
Bertepatan dengan berangkatnya sang suami, Cleona meminta Rapa untuk mengantarnya terlebih dulu ke tempat Clara dan berniat menghabiskan waktu bersama dengan adik iparnya, Cleona rindu pada kembarannya yang berbeda ayah ibu itu, mengingat bahwa Clara sudah beberapa hari tak datang menginap atau hanya sekedar menjenguk orang tuanya. Menyebalkan, dan Cleona ingin sekali melayangkan jitakan pada kepala adik iparnya, tapi lebih dari itu Cloena merasakan khawatir akan Clara yang terakhir kali di temui terlihat tidak baik-baik saja.
Dan di sinilah sekarang dirinya berada, di depan rumah orang tua Birma yang masih menjadi tempat tinggal Clara selama beberapa bulan ini.
Mertua dari adik iparnya itu menyambut kedatangannya dengan hangat dan penuh suka cita, apa lagi saat dengan sayangnya wanita paruh baya itu memberikan usapan lembut di perut buncitnya.
“Sudah berapa bulan kandungan kamu, sayang?” tanya ibu Birma begitu selesai berbasa-basi dan mempersilahkan Cleona untuk masuk.
“26 minggu tante,” Cleona menjawab seadanya.
“Oalah, gak terasa sebentar lagi kamu lahiran toh, Nak. Semoga lancar hingga persalinan ya, bayi dan ibunya juga sehat terus,” Cleona mengaminkan doa dari ibu adik iparnya itu. “Tante juga udah gak sabar pengen nimang cucu. Rumah ini sudah terlalu lama sepi, dan tante udah rindu dengan suara tangisan bayi.”
Suasana tiba-tiba terasa canggung, apalagi saat melihat raut sedih Clara yang duduk di sampingnya begitu ketara walau perempuan cantik itu menundukan pandangan. Senyum getir juga sempat Cleona lihat meski sekilas. Dan kali ini suasana benar-benar tidak enak, Cleona bingung harus bicara apa saat ini, sampai pada akhirnya ibu Birma pamit ke dapur untuk membuatkan cemilan.
“Tu, lo baik-baik aja kan?” mengangkat dagu adik iparnya, Cleona kini tahu bahwa Clara benar-benar tengah dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, terbukti dari mata cantik itu yang memerah dan setetes bulir menggantung di sudut mata adik iparnya.
“Apa karena keinginan mertua lo, buat lo jadi seperti ini?”
Clara berhambur masuk ke dalam pelukan sahabat sekaligus kakak iparnya yang memang paling tahu apa yang tengah dirinya rasakan, dan Clara sendiri tidak pernah bisa menyembunyikan kesedihan itu dari sahabat tersayangnya.
“Mau cerita?” Clara yang tengah menangis dalam pelukan sang kakak ipar mengangguk dan segera menyeka air matanya sebelum kemudian membawa Cleona menuju kamarnya dan Birma yang berada di lantai atas.
__ADS_1
“Gue sebenarnya gak mau mikirin soal itu, mengingat usia pernikahan gue juga belum genap satu tahun. Birma juga selalu bilang untuk gak dipikirin, tapi lo tahu sendiri perempuan itu paling mudah membawa hati dan perasaan, apalagi mertua bahkan tetangga gue hampir tiap hari gak ada bosannya nanya gue kapan hamil. Gue tertekan, dan gue terbebani dengan kata sederhana itu. Lo bisa lihat sendiri kan tadi raut berharapnya mertua gue? Gue harus apa Queen?”
Senggukan, Clara berkali-kali menyeka air matanya. Selama ini ia selalu menahan diri untuk tidak menangis, tapi hari ini Cleona menyaksikan kesedihan adik iparnya yang bahkan selama bersama sejak kecil dulu, Clara tidak pernah menangis seperti ini.
Cleona yang ikut menangis segera membawa adik iparnya ke dalam pelukan, setidaknya bisa sedikit menenangkan hati Clara yang saat ini tengah terguncang. Meskipun belum pernah mersakan berada di posisi Clara, tapi Cleona jelas bisa merasakan kesedihan adik iparnya itu. Cleona tidak tega, tapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa.
“Jadi ini alasan lo beberapa hari ini gak main kerumah?” tanyanya yang kemudian di jawab anggukan oleh Clara.
“Gue takut gak bisa nahan diri untuk gak nangis, Queen, apa lagi di hadapan bunda. Lo tahu sendiri gimana pekaknya bunda mengenai anak-anaknya,” Cleona mengangguk membenarkan.
