penting untuk sekarang, karena yang lebih penting adalah dimana Cleona berada saat ini? Ke mana para tamu undangan, dan kenapa tempat yang seharusnya ramai dengan hiasan nuansa romantis itu sunyi seperti ini?


“Queen!!” panggil Rapa berteriak. Langkahnya dengan perlahan masuk ke ruangan luas yang gelap itu dengan bantuan cahaya dari ponsel. Kursi-kursi untuk para tamu masih berjejer rapi dan dekorasi masih terlihat indah, tapi dimana semua orang? Dimana keluarganya? Dimana Cleona?


“Queen!!!” teriak Rapa semakin kencang, wajah paniknya tidak juga surut dan rasa takut akan sesuatu terjadi pada semua orang terlihat jelas di wajah tampan Rapa.


“Queen, kamu dimana sayang,” ucap Rapa dengan lirih, lelah karena tidak juga menemukan Cleona meskipun dirinya sudah menyusuri ruangan luas yang gelap ini.

__ADS_1


“Queen di sini, Bang,” bisik seseorang di belakang Rapa yang saat ini berada di tengah ruangan. Tentu saja itu membuat Rapa merinding, dan perlahan membalikan tubuhnya untuk memastikan bahwa suara barusan benar-benar milik Cleona.


“Happy Birthday Rapa sayang.”


__ADS_2