
Keluar sebelum jam makan malam tiba, Rapa lebih dulu membawa istrinya berkeliling di taman kota, menyaksikan anak-anak kecil bermain perosotan, ayunan bahkan kejar-kejaran, para orang tua yang menunggu anaknya dengan setia dan mengawasi pergerakan putra putri mereka ada juga remaja yang sepertinya tengah berkencan, juga tidak sedikit pula orang-orang yang berolahraga sore di taman ini.
Duduk di kursi besi yang berada di pinggir, Cleona lebih tertarik melihat anak-anak kecil yang bermain dengan gembira di sana, tak jarang juga senyumnya terukir atau gerakan tubuhnya yang refleks bangkit saat melihat salah satu dari anak kecil itu terjatuh.
Rapa memang lebih suka membawa istrinya ketaman ini dari pada ke mall yang sudah pasti akan membuat dompetnya kebobolan karena kegilaan sang istri dalam berbelanja. Rapa kapok dan mungkin hanya akan membiarkan Cleona pergi sendiri dengan uang pas-pasan agar perempuan itu bisa mempertimbangkan apa yang memang di perlukan untuk di belinya.
“Abang, Queen pengen siomay yang ada di sana,” tunjuk Cleona ke arah dimana grobak penjual siomay berada. Dengan senyum manisnya Rapa mengangguk setuju atas permintaan sang istri dan meminta perempuan itu untuk menunggu, sementara Rapa melenggang pergi menuju penjual yang di maksud istrinya.
Tidak butuh waktu lama untuk Rapa kembali dengan membawa siomay pesanan Cleona, dengan senyum lebar Rapa melangkah kembali menghampiri istrinya, namun dengan cepat senyumnya surut saat dilihatnya ada laki-laki lain yang duduk di sebelah sang istri.
Berjalan cepat, Rapa kemudian menarik kasar kerah baju orang itu dan hendak melayangkan pukulannya jika saja sang istri tidak menghentikan dan orang itu tidak menjerit panik.
“Gila aja lo mau pukul sobat sendiri, jantung gue hampir copot ini saking kaget dan paniknya.” Daniel yang tak lain adalah sang tersangka mendengus kesal dan segera melepaskan tangan Rapa dari kerah kaos bajunya.
“Salah lo sendiri kenapa duduk samping istri gue!”
“Gue laki-laki yang tidak pernah tega melihat perempuan cantik duduk sendirian, Rap makanya gue temenin bini lo.” Kata Daniel menampilkan cengiran tak berdosanya.
__ADS_1
“Gak ada yang izinin lo nemenin istri gue!” Rapa memberikan jarak antara istrinya dengan Daniel yang entah ada urusan apa berada di tempat ini. Bukankah tidak mungkin jika sengaja datang untuk menemani istrinya.
“Ya udah sih gak apa, lagi pula gue juga gak minta izin ini,” jawabnya tak peduli.
Rapa menghela napasnya malas sebelum kemudian bertanya, “lo ngapain disini?”
“Gak sengaja lewat dan lihat bini lo lagi sendiri, jadi gue hampirin deh,” jawabnya dengan cengiran khas Daniel yang membuat Rapa jengkel.
“Ck, alasan klasik!” cibir Cleona yang baru saja membuka suaranya setelah siomay yang di belikan sang suami iya lahap habis seorang diri tanpa mau repot-repot menawarkan pada kedua pria di depannya itu.
Deniel menghempaskan tubuhnya di kursi besi itu, wajahnya yang semula terlihat menyebalkan di penglihatan Rapa kini berubah lesu dan kesedihan terpancar dari kedua mata coklat itu. “Gue baru aja di putusin cewek gue,” akunya dengan pelan. Dan mendapat kenyataan itu sontak membuat Rapa terbahak puas sampai beberapa orang menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda. Sementara Daniel sendiri mendengus, meskipun sudah biasa dengan respon yang di berikan sahabat satunya itu, tapi tetap saja rasa kesal itu selalu ada. Sedangkan Cleona menatap sahabat dari sang suami dengan iba dan menepuk-nepuk pundak laki-laki itu sambil mengucapkan kata sabar.
“Gue gak berengsek!” protes Daniel yang memang selalu tidak suka di anggap seperti itu oleh siapapun, kerena menurut Daniel sendiri jalan sana sini bersama perempuan berbeda itu sesuatu yang wajar bagi dirinya yang tengah mencari sosok yang tepat untuk di ajak ke pelaminan.
“Ya, memang tidak ada cowok berengsek yang mengaku dirinya berengsek.” Cleona mengangguk-anggukan kepala. “Jika hal itu terjadi, mungkin semua perempuan tidak akan pernah ada yang tertipu dan tersakiti.”
“Ini justru gue loh, Cle yang tersakiti. Itu berarti mereka yang berengsek karena sudah menyakiti perasaan cowok tampan seperti gue ini.”
__ADS_1
“Lebay lo curut. So tersakiti banget, najis! Dua jam ke depan juga lo gandeng cewek baru!” delik Rapa yang sudah hapal betul kelakuan sahabat satunya itu.
“Gue aminin doa lo, Rap. Kali aja benar dua jam lagi gue dapat calon istri yang cantik, bening kayak bini lo.” Satu kedipan genit Daniel berikan pada istri dari sahabatnya itu yang langsung saja mendapat geplakan panas dari pawang Cleona.
“O, iya lo bedua ngapain disini, nongkrong kayak bocah ABG?” tanya Daniel yang baru saja teringat akan pertanyaannya yang sejak awal ingin ia tanyakan.
“Ya jelas kencan lah,” jawab Rapa dengan nada sombong.
“Gak elit banget lo ngajak kencan bini ke sini. Mall masih luas bro, atau gak ke bukit, pantai lihat indahnya sunset,"
“Gue sih gak perlu jauh-jauh kesana cuma untuk lihat sunset, istri gue aja indahnya udah melebihi itu.” Rapa menikmati wajah memerah istrinya yang begitu menggemaskan dan ingin sekali dirinya kecup jika saja tidak ingat tengah berada di tempat umum. Bisa bahaya bukan jika sampai itu terjadi, yang ada nanti malah di razia karena sudah berbuat mesum.
“Gombalan lo receh, najis!” delik Daniel yang berekpresi seakan ingin muntah.
“Bodo amat. Yang penting gue udah punya istri, gak kayak lo yang selalu di tinggal dengan sebuah tamparan sebagai kenangan.” Cibir Rapa kemudian bangkit dan membawa istrinya pergi. Tidak peduli dengan teriakan Daniel yang menanyakan kemana dirinya akan pergi dan meminta ikut. Yang benar saja sahabatnya itu ikut, ia baru saja terlepas dari sosok sang papi yang juga hampir mengacaukan dinner-nya, jangan tambah dengan kehadiran Daniel juga.
Rapa ingin berduaan dengan sang istri menikmati makan malam romantis di restoran dengan suasana yang mendukung dan musik romantis yang mengalun lembut, bukan di warung emperan jalan seperti biasanya.
__ADS_1
Please jangan ada lagi yang mengacaukannya. Tidak ayahnya, tidak sahabatnya tidak juga orang lain.