“Queen, lo jangan aduin ini sama bunda ya, gue gak mau bunda sedih dan kepikiran. Jangan juga bilang sama abang, gue takut dia emosi dan labrak mertua gue.” Pinta Clara dengan memohon.
Tok… tok… tok
Ketukan di pintu membuat Clara segera menyeka air matanya, kemudian bangkit hendak membuka pintu. Namun Cleona lebih dulu mencegah. “Biar gue aja, lo ke kamar mandi cuci muka.”
Clara mengangguk dan membiarkan kakak ipar sekaligus sahabatnya itu untuk menemui ibu Birma, sementara dirinya masuk ke kamar mandi sebelum pintu terbuka dan mertuanya melihat wajah sembabnya.
Setelah di rasa cukup, dan suara ibu mertuanya sudah tidak lagi terdengar, Clara keluar dengan wajah basahnya dan senyum yang sedikit terukir akibat lega yang dirasakannya. Namun itu tidak berlangsung lama, karena begitu melihat satu gelas yang sudah Clara tahu isinya apa, membuat Clara mengganti senyumnya dengan senyum miris, lalu segera meraih gelas berisi racikan jamu penyubur kandungan pemberian sang eyang mertua yang belakangan ini memang selalu Clara konsumsi. Meskipun pahit itu begitu pekat, tapi Clara tetap meneguknya hingga habis, sampai tidak terasa bahwa setetes air matanya jatuh. Dan itu jelas Cleona saksikan dengan perasaan iba.
“Birma tahu lo selalu minum yang kayak gini?”
__ADS_1
Clara mengangguk, seraya meletakan kembali gelas yang sudah kosong. “Dia juga di suruh minum,” kata Clara dengan senyum yang di paksakan, sempat tidak menyangka bahwa suaminya pun ikut merasakan beban yang sama. “Pernikahan gue bahkan belum menginjak bulan ke tujuh, tapi udah di sangka gak subur.”
Dapat Cleona lihat bagaimana adik iparnya itu terluka mengucapkan kalimat terakhirnya. Cleona tidak menyangka sahabat sejak kecilnya akan mengalami hal seperti ini. Ternyata percuma menikah dengan orang yang saling mencintai, memiliki keluarga yang amat menyayangi dan hangat, jika satu tuntutan berupa hamil, membuat kebahagiaan itu terhalang, menyisakan amarah yang tertahan dan kesedihan yang terpendam.
“Menikah dengan anak tunggal itu sebenarnya enak, Queen, karena kasih sayang sepenuhnya gue dapatkan begitu juga dengan perhatian. Pada awalnya kebahagiaan gue sempurnya, sebelum pada akhirnya mertua gue menanyakan soal kehamilan gue gara-gara teman arisannya pamer menantunya yang baru menikah beberapa minggu langsung hamil. Mertua gue ikut-ikutan pengen gue hamil juga. Di kira semua rahim sama!” Clara tertawa geli meskipun tidak menghilangkan kegetiran dan sedih di sorot matanya.
Mengusap lembut pundak adik iparnya Cleona berusaha menennagkan Clara yang kembali meneteskan air mata. “Yang perlu lo lakuin sekarang adalah sabar, karena Tuhan pasti sudah merencanakan semuanya. Gue yakin lo akan secepat hamil.”
“Semoga.” Clara menjawab dengan penuh harap.
Cleona menyeka bulir bening yang kembali menetes di mata indah Clara, kemudian memberikannya senyum untuk menenangkan sahabatnya itu. “Lo gak perlu sedih, anak gue ada dua, nanti gue pinjemin sama lo satu,” kata Cleona membawa tangan adik iparnya itu untuk mengelus perutnya yang buncit.
“Kalau gue pinta boleh?”
“Boleh …”
“Yang benar lo, Queen?” tanya Clara dengan antusias. Cleona menganggukan kepalanya, membuat Clara melebarkan senyumnya dan langsung memeluk kakak iparnya yang begitu baik hati itu, tidak lupa ucapan terima kasih beruntun Clara ucapkan.
“Itu pun kalau lo bisa ngambilnya dari bang Rapa,” lanjut Cleona yang sedetik kemudian membuat Clara mendengus dan melepaskan pelukannya.
“Sialan emang lo, Queen. Kalau begitu caranya gue kudu bunuh dulu bang Rapanya, baru bisa ngambil anak lo.” Cleona tertawa melihat kekesalan adik iparnya itu.
__ADS_